
...TIGA WAJAH DALAM SATU SUJUD...
...Penulis : David Khanz...
Rintik hujan mulai turun memandikan cadasnya tanah yang kupijak di antara lari kecilku menuju sebuah halte bis terdekat di ujung jalan depan sana. Debu sisa panggangan matahari perlahan mengapung dan membaur bersama terjangan titik kecil tangis sang penguasa antariksa yang mengelam. Syukurlah aku bisa segera tiba di tempat teduhanku sebelum tubuh ini kuyup bersauna alam. Bagiku yang terpenting adalah berkas dokumen yang kubawa dalam dekapanku ini tidak ikut basah melelehkan tinta aksara yang tergurat rapih di atas lembaran kertas-kertas putih. Hasil cetakan naskah yang kuketik selama beberapa hari di sebuah warnet yang tidak seberapa jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Aku mundur sedikit ke belakang menghindari terjangan miring air hujan yang tersapu angin dan melewati batas teduh sisi atap halte. Sebagian percikannya memaksa bagian bawah tubuhku harus merasakan dinginnya lelehan lembab air mata langit.
Selain aku, ternyata ada beberapa orang yang juga ikut berteduh di sana. Pastinya ada yang sambil menunggu jemputan angkutan umum atau hanya berlindung sejenak sampai hujan ini reda.
"Ma'af, Ibu mau bertukar tempat dengan saya di sini supaya tidak terlalu kebasahan terkena percikan air hujan?" tanya seorang lelaki yang berdiri persis di sampingku secara tiba-tiba.
Aku menoleh sejenak ke arah laki-laki itu dan melihat-lihat orang yang berdiri di sebelahnya. Ada seorang wanita setengah baya di sana. Mungkin karena inilah laki-laki itu merasa tidak nyaman berdiri di antara kaumku. Apalagi saat hujan seperti ini.
"Oh, boleh. Tentunya Bapak tidak keberatan, 'kan?" tanyaku yang langsung dijawab anggukan serta senyum laki-laki itu. "Terima kasih ya, Pak!"
Kami berdua segera bertukar tempat. Lumayan kali ini aku tidak harus ekstra fokus melindungi berkas dokumen yang kupeluk erat dalam dekapanku ini dari uap air hujan yang terus berterbangan di sekitar kami.
"Pulang kerja, Bu?" tanya laki-laki itu kembali setelah beberapa saat kami terdiam dalam kebisuan.
Aku tidak langsung menjawab di antara perhatianku pada lalu-lalang berbagai jenis kendaraan di depan kami. Rasanya lama sekali menunggu angkutan umum yang biasa kupergunakan untuk segera mencapai tempat tinggalku.
"Tidak, aku dari warnet yang ada di ujung jalan sana," jawabku akhirnya tanpa beradu pandang dengan laki-laki itu.
"Ngetik?" tanya laki-laki itu lagi dengan suara yang terdengar seperti disertai kekehan tawanya.
"Apakah aku terlihat seperti seorang gamer online, Pak?"
Sesaat laki-laki itu memperhatikan busana yang kukenakan. Celana panjang longgar dipadu dengan setelan baju yang panjang tergerai hingga menutupi setengah dari bagian betisku. Serta hijab syar'i yang juga serba besar menjulur menutupi area dadaku.
"Eh, maaf pertanyaan saya tidak bermaksud untuk--" Belum selesai ucapanku tiba-tiba sebuah kendaraan sedan melaju dengan kencang dan menggilas genangan air yang berkubang tepat di depan kami.
Seketika cipratan airnya menghambur dan menampar tubuh sebagian dari sosok-sosok peneduh di bawah halte. Termasuk aku. Juga berkas dokumen yang sedari tadi kulindungi di balik dekapanku. Kini semua basah kuyup bercampur dengan cipratan air genangan tadi.
Lalu seketika terdengar jeritan ban yang beradu dengan aspal yang licin dan basah. Rupanya sedan tadi berhenti agak jauh dan mundur teratur menghampiri kami. Kemudian berhenti tepat di depan halte tempat kami berada.
Kaca kendaraan bagian belakang perlahan terbuka diikuti dengan munculnya sesosok wajah laki-laki muda beraut muka mendung mengandung penyesalan dan segera turun menghampiri kami.
"Saya mohon maaf atas kelalaian saya tadi ya, Bapak dan Ibu semua!" ujar laki-laki itu sambil memandang kami satu persatu. "Saya benar-benar khilaf!"
Aku hanya bisa terdiam sambil memperhatikan lembaran berkas dokumen yang ada dalam genggamanku. Sepertinya sebagian sudah bercampur dengan air dan melunturkan tinta cetakan. Beberapa suara di sampingku terdengar seperti menggerutu kesal karena pakaiannya basah akibat cipratan air genangan tadi.
"Sekali lagi saya mohon maaf dan minta keikhlasan Bapak serta Ibu semua yang ada di sini untuk memaafkan saya," ucap laki-laki muda itu kembali dengan suara tertekan. Mungkin karena merasa bersalah. "Atau mungkin untuk menebus kesalahan saya tadi saya ingin menawarkan tumpangan gratis sampai ke tempat tujuan Bapak dan Ibu semua yang ada di sini? Saya bersedia untuk--"
"Nah, 'gitu, dong! Tanggung jawab!" seru satu suara yang ada di sana.
"Boleh… Boleh…", yang lain menimpali.
"Baik! Saya akan suruh sopir saya untuk mengantarkan Bapak dan Ibu semua sampai ketempat tinggalnya masing-masing ya!", kata laki-laki muda sambil menghampiri sopirnya yang masih berada dibalik kemudi kendaraan.
Sopir? Mungkin laki-laki ini bukan dari golongan orang biasa. Mobilnyapun terbilang dari jenis kendaraan yang tidak murah. Dia menghampiri sopirnya dan rela kehujanan hanya untuk berbicara sebentar disana. Padahal dengan statusnya itu bisa saja justru dia sendiri yang memanggil sopirnya untuk mendatangi. Luar biasa! Gumamku dalam hati.
"Silakan masuk Bapak dan Ibu semua! Bapak sopir saya itu yang akan mengantar sampai ketempat tujuan! Insyaa Allah…", kata laki-laki muda akhirnya.
Beberapa orang yang sedang berteduh dibawah halte berhamburan dan segera masuk kedalam kendaraan. Tapi tidak dengan aku. Juga laki-laki yang tadi sempat ngobrol denganku.
"Bapak dan Ibu ini tidak ikut masuk kedalam?", tanya laki-laki muda itu padaku dan laki-laki yang ada disampingku.
Aku menggelengkan kepala. "Terima kasih, Pak! Mobilnya sudah penuh!".
Laki-laki itu menepuk keningnya sendiri.
"Astaghfirullah…saya sampai tidak melihat itu saking kalutnya! Mohon ma'af ya! Kalau begitu saya bisa panggilkan angkutan online dan biar saya yang akan membayarnya! Bagaimana?".
Kembali aku menggelengkan kepala.
"Terima kasih, Pak! Tidak usah repot-repot. Lagipula tempat tinggal saya tidak begitu jauh dari sini. Saya tidak bermaksud untuk menunggu angkutan umum. Hanya sekedar berteduh dari hujan kok!", yang menjawab kali ini laki-laki yang masih berdiri disampingku tadi. "Tapi tidak tahu dengan…".
"Tidak, Pak! Terima kasih!", jawab aku tanpa menunggu ucapan laki-laki disebelahku itu usai.
Aku hanya fokus pada berkas dokumenku saja yang sudah basah kuyup. Itu artinya aku harus kembali mencetak ulang diwarnet semula yang tidak seberapa jauh dari tempat kami berada.
"Saya lihat dari tadi Ibu memperhatikan berkas yang sedang Ibu dekap itu? Ikut kebasahan juga ya, Bu?", laki-laki muda itu memperhatikan lembaran yang sedang kuapit dibalik pelukan lenganku.
"Bukan berkas penting, Pak! Tapi…"
"Kalau bisa saya bantu saya ingin menggantinya dengan cetakan baru. Bagaimana, Bu? Ibu punya soft copy-nya biar nanti saya bantu cetak ulang. Atau…Ibu bisa datang kapan saja ke tempat saya bekerja!"
Cerewet juga laki-laki muda itu. Begitu teguh pendiriannya untuk bisa menebus kesalahannya tadi. Padahal bukan sepenuhnya kesalahan dia kan? Bisa jadi karena akibat kelalaian sopirnya itu. Lagi-lagi akupun sibuk bergumam dengan diriku sendiri. Berada dalam satu tempat bersama dua orang laki-laki asing dan tertahan pergi dari sana karena hujan, rasanya sebuah pilihan dilematis antara basah kehujanan ataukah siap-siap menjadi mangsa kaum Adam? Ah…aku berdo'a semoga mereka bukan orang-orang semacam itu. Lagipula aku perhatikan keduanya sama-sama berattitude yang baik.
"Tidak usah, Pak! Aku bermaksud untuk kembali ke warnet yang ada diujung jalan ini setelah hujan ini reda. Biarlah hari ini akan menjadi hari yang panjang bagiku…"
"Oh jangan membiarkan saya tersiksa dengan perasaan bersalah ini walaupun Ibu mungkin sudah mema'afkan saya. Tapi jika Ibu bersedia untuk memberikan keikhlasannya demi menebus kesalahan saya, itu akan menjadi salah satu sejarah terindah dalam hidup saya hari ini, Bu! Bagaimana…?!" laki-laki muda itu tetap bersikukuh.
Ah…bisa saja dia! Sikapnya benar-benar menempatkan aku dalam posisi yang tidak begitu mudah untuk terus-terusan menolak. Sampai kemudian secara perlahan akupun menyetujuinya melalui anggukan kepalaku.
"Alhamdulillah…Terima kasih ya Rabbi…" seru laki-laki muda itu akhirnya dengan suara senang serta tidak lupa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tidak sadar aku sepertinya tersenyum melihat sikap laki-laki itu dengan wajahku yang setengah menunduk. Entahlah aku benar-benar tidak punya pilihan lain kecuali mungkin harus berbagi bahagia dengan orang lain. Termasuk laki-laki muda itu.
"Oh iya bagaimana dengan Bapak yang ini? Apakah…", laki-laki muda itu tidak meneruskan ucapannya. Dia memperhatikan wajah laki-laki yang berdiri persisd isampingku. "Ma'af…sepertinya Bapak ini…"
"Yogi kan?" seru laki-laki yang berada disampingku seraya menunjuk laki-laki muda yang berdiri persis didepannya. "Yogi Suhendra?"
"Kamu…Andra ya? Andra…"
"Andra Darminto…tepatnya!"
Keduanya berseru senang dan replek saling berpelukan satu sama lain disertai tawa yang keras.
"Ya Allah…I don't think that we can see you again here with my own friend! It's a long time and almost don't know you are…", ujar laki-laki muda yang bernama Yogi Suhendra itu dengan bahasa Inggris beraksen daerah lokal di Indonesia. "Oh thank Allah…Alhamdulillah! I'm so glad to meet you again, friend!"
(Ya Allah…tidak terpikir kita akan bertemu temanku sendiri disini rupanya! Sudah lama sekali dan hampir saja saya tidak mengenal temanku ini…! Oh terima kasih ya Allah! Akhirnya senang sekali dipertemukan kembali denganmu, kawan!)
"Yeah me too, friend! See…how different you are now!", balas laki-laki yang bernama Andra Darminta sambil kembali memeluk sahabatnya itu.
(Ya aku juga, kawan! Lihatlah…betapa berbedanya kamu sekarang!)
"What different am I? It's me as you know!"
(Apanya yang berbeda? Saya ya seperti yang kamu kenal dong ah!)
Andra menepuk-nepuk pundak Yogi sambil memperhatikan penampilan sahabatnya ini. Lalu kemudian mata Yogi melirik sekilas kearahku yang hanya terdiam memperhatikan kedua laki-laki itu. "Yours?"
(Wanita itu milikmu?)
"What?"
(Apanya)
"Your wife?"
(Istrimu)
"Ngaco kamu ah!", jawab Andra tersipu.
"So…?"
(Lalu?)
"Aku bukan apa-apanya teman anda, Pak Yogi! Kami hanya sama-sama berteduh ditempat yang sama!", jawab aku dengan perasaan yang tiba-tiba merasa tidak nyaman berada disana. Berharap sekali hujan akan segera berhenti atau paling tidak sopir laki-laki yang bernama Yogi itu secepatnya kembali lalu membawa kedua laki-laki itu berlalu dari tempat itu.
"Oh ma'af, Bu! Saya pikir…", ucap Yogi dengan suara perlahan dan hampir tidak dapat kudengar diantara riuhnya gemercik hujan yang disertai angin.
"Tidak faham bahasa Inggris?", tanya aku setengah meledek namun sengaja kubarengi dengan sedikit senyum agar tidak terkesan angkuh.
"Bukan itu maksud saya, Bu! Saya kira Ibu ini istrinya teman saya ini?!"
"Ngaco lu ah!", timpal Andra sambil menyikut lengan Yogi dengan keras.
Aku tersenyum. "I am still single and belum menikah! Is that clear, guys?"
Kedua laki-laki itu mengangguk-anggukan kepalanya berulang. Lucu juga kupikir!
Itulah awal aku mengenal dua sosok laki-laki muda yang bernama Andra dan Yogi. Pertemuan yang secara tidak sengaja mempertemukan dua sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu. Sekaligus juga menambah daftar pertemananku yang baru. Keduanya pernah mengenyam pendidikan tinggi ditempat yang sama. Diluar negeri. Tepatnya di Al-Azhar Mesir. Terpisah beberapa lama karena kesibukan serta menjalani kehidupan yang berbeda.
Yogi Suhendra berasal dari keluarga yang serba mampu dari segi finansial. Tidaklah begitu heran jika dia bisa dengan mudah mengenyam pendidikan tinggi sampai keluar negeri. Sementara Andra Darminto harus bersusah payah mendapatkan berbagai kesempatan untuk meraih beasiswa agar bisa mewujudkan cita-citanya menuntut ilmu di salah satu pusat gudangnya ilmu agama Islam di dunia itu. Kegigihan serta ketekunannya dalam mendisiplinkan diri sukses mengantarnya ke negeri Fir'aun itu sampai usai dan meraih prestasi yang cukup membanggakan. Andra sadar dengan kondisi ekonomi kedua orangtuanya yang serba kekurangan paling hanya bisa mengantarnya hingga bangku sekolah menengah atas. Dia berhasil membuktikan bahwa ekonomi bukanlah penghalang seseorangbuntuk bisa meraih impiannya. Baik Yogi Suhendra maupun Andra Darminto sama-sama memiliki latar belakang keluarga yang ta'at beragama.
Hanya saja nasib berkata lain, setelah menyelesaikan jenjang pendidikan terakhirnya Yogi Suhendra harus ikut terjun mengurusi bisnis gurita keluarganya yang semakin membesar. Sementara Andra Darminto ikut mengamalkan hasil pencarian ilmunya dengan menjadi staf pengajar resmi di sebuah universitas terkenal di kota yang sama-sama ditinggali oleh sahabatnya, Yogi Suhendra.
Sementara aku? Masih berkutat dengan tugas skripsiku yang belum rampung dan kadang berbenturan dengan tuntutan pekerjaanku sebagai seorang penulis aktif di sebuah majalah Islami khusus wanita. Seperti halnya yang terakhir tempo hari itu. Berkas file yang sudah siap kukirimkan ke meja redaksi melalui jasa kurir harus terhambat akibat kejadian saat hujan tersebut.
Namun hikmahnya justru aku bisa kenal dengan orang-orang hebat seperti Yogi dan Andra. Dua sahabat baru yang kerap berbagi ilmu serta nyaman untuk diajak diskusi bersama. Apalagi Yogi, laki-laki itu seringkali memberikan perhatian penuh padaku sampai hal-hal terkecil sekalipun. Aku tidak mau terlalu terbawa dalam irama perasaanku sendiri. Mungkin saja memang itu sudah merupakan tabiat asli seorang Yogi Suhendra dalam memperlakukan sahabat-sahabatnya. Termasuk aku dan Andra Darminto sekalipun.
Begitupun dengan Andra, laki-laki satu ini seringkali pula memberikan masukan dan bantuan yang positif dalam menyelesaikan sisa tugas skripsiku yang batas endingnya tinggal menunggu hari. Sikapnya lurus dan tidak suka dengan basa-basi.
"Hai…bengong saja deh kamu!"
__ADS_1
Satu suara membuyarkan lamunanku. Izmi, salah satu sahabat karibku yang paling cerewet dan suka sekali mempromosikan laki-laki lain yang sudah lama ingin sekali menjalin hubungan yang lebih serius denganku.
"Ada salam dari Prakash!", ujarnya sambil duduk menempel didekatku. Padahal sisa tempat duduk disampingku masih luas dan panjang.
"Apa?", tanya aku belum begitu bisa konsentrasi akibat rasa kejut tadi.
"Salam….dari Prakash! Dengar gak sih?", ledek Izmi sambil memperhatikan layar laptop yang ada dihadapanku.
Hhmmm…nama itu lagi kan? Hampir setiap kali bertemu pasti nama Prakash yang pertama kali dia sebut. Dasar Emak Comblang!
"Alaikumsalaam…", jawabku pelan.
"Nulis apaan sih? Artikel buat majalah itu lagi?", Izmi memperhatikan tulisan yang ada dilayar dengan seksama.
"Iseng aja daripada bengong!", balas aku sekenanya.
"Lah dari tadi aku lihat malah bengong melulu?! Apanya yang ditulis?!", Izmi mulai menggoda. "Atau jangan-jangan kamu lagi mikirin Prakash ya?"
Izmi menjerit seketika saat lengannya berhasil kucubit dengan kuat.
"Sakit banget sih cubitan orang yang lagi jatuh cinta!", bukannya kapok malah dia makin menjadi-jadi. Sebel!
"Apaan sih kamu, Izmi? Gangguin aku saja deh ah!"
Tawa Izmi tiba-tiba berhenti. Mata gadis itu sibuk memperhatikan laptop yang berada dihadapanku.
"Laptop siapa nih? Punya kamu, Nur?", tanya Izmi menyelidik. Disaat seperti itu aku paling enggan beradu pandang dengan mata gadis itu. Entahlah seperti ada magis yang membuatku tidak bisa menyembunyikan apa yang ada dalam isi kepalaku. "Honor menulis kamu sudah cair kan? Wuih…bakal ada acara traktiran nih!"
Kali ini kamu salah besar, Izmi! Laptop itu bukan kudapatkan dari honor menulis artikelku. Tapi…
"Atau….pasti dari teman baru yang seorang pengusaha muda, kaya, keren dan sekaligus masih jomblo itu kan?", Izmi mulai menebak-nebak dan tebakannya itu seringkali tepat. "Siapa namanya ya? Aku lupa…"
"Izmi, apaan sih kamu ini? Laptop ini aku dapatkan…"
"…dari laki-laki yang bernama Yogi Suhendra! Betul kan, Nur?", Izmi menodongkan jari telunjuknya kemukaku.
Aku tidak berminat untuk menjawab.
"Kok diam? Tebakanku benar ya? Hayooo…", kali ini telunjuk Izmi berputar-putar didepan mataku.
"Izmi….", aku mengibaskan jari telunjuk gadis itu supaya menjauh dari mukaku.
"Betul ya? Ngaku saja deh, Nur!", suara tawa Izmi mulai pecah mengganggu konsentrasi pandanganku pada layar laptop.
"Kalau iya memangnya mengapa?", aku mulai jengkel namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa membiarkan Izmi asyik sendiri dengan tawanya yang renyah.
"Soalnya kalau dari….hhmm…oh iya! Andra Darmini…"
"Andra Darminto, say!"
"Cuileeehhh…sampai hafal banget nama lengkapnya! Waw…", lagi-lagi tawa Izmi pecah.
Ups…aku terkena jebakannya. Paling bisa betul deh sahabatku yang satu ini memancing kejujuranku. Aaaarrgghh….
"Dia kan seorang dosen! Pasti gaji bulanannya lebih dia pilih untuk ditabung buat persiapan menikah ketimbang beliin kamu laptop! Maklum dosen jones! Haha…", tidak henti-hentinya Izmi menggodaku. "Si Prakash lebih tidak mungkin! Cowok keturunan India yang katanya bersedia jadi muallaf kalau nikah sama kamu itu ikut traktir beliin kamu laptop! Buat makan dikantin saja masih ngandelin duit orangtuanya yang punya bisnis konveksi!"
"Sudahlah, Izmi! Tidak baik membicarakan orang lain! Tidak enak didengar orang lain, say!", aku mulai merasa tidak nyaman dengan kelakar sahabatku ini. Rasanya jauh dari kata lucu.
"Lho…aku kan lagi ngomongin kamu, Nur! Siapa cowok yang akan kamu pilih untuk suamimu kelak!? Ingat lho, Nur! Habis wisuda nanti pasti kamu akan disuruh menikah sama orangtua kamu secepatnya. Biar mereka bisa cepat-cepat momong cucu…."
"Sudah ah aku mau pulang saja!"
"Eit….jangan pergi dulu dong, say! Masa segitu saja ngambek sih?!", Izmi menahan gerak tubuhku yang sudah bersiap-siap hendak bangkit dari tempat dudukku. "Oke…kita relax ya?! Afwan…"
Sebel! Teman paling menyebalkan sekaligus tidak kuasa kutolak kalau sudah meminta.
"Oke…saatnya serius! Cerita dong, Nur!", rajuk Izmi sambil menggenggam jemariku.
"Cerita apa? Aku kan sudah pernah bercerita perihal yang kamu bilang tadi!"
"Laptop itu…", tunjuk Izmi dengan ujung matanya yang berbulu lentik.
Aku menarik nafas sesaat.
"Yogi yang kasih…", kataku akhirnya.
"Benar kan dugaanku?"
"Dia merasa bersalah karena telah membuat bahan artikelku basah berantakan. Berulang kali memintaku untuk datang kekantornya tapi aku tidak mau. Sampai akhirnya dia sendiri yang datang dan memberikan laptop itu dengan sedikit memaksa…"
"…dan ketika suatu saat nanti dia memintamu untuk menjadi pendampingnya apakah kamu juga akan menerimanya dengan keterpaksaan?", Izmi mulai serius sambil menatap bola mataku dalam-dalam.
"Duh…Nur Azizah! Kamu itu tidak bisa membedakan tatapan mata seseorang yang sedang jatuh cinta ya?"
"Siapa yang jatuh cinta? Aku?"
"Yogi…, say! Dia jatuh cinta sama kamu!"
"Ah…kamu bisa saja! Tidaklah! Mana mungkin itu?", aku beringsut menjauh dan sebisa mungkin menghindari tatapan mata Izmi yang semakin lekat.
"Dan kamupun rasanya memiliki hal yang sama!", Izmi meraih wajahku dan menariknya agar bisa kembali menatap mataku yang bergerak serba salah.
"Aku jatuh cinta? Sama Yogi juga?", aku mulai ikut menebak-nebak. Aku harap kali ini Izmi keliru.
"Bukan…matamu berkata lain saat kamu berbicara dan menyebut sebuah nama, Nur!"
"Kamu semakin aneh saja! Kamu itu cocoknya jadi dukun ketimbang jadi ahli ekonomi…" kali ini gantian aku yang tertawa lepas.
"Ya ampun, Nur! Kamu itu gak lucu!
Astaghfirullah…"
"Uuuhh…afwan, Izmi! Aku cuma bercanda! Ma'afkan aku yaa…", tiba-tiba aku merasa menyesal dengan ucapanku tadi. Maksudnya sih bercanda. Tapi…
"Kamu mencintai laki-laki lain ya, Nur?"
"Siapa? Prakash maksudnya?"
"Jangan sebut nama itu, Nur!"
"Mengapa?"
"Karena dia tepat ada dibelakangmu…"
"Astaghfirullah…"
Aku baru menyadari kehadiran sosok Prakash yang rupanya sudah lama berdiri tepat dibelakangku. Izmi tertawa-tawa melihat keterkejutan yang kualami. Ampun deh sahabatku yang satu ini. Senang sekali melihat aku dalam kesulitan seperti ini.
"Hai…Nur! Izmi! Lagi ngomongin aku ya?" tanya Prakash dengan santainya dan duduk dikursi yang tepat menghadap kearahku.
Jarum jam sudah hampir menepi ke waktu dini hari. Aku masih belum bisa mengatupkan kelopak mataku untuk menjemput mimpi. Bersandar ditepian tempat tidur sambil mengulang kembali lembaran bayangan kehidupanku yang telah terlewati. Satu demi satu hadir terngiang dalam benakku terajut menjadi sebuah beban hati. Prakash, Andra dan Yogi silih berganti hadir dalam koridor kepalaku menebar pesona cinta yang hakiki.
Entahlah…aku sendiri bingung untuk menentukan sebuah pilihan yang Tuhan berikan. Satu sama lainnya memiliki aura yang sanggup membuat prinsipku sedikit tergoyahkan. Andra dan Yogi, dua laki-laki muda yang memiliki dasar agama nan kuat sebagai landasan keimanan. Sangat ideal sekali dijadikan calon imam bagi kelurgaku dihari kemudian. Hanya saja keduanya jauh berbeda dari sisi kemapanan. Sementara Prakash begitu gigih memburu simpatiku dengan berbagai untaian frasa yang menjanjikan.
"Aku sudah terusir dari keluargaku sendiri, Nur! Mereka tidak menganggapku sebagai bagian dari keluarga!", ungkap Prakash suatu hari.
"Lho mengapa begitu?", tanya aku terkejut dan langsung menghentikan aktifitas makan siangku disebuah kantin dalam lingkungan kampus.
Prakash menarik nafasnya sesaat yang nampak begitu berat. Tatapan mata laki-laki itu terlihat hampa dan tidak bersemangat.
"Aku sudah menjadi muallaf, Nur! Sesuai dengan janjiku dulu sama kamu!", jawab Prakash perlahan. Bola matanya yang kecoklatan dengan bulu mata yang sedikit keriting memandangku lekat. Ada banyak kepasrahan, kegelisahan dan juga harapan besar yang terpancar disana. Tentu saja peruntukannya bagiku seorang.
Alhamdulillah…aku berbisik dalam hati. Kebahagiaan ataukah rasa takut yang tiba-tiba menggayuti seisi nafasku ini. Yang pasti aku seperti merasakan tengah berpijak dalam satu tumpuan. Melangkah maju maupun mundur akan berakibat sama.
"Mengapa kamu diam, Nur? Kamu tidak bahagia dengan kesungguhanku ini? Ataukah masih kurang pembuktian bahwa aku benar-benar mencintaimu?", suara Prakash terdengar sedikit tertahan.
"Aku bersyukur dan senang sekali, Prakash! Tapi…", agak ragu juga aku harus berterus terang dengan perasaanku yang sesungguhnya. Ini bukan hanya masalah cinta saja namun lebih dari sekedar kejujuran yang harus kusampaikan dengan berbagai konsekuensi yang berat.
"Tapi mengapa? Kamu tidak mencintai aku?"
Ah…Prakash! Melihat wajahnya saja sangat bohong besar jika aku katakan bahwa aku tidak tertarik padanya. Adalah sebuah kebanggan terbesar bagi kaumku jika bisa memiliki pendamping hidup seperti dirinya. Tapi ketika cinta bukanlah seorang dewa maka kejujuran bisikan naluri adalah sebuah kewajaran yang dapat ditolerir.
"Ini bukan tentang masalah cinta saja, Prakash! Aku ini seorang wanita dan aku tidak mau berbicara dengan kondisi hatiku seperti sekarang ini walaupun itu sudah merupakan kodrat kami!", aku berusaha mengelak sebisaku agar laki-laki itu tidak terus bertanya-tanya. Paling tidak dia mau menunggu sampai waktu yang belum bisa kutentukan sendiri.
"Artinya kamu juga menyimpan rasa yang sama sepertiku kan? Tapi ada seseorang yang ikut hadir diantara pertemuan rasa kita itu kan?", Prakash mulai menyelidik.
"Aku belum bisa menentukannya, Prakash! Aku harus bertanya terlebih dahulu pada Tuhanku!"
"Bagaimana cara Tuhan memberimu jawaban, Nur? Yang setidaknya aku sendiri bisa mendengarnya langsung dari Dia!"
"Banyak yang harus kamu pelajari dari agama yang baru saja kamu yakini itu, Prakash! Kalau Tuhan bisa menunjukan kuasaNya mengapa Tuhan harus pula memperdengarkan suaraNya? Keyakinanmu akan keberadaan Tuhan itu adalah sebagai landasan terkuat yang bisa melihat, mendengar dan merasakan bagaimana Tuhan berkehendak atas kehidupanmu!"
"Aku tidak faham!"
"Iqra…"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, fahami isinya lalu amalkan dalam kehidupanmu sehari-hari. Itu yang akan membuatmu tidak akan banyak bertanya tentang ke-Tuhan-an…!! Percayalah!", aku memberikan Prakash sebuah buku tentang tuntunan agama. "Pelajari ini! Jika ada hal yang tidak kamu fahami, didalamnya aku tulis nomor handphone yang bisa dihubungi beserta alamat guru pengajianku!"
Itulah terakhir kali aku bertemu dengan Prakash. Laki-laki itu menghilang entah kemana. Tidak ada kabar berita mengenainya. Bahkan ketika kutanya pada guru pengajiankupun beliau tidak pernah kedatangan seorang pemuda keturunan India. Pada acara wisudapun aku tidak melihat sosoknya hadir disana. Kemanakah Prakash…
Lain lagi dengan Yogi dan Andra, dua sahabat baruku itu turut pula menyempatkan diri hadir pada acara wisudaku. Keduanya bahkan sempat memperkenalkan diri pada kedua orangtuaku. Mengajak makan siang bersama keluargaku dalam satu meja disebuah resto terkenal dikota dan diisi dengan obrolan ringan mereka.
Ada satu hal yang menarik perhatianku. Disaat berkumpul bersama mereka berdua ditempat itu, berulangkali kuperhatikan sikap Ayahku pada Yogi. Tampaknya Ayahku suka sekali dengan laki-laki muda itu. Beliau seringkali terdengar memuji atas keberhasilan Yogi dalam mengurus perusahaan keluarganya. Decak kagum dan pandangan bangga dalam sorot mata Ayahku seakan memberi sinyal kalau beliau sangat ingin agar aku berjodoh dengan Yogi.
"Tidak Ayah! Aku belum bisa memutuskan untuk hal itu! Mohon ma'afkanlah anakmu ini…", begitu jawabku saat Ayah memintaku menerima Yogi sebagai calon suamiku.
"Apalagi sih yang kamu tunggu, Ndok? Kuliahmu sudah selesai. Usiamu semakin bertambah. Sementara kamu adalah anak semata wayang Ayah dan Ibu! Kami ingin sekali melihatmu segera menikah dan memberi kami seorang cucu…", ungkap Ayah disela-sela kami sekeluarga berkumpul didepan TV. "Mau cari kerja? Jadi wanita karir? Wanita tidak dituntut untuk itu, Ndok! Cukup membekali diri dengan ilmu agama agar bisa mendidik serta membimbing anak-anakmu kelak, itu saja! Kalau kamu menikah dengan Yogi, kamu tidak perlu bersusah payah untuk memenuhi hakmu. Yogi sudah siap dalam hal itu. Apalagi yang diragukan?"
"Bukan masalah itu, Ayah! Aku sudah siap melangkah menuju jenjang pernikahan, tapi butuh waktu untuk menentukan yang terbaik buat aku dan juga Ayah serta Ibu!", aku masih berusaha menyakinkan Ayah.
"Menentukan siapa lagi? Andra? Prakasah? Atau Arya mungkin? Mereka belum sepenuhnya siap untuk hal itu, Ndok! Apalagi si Prakash itu yang baru saja jadi muallaf dan sekarang keberadaannya entah dimana? Arya? Apalagi! Masa depannya saja belum jelas! Andra? Apanya yang menarik dari dia?", suara Ayah mulai meninggi.
"Sabarlah, Pak! Biarkan saja anak kita yang memilih. Yang akan menjalaninya kan dia sendiri toh? Kita sebagai orangtua hanya bisa menyarankan yang terbaik. Soal pilihan biar anak kita yang menentukan. Yang terpenting baik untuk dia dan kita juga! Sederhana kan, Pak?", Ibu menimpali dengan suaranya yang lembut menyejukan.
"Lah justru yang sedang aku lakikan ini adalah menyarankan yang terbaik untuk anak kita, Bu? Semua demi kebaikan dia juga toh?"
"Iya, aku tahu! Tapi apa salahnya jika kita memberikan kepercayaan sepenuhnya pada anak kita? Yang jatuh cinta kan dia bukan kita…", Ibu tertawa mengekah disamping Ayah sampai bahunya berguncang.
"Ibu tahu darimana? Jangan sok tahu!".
"Kan aku mengalami sendiri, Pak! Waktu dulu aku disuruh milih Bapak atau teman Bapak itu? Siapa yang akhirnya kupilih? Bapak juga kan? Lah waktu itu Bapak punya apa coba?", sekali lagi Ibu mengekeh keras.
"Yaaaa…milih aku dong?!", Ayah tiba-tiba merasa kikuk dibuatnya.
"Mengapa aku lebih memilih Bapak? Karena aku yakin bahwa Bapak bisa membahagiakan aku…"
"Tapi ini situasi dan kondisinya berbeda lho, Bu!"
"Apanya yang berbeda? Dalam hal cinta tidak ada kisah yang memiliki sejarahnya tersendiri. Namun yang kerap kali berganti adalah para pelakonnya, Pak! Karena cinta itu adalah fitrah yang tidak bisa dipungkiri dan terlahir dari sisi hati yang terdalam dan terlindungi dari kontaminasi warna-warni rasa dunia yang memanipulasi. Allah telah memilih bagian dari tubuh makhlukNya itu karena dari sanalah awal seorang manusia akan memulai sebuah langkah pertama untuk menjadi baik atau sebaliknya. Dan akal pikiran adalah sensor utama yang berperan sebagai filtrasi…"
"Masyaa Allah….Begitu bijaknya untaian kalimat yang engkau ucapkan itu, wahai istriku!"
"…Aku membaca postingan Facebook salah seorang temanku. Begitulah bunyinya…"
"Yeeee….dikirain asli pemikiranmu, Bu?!"
Aku terkekeh mendengar kelakar kedua orangtuaku.
Ayah menatapku dalam-dalam. Aku tahu apa yang Ayah pikirkan itu adalah untuk kebahagiaanku semata. Tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya senang. Namun kadang cara menilai terhadap suatu masalah itulah yang seringkali mempertemukan sebuah argumen pada lorong perdebatan.
"Semua Ayah serahkan sama kamu saja, Ndok! Kami percaya sepenuhnya padamu. Jikalau kamu membutuhkan nasihat, tangan kami akan selalu terbuka untuk memelukmu. Dan jangan lupa…, semua rahasia hidup ini ada pada pemilikNya. Mintalah sedikit bocoran kisah hidupmu dariNya. Insyaa Allah Allah itu Maha Baik dan Dia akan senantiasa memberikan yang terbaik pula untuk hambaNya yang baik-baik…", Ayah mengusap kepalaku berulang-ulang. Sentuhannya begitu lembut dan meresap kedalam ubun-ubunku. Memberikan banyak energi positif yang mampu membuatku kuat dalam berkeyakinan memilih terbaik diantara yang baik.
"Alhamdulillah aku sudah melakukannya, Ayah!", jawabku akhirnya memberanikan diri mulai membuka diri.
"Oh ya? Petunjuk apa yang kamu dapatkan, Ndok?"
Ayah dan Ibu saling berpandangan satu sama lain.
Aku menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum meneruskan ucapanku tadi. "Ketiganya hadir melalui mimpiku dengan senyumannya masing-masing!"
"Termasuk Arya?", Ayah merengut.
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum menatap kedua bola mata Ayahku yang menyimpan banyak rasa keingintahuannya.
"Laki-laki yang telah Ayah sebutkan sebelumnya!"
"Yogi, Andra dan Prakash?"
Kali ini aku menganggukan kepala perlahan sambil menundukan padanganku. Tidak kuasa rasanya jika harus melihat sorot mata Ayah yang akan kecewa jika pilihanku tidak sesuai dengan yang diinginkan beliau.
"Siapa yang kelak akan kau pilih, Ndok?", tanya Ayah sekali lagi.
Ibu menepuk pundak Ayah perlahan. Maksudnya agar jangan memaksaku untuk mengungkapkannya sekarang jika memang belum siap.
"Insyaa Allah…tidak lama lagi dia akan datang menemui Ayah dan Ibu!", jawabku akhirnya.
Aku benar-benar tidak sanggup mengucapkan nama laki-laki yang kupilih untuk menjadi calon pendampingku. Aku khawatir nama itu akan mengecewakan harapan Ayah. Namun aku yakin bahwa petunjuk yang Allah berikan itu tidaklah keliru. Dialah calon imam yang tepat dan akan membantu membimbingku menuju jalan kehidupan yang Allah ridhoi. Bukanlah sebuah pilihan yang mudah menghadapi kenyataan yang ada.
Setelah perbincangan kami diruang keluarga itu, Ayah tidak banyak mempertanyakan tentang hal yang sama. Beliau bersikap seperti biasanya. Bahkan cenderung memilih untuk berdiam diri walaupun kami hadir di dalam ruangan yang sama. Aku tahu beliau tidak marah. Namun kekecewaan yang terpancar melalui raut wajahnya tidak mampu menipu pandangannya saat kami saling bertatapan.
Ma'afkan anakmu ini, Ayah! Bukan maksud hati untuk membuatmu terluka. Namun ini adalah prinsip hidupku. Aku sudah memutuskannya dengan bantuan bisikan Tuhan. Dan disinilah aku harus mempertaruhkan semuanya dengan segenap keyakinanku akan kuasaNya. Sebagaimana halnya bimbingan dan didikan dasar agama yang kerap kali kuterima dari kedua orangtuaku.
"Hai, say! Assalamu'alaikum…"
Sapa pertamaku saat berbincang dengan kawanku Izmi yang lama tidak kujalin silaturahim semenjak acara wisudaan dikampus beberapa waktu yang lalu melalui pesawat seluler kami.
"Wa'alaikumusslaam, Nur! Apa kabar?", Izmi menjawab dari ujung sana dengan suara perlahan.
"Alhamdulillah aku baik kok! Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah juga, Nur! Eh…bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Prakash?", tiba-tiba Izmi langsung bertanya mengenai laki-laki yang selama ini seringkali mengejar-ngejarku itu.
"Kok Prakash sih? Memangnya aku punya hubungan apa dengan dia?", aku sedikit tertawa.
"Ooohh…aku kira kamu jadian sama dia?".
"Enggaklah! Aku sudah memutuskan untuk menerima seseorang kok!"
"Siapa? Yogi ya?"
"Bukan! Ayo tebak siapa?"
"Maksud kamu…Andra bukan?"
Aku tidak langsung menjawab. Tawaku langsung menghambur begitu saja usai Izmi menyebutkan nama yang satu itu.
"Kamu serius menerima pinangan Andra, Nur? Tidak salahkah?", tiba-tiba suara Izmi seperti tercekat diantara pertanyaannya.
"Insyaa Allah, Izmi!"
Obrolan kami tiba-tiba hening sejenak. Aku tidak tahu apa yang seharusnya kami perbincangkan selanjutnya. Tidak seperti biasanya hal itu terjadi diantara kami. Biasanya Izmi paling ramai kalau sudah membicarakan topik yang satu ini.
Sampai akhirnya kami menyudahi panggilan telepon kami dengan sedikit bumbu humor yang terasa garing dan menimbulkan kebingungan. Aneh…
Itu pula obrolan terakhir yang kami lakukan dengan Izmi. Setelah itu sulit sekali aku menghubungi teman akrabku itu. Nomor ponselnya selalu dalam keadaan tidak aktif.
Entahlah…aku tidak mau berpikiran yang macam-macam. Mungkin saja ada sesuatu hal yang tengah Izmi hadapi atau bisa juga ponselnya hilang tertinggal disuatu tempat.
"Ndok, ada seseorang yang ingin menemui kamu tuh!", suara Ayah membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh kearah sosok Ayahku yang berdiri diambang pintu kamarku yang terbuka.
"Iya sebentar, Ayah! Aku ganti pakaianku dulu!", ujar aku sambil tergopoh-gopoh membereskan peralatan sholat yang masih kukenakan.
Baru tersadar rupanya lama nian aku termenung seusai menunaikan sholat Maghribku tadi. Aku masih teringat pada Izmi temanku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan sikapnya akhir-akhir ini. Menghilang begitu saja tanpa kabar yang jelas. Sebagai seorang sahabat yang sudah sekian lama akrab sudah tentu merupakan fenomena aneh menemukan keganjilan yang belum berujung pangkal seperti itu.
Oh iya aku lupa bahwa hari ini Andra beserta keluarganya akan datang berkunjung kerumahku sebagaimana yang telah dijanjikan. Laki-laki itu sudah mantap dan yakin akan mempertemukan keluarganya dengan kedua orangtuaku. Sekaligus sebagai langkah awal untuk meluruskan hubungan kami menuju jenjang yang lebih serius dan halal.
"Kamu yakin dengan pilihanmu itu, Ndok?", tanya Ayah begitu pihak keluarga Andra mengajukan pinangannya disela-sela pertemuan keluarga.
"Insyaa Allah…Ayah! Aku sudah yakin bahwa dialah laki-laki yang tepat sebagai calon imam keluargaku dan juga menantu Ayah dan Ibu yang baik!", aku menjawab tanpa berani menatap sorot mata Ayahku.
"Bukan Yogikah, Ndok?", sekali lagi Ayah ingin memastikan.
Perlahan aku memberanikan diri untuk menatap mata Ayah yang mulai sembab. "Aku tidak berani mendahului ketentuan hidup yang telah Allah tetapkan dan sama sekali bukan bermaksud untuk mengecewakan Ayah. Insyaa Allah ini pilihan hidup aku dan demi kebaikan kita bersama."
"Kamu yakin?"
"Ayah, ada sesuatu hal yang luar biasa yang aku lihat dari sosok seorang Andra. Dia benar-benar sesuai dengan type laki-laki yang aku dambakan selama ini. Yogi mungkin juga type laki-laki yang banyak menjadi dambaan perempuan-perempuan lainnya. Termasuk aku. Namun ketika harus memilih, keyakinanku mengatakan bahwa Andra adalah sosok yang lebih baik. Mengapa? Dia type laki-laki yang tidak mudah menyerah dalam hidup. Senantiasa bersemangat dalam menggapai cita-cita serta impian hidupnya. Dari segi finansial mungkin dia agak jauh berbeda dengan Yogi yang hidup dengan gelimangan kekayaan. Tapi harap Ayah fahami, untuk menjadi orang seperti saat ini Andra harus menjalaninya mulai dari titik terendah. Tekadnya hanya satu yaitu usaha dan do'a. Bahkan setelah itu dia mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain. Menjadi seorang pengajar dengan penghasilan yang tidak seberapa. Namun disitulah justru nilai lebihnya, Yah! Dia mampu berdiri sendiri diatas kekurangan hidup yang menopangnya!"
"Kalau Yogi…?"
Yogi lagi! Pikir aku tidak habis pikir.
"Bukannya aku mau membandingkan tapi realita yang ada ya seperti itu. Semenjak kecil hingga sekarang Yogi tidak terbiasa hidup dalam keadaan serba kekurangan. Kebutuhan hidupnya senantiasa tercukupi. Tidak ada hal yang menyulitkan dia untuk menggapai keinginanannya karena semuanya serba ditopang oleh kondisi ekonomi keluarganya yang berkecukupan. Keadaan seperti ini khawatirnya justru akan melahirkan sikap yang tidak akan siap jika suatu saat menemukan fase hidup yang tidak biasa dia jalani. Jiwanya rentan rapuh. Aku ingin menjalani kehidupan ini dengan seorang pendamping hidup yang kuat dan tegar. Seperti Ayah…"
"Seperti aku?"
"Seorang Ayah yang mampu mengantarkan anak semata wayangnya menggapai cita-citanya hanya dengan bermodalkan penghasilan pensiunan yang tidak seberapa besar. Namun selama ini aku belum pernah melihat Ayahku mengeluh dan menyerah sampai akhirnya aku bisa berdiri dengan anggun diatas kemampuanku sendiri karena sosok luar biasa yang berada dalam hidupku….yaitu Ayahku! Salahkah aku jika selama ini turut memperhatikan orang yang aku sayangi dan kemudian mengaplikasikan sebuah contoh hidup seseorang yang akan merampas hak-hak seorang Ayah terhadap anak gadisnya pada laki-laki lain yang belum pernah sama sekali Ayah kenali? Bukankah sudah fitrah bahwasanya aku harus rela lebih mentaati laki-laki calon imamku itu ketimbang Ayahku sendiri? Lalu laki-laki macam apakah yang seharus menjaga anak kesayangan Ayah yang selama ini Ayah bangga-banggakan? Salahkah aku jika kemudian pilihanku jatuh kepada sosok laki-laki tangguh yang diyakini mampu menjaga amanah seorang Ayahnya?"
Air mataku mulai menetes perlahan menyusuri pipiku. Rasanya sakit sekali menahan ujung lidahku yang terasa menggerus dinding tenggorokanku yang mengering. Sampai tidak terasa sesaat kemudian aku sudah berada dalam dekapan hangat kasih seorang Ayahku.
"Aku bangga padamu, Nak!", ujar Ayah pelan dan mendaratkan kecupnya diujung keningku yang masih terhalang kain hijab.
"Itu karena aku sayang ayah…."
"Bersiap-siaplah karena sebentar lagi kan calon mantu ayah akan segera tiba…"
Aku tersenyum bahagia. Garis kerut senyum diwajah Ayah memang tidak bisa menyembunyikan bahwa beliau benar-benar berharap segera hadirnya seorang generasi penerus gennya. Insyaa Allah aku akan membantu mewujudkannya, Yah!
Hatiku serasa berbunga-bunga. Mentari baru sudah siap menyongsong kelanjutan kisah hidupku kelak. Namun jauh disana ada bisikan perih hati yang berkata lirih, "Awalnya aku berharap kamu akan bisa sejalan bersama dengan Yogi, Nur! Dan itu berarti bahwa aku punya banyak kesempatan untuk bisa saling mengenal dengan Andra. Tapi kenyataan berkata lain aku harus menelan rasa pahit ini dan berusaha untuk melupakannya bersama dengan bayangan-bayangan keindahan yang seringkali kita lewatkan. Aku tidak tahu apakah sanggup untuk menjalani sisa-sisa impian hidupku ini diatas vonis penyakit yang sedang kudera ini…"
Selembar kertas jatuh dari tangannya yang gemetar setelah membaca surat hasil test lab yang diterimanya hari itu bahwa dia positif menderita kanker….
__ADS_1
...TAMAT...