Zona Dewasa

Zona Dewasa
13. Akibat Jajan Bakso


__ADS_3

...AKIBAT JAJAN BAKSO...


...Penulis : David Khanz...


Siang itu usai menuntaskan aktivitas rumahan secara bersama-sama, kami; aku, istri, dan anak-anak, berleha-leha di ruang depan untuk melepas penat. Kemudian anak pertama pun menyeletuk, "Siang-siang 'gini, enak 'ngkali ya makan bakso."


Tidak disangka langsung direspons ibunya anak-anak dengan suara mengejutkan. "Eh, beneran, A," serunya mengamini celetukan anak sulung barusan. Lantas menoleh ke arahku dan mengajak, "Ngebakso yuk, Yah?"


Setengah hati, aku malah bertanya, "Emang Ibu punya duit?" Sambil mengendus-endus bokong anak bungsu yang duduk di pangkuan. "Adek e'o, ya? Kok, bau?" Yang ditanya balik bengong dengan mimik muka seperti tengah mengedan. 'Hhmmm, asli ini, sih. Dia modol.'


Tadinya mau kuserahkan anak ini pada istri, tapi yang bersangkutan malah memasang gaya cuek. Seolah-olah, sama sekali tidak mendengar ucapanku tadi. Luar biasa kemampuan akting teman sekasurku tersebut. Layak diberi penghargaan piala berupa bandul kalung sebesar jangkar kapal Titanic.


Dehamku kesal, 'Hhmmm, ini sih jadi urusan gua yang nyebokin.' Segera kuangkat miring tubuh si Bungsu sambil lanjut mengomel di dalam hati. 'Dasar si Ibu!'


Tidak sampai memakan waktu dua menit, si Bungsu sudah kembali ke tengah-tengah keluarga dengan kostum baru dan aroma pantat yang semerbak dan mewangi, seharum sabun bermerek Mamih Melon.


Dikira sudah lupa perkara ajakan bakso tadi, rupanya begitu mengenyakkan bokong di kursi, langsung ditodong ulang. "Jadi 'kan ngebaksonya, Yah?" tanyanya bawel.


Begitulah karakter perempuan. Kalau pertanyaannya belum juga dijawab, pasti bakal terus berbunyi berulang-ulang Mirip alarm HP yang lupa di-snooze. Tiap lima menit pasti menjerit-jerit minta dioles diutek-utek.


"Tau tuh si Aa," jawabku datar sambil melirik si Sulung dan berharap sekali dia berkenan menjawab; 'Gak jadi ah, Yah!'


Namun sayangnya, doaku kali ini meleset jauh. Itu pun karena faktor pertanyaan tunggal dari pihak oposisi sebelah. "Jadi 'kan, A? Jadi-lah!" tanya istri seperti tengah merudapaksa eh, memaksa.


Dih, bertanya sendiri, dijawab juga sendiri. Kebiasaan kaum awèwè!


"Terserah Ayah, deh," ucap si Sulung setelah melirik ke arahku dan kode khusus mata ini, telat dia respons. Hhmmm, nasib!


Akhirnya ….


"Satu … dua … tiga …." Aku mulai berhitung kepala demi kepala. Padahal tidak perlu juga, sih. 'Kan, daftar Kartu Keluarga sudah hapal di luar kepala atas non-bawah. " … enam dikali dua belas ribu … hhmmm, jadi … tujuh puluh dua ribu."


Waduh, bukan jajan ini sih, tapi budget beli beras buat stok sepekan. Untungnya, di dalam lipatan STNK masih terselip 'harta karun' untuk berjaga-jaga dari ancaman paylater eh, paydanger (dana tidak terduga alias dana taktis).


Singkat cerita, kami pun berjalan bergerombol mirip rombongan besan memasuki area hajatan. Sementara si Bungsu sendiri terselip erat di dalam gendongan gaya kanguru di dada dan perut ini. Sekalian, merasakan bagaimana derita istri saat sedang mengandung anak-anak. Hi-hi.

__ADS_1


Setiba di tempat tujuan, masing-masing sibuk memesan sesuai selera. "Campur, Mang. Semua yang ada, sok-lah abrekin (masukin) aja ka dinya!" kataku pada penjual bakso. Jujur saja, bagiku kalau soal rasa, nomor sekian. Yang terpenting dan utama itu adalah porsi. "Sanguan wèh kalo ada mah," imbuhku bercanda, disambut si Mamang tukang bakso menyengir kuda. Sementara terkhusus buat si Bungsu sendiri sengaja tidak dipesankan, karena berada di posisi 'ngarèwong’ (ikut-ikutan makan) saja.


Krek!


'Eh, apaan nih?' Aku terheran-heran begitu menemukan sesuatu yang aneh di dalam bulatan bakso versi induknya. Terbungkus plastik dan agak memanjang kecil seperti bentuk jimat wafaq alias buhul.


Sesaat aku berpikir su'udzon mirip netizen super julid yang sering kepo urusan rumah tangga tetangga dan artis kesayangannya. Pikirku, jangan-jangan tukang bakso itu memakai penglaris. Bagaimana coba kalau sampai tertelan atau termakan olehku, apakah kelak nanti aku bakal otomatis menjadi laris manis juga? Ya, laris sama janda atau manis di mata pembaca. Eh?


"Apa tuh, Yah?" tanya istri yang duduk denganku berdampingan, tapi bukan lagi di kursi pelaminan. Jawabku deg-degan, "Tau, Bu. Bentar, ya. Ayah buka, deh."


Dengan benak diliputi tanda tanya, kusobek lapisan plastik pembungkus penuh kehati-hatian. Lantas isinya dikeluarkan perlahan-lahan. Hhmmm, sebuah lipatan kertas yang membungkus kertas? Kok, bisa? Apa, ya? Jangan-jangan ….


"Duit!" seru istri tanpa sadar dan langsung kusikut lengannya agar terdiam. Takut ketahuan oleh si Mamang tukang bakso, terus bakal kena potongan pajak. Rugi, 'kan?


"Ssttt …." Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. Namun sesaat kemudian, nanar menatap lembar lembab uang kertas senilai lima puluh ribu rupiah di tangan.


Kok, bisa? Dalam rangka apa, ya? Bonus dari tukang bakso atau produsen/pabrik baksonya?


Ah, peduli amat. Buat apa dipikirkan? Terpenting sekarang kami dapat jackpot. Lumayan banget, 'kan? Bisa dibuat untuk mengurangi biaya jajan kali ini. Gocap … Rp. 50.000 duit hadiah, tinggal nambah Rp. 22.000 untuk membayar bakso. Terselamatkanlah stok paydanger ini sebesar Rp. 78.000. Asyiiikkkk!


Eh, busyet! Satu porsi bakso doang tidak kenyang? Apa gara-gara ada duit gaib ini? Namun … eh, tidak! Jangan! Hindari kesenangan istri hanya karena perkara sepele, kalau tidak ingin efeknya memanjang sampai berjilid-jilid ke rumah. Bisa-bisa urusan permainan 'bakso kembar' nanti malam terganggu. Apalagi diriku yang masih 'mamayu' usai proses menyapih sukses dilewati si Bungsu. Wuih!


Akhirnya bakso tambahan pun dipesan kembali. Otomatis stok paydanger berkurang menjadi Rp. 66.000.


"Yah, Aa juga nambah, dong!" sahut si Cikal mengikuti langkah ibunya.


Kalau kemauan anak, pasti langsung kuiakan. Tanpa debat, tanpa mata membelalak.


"Ambil!" kataku mengalah.


Hhmmm, berkurang lagi nih, jadi Rp. 54.000.


"Tètèh juga mau lagi, Yah. Boleh, ya?"


"Duh! Bolehlah!"

__ADS_1


Tersisa Rp. 42.000 kini.


Tiba-tiba si Pangais Bungsu ikut me-request juga.


"Hah?!"


Ini jajan atau makan besar, sih? Kok, jadi pada nambah porsi begini?


"Ya, sudah. Ayah juga nambah deh, kalo begindang!" kataku akhirnya dengan suara melemas sembari menatap lembar uang gocap tadi yang akan tersisa menjadi Rp. 18.000 kelak. Cukuplah buat bekal besok membeli BBM versi Pertalite yang sekarang jadi lebih boros, dibandingkan sebelum kenaikan harga sebelumnya.


"Mana tadi uangnya, Yah? Sini Ibu bayarin ke depan," kata istri yang terlebih dahulu menghabiskan bakso episode duanya. Karena posisi sedang menyuapi si Bungsu, aku santai saja menyerahkan uang sebesar Rp. 150.000 tadi. Namun lama ditunggu, yang pergi membawa uang tadi belum juga balik kandang. Sampai suapan terakhir ke mulut anak ludes tidak tersisa.


"Ibu mana, A?" tanyaku pada si Sulung. Padahal sedang berharap uang kembalian jajan bakso tadi dari ibunya anak-anak.


"Itu Ibu," jawab anak lanang pertamaku sambil menunjuk ke depan lapak.


Benar, istriku muncul di sana dengan wajah berseri-seri. Namun yang membuat hati ini ketar-ketir adalah pada bungkusan yang terjinjing di tangannya. Belanja? Uang dari mana, ya? Jangan-jangan ….


"Dipake belanja minyak goreng setengah kilo sama terigu wèh buat campuran dadar telor sarapan kita besok, Yah," jawab istri begitu kutanya nasib keberlangsungan uang kembalian yang tadi.


"Hah?!"Aku ternganga. "Garing, deh."


"Enggaklah, Yah," timpal istriku cuek tanpa dosa. "Dibikin agak lembek aja kayak bikin dadar biasa."


"Ooohhh …." Aku pura-pura memakluminya. Padahal dalam hati menjerit lirih, 'Maksud eike … bensin motor garing, Bebeb. Gak peka amat sih lu jadi bini. Etdaahhh!'


"Ayah kenapa? Mules? Kekenyangan?"


Eh, bujug! Masih belum mengerti juga dia.


"Enggak," jawabku pendek. "Pulang, nyookkk!"


"Ya, udah. Ayolah, kita kèmon!"


Bahkan, di dalam perjalanan pulang pun, langkahku tertinggal jauh dari mereka. Sengaja. Kesal. Hanya bisa memasang muka berlipat sambil menggendong si Bungsu di depan.

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2