Zona Dewasa

Zona Dewasa
29. Balada Pernikahan Ratih Dan Patih


__ADS_3

...BALADA PERNIKAHAN RATIH DAN PATIH...


...Penulis : David Khanz...


Tersebutlah, seorang pemuda bernama Patih, anak semata wayang seorang juragan tempe yang terkenal malas. Hampir tiap hari kerjanya cuma nongkrong-nongkrong dengan teman satu gengnya di pos kamling. Tidak pernah mau membantu usaha orang tua dan sudah terbiasa segala sesuatu dilayani serta tidak perlu bersusah payah. Makan tinggal makan, baju ganti selalu tersedia rapi mewangi, bahkan apa-apa selalu mengandalkan ibunya. Pikir Patih saat itu, 'Buat apa capek-capek dan nyari kerjaan? Toh, kalo butuh uang tinggal minta sama orang tua. Kebutuhan sehari-hari pun selalu tersedia.'


Sebenarnya, bukan karena kedua orang tua Patih tidak mendidik putra mereka. Namun perlakuan dimanja sedari kecil, telah membentuk karakter pemuda tersebut menjadi laki-laki lemah dan kurang bertanggung jawab.


Melihat perilaku Patih yang belum kunjung memperlihatkan perubahan seiring pertambahan usianya, kedua orang tua pemuda tersebut sepakat menjodohkan anak mereka dengan seorang gadis pilihan bernama Ratih. Anak perempuan semata wayang dari teman lama sewaktu sekolah dulu. Hitung-hitung bisa kembali reuni, sekaligus mempererat tali silaturahim dengan jalan menjadi keluarga besan, begitu dasar pemikiran kedua belah pihak keluarga.


Tidak menunggu lama, Patih dan Ratih pun dinikahkan, lengkap dengan pesta resepsi meriah nan megah. Tidak tanggung-tanggung, hiburannya pun mengundang artis ibukota. Lalu ditutup pada hari kedua dengan acara santapan rohani, diisi ceramah seorang ustaz kondang yang sering muncul di stasiun televisi. Hadirin yang mengikuti pengajian pun larut dalam suasana penuh gelak tawa, dan sesekali turut meneriakkan yel-yel berbunyi, 'Jama'ah … oohh jama'ah! Alhamdulillah!'


Sepekan sejak usai melangsungkan pernikahan, pasangan Patih dan Ratih tinggal bersama keluarga mempelai pihak laki-laki. Alasannya, suami itu membawa istri, bukan sebaliknya. Selama itu pula, tidak banyak kendala yang muncul pada hubungan mereka. Bahkan cukup dimanja dengan pelayanan yang diberikan oleh kedua orang tua Patih. Tugas Ratih cukup melayani suami, demikian alasan yang sering diutarakan oleh perempuan tersebut.


Mau tidak mau, sejak berubah status menjadi seorang kepala rumah tangga, terpaksa Patih ikut terjun dalam usaha orang tuanya, menjadi pengusaha tempe. Apalagi kini mengemban tanggung jawab terhadap keluarga baru dan mulai tinggal terpisah di sebuah rumah kontrakan. Di sana, permasalahan pun mulai bermunculan.


"Baju gantiku mana, Dik?" tanya Patih suatu pagi saat hendak berangkat kerja. Ratih yang masih tergolek di tempat tidur segera bangkit, bergegas membuka lemari. Kemudian memilihkan satu pasang pakaian. "Lho … kok, baju ini? Yang biasa aku pake buat kerja mana, Dik?"


Ratih tersenyum kecut. Jawabnya, "Masih ada di belakang, Mas. Belum dicuci."


Kening Patih berkerut, heran. Ujarnya di dalam hati, 'Baju itu 'kan tiga hari yang lalu kupake. Masa masih belum dicuci juga?'


Karena masih dalam suasana pengantin baru, Patih tidak mau mempermasalahkannya. Terpaksa dia mengenakan pakaian yang tadi disodorkan Ratih. Kemudian bergegas ke ruang makan. Membuka tudung saji, berniat hendak sarapan. Namun di sana belum tersedia apa-apa. Bahkan melihat kondisi dapur pun masih berantakan, dipenuhi piring-piring kotor.


"Dik, kamu belum masak, ya?" tanya Patih sedikit kecewa, karena awal hari itu dipertemukan dengan sebuah keanehan. Terbiasa dilayani oleh ibunya, kini harus menahan kesal tiada terkira. Ratih muncul di ambang pintu dapur dengan raut keruh. Jawab perempuan tersebut, "Beli aja, deh, Mas di warung depan. Sekalian dua bungkus, ya. Soalnya aku juga lapar."


Patih menarik napas panjang. Sambil mendongkol, laki-laki itu pun menurut. Pergi ke warung sesuai petunjuk istrinya. Lalu makan bersama-sama begitu kembali.


"Makasih, ya, Mas, atas sarapannya," ucap Ratih usai melahap habis makanan yang dibelikan suaminya tersebut. Patih tersenyum seraya berkata dalam hati, 'Mudah-mudahan, sepulang kerja nanti sore, Ratih sudah menyiapkan masakan pertamanya untukku. Sejak menikah lalu, belum sekali pun aku makan hasil olahannya. Hehehe.'


Diantar sampai depan pagar, Patih melajukan kendaraannya meninggalkan rumah serta Ratih seorang diri. Tentu saja dibekali pesan manja perempuan itu sebelum pergi. "Cepetan pulang, ya, Mas. Abis kerja, langsung ke rumah. Jangan mampir-mampir dulu."


"Iya, Dik," jawab Patih mulai bersemangat. Lanjut berkata dalam hati, 'Mungkin Ratih mau ngasih kejutan. Mudah-mudahan aja.'


Pesan Ratih pun dituruti. Sorenya laki-laki itu langsung pulang ke rumah sesuai waktu. Disambut hangat dan senyum semringah perempuan tersebut begitu membukakan pintu. "Alhamdulillah, akhirnya Mas pulang juga," ujar Ratih, tidak lupa mencium tangan dan memeluk.

__ADS_1


"Kenapa, Dik? Kayak lama gak ketemu suami aja?" Senang sekali Patih diperlakukan begitu. Jawab Ratih, "Memang kudu kayak 'gitu nyambut suami pulang kerja, Mas. Berpahala, lho."


Patih tersenyum bahagia. Apalagi gelayut manja istrinya tersebut tak lepas sejak tiba tadi. Memasuki rumah, masih dalam kondisi sama seperti saat ditinggalkan tadi pagi. Kotor, berantakan, dan berdebu. Tidak kalah hebat dengan dapur. Bahkan bekas sarapan pun masih teronggok di atas meja. Terkecuali kamar tidur. Rapi mewangi.


Rengek Ratih sambil tetap bergelayut manja, "Mas, aku lapar …."


"Kamu belum masak, Dik?" tanya Patih mulai menerka-nerka. Ratih menggeleng, lalu menjawab, "Belum, Mas. Baru sarapan tadi aja."


"Apa?" Patih terkaget-kaget. "Jadi ngapain aja di rumah selama aku kerja, Dik?"


Ratih menjawab diiringi senyumannya, "Nungguin Mas pulang."


"Iya, selama nungguin, aktivitas kamu apa aja?"


"Paling … bersihin kamar, bebenah kamar, dan rebahan sambil maenin HP, Mas."


"Gak ngelakuin hal lain?" Patih makin bingung. Ratih menggeleng. "Terus … piring kotor di dapur, tumpukan pakaian kotor di belakang, bekas makan pagi kita, ruang tengah berantakan, itu … kenapa masih belum dibersihin?"


Sebelum menjawab, Ratih membetulkan lilitan kerudungnya. "Oohhh … semua yang Mas sebutin tadi, adalah kewajiban seorang suami. Bukan aku. Termasuk kebutuhan makan. Tugas seorang istri hanya melayani dan berbakti pada suami, Mas. Itu yang aku dengar sewaktu mengikuti kajian-kajian."


"Melayani apa maksudnya, Dik? Aku baru denger ada aturan begitu …." Dada Patih mulai bergemuruh. Tak disangka, ternyata perempuan yang dinikahinya tersebut, mempunyai paham aneh. Dia pikir, selama ini kewajiban seorang suami terhadap istri hanya mencari uang dan memberikan seluruh gajinya.


"Cuma itu?"


"Ya, sebenernya masih banyak lagi, sih, Mas. Patuh terhadap suami, selama perintahnya bukan untuk bermaksiat. Itu sebagai salah satu bentuk atau wujud dari bakti seorang istri terhadap suami," tutur Ratih bersemangat. Maklum, perempuan itu baru saja berhijrah dari gaya kehidupannya dulu, tepat sebelum melangsungkan pernikahan. "Jika semua itu dilaksanakan, Insyaa Allah … berpahala, Mas."


"Terus, kalo aku nyuruh kamu buat masak hari ini, kamu mau?" tanya Patih bermaksud menguji istrinya. Jawab Ratih, "Lho … 'kan sudah aku bilang tadi, Mas, kalo memasak atau menyiapkan makanan itu … tugas dan kewajiban suami."


"Aku ngasih perintah sama kamu lho, Dik. Berarti kamu harus taat. 'Kan aku gak nyuruh bermaksiat. Cuma minta dimasakin."


Timpal Ratih sengit, "Berarti itu menyalahi aturan, Mas. Mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajiban istri. Maknanya itu maksiat."


"Maksiat apaan? Sejak kapan masak untuk suami itu, maksiat?"


"Jelas, Mas. Karena melanggar aturan."

__ADS_1


"Tapi kalo kamu nurut perintah suami, itu 'kan berpahala. Seperti kata kamu tadi, lho, Dik." Patih semakin mangkel.


Balas Ratih tidak mau kalah, "Nurut juga kalo gak menyuruh maksiat, Mas. Maka istri berhak menolak. Mas ini bagaimana, sih?"


"Terus … kalo 'gitu, kamu ngapain aja selama jadi istri sekarang?"


"Melayani dan berbakti pada suami, Mas."


"Melayani apa?"


"Kebutuhan syahwat Mas, dong."


"Itu aja?" Kepala Patih mulai pusing.


"Ya, banyak. Antara lain menuruti—"


"Aaahhh … sudahlah! Aku pusing, Dik." Patih memijit-mijit kepalanya. Ratih segera meraba kening laki-laki tersebut seraya berkata, "Sini, Mas, aku pijitin. Ini sebagai bentuk bakti istri pada suami dan berpahala, lho."


"Au, ah!"


… dan sejak saat itu, Patih pun mulai belajar memasak, menyapu, mengepel, mencuci, serta berbagai macam pekerjaan rumah lainnya. Berat. Tapi berusaha menjalankan mewajiban sebagaimana yang dia emban, sebagai seorang kepala rumah tangga berstatus SUAMI. Begitu seterusnya hingga waktu pun berjalan tanpa disadari. Beranak-pinak.


Beberapa puluh tahun kemudian ….


Anak-anak Patih dan Ratih yang sudah tumbuh dewasa, menikah, dan memberikan mereka cucu, datang berkunjung.


"Aduh … anak-anak Mamah, lama gak datang nengokin. Mamah kangen sama kalian," seru Ratih yang sudah mulai menua. Diikuti Patih menyambut kedatangan anak-cucunya. "Papah juga, Anak-anak."


Balas anak-anak Patih dan Ratih, "Kami juga kangen. Terutama sama Papah."


"Kok, sama Papah doang?" tanya Ratih heran.


"Kami kangen ama MASAKAN PAPAH."


"Lalu Mamah 'gimana?"

__ADS_1


"Emang Mamah pernah masak?" tanya anak-anak.


"Hah?!" Mulut Ratih menganga. Kaget.


__ADS_2