Zona Dewasa

Zona Dewasa
24. Akhir Seorang Madu Yang Terluka


__ADS_3

...AKHIR SEORANG MADU YANG TERLUKA...


...Penulis : David Khanz...


Revan, itu nama suamiku. Dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Parasnya tidak begitu menarik, tapi kharismatik. Aku, Devi, dinikahinya sekitar empat tahun yang lalu. Sebuah pernikahan yang tidak aku harapkan, pada awalnya. Karena sebelum Revan hadir dalam hidupku, ada sosok laki-laki lain yang telah lama menghiasi hari-hari perjalanan sejarah usia remajaku. Sebut saja namanya Bima. Tapi tak akan kubawa-bawa sosok lelaki yang satu itu, karena sejak kuputuskan untuk menerima lamaran Revan dulu, dia langsung menghilang entah ke mana.


Mengapa aku katakan tak berharap diperistri oleh Revan? Di samping karena sudah memiliki hubungan khusus dengan Bima, ternyata aku harus pasrah menjadi istri kedua suamiku itu. Lalu, mengapa pula tetap menerima lamaran Revan walaupun tahu dia telah beristri? Alasan klasik yang sering terjadi hingga saat ini, tidak lain adalah atas desakan kedua orangtuaku yang menginginkan mereka besanan dengan kawan lamanya. Untuk menjalin dan memperpanjang tali silaturahim, begitu menurut mereka.


“Revan itu seorang pengusaha sukses, lho, Dev. Bapaknya dia itu, dulu kawan akrab Ayah waktu masih kuliah. Dia orangnya baik dan sering bantuin Ayah bayarin uang kost, ngasih makan, bahkan sampai biaya kuliah ayahmu ini,“ ujar Ayah awal rencana perjodohanku dengan Revan.


“Tapi aku, kan, sudah punya pilihan sendiri, Yah. Masa, sih, harus dijodoh-jodohin segala?” hatiku terasa muak jika Ayah sudah mulai menyebut nama laki-laki yang satu itu.


“Siapa pilihanmu? Bima?” tanya Ayah sambil tersenyum kecut.


“Ayah dan Ibu, kan, sudah kenal. Siapa lagi?” rasaku untuk berbicara dengan Ayah sepertinya sudah mulai meleleh. Tapi aku tak mau menyinggung hatinya ataupun tiba-tiba berlari menghindar begitu saja, seperti layaknya adegan FTV.


Bagiku, melukai perasaan orangtua itu sama saja dengan menjauhkan jalan menuju gapaian mimpi. Karena kebahagiaan mereka laksana sebutir peluru yang mampu menebus titik tabir doa-doa yang sering kupanjatkan.


“Ayah tahu, Dev. Tapi .... “ Laki-laki renta yang seringkali menggendongku semasa kecil itu tampak berpikir.


“Tapi apa, Yah?”


Setelah menarik nafas panjang, kembali cerita lama hutang budi dan balas jasa itu terucap dari bibir Ayah. Begitu detail dan penuh penghayatan. Seakan jika aku sampai menolak lamaran Revan, akan mengakibatkan sebuah dosa besar yang teramat sulit untuk ditobati.


“Apalagi kamu anak kami satu-satunya, Dev,“ ujar Ayah mengakhiri ulasan sejarah masa lampaunya. 


“Tapi Revan, kan, sudah beristri, Yah? Masa, sih, aku—“


“Ayah tahu itu, Devi. Memang serba sulit. Tapi ini juga untuk membantu mempertahankan rumah tangga mereka.“ Suara Ayah semakin lirih.


“Maksud Ayah?” Aku tercekat.


Kembali bibir tua itu menutur tentang kehidupan rumah tangga Revan, anak semata wayang kawan lamanya.


Sekian lama berumahtangga, istri Revan belum kunjung berbadan dua. Keduanya sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Segala cara telah ditempuh demi menghadirkan buah hati calon penerus warisan keluarga. Enggan dengan jalan mengadopsi, namun menginginkan aliran darah asli leluhurnya tetap mengalir tanpa terputus oleh daging seorang anak angkat.


Usia orangtua Revan semakin merenta. Entah esok, lusa atau kapanpun, sisa kontrak hidup mereka akan berakhir. Desakan untuk segera menimang cucu seperti sebuah pengingat dalam menghadapi situasi darurat. Revan sudah tak sanggup untuk selalu menyanggah dengan berbagai alasan. Pilihan menikah lagi mutlak menjadi satu-satunya cara agar suara-suara kedua orantuanya tak lagi merongrong gendang telinga.


Berat namun harus tetap dilakukan. Dalih kekurangan diri menjadi dasar bagi Risma, istri Revan, untuk pasrah menerima nasib hidup dimadu. Sejujurnya, Revan sendiri merasa keberatan karena hal itu tentu saja akan melukai seorang perempuan yang selama ini sangat dia cintai. Namun garis hidup harus tetap dilalui sesuai dengan skenario Tuhan.


Akhirnya pernikahan itupun terjadi. Aku tega melukai Bima, membunuh semua harapan indahnya seketika. Sementara Revan terpaksa mengingkari sumpahnya dulu untuk tak akan mengecewakan kesetiaan seorang Risma. Ya, kami berdua telah sama-sama melangkahkan kaki menuju kehidupan yang baru di atas samudera berbuih nestapa.


Aku dan Risma tinggal di tempat yang berbeda. Tidak terlalu jauh namun aroma cemburu kerap mengepul dari lorong hati kami, saat sang Arjuna berbagi cinta. Revan sama baiknya padaku seperti yang dia sikapkan terhadap Risma. Akan tetapi firasat rasa ini mengatakan kalau Revan tak sepenuhnya mencintaiku. Ada bias sosok lain yang tersirat di mata, saat bibirnya mengurai senandung rayu. Kunikmati setiap hentakan memburu nafas persetubuhan raganya, namun terasa fakir akan kehadiran roh sukma. Selalu ada dia dan dia dalam setiap pori-pori pikirnya, Risma.  

__ADS_1


Tak terasa, dua tahun sudah kulalui kehidupan sebagai benalu dalam kehidupan Revan dan Risma. Sosok kecil yang diharap hadir dalam keluarga tak juga kunjung datang. Awalnya aku merasa senasib dengan Risma. Sama-sama tak mampu menjadikan Revan, laki-laki sempurna. Namun itu hanya sesaat belaka. Bibit kecemburuanku mulai bertambah ketika kudengar Risma mengandung. 


Hamil?


Ya, Risma istri pertama suamiku ternyata bisa menampung bibit cinta kelelakian Revan dalam rahimnya. Sedangkan aku? Ya, Tuhan! Sakit sekali rasanya hati ini. Mungkin, inikah yang dulu pernah Risma rasakan saat awal aku merenggut alih sisi kedamaiannya selama itu? Sakit, kecewa, marah, muak dan segudang kata lainnya yang selalu bermakna siam. Apalagi ditambah dengan perubahan sikap Revan yang mulai jarang memanjaku seperti biasanya.


“Kasihan kakakmu, Risma. Dia, kan, lagi mengandung anakku. Wajar saja kalau dia butuh perhatian khusus dan lebih dariku,” alasan itu yang seringkali terucap dari mulut Revan saat aku mulai merajuk dan meminta hakku.


“Tapi aku juga istrimu, Mas! Aku juga punya hak yang sama seperti halnya Risma.” 


“Ya, sudah. Kamu tinggal saja bersama Risma agar kita semua bisa bertemu setiap waktu. Sekalian tolong bantu jagain kakakmu itu, lho, Dev,” mudah sekali Revan berkata tanpa mau memikirkan perasaanku yang sebenarnya.


Kuakui, aku memang telah merebut Revan dari dekapan Risma. Tapi untuk sama-sama hidup dalam satu atap? Hati perempuan di manapun adanya tidak akan jauh berbeda. Kalaupun sudi, itu hanya kamuflase belaka. Bertahan diam dalam kepura-puraan.


“Ada Mas Revan gak, Mbok?” tanyaku suatu ketika pada pembantu rumah tinggal Risma, beberapa pekan setelah Revan lama tak datang berbagi waktu untukku.


“Tidak ada, Bu,” jawab pembantu itu sambil menundukan pandangannya, takut.


“Kalau Mbak Rismanya, ada?”


“Tidak ada juga, Bu.”


“Pada ke mana mereka berdua?” Aku penasaran sekaligus berdebar penuh syak prasangka.


“Keluar rumah atau—"


“Keluar negeri, Bu.”


Benar juga perkiraanku. Setelah pertengkaran hebat beberapa pekan yang lalu, Revan pergi begitu saja dari rumah. Tanpa pamit maupun kabar. Kini, justru tengah asyik bersama sang istri tua yang seharusnya jatah itu diperuntukan bagiku. Panggilan telepon tak diangkat. Pesan berbaris hanya sekedar dibaca tanpa berkenan dibalas. Hubungan pernikahan macam apa yang sedang kujalani saat ini?


“Kamu selalu saja membangkang setiap aku bicara! Tak bisakah kamu bersikap seperti Risma yang penuh kelembutan terhadap aku, suamimu, Devi?” seru Revan sepulang dari luar negeri bersama Risma dan kusambut langsung di depan rumah mereka.


“Aku bukan Risma dan dia berbeda dengan aku, Mas!” balasku sudah tak kuasa membendung gemuruh emosi yang selama ini tertahan.


“Itulah sebabnya mengapa aku tidak suka berlama-lama dengan kamu!” bentak Revan tak kalah sengit.


Risma tampak ketakutan sambil mengusap-usap perutnya yang masih hamil muda, “Mas, sudahlah. Hentikan! Malu didengar tetangga!”


“Diam kau, Risma! Ini urusanku dengan dia!” tudingku gemetar menahan amarah dengan telunjuk yang mengarah ke wajah Revan, “seharusnya kamu mengingatkan dia akan kewajibannya terhadap aku, istri mudanya, Risma!”


“Aku sudah berulangkali mengingatkan Mas Revan, Dik Devi,” ujar Risma ketakutan melihat bola mataku yang memerah.


“Bohong! Buktinya kau malah pergi ke luar negeri sama dia!” aku semakin tak kuasa mengendalikan kemarahanku.

__ADS_1


“Jangan kamu bentak-bentak istriku seenaknya, Devi!” sergah Revan membela Risma.


“Aku juga istrimu, Mas Revan!” pandanganku beralih pada Revan disertai dengus nafas memburu.


Revan meminta Risma segera masuk ke dalam rumah. Khawatir terjadi apa-apa dengan istri tuanya yang tengah mengandung. Terutama psikologisnya.


“Kamu jangan ke mana-mana sebelum masalah ini selesai, Risma!” Aku menghambur memburu Risma. Mencegah dia masuk ke dalam rumah.


Entah bisikan syetan dari mana, maksud hati menahan Risma, namun yang kulakukan justru mendorong tubuh istri tua suamiku itu hingga jatuh terjerembab.


“Risma ... !!!” Revan berseru kaget sambil berlari mendekati istri pertamanya.


Risma meringis sambil memegangi perutnya, “Sakit ... Mas.”


Ada darah yang keluar dari sela kaki Risma. Itu pasti ....


PLAK!


Tamparan keras mendarat di pipiku.


“Lihat! Apa yang telah kamu lakukan pada Risma!” bentak Revan sambil kembali mengayunkan telapak tangannya ke wajahku.


PLAK! 


Keras, telak dan cukup membuat pandanganku berkunang-kunang sesaat. Dua kali tamparan yang membuatku terdiam dalam kejut. Itu bukan tamparan pertama dan kedua. Masih ada banyak tamparan-tamparan lainnya yang sering kuterima di puncak murka saat kami bertengkar hebat. Sakit? Jangan ditanya. Malah sampai terasa menembus hingga bagian hati yang terdalam.


Aku terdiam sambil mengusap pipi yang perih. Tak peduli ketika Revan melolong dalam tangis dan berteriak histeris sambil membopong tubuh Risma ke dalam rumah. Bercak darah berceceran di sepanjang langkah. Itu pasti darah dari calon anak Revan dan Risma. Sekali lagi, aku tak peduli.


Beberapa hari berlalu, semuanya berubah hampa. Kekosongan kerap melanda lorong hati ini yang dulu senantiasa meringis perih. Aku tak ingin bicara sepatahkata pun. Hanya ingin terdiam dan diam. Menyendiri dalam peluk tubuhku sendiri sambil terus meraba serta mengusap pipiku yang terasa kian perih. Pandanganku agak sedikit mengabur akibat bengkak di sekitar kelopak mata. Bahkan liurku pun ikut asin terminum bercampur darah dari lelehan lobang hidung.


Ingin rasanya menangis sejadi-jadinya, namun air mataku enggan keluar. Hanya seringai kecil yang hadir tanpa disadari melalui bibir ini tanpa bisa kucegah.


“Risma mengalami keguguran dan kaulah penyebabnya! Aku kehilangan anakku yang sudah sekian lama kuharapkan, Devi!” suara terakhir itu yang masih sempat terdengar dan tersimpan dalam benakku. 


Selanjutnya, aku hanya bisa merasakan beberapa tamparan disertai pukulan bertubi-tubi melanda wajah dan tubuh ini. Sakit, tapi semakin lama seperti hilang begitu saja. Mendadak semuanya sirna berganti nestapa tanpa sukma.


Entah berapa lama aku terduduk dalam hening membeku. Menatap langit-langit rumah yang kian gulita. Sampai akhirnya bisik hati memintaku untuk segera bangkit dalam payah, menuntun langkah kaki menuju sebuah arah. Aku ingin pergi.


“Mas Revan, aku pamit pergi. Mungkin aku tak akan pernah kembali,“ kataku lirih meninggalkan sosok Revan yang masih terbujur kelelahan setelah menyiksaku.


Dia diam tak menjawab. Bahkan mungkin tak akan pernah bisa menjawab. Seiring dengan mulai membusuknya tubuh yang terbujur kaku itu dengan sebilah pisau dapur yang menancap di dadanya. 


...T A M A T...

__ADS_1


__ADS_2