Zona Dewasa

Zona Dewasa
32. The Girl's Scary Love


__ADS_3

...THE GIRL'S SCARY LOVE...


...Penulis : David Khanz ...


"Rianty ...."


Suara Mama kembali terdengar memanggil-manggil disertai ketukan di pintu kamar. "Lama banget, sih, kamu di kamar, nak? Keluarga Stefan udah nungguin dari tadi, lho."


Aku tersentak. Sebentar menoleh ke arah daun pintu, kemudian beralih kembali mematut diri di depan cermin. "Iya, Ma, sebentar lagi ...." sahutku dengan suara tercekat.


"Sampai kapan?" tanya Mama seperti tengah mendesak.


Aku menarik napas panjang. Sebelum menjawab, melirik terlebih dahulu pada gelas kristal berisi wine. Tak jauh dari sejangkauan tangan di atas meja rias. "Tunggu sebentar lagi, Ma. Anty belum beres."


"Cepatlah. Kita sudah hampir terlambat, nih."


"Iya, Ma."


Aku kembali menatap diri melalui pantuan cermin. Memperhatikan wajah ini yang sudah cantik dihiasi riasan warna-warni. Lengkap dengan gaun putih memanjang dengan bukaan di bahu melebar hingga pertengahan lengan.


Hari ini aku akan resmi diperistri Stefan di depan altar suci. Mengucap janji atas nama Tuhan untuk saling setia hingga maut datang menjemput nanti. Disaksikan puluhan pasang mata serta semringah keluarga, karena akhirnya berhasil menyatukan cinta kami yang sudah lama terombang-ambing. Khususnya tentang rahasia hatiku pada lelaki pujaan tersebut.


Jauh sebelum Stefan berkenan menerima kehadiranku, terlebih dahulu sudah ada sosok Irena yang kerap bersamanya. Mereka, dua sejoli tak terpisahkan dan saling mencintai, merupakan pasangan teramat serasi. Bagaimana tidak, cantik dan tampan, juga sama-sama masih muda. Tidaklah heran, banyak mata merasa iri jika melihat perpaduan selaras kedua makhluk itu. Tidak pula aku, sahabat dekat sejak kecil, tapi sama-sama menaruh rasa serupa pada satu lelaki. Walaupun begitu, wajarlah jika Stefan lebih memilih Irena ketimbang aku. Artinya, seumur hidup rahasia ini akan senantiasa tersimpan rapat dan terpendam dalam-dalam. Hingga suatu ketika, kisah lain pun berganti. Rencana Tuhan itu lebih pasti. Terbukti, pemilik kumis tipis dan lesung pipit itu justru melabuhkan cintanya padaku. Hanya beberapa masa sebelum mereka berdua melangsungkan akad pernikahan.


* * * * * * *


Saat itu, sebelum mampu membuka kelopak mata dari kegelapan yang menaungi, samar-samar terdengar isak tangis seseorang di dekatku. Bau obat-obatan kimia menyengat hingga menyesakkan dada. Mungkin karena aroma itu pula yang membantu agar nyenyak ini lekas sirna. Sampai akhirnya cekatan rongga tenggorokan pun semakin melebar. Menggetarkan pita suara, serta mendorong napas dalam satu alunan lebuh perlahan. "Mmmhhh ...."


Di saat bersamaan, suara tangisan itu tiba-tiba berhenti. Disusul seru mengejutkan mengentak jantung. memanggil sebuah nama, "Rianty!" Kemudian sebelum semuanya terlihat jelas, sesosok tubuh besar menghambur peluk diiringi ciuman bertubi pada wajah ini. "Kamu sudah sadar, Nak? Ya, Tuhan ... terima kasih. Engkau sudah mendengar doa-doaku selama ini." ujarnya begitu dekat di depan daun telinga.


Aku masih belum bisa menyahut, apalagi menggerakkan tubuh. Lemah tak berdaya dengan rasa nyeri menusuk-nusuk di pegelangan. Kala tersadar, rupanya berasal dari jarum infus serta peralatan lain yang menancap erat di sana.


"Rianty ...." Sosok itu kembali memanggil. Aku menggerakkan bola mata. Berusaha fokus menatapnya dengan saksama di antara bias yang masih mendera.


Lambat laun ingatanku kembali menyatu. Mengenali dia yang masih menyisakan isak dengan bulir bening menggenangi kelopak tuanya. "Tante ....." ucapku usai berusaha membuka lipatan bibir.


Seorang wanita tua dengan sisa-sisa kecantikannya itu tampak mengerutkan kening. "Tante? Ini Mama, Sayang. Mamamu!" ujarnya seraya menepuk-nepuk dada sendiri. "Mama bahagia sekali akhirnya kamu tersadar dan bisa lewat dari masa-masa kritismu."


'Mama?' Seketika benak ini berputar-putar. Jelas sekali bahwa sosok itu adalah Mamanya Rianty. Ibu kandung dari sahabatku sendiri. Selama ini memang kerap memanggilnya Tante. Mengapa tiba-tiba ingin dianggap Mama? Rianty sendiri kemana? Mungkinkah ....


"Aku ada di mana?" Tak ingin terlalu fokus dengan pertanyaan tadi, sesaat kusapu pandangan ini mengitari langit-langit ruangan. Semuanya berwarna serba putih.


Sosok tadi segera menjawab, "Kamu lagi dirawat di rumah sakit, Nak. Sudah beberapa hari ini."


'Rumah sakit?' Aku mengernyit heran. 'Sejak kapan dan karena apa? Rasanya akhir-akhir ini aku merasa sehat-sehat saja. Mengapa tiba-tiba ada di sini? Lalu ....'


"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak berpikir dulu. Lebih baik istirahat dan segera pulihkan kesehatanmu." Lagi-lagi mamanya Rianty berkata. "Kamu lapar, Nak? Mau makan? Sebentar ... Mama siapin dulu, ya, Sayang?"


Ah, kegilaan macam apa ini? Apakah wanita itu sudah tidak mampu lagi membedakan aku dengan anaknya sendiri? Jelas-jelas kami sangat berbeda. Namun sebelum bibir ini mengucap, dia buru-buru menempelkan telunjuk menyilang di depan mulut. "Sssttt ... Mama bilang juga jangan dulu bicara. Bukalah mulutmu dan makan."


Aku menurut. Membiarkan suapan makanan pertama memasuki rongga mulut ini, lalu mengunyahnya secara perlahan. Namun tetap dengan kembara angan penuh tanya, mengingat-ingat kejadian terakhir sesaat sebelum terbangun tadi.


Beberapa hari lalu, mungkin begitu jika merunut pada ucapan mamanya Rianty sejak aku berada di rumah sakit ini, kami berdua sedang berkendara di tengah jalan raya. Aku dan Rianty. Mengantar sahabat tersebut ke sebuah butik untuk fitting baju pengantin. Persiapan pernikahannya dengan Stefan yang tinggal menunggu hari.


"Abis gue kawin nanti, kita masih temenan 'kan, Ren?" tanya Rianty kala itu sambil tertawa-tawa. Aku menepuk gadis yang duduk di depan kemudi itu. Jawabku usai tawanya reda, "Ngomong apaan, sih, lu? Kayak baru kenal aja."


Rianty mengekeh. "Enggaklah. Kadang gue suka mikir sendiri, kalo elu itu ... ada rasa suka juga sama Stefan, ya?"


"Jangan gila, deh, Ty!" timpalku pura-pura galak. "Kalo bukan elu yang ngomong 'gitu, udah gue hajar juga lu!"


Kami tertawa terbahak-bahak. Namun dalam hati, jelas sekali aku mengiyakannya. Disamping sebagai sahabat, ternyata Rianty memiliki bakat tertentu juga. Yakni menjadi dukun alias paranormal. Hampir selalu mampu menebak apa yang kusembunyikan darinya selama ini.


"Tapi tebakan gue ada benernya juga 'kan, Ren?" kembali Rianty bertanya.


"Asli ngawur!" jawabku berusaha menenangkan debaran hati. "Udah, jangan ngaco, deh, ah. Lebih baik elu fokus aja ama rencana pernikahan elu sama Stefan. Gak usah ngurusin gue."


Rianty melirik sesaat. "Ren ...."


"Hhmmm?"


Terdengar dengkus napas gadis itu. Kemudian lanjut bicara, "Kadang juga ... gue sering kepikiran tentang elu, Ren."


"Mikir apa? Jangan aneh-aneh, deh." Aku menoleh. Memperhatikan raut wajah Rianty yang tampak serius.


Setelah agak lama hening, akhirnya Rianty pun menjawab juga. "Apa perlu, ya, gue minta Stefan ngawinin elu juga, Ren? Biar kita bisa selalu bersama-sama."


"Dih, nih ... anak makin error aja 'ngkali, ya? Elu gak lagi nge-drugs, 'kan?"


Rianty tersenyum kecut. "Gue serius, Ren."


"Enggaklah. Elu itu lagi error." Jantungku kian berdetak kencang. Ada kekhawatiran dia akan terus-terusan mendesak dan memaksa mengakui kalau diri ini memang menyukai calon suaminya. Sangat berbahaya sekali dan itu tidaklah mungkin. "Lagian ... gue juga lagi deket--"


"... ama si Rio?" potong Rianty tiba-tiba. Aku mengangguk. "Yakin elu cinta sama dia? Jangan-jangan si Rio justru cuma manfaatin elu aja?"


"Maksud elu apa, sih, Ty? Dari tadi omongan elu ngaco terus."


Rianty menoleh di tengah-tengah aktivitas berkendaranya. "Ren, cowok elu itu dulu pernah nembak gue, tapi gue tolak. Gue takut dia deketin elu itu, ada maksud lain. Elu paham 'kan maksud gue? Si Rio itu cassanova tengik! Dia ...."

__ADS_1


"Ty, fokus ke jalan, dong!" Aku mengingatkan karena Rianty kerap menoleh ke arahku, bukan ke jalan raya.


"Kita pernah ngomongin ini sebelumnya. Elu masih inget, 'kan?" Rianty tidak mengindahkan. "Gue sering ngingetin elu tentang laki-laki buaya itu. gue gak pengen elu jadian ama dia hanya karena--"


"Ty, please ... fokus ke jalan!"


"Elu emang suka juga 'kan sama--"


"Oh, Tuhan! Ty, lihat ke jalan!"


Rianty malah menambah laju kecepatan kendaraan. Gadis itu makin menggila.


"Akuilah kalo elu itu--"


"Ty!" Aku berteriak mengingatkan.


"Elu suka sama Stefan juga, 'kan, Ren?"


"Rianty!"


Terlambat. Tiba-tiba saja kendaraan berhenti mendadak disertai entakkan dahsyat. Aku menjerit sekuat tenaga dan ikut terdorong ke depan menghantam dashboard. Lalu dunia seakan berputar-putar dengan cepat diiringi suara keras memekakkan telinga. Begitu cepat terjadi dalam beberapa kali kerjapan mata. Sampai kemudian semuanya hening terbalik. Tidak ada yang mampu bergerak, kecuali rintih kesakitan akibat himpitan kuat mengunci tubuh kami dari badan kendaraan yang ringsek.


Saat itu samar-samar masih terdengar suara Rianty memanggil-manggil. "Ren ... Ren ...."


Aku hanya bisa menangis di antara ingatan ini yang mulai mengabur.


"M-maafin gue, R-ren ...." desah Rianty lirih di sampingku.


"S-sakit b-banget, Ty ... k-kita berdua ... sebentar lagi ... m-mati, 'kan?"


Terdengar suara Rianty yang seperti tertahan. "K-kita berdua ... akan tetap ... bersama ... 'kan?"


Aku tak bisa menggerakkan kepala untuk melihat kondisi gadis itu. Apalagi kelopak mata ini terus-terusan dibanjiri aliran hangat dan bau amis menyengat. Sampai akhirnya semua pun berubah serba menguning dan pekat. Aku tak ingat apa-apa lagi, terkecuali bisikan halus menyertai di saat ini raga ini terasa melayang-layang. "Stefan ... milik kita berdua, Ren ...."


"Tidaaakkk!"


Aku kembali terbangun. Mendapati diri tengah berada di atas pembaringan kasar dan ruangan serba putih. Alam kematiankah? Sepertinya bukan. Tanganku masih ditancapi jarum berselang panjang. Lalu jerit hemodinamik yang terhubung pada kabel-kabel elektroda di dadaku.


"Rianty?" panggil seseorang begitu mendapatiku terbangun dalam kondisi duduk. "Ada apa, Nak?"


Aku menoleh. Sosok itu kembali. "Tante ...."


"Ya, Tuhan ... Rianty. Ada apa denganmu, Nak?"


"Aku bukan Rianty, Tante. Aku Irena."


Aku menggeleng. "Tidak, Tante. Aku memang Irena. Riantynya mana?"


Dia tidak menjawab. Namun sebentar-sebentar mengusap kelopak matanya dengan punggung tangan. "Baiklah, tetap kamu di situ. Mama akan panggilkan dokter dulu."


"Tante ... mana Mamaku?"


"Aku Mamamu, Nak ...." jawab wanita itu pelan sambil memijit tombol bel di dekat ranjangku.


"Tante ini mamanya Rianty. Tante gak kenal sama aku? Ini Irena. Temennya Rianty, Tante." Aku berusaha menegaskan.


"Terserah kamu saja, Sayang. Kamu belum sadar sepenuhnya. Sebentar lagi dokter akan memeriksamu," imbuhnya seperti menghindari perdebatan sengit denganku.


Tentu saja aku makin tidak memahami apa yang sedang terjadi. Jangan-jangan wanita tua itu ... ya, Tuhan! Apakah Rianty sudah meninggal dunia? Lalu karena merasa sangat kehilangan, dia beralih menganggapku sebagai anaknya sendiri.


"Tante gak ngertiin aku? Sudah kubilang aku ini bukan---"


"Lihatlah dirimu sendiri, Nak." Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah kotak cermin ke hadapanku. Persis di depan wajah. Di sana yang kulihat memang bukan ....


"Ya, Tuhan! Aku ....." Seketika aku meraba-raba wajah ini. Memperhatikan tangan, dada, dan kaki. Ini bukan tubuhku. Ini milik Rianty. Terutama kecantikan itu. "Apa yang terjadi denganku, Tante? Kenapa aku berubah jadi Rianty? Ini pasti ada yang salah, 'kan?"


Wanita itu menggeleng. "Enggak, Sayang. Kamu gak salah. Kamu memang anak Mama. Beberapa hari yang lalu kamu mengalami kecelakaan dengan ...."


"Tubuhku ke mana?" Aku masih belum mengerti. Bagaimana mungkin kini masih bisa hidup dalam raga yang berbeda. Tubuh milik sahabat sendiri. "Maksudku ... ke mana Irena?"


"Dia sudah meninggal dunia, Nak. Di tempat kejadian. Hanya kamu seorang yang selamat."


"Enggak!"


"Tenanglah, Nak. Semua akan kembali baik. Mama juga merasa sangat kehilangan temen kamu yang satu itu. Irena sangat baik sekali."


Kini gantian aku yang menggeleng-geleng. "Katakanlah ... ini hanya mimpi. Ya, ini cuma mimpi. Ini sangat tidak mungkin. Mustahil. Setidaknya bukan karena aku sudah jadi gila, 'kan?"


Bahkan sampai kemudian mata ini menggelayut berat akibat obat yang diberikan dokter, aku masih menceracau tak karuan. Sangat tidak masuk logika atas kejadian ini. Entah sampai kapan. Bahkan usai keluar dari rumah sakit sekali pun.


Mulanya merasa sangat asing, hidup dalam lingkungan yang serba berbeda. Rumah, orang tua, bahkan kini ... kehadiran Stefan yang dulu hanya sempat mengisi lamunan. Lelaki itu sering datang mengunjungi. Bukan saja melalui raga, akan tetapi berikut butir-butir cintanya. Ya, impian akan mendapatkan sosok berkumis tipis serta lesung pipit menggoda itu, kini berubah nyata. Dia hadir sendiri meraihku.


Tentu saja rahasia tentang jati diriku tak akan pernah diungkap. Percuma saja, Stefan pasti tidak akan percaya. Seperti halnya Tante ... eh, maksudku Mama, hanya menganggap fenomena kejiwaan semacam ini adalah akibat benturan keras pada kepala sewaktu terjadinya kecelakaan dulu. Ditambah rasa kehilangan berlebihan akan seorang sahabat dekat. Mama meyakini itu. Tentu saja pasti atas dasar hipotesis dokter di rumah sakit itu, 'kan? Tidak apa. Paling tidak, impianku untuk memiliki wajah cantik, anak semata wayang seorang janda berada, dan jodoh tampan rupawan seperti Stefan sudah terwujud. Apalagi? Kembali menjadi anak ibu kandungku yang miskin itu? Ah, entah ke mana Ibu? Sejak kehilangan aku ... eh, Irena, sosok Ibu menghilang. Mungkin pindah kontrakan atau bagaimana. Tidak tahu. Berulang kali dicari pun tak pernah menemukan hasil.


Kebahagiaan lain muncul dikemudian waktu, saat Stefan mengutarakan keinginannya untuk mempersuntingku. Seperti kejatuhan bulan beberapa kali. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Aku yakin, arwah Rianty pun akan turut merasa semringah dengan kabar ini. Berarti ini adalah lamaran Stefan untuk kali kedua. Setelah dulu terhambat karena adanya kejadian kecelakaan.


"Selamat, ya ... atas rencana pernikahanmu itu, Ty. Gue cuma bisa ikut ngedoain elu. Moga bahagia ama si Stefan itu," ucap Rio, laki-laki yang dulu sempat dekat denganku. Maksudnya, Irena. Senyum kecut tampak menghiasi bibirnya. Kelu dan kaku. Mungkin dia masih mengharapkan Rianty dan ... ah, sialan! Aku ingat kini. Si Jahanam itu dulu telah ....

__ADS_1


"Makasih, Rio," jawabku singkat.


Tak banyak percakapan yang kami lakukan. Yang ada hanyalah sisa amarah terpendam pada sosok lelaki tersebut, atas ulah yang telah dilakukan. Dia ....


"Kita pulang sekarang, Sayang?" tanya Stefan yang setia menunggu di dalam kendaraan usai memperhatikanku keluar dari butik dan bertemu dengan Rio tadi. Aku mengangguk. "Langsung ke rumah ... atau ...."


"Mau makan dulu?" Stefan melempar senyumnya yang menggoda.


Ya, Tuhan! Begitu sempurnanya Tuhan menciptakan makhluk yang satu ini. Baik hati dan kesempurnaan fisiknya sering membuatku berdecak kagum. Tanpa sadar aku pun mendekat. Memeluknya, kemudian lanjut mendaratkan cium ini di antara gelitik kumis tipis itu. Dia membalas sebentar. Hanya sesaat. Lalu mendorong perlahan diriku yang sudah bersiap menurunkan sanggahan busana penyangga di kedua bahu.


"Ada apa? Kamu gak suka aku?"


Stefan menggeleng pelan. "Maaf, bukan begitu, Sayang. Tapi aku pikir, belum saatnya kita lakukan hal yang lebih dari itu sekarang. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Nah, setelah itu ... barulah, tanpa dipinta pun ... aku akan selalu memberikannya untukmu."


'Aneh ....' gumamku dengan perasaan malu. 'Bukankah justru selama ini laki-lakilah yang sering meminta hal itu terlebih dahulu. Apalagi jelang pernikahan. Laki-laki sering meminta bukti kesungguhan cinta pasangannya dengan harga yang teramat mahal. Mahkota kesucian perempuan. Seperti yang dulu pernah Rio pinta padaku.'


Rio? Ah, buat apa mengingat-ingat si Cassanova itu! Sekarang aku sudah mendapatkan ganti dia yang jauh lebih baik. Tidak seperti halnya .... aku. Ya, Tuhan! Mengapa mendadak seperti merasa bersalah? Stefan memang jauh lebih berharga dari Rio. Namun apakah aku lebih baik dari Rio? Mengingat bahwa Rianty yang sekarang bukanlah sosok gadis cantik seperti dulu. Ini adalah aku. Irena yang hidup dalam tubuh Rianty.


"Kenapa, Sayang?" tanya Stefan begitu kendaraan sudah mulai melaju. "Kamu kecewa dengan sikapku tadi?"


Aku menggeleng. "Aku malu, Stef."


Stefan tersenyum. "Udahlah. Gak usah dipikirin. Aku gak apa-apa, kok."


"Tapi aku malu, Sayang."


Laki-laki mengenggam jemariku. "Aku memang laki-laki kuno. Sama sekali belum pernah melakukan hal itu pada perempuan mana pun. Impianku dari dulu adalah ingin bersamamu, Sayang. Memberikan apa pun yang kumiliki, hanya untukmu. Termasuk yang satu tadi. Makanya baru bersedia kalo kita sudah menikah."


"Maafin aku, Stef." Aku menundukkan kepala. Tiba-tiba merasa rendah diri di dekat laki-laki itu. "Aku pikir ... laki-laki di mana pun sama saja."


Stefan tersenyum. "Kebetulan yang akan segera menjadi suamimu ini, laki-laki spesial, Sayang. Hehehe."


Aku segera menyandarkan kepala di bahu Stefan. Jadi berpikir, apakah selama ini dia tidak pernah menyadari bahwa Rianty yang dulu dikenal sangat berbeda dengan sekarang? Mungkin saja hati dia berkata demikian. Namun mengingat ketulusan cinta Stefan, rasanya pertanyaan seperti itu akan dia sembunyikan. Entahlah ....


* * * * * * *


Aku membuka mata perlahan. Mengerjap-ngerjap kelopak mata sebentar, lalu melihat-lihat sekitar. Sedang terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi tubuh berat dan rasa ngilu luar biasa.


"Bu ....? Syukurlah, akhirnya Ibu sudah siuman." Satu suara menghampiriku dan langsung duduk di tepian kasur.


Aku mengerutkan kening. "Stefan? Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku seraya bangkit terduduk.


Wajah laki-laki itu muram. Sebentar-sebentar dia melirik ke arah luar. "Aku datang ke sini karena Ibu sendiri yang menelepon."


"Aku? Menelepon?"


Ya, Tuhan! Ada apalagi ini? Aku tidak merasa menghubungi Stefan. Lalu, dari tadi kudengar dia memanggilku dengan sebutan 'ibu'. Sudah sejauh mana hubunganku dengan dia? Apakah ada masa-masa terlewati hingga tak pernah menyadari sama sekali?


Stefan menjawab, "Ya, Ibu meneleponku. Karena ...." Dia menarik napas beberapa saat, kemudian lanjutnya, " ... menemukan Rianty tergeletak di kamarnya. Padahal kami sudah menunggu-nunggu lama kedatangan Rianty dan Ibu di acara pernikahan."


Aku kembali mengerutkan kening. "Kamu ini bicara apa, sih, Stefan?"


Sambil menundukkan kepala, Stefan menimpali, "Rianty telah meninggal dunia dengan cara meminum racun yang dia campur sendiri ke dalam minuman wine-nya. Aku gak tahu alasannya mengapa dia sampai nekat mengakhiri hidup seperti itu? Apalagi ini menjelang pernikahan kami, Bu."


Aku menggeser duduk lebih mendekat dengan laki-laki tersebut. "Apa maksudmu? Ini aku masih hidup."


Stefan melirik sebentar. "Iya, aku tahu. Ini mamanya Rianty," timpalnya. "Rianty sendiri sudah dalam kondisi tak bernyawa di kamar."


Aku menepuk pundaknya. "Ini aku, Sayang. Aku Rianty."


Kini giliran Stefan yang menatapku heran. Keningnya sampai berlipat-lipat. "Bu? Ibu sehat, 'kan?"


"Ibu ... Ibu ...! Ini aku. Rianty. Bukan Mamaku. Kamu pikir aku setua itu, hah?"


Stefan bangkit. Tersurut menjauh.


"Sayang, ada apa dengan kamu? Bukannya kita akan menikah hari ini?" Semakin tak mengerti dengan sikap laki-laki itu. Aku pun bangkit, hendak menggapai Stefan yang kian menjauh. Namun secara tak sengaja berjalan terhuyung mendekati sebuah cermin besar di kamar. Repleks aku pun menoleh dan menemukan wujud diri ini sudah lain. Bukan lagi Rianty cantik jelita bergaun pengantin serba putih. Justru yang ada di sana adalah sosok Mamaku. Ibunya Rianty.


"Astaga!" Aku pun memekik kuat. "Ada apalagi ini? Mengapa sekarang berubah wujud menjadi setua ini?"


Stefan beringsut keluar kamar dengan wajah ketakutan. "Tidak, Bu. Aku masih muda. Aku masih menyukai yang sebaya. Kalo Ibu mau nyari jodoh, sama Papaku saja. Beliau juga sudah lama menduda."


"Stefan! Tunggu!"


"Tidak, Bu! Terima kasih! Aku masih menginginkan empot ayam yang seemmfffiii ... ttt!" teriak Stefan sambil berlari menjauh.


"Stefan! Stefan, Sayang!" Aku berusaha mengejar, tapi langkah ini terasa berat tak bertenaga. Baru beberapa langkah saja sudah kelelahan disertai debaran jantung menguat. Lalu sengaja mata ini melihat-lihat ke arah kamar Rianty dengan kondisi engsel pintu rusak bekas dorongan. Tampak di sana sesosok gadis berbusana pengantin tergeletak dengan mulut berbusa. "Astagaaa ....!!!"


Ya, baru ingat. Beberapa waktu lalu memang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Meminum wine yang sudah kucampur dengan racun tikus yang ada gambar badaknya. Lalu tidak berapa lama terdengar suara Mama memanggil sambil menggedor-gedor pintu. Sekarang, kalaupun aku sudah mati, mengapa saat ini justru kembali hidup dalam tubuh Mama? Apakah Mama turut meninggal juga? Bagaimana caranya? Seingatku Mama selama ini sehat-sehat saja, terkecuali kondisi jantungnya.


Ini kelanjutan hidup macam apalagi, sih? Keinginanku saat tadi hanya mati. Meninggalkan Stefan selama-lamanya karena aku merasa tidak cocok mendampingi hidup laki-laki sebaik dia. Aku sudah kotor. Tubuh ini pernah dijamah si Rio. Bahkan saat terkapar sekarat di dalam kendaraan dulu bersama Rianty, rahimku tengah mengandung bibit anak si Cassanova itu!


Ya, Tuhan! Kematian apalagi yang kini akan kupersiapkan. Menusukkan pisau dapur ke perut sendiri. Mudah-mudahan saja setelah itu tidak akan kembali hidup. Baiklah, aku pun segera bergegas ke dapur. Mengambil sebilah pisau pemotong tulang iga. Menghujamkan ke perut. Selesai sudah. Aku pun tersungkur bermandikan darah segar.


Hanya saja, di saat bersamaan muncul sesosok makhluk lain. Kecil, berbulu, moncong panjang, berekor, dan gigi tajam. Dia mendekatiku dan ....


"Ciiittt! Ciittt! Ciiittt! Stefan, Sayang! Aku kini semcciiittt!"

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2