
...BALADA ELIANA GILDA...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Musik mengalun lembut, bergema di sudut-sudut pesta. Berbaur dengan para tamu undangan yang hadir memenuhi ruang resepsi. Dilengkapi kerlip lampu hias tertata rapi di antara lembar kain dekorasi berwarna merah muda serta buket membunga-bungai. Sementara sepasang pengantin tengah sibuk menerima antrean salam dan doa restu di atas pelaminan, seraya tak henti menebar senyum semringah nan menawan. Sebuah pernikahan megah antara Alvaro dan Eliana. Dua insan rupawan dan sepadan, akan tetapi terpaut usia jauh dari sangkaan. Bagaimana tidak? Sosok mempelai perempuan yang cantik berkulit kencang itu, sebenarnya telah berusia enam puluh tahunan. Berbeda kontras dengan lelaki di sampingnya yang baru berumur tiga puluh tahun. Namun tidak tampak sama sekali selisih dua kali lipat di antara mereka. Sama-sama masih terlihat muda dan sebaya.
Di sudut lain, seorang laki-laki tua bernama Frans duduk termenung, menyendiri, dengan batang rokok mengepul di antara jepitan jemari. Entah sudah berapa banyak isapan asap nikotin memenuhi paru, hingga sesekali batuk membuncah dari mulutnya yang kering dan bibir menghitam. Tatap tajam lelaki itu mengarah pada pelaminan. Seakan hendak menguliti hidup-hidup sesosok di sana. Eliana Da Costa. Menantu baru, sekaligus istri dari anaknya, Alvaro Da Costa.
“Hei, Frans!” panggil satu suara mengejutkan diiringi tepukan di bahu tua lelaki tersebut.
Frans menoleh. “Oh, kau Danny. Bikin aku kaget saja,” ujar Frans seraya tersenyum kecut.
Daniel Curtin, laki-laki sebaya Francisco Jose Da Costa menyodorkan segelas wine ke arahnya. “Kenapa? Kau juga ingin seperti anakmukah, Duda Lapuk?”
Frans merengut usai menerima sodoran dari temannya tersebut. “Tidak usah meledekku seperti itulah, Dan,” tukasnya kemudian. “Aku hanya sedang menikmati peran baruku sebagai mertua dari istri anakku itu.”
“Cool, Man. It’s only a joke,” sergah Danny kembali menepuk-nepuk bahu Frans. Lalu dia duduk di sebelah sambil memperhatikan raut wajah sang bapak hajat. “Are you alright?”
“I’m just fine .... “ jawab Frans diikuti isapan kembali rokoknya. Hening beberapa saat, sampai kemudian dia menunjuk pelaminan. “Dan, coba kau perhatikan menantuku itu. Berapa umur dia menurutmu?”
“Eliana?”
“Ya. Siapa lagi?”
Danny menyipitkan kelopak matanya. Memperhatikan sosok Eliana dengan saksama. “Hhmmm, kau tidak sedang mengujiku, ‘kan?”
“Tentu tidak. Anggap saja ini ... just a game,” jawab Frans disertai seringainya. Danny mendecak, tapi tetap fokus melihat ke depan. “Damn it! Dari dulu kau selalu mengajakku main tebak-tebakkan.”
“Bayangkanlah, seolah-olah kita sedang bertaruh untuk mengajak cewek kampus berkencan. Kau masih ingat itu?”
“Shit! Kau yang selalu memenangkan taruhannya, Frans!” rutuk Danny seketika, mengingat masa-masa badung mereka dulu.
Frans terkekeh.
“Pertanyaannya masih sama ‘kan?” Danny mulai konsentrasi. Jawab Frans, “Tentu. Kau belum menjawabnya, Kawan.”
Kening Danny berkerut. Beberapa lama kemudian dia mencoba menerka. “Hhmmm, kau mau menjebakku? Tentu saja umur Eliana itu sepantar dengan anakmu, Alvaro. Benar ‘kan? Hehehe.”
Frans menggeleng. “Absolutely wrong!”
“You’re kidding me, Old Man. Aren’t you?!”
“I am not.”
Danny menyipitkan kembali kelopak mata. Menatap heran sahabatnya sejak duduk di bangku kuliah dulu. “Lihat saja wajah dia dan anakmu. Tidak jauh berbeda. Mungkin lebih muda, atau bisa jadi juga sedikit tua di atasnya.”
Frans meminum wine-nya sedikit. Lalu menoleh sejenak pada Danny. “Tetap salah, Kawan. Tebakanmu payah.”
“Lalu, kau pikir berapa usianya?” Danny penasaran.
Diawali senyuman penuh makna, Frans menjawab, “Sebaya dengan kita, Dan.”
Mata Danny membelalak. “Excuse me. Kau serius?”
Frans mengangguk. “I am.”
“But how?”
Frans kembali menyeringai. “Karena yang kumaksud itu ... umur istrimu sendiri, Dan.” Lelaki tua itu pun tergelak hebat.
__ADS_1
“O, ****! What the **** are you talking ‘bout?” Walau sedikit kesal karena telah dipecundangi temannya, Danny turut tertawa.
“Ya, memang benar. Karena aku perhatikan, dari tadi istrimu melihat-lihat terus ke arah kita, Kawan,” ujar Frans menunjuk keberadaan istri Danny dengan gerakkan bola matanya.
“Biarkan saja. Irene memang tipe wanita cemburuan.”
“Termasuk terhadapku?”
“Ya, pada siapa saja. Apalagi kau lama menduda. Mungkin dia pikir, kau telah membelok.”
“Sial!”
Kini giliran Danny yang tertawa renyah. Puas. “Benar pun, bagiku tak masalah, Frans. You’re still my best friend. Tapi tidak untuk menjadi objek pemenuhan orientasi biologis menyimpangmu itu. Haha.”
Tidak. Seorang Francisco Jose Da Costa bukan lelaki seperti itu. Jauh sebelum mengenal dan menikahi mendiang istrinya, Mariana, dia pun pernah menjalin hubungan dekat dengan seorang perempuan cantik lainnya. Sosok itu bernama Eliana Gilda.
* * * * * * * * * * * * * *
Gadis cantik itu masih duduk menyepi dibuai embusan alam. Hitam rambutnya tergerai indah dipermainkan angin. Memandang takjub keindahan Serra da Estrela memanjakan mata. Sesekali senyumnya merekah sambil membaca-baca secarik kertas putih bertuliskan tangan.
'Linda tarde no final do dia, voltarei para cumprir minha promessa. Juntos e juntos para cumprir uma promessa de navegar em nossos planos de amor no futuro. Espere por mim no lugar onde nos conhecemos. Monte Estrela.'
Tertanda di bawahnya sebuah nama milik seorang laki-laki, Francisco.
Eliana tahu, itu bukan pertama kali dia baca lembar surat tersebut. Entah sudah yang keberapa semenjak tiba di sana tadi sore. Hasratnya untuk meniti ulang rangkaian kalimat dari lelaki pujaan, masih begitu besar. Seakan selalu haus akan bisikan melenakan suara berat Fransisco, di tengah landa oasis penuh cinta.
Sebagaimana yang tertulis dalam surat itu, Frans akan datang membawa kabar suka. Lamaran? Mungkin saja. Dari sekian waktu yang telah terlewati bersama, inilah akhir perjalanan biduk asmara dua pasang insan, ke dalam satu ikatan suci di bawah asma’ Tuhan.
Ya, Gunung Estrela dengan lekuk danau lebar bersurgakan limpahan air segar. Di sanalah Frans dan Eliana awal bersua. Secara tidak sengaja? Tentu tidak. Karena garis kehidupan dari langit tak pernah salah. Pun karena itu, mereka berencana untuk memperpadukan kedua hati di tempat sama.
Dengan debar penuh harap, Eliana setia menanti kedatangan sang kekasih. Hingga alam pun berubah kelam. Hitam menghiasi setiap pandang. Tak sekalipun Frans tampak tiba untuk memenuhi janji. Lelaki itu menghilang tak tahu rimba maupun kabar atau berita. Jelas, itu telah menyisakan rasa kecewa teramat dalam bagi Eliana.
Berbekal perih di hati, gadis cantik itu pun terpaksa pulang hampa. Menyusuri jalan setapak area pegunungan di tengah gulita. Mengikuti arah kaki melangkah disertai gayutan merana, juga sapa dingin menusuk pori-pori raga. Sampai kemudian, jerit Eliana memecah kesunyian membelah angkasa, begitu tubuhnya melayang dan berguling hebat di bukit terjal Estrela.
“Anda berada di rumah sakit, Nona,” jawab perawat begitu tanya Eliana menghambur histeris. “Seseorang telah mengantarkan Anda ke sini dalam keadaan tak sadarkan diri. Bersyukurlah, karena Tuhan masih menghendaki Anda hidup.”
“Seseorang? Siapa dia?” tanya Eliana kembali.
Perawat itu mengangkat bahu. “Sayang sekali. Kami tidak diperkenankan untuk memberitahu Anda, Nona.”
“Sedikit pun?”
“Maaf, kami sudah berjanji sebelumnya.”
‘Mungkinkah itu Fransisco? Ah, tidak mungkin. Laki-laki itu tak pernah datang memenuhi janjinya,’ kata Elinana kemudian menangis sendirian tersedu sedan.
Kecewa yang dirasa atas ingkar sang kekasih, memutuskan Eliana untuk menutup hati pada Frans. Sekaligus turut menjalani terapi agar lekas hengkang dari ruangan menyesakkan tersebut.
Keganjilan pun terjadi. Semenjak kecelakaan yang dialaminya di perbukitan Serra da Estrela, tubuh Eliana tidak pernah menua. Bertahun-tahun dilalui, gadis itu tetap terlihat muda seperti tiga puluh tahunan. Usia dimana pada saat itu dia terkapar hampir mati dalam terpaan alam dingin. Dari seorang pakar kesehatan yang ditemui, diduga Eliana mengalami hipotermia.
Puluhan tahun berlalu, Eliana menikmati hidupnya dalam kesendirian. Sampai kemudian, seorang laki-laki muda berhasil mengingkari sumpah untuk tetap perawan hingga akhir hayat. Alvaro, begitu biasa Eliana memanggil. Dia jatuh cinta. Lelaki kedua yang mampu membuatnya menikmati lanjutan keindahan hidup. Sekaligus menorehkan kembali luka lama yang baru saja mengering.
Alvaro ternyata anak tunggal dari kekasihnya dulu. Fransisco Jose Da Costa.
“Tolonglah, maafkan aku, Ana. Maafkan aku,” pinta Frans memelas.
Eliana melepas cekalan jemari Frans. “Mungkin aku bisa saja memaafkanmu, Frans. Tapi mengetahui kenyataan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak akan pernah sanggup.”
“Aku sendiri tidak tahu, mengapa ini harus terjadi. Terutama denganmu, Ana. Tidak sedikit pun kau berubah. Sama persis seperti aku mengenalmu dulu. Sedangkan aku? Kau lihat sendiri ‘kan? Aku sudah berubah tua, Ana,” ujar Frans. “Aku tak pantas bersanding denganmu.”
“Tidak, Frans! Lebih baik aku pergi dari kehidupan kalian berdua! Aku benci melihatmu!”
__ADS_1
“Eliana, sekali lagi aku mohon. Ini demi anakku. Alvaro,” bujuk Frans. “Dia teramat mencintaimu. Selama ini belum ada seorang pun wanita yang sanggup membuatnya jatuh cinta. Selain mendiang ibunya dan ... kau.”
“Frans ... istrimu?” Eliana menghampiri Frans.
“Ya, Alvaro ditinggal pergi ibunya saat masih remaja. Dia tidak pernah berhenti memuji dan merindukan ibunya. Hingga kini. Lalu kau pun datang, dia berpaling. Bahkan, aku sendiri sering dibuatnya cemburu.”
“Frans.”
“Setidaknya, jika kau bersedia menikah. Ada dua laki-laki yang akan mencintaimu sekaligus. Dari masa lalumu dan untuk masa depanmu. Menakjubkan, bukan?”
Eliana memeluk Frans dengan erat. Tangisnya tumpah di sana. “Aku bersedia, Frans. Demi kau, Alvaro, dan juga aku sendiri.”
Frans ikut menangis. Bahagia.
* * * * * * * * * * * * * *
“Anak dan menantumu kemari, Frans,” bisik Danny membuyarkan kilas balik Fransisco. Lantas dia bergegas meninggalkan mereka.
Lekas lelaki tua itu menghapus genangan air matanya.
“Hai, Pah! Mengapa masih di sini? Tamu undangan sudah berangsur pulang,” kata Alvaro begitu mendekat. “Bukankah Papah harus segera minum obat dan istirahat?”
Frans tersenyum. “Papah masih ingin di sini, Nak. Melihat kalian berdua berbahagia di sana,” jawab Frans sambil menunjuk pelaminan dengan lirikan matanya.
Eliana meraih tangan suaminya, Alvaro. “Sayang, biar aku yang mengantar Papah ke kamar.”
Alvaro balas tersenyum. “Baiklah, Sayang. Kalau begitu, aku antar tamu-tamu dulu ke depan, sekaligus menyampaikan ucapan terima kasih.”
“Aku akan menunggumu di kamar,” timpal Eliana seraya mendaratkan kecup di bibir Alvaro. “Aku mencintaimu, Sayang.”
“Aku juga, Sayang.”
Sepeninggal Alvaro, Eliana balik mendekati sosok Frans.
“Frans, sebelum kami menghabiskan malam pengantin, bolehkah aku memberimu sedikit hadiah?” tanya Eliana.
Frans mengerutkan dahi. “Hadiah? Apa yang akan kalian berikan?”
“Bukan kami, tapi aku. Dariku.”
“Eliana .... “
Perlahan Eliana mendorong kursi roda tempat selama ini Frans menghabiskan waktu. Menuju kamar pengantin yang telah disiapkan. Lalu menutup pintu dan mengunci rapat-rapat.
“Eliana, apa yang akan kau lakukan?” tanya Frans heran begitu menantunya ini mulai mendekat.
Eliana tersenyum. “Frans, tanpa pertolonganmu dulu waktu aku terkapar di bukit Estrela, mungkin aku tidak akan pernah hidup lama dan menikmati keajaibanku ini sekarang.”
“Yang terpenting ‘kan kamu sudah tahu, bahwa aku tidak pernah berniat mengkhianati janjiku sendiri, Ana.”
“Ya, kau sudah bercerita sebelumnya, Frans. Kau datang menjelang sore, tapi mengalami kecelakaan di tengah jalan. Kakimu patah. Saat mendengar jeritanku, kau berusaha mendatangi dengan kondisi masih luka-luka. Lalu membawaku ke rumah sakit, dan kau pun langsung menghilang karena malu dengan cacat di kakimu itu. Begitu?” Eliana mendekatkan wajahnya.
“Aku takut kau tak mau menerimaku, Ana. Aku pikir hanya Mariana yang bersedia menemani hidupku.” Frans menahan napas begitu Eliana semakin mendekat. “Tapi .... “
“Kau keliru, Frans,” bisik Eliana dengan embusan napas menyentuh ujung hidung Frans. “Aku yang dulu, masih sama dengan aku yang kini sudah ada di hadapanmu.”
“Eliana ... kau?“
“Kenapa, Frans?” tanya Eliana parau. “Suatu saat, aku juga akan mendapati Alvaro yang sudah menua. Sementara, aku sendiri masih tetap seperti sekarang. Apa bedanya?”
“Eliana .... “
__ADS_1
Perempuan itu hanya tersenyum penuh makna.