Zona Dewasa

Zona Dewasa
33. Inspektur Dae-Jung


__ADS_3

...INSPEKTUR DAE-JUNG...


...Ditulis oleh David Khanz ...


Hampir pukul setengah dua belas malam, Dae-Jung baru tiba di rumah. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu membanting setir kendaraannya ke kiri, memasuki pelataran parkir. Sejenak usai mematikan mesin, dia tak segera keluar. Memperhatikan terlebih dahulu keadaan rumah yang sepi. "Pasti Kyung sudah tidur. Kasihan sekali," gumam Dae-Jung sendiri mengenai istrinya. "Dia pasti lama menungguku pulang." Kemudian memeriksa deretan pemberitahuan pesan yang masuk di ponsel. Termasuk beberapa kali panggilan tak terjawab dari nomor Kyung Soon. 'Sial, kenapa tak terdengar sejak tadi?' Lantas menggulir panel layar ke bawah, melihat gambar bel yang terhalang garis miring. 'Hhmmm, pantas saja.' Dae-Jung mendecak. 'Semoga saja Kyung tak marah-marah.'


Perlahan Dae-Jung membuka pintu, bergegas keluar, dan menutupnya kembali seraya memijit kunci otomatis. Kemudian menapaki beranda rumah dengan langkah hampir tak menimbulkan suara.


Berbekal kunci cadangan yang senantiasa dibawa, Dae-Kyung membuka pintu. Agak temaram begitu mulai memasuki ruang depan. Mata lelaki ini menyapu seisi tempat. Mencari-cari, mungkin ada sosok Kyung Soon yang tengah tertidur pulas di sofa.


Aman. Di sana kosong.


Namun sebentar kemudian, lekat dia menatap tajam ke arah ruang dapur. Terutama meja makan. Beberapa batang lilin menyala kekuningan di dalam candle holder. Dihiasi bunga-bunga berwarna merah, juga gelas dan botol Soju serta Bokbunja. Dua mangkuk kudapan yang sudah dingin belum tersentuh.


‘Pabo ya! Hari ini anniversary pernikahan kami. Mengapa aku sampai lupa? Ah, omo ya! Kyun pasti menunggu-nunggu aku untuk ini!’ Beberapa kali Dae-Jung mengumpat menyesali diri.


Dia meletakkan tas di atas meja makan, lalu bergegas ke kamar tidur. Benar, Kyung Soon sedang berbaring di sana. Masih mengenakan gaun indah berwarna marun dengan belahan besar di bagian dada, hingga jenjang pundaknya terbuka. Betis putih mulus tergantung di tepian tempat tidur, lengkap berhiaskan high heel kesayangannya.


“Ya, Tuhan! Berdosa sekali aku membiarkannya menunggu .... “ Dae-Jung bermaksud melepas sepatu istrinya, tapi tertahan begitu mendengar lenguh perempuan yang dicintainya itu.


Kyun Soon terjaga. Matanya perlahan terbuka. Menatap sosok Dae-Jun yang masih bias di dalam keremangan. “Jung? Kaukah itu?” tanyanya seraya bangkit.


“Sayang, maafkanlah aku. Panggilan teleponmu baru kuketahui barusan. Aku lupa, tidak mengaktifkan kembali mode silent-nya.” Dae-Jung mendekati istrinya.


Kyun Soon tak menjawab. Dia malah menguap lebar di balik punggung tangannya. “Oh, aku ketiduran rupanya. Maafkan aku juga, Jung. Kupikir … kau tak akan pulang lagi malam ini.”


Dae-Jung mengecup kening perempuan tersebut. “Aku yang bersalah, Soon. Tak mengabari kepulanganku ini.”


Kyun Soon tersenyum. “Tidak apa-apa, Jung. Aku memahami pekerjaanmu, kok. Sudah risikoku menjadi istri seorang polisi.”


“Soon …. “


“Hhmmm?”


Dae-Jung duduk di samping istrinya. Menundukkan wajah, lalu berkata, “Kau tak menyesal bersuamikan aku, ‘kan?”


Kyun Soon menoleh. “Hei … pertanyaan macam apa itu, Sayang? Aku tak pernah berkata seperti itu, ‘kan?”


Lelaki itu mengangguk. “Tentu. Karena kau terlalu baik padaku.”


Perempuan itu kembali tersenyum. Dia merapatkan tubuhnya. Memeluk Dae-Jung dari samping dengan erat. “Karena aku sangat mencintaimu, Jung. Dari dulu … dan tak pernah berhenti hingga saat ini.”


Lelaki itu pun segera membalas. Dia memutar setengah duduknya untuk memeluk Kyun Soon berhadapan. Kemudian mendaratkan ciumnya dengan lembut pada bibir perempuan itu, penuh kasih sayang. “Aku juga, Sayang,” ujarnya setelah pagutan mereka terlepas.


“Kau lapar?” tanya Kyun Soon sambil mengusap bahu suaminya yang berotot. “Aku tadi bikin mieyok-guk lengkap dengan banchan-nya. Kamu mau coba? Tapi … sekarang mungkin sudah dingin. Biar aku hangatkan dulu, ya?”


Dae-Jung tak menjawab. Dia hanya tersenyum membiarkan istrinya beranjak ke dapur. Jujur saja, lelaki itu sedang tak berselera makan. Apalagi ini sudah menjelang tengah malam. Ingin segera tidur setelah dua hari berkelana menjalankan tugas berat. Namun demi kebahagiaan Kyun Soon, Dae-Jung memutuskan untuk makan bersama. Apalagi ini, ulang tahun pernikahan pertama mereka.


Senyum semringah tampak menghiasi wajah Kyun Soon. Sepanjang menyantap sup tradisional khas Korea tersebut, mata perempuan itu tak lepas memandang roman suaminya. Bahkan hingga menutup acara dengan minuman Soju dan Bokbunja. “Untuk kesehatan dan kebahagiaan pernikahan kita, Jung,” ucap Kyun Soon mengajak bersulang. Dae-Jung menyambut sambil mengucap kalimat senada.


Pesta perayaan sederhana, tapi berkesan dan terasa istimewa. Hanyut berdua dalam aroma hangat di pertengahan malam teriring lantunan melodi mengalun lembut. Entah sudah berapa teguk alkohol yang masuk memenuhi rongga, hingga akhirnya botol dan gelas pun terkulai tak bertuan di atas sofa. Dalam pengaruh dekapan Bokbunja, Kyun Soon bergerak-gerak liar mencabik balutan setelan Dae-Jung. Dua hari memendam kerinduan akan sosok suami, membuat perempuan ini mengindahkan diri. Sementara sang lelaki masih setengah dingin mengimbangi.


"Kita lakukan besok saja ... ya, Sayang." Dae-Jung mengelak saat jemari istrinya mulai mempreteli ikat pinggangnya. Kyun Soon terhenyak, tanya dia kemudian, "Kenapa?"


"Aku lelah sekali. Maaf, ya."


"Bahkan untuk sekali ini saja?" Tiba-tiba raut cantik itu berubah muram. Dae-Jung menggigit bibr sendiri sambil menarik napas panjang. Ujar laki-laki tersebut, "Maafkan aku .... "


Kyun Soon menghempaskan tubuh ke samping. Melepas jepitan kedua pahanya pada lingkar pinggang Dae-Jung. Tampak sekali kekecewaan menggayutinya. Lantas terdiam dalam kecamuk rasa yang sulit dibendung.


"Setidaknya aku ingin sekali terlelap malam ini dalam dekapanmu, Jung," ucap Kyun Soon begitu Dae-Jung bangkit hendak ke kamar. Gerak laki-laki itu tertahan. Lalu mengulurkan tangan diiringi senyum tawar menyesakkan. "Baiklah ... ayo, tidur."


Kyun Soon menurut. Namun tanpa menyambut ayunan tangan sang suami yang tergantung hampa. Melangkah terlebih dahulu dalam balutan durja.


"Soon .... " panggil Dae-Jung menatap punggung istrinya, pilu.


"Aku tak apa-apa," timpal Kyun Soon tanpa menoleh sesaat pun. "Tidak perlu pikirkan aku. Tidurlah. Bukankah besok kamu harus kembali kerja?"


Setahun sudah pernikahan itu mereka jalani. Perayaan kenangan yang diharapkan berjalan indah, ternyata harus pasrah menelan kekecewaan teramat sangat.


Kyun Soon memang bisa kembali melanjutkan rajutan mimpi, tapi tidak dalam pelukan hangat lengan berotot. Malah berpaling membentengi diri dengan bentangan punggung membelakangi suami. Tidak ada percakapan susulan, maupun isak pilu. Sunyi senyap di antara aura kaku.


Esoknya Kyun Soon terbangun sendiri dalam kondisi busana setengah terbuka. Menoleh ke samping, Dae-Jung sudah tak ada di tempat. Terkecuali secarik kertas bertuliskan permohonan maaf.


'Selamat pagi, Sayang. Maaf jika harimu ini tak lagi kutemani. Aku pergi di pagi buta, dikala kamu masih tertidur. Ada kasus baru yang harus ditangani segera. Aku harap kamu bisa memakluminya. Nanti siang kuhubungi begitu tiba di kantor. Selamat hari pernikahan kita yang pertama, Sayang. Dariku yang mencintaimu ... Jung.'


Tak ada ekspresi apa pun usai Kyun Soon membaca catatan kecil dari suaminya. Perempuan itu hanya melempar pandang ke arah kaca jendela yang sudah terbuka. Memperhatikan rimbun pepohonan tinggi menjulang di samping rumah. Hijau menyejukkan. Namun belum mampu menghalau gundah gulana menghujam di balik dada.


Hal seperti itu bukan yang pertama kali terjadi. Sebagai istri seorang inspektur polisi, Kyun Soon sudah tahu risiko yang akan dia hadapi. Sering sendiri, ditinggal tugas suami, kehilangan momen berharga di pagi hari, bahkan dipaksa rela menelan pil pahit seperti malam tadi. Tidak. Kyun Soon bukan tipe perempuan pengurai air mata. Pilihan cinta yang dia labuhkan dulu pada Dae-Jung, bukan tanpa alasan. Setidaknya bisa memperoleh sedikit hormat dari teman sejawat, tidak sebagaimana yang dirasakan dahulu saat masih kanak-kanak.


Sejak kecil, Kyun Soon sudah akrab dengan lingkup kehidupan Jojik-Polyeokbae atau Jopok. Karena ayahnya adalah salah seorang anggota dari gangster yang paling ditakuti di Korea Selatan. Kekerasan, pembunuhan, serta tindak kriminal lainnya bukan merupakan hal aneh bagi perempuan tersebut. Bahkan menyaksikan langsung di depan mata, waktu kedua orang tuanya mati mengenaskan dibantai kelompok mafia lain, di bawah pimpinan Soo Yun.


Kyun Soon kecil terselamatkan oleh sepasang suami-istri yang kebetulan menemukannya tengah menghunus sebilah pisau berlumuran darah, usai membela diri dari berandal jalanan yang hendak merudapaksa. Dirawat selayaknya anak sendiri, serta disekolahkan di luar negeri hingga berstrata tinggi. Apalah daya, orang-orang sudah mengenal sosok Kyun Soon sebagai anak dari keluarga kriminal. Gadis itu pun mengalami asosialisasi masyarakat.


Kesedihan semakin membuncah, tatkala kedua orang tua angkat meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.


Berlara-lara sudah kini kehidupan Kyun Soon. Tiada pilihan lain untuk segera keluar dari himpitan derita tersebut, terkecuali mengakhiri hidup. Sayang sekali, rencananya berhasil digagalkan oleh seorang polisi bernama Dae-Jung. Sosok ini pula yang kemudian menjadi pendamping hidup. Kyun Soon dan Dae-Jung saling jatuh hati. Bibit cinta itu, mereka wujudkan di altar pernikahan beberapa tahun kemudian, hingga kini.


"Maaf, Sayang ... pagi-pagi tadi aku dihubungi atasan baruku. Tak tega membangunkanmu. Makanya kubiarkan saja dan memberimu catatan kecil," tutur Dae-Jung memenuhi janji pada istrinya.


"Aku sudah baca," jawab Kyun Soon. "Ada kasus baru apa?" Suara perempuan itu terdengar tenang.


"Pembunuhan. Pasti kamu tak sabar ingin segera mendengarkannya, 'kan?" Dae-Jung terkekeh.


"Seperti biasa. Aku akan menyimak sampai kamu selesai bercerita. Kamu sudah sampai di kantor?"


"Aku masih di Gwangju."


"Gwangju?"


Dae-Jung menarik napas. "Iya, daerah sekitar Gwangju. Tempat kejadian perkara. Aku masih menyelidiki lokasi pembunuhan dengan Inspektur Senior Yun Hee."


"Yun Hee?" Kyun Soon mengulangi nama yang disebutkan Dae-Jung barusan. Jawab laki-laki tersebut, "Iya. Kamu kenal dia?"


‘Perawan tua itu .... ‘ ujar Kyun Soon dalam hati. ‘Apakah itu benar dia?’


"Sayang? Kamu masih di situ, ‘kan?" Dae-Jung bertanya. “Halo … Soon, Sayang. Halo?”


Kyun Soon tersenyum kecil. Matanya berputar-putar seperti tengah mengingat-ingat sesuatu sambil menggigiti tepian bibir. Sebentar kemudian dia beranjak. Mencari-cari kunci kendaraan ….


* * * * * * * * * * * * * * *


Hampir pukul setengah dua belas malam, Kyun Soon baru tiba di rumah. Perempuan bertubuh sintal itu membanting setir kendaraannya ke kiri, memasuki pelataran parkir. Sejenak usai mematikan mesin, dia tak segera keluar. Memperhatikan terlebih dahulu keadaan rumah yang sepi. ‘Jung sudah pulang rupanya?’ gumam Kyun Soon terkejut begitu melihat kendaraan Dae-Jung sudah terparkir di dalam garasi. Lalu meraih ponselnya di atas dashboard. Memeriksa deretan pemberitahuan pesan yang masuk. Termasuk beberapa panggilan tak terjawab dari nomor sama. Dae-Jung.


'Sial, kenapa tak terdengar sejak tadi?' Lantas menggulir panel layar ke bawah, melihat gambar bel yang terhalang garis miring. 'Hhmmm, pantas saja.' Perempuan itu mendecak. 'Semoga saja Jung tak marah.'


Perlahan Kyun Soon membuka pintu, bergegas keluar, dan menutupnya kembali seraya memijit kunci otomatis. Kemudian menapaki beranda rumah dengan langkah hampir tak menimbulkan suara. Berbekal kunci cadangan yang senantiasa dibawa, dia membuka pintu. Agak temaram begitu mulai memasuki ruang depan. Mengitari pandang seisi tempat. Mencari-cari. Mungkin ada sosok Dae-Jung tengah tertidur pulas di sofa. ‘Aman. Kosong,’ batinnya lega.


Kyun Soon bergegas ke kamar tidur. Benar saja. Dae-Jung ada di sana. Tergolek. Mengenakan setelan kemeja kerja. Sementara setengah kakinya tergantung di tepian tempat tidur, masih bersepatu. “Ya, Tuhan … apakah sudah lama Jung menungguiku?“


Dia bermaksud melepas sepatu suaminya tersebut, tapi tertahan begitu mendengar lenguh laki-laki tercintanya itu.


Dae-Jung terjaga. Matanya perlahan terbuka. Menatap sosok Kyun Soon dalam keremangan. “Soon? Kaukah itu?” tanyanya seraya bangkit.


“Sayang, maafkanlah aku karena pergi tanpa sepengetahuanmu. Panggilan teleponmu pun baru kuketahui barusan.”


Dae-Jung mendekati istrinya. “Kamu dari mana saja, Sayang? Hari ini, aku sengaja pulang lebih awal dari biasanya. Kupikir … kau marah padaku.” tanyanya diiringi kecupan di kening Kyun Soon. “ ... Apalagi kamu tidak mengangkat panggilan teleponku. Kenapa?”


Kyun Soon tersenyum. “Tidak ada apa-apa, Jung. Aku hanya lupa mengaktifkan suara HP-ku saja. Aku …. ”


“Dari mana, Sayang? Dari Wihara lagi?”


“Jung …. “


“Hhmmm?”


Dae-Jung menarik lengan Kyun Soon ke samping. Mengajaknya duduk di pinggiran tempat tidur.


“Malam ini … kamu tak akan meninggalkan aku, ‘kan?” tanya perempuan tersebut sambil menundukkan wajah.


Dae-Jung terkesiap. Ungkapnya seraya meraih jemari lentik itu, “Hei, kamu bicara apa, Soon Sayang? Kamu kecewa karena kemarin malam kita tidak—“


“Bukan … bukan karena itu, Jung. Tapi … aku sering merasa kesepian setiap kamu berurusan dengan pekerjaanmu itu. Kasus pembunuhan lagi. Aku takut …. “ tutur Kyun Soon lirih. Dia teringat akan masa-masa kecilnya dulu yang sering akrab dengan percikan darah.


“Sayang … aku, ‘kan, sudah bilang … hari ini pulang lebih awal karena pekerjaanku sudah beres. Ini demi kamu juga, Sayang. Tadi … eh, kenapa ini dengan tanganmu?” Dae-Jung memperhatikan ruam pada ruas jemari istrinya. Merah-merah seperti lecet. Kyun Soon meringis. “Tanganmu terluka, Sayang.”


Buru-buru perempuan itu menarik lengannya. “Bukan apa-apa, Jung. Ini hanya memar bekas tadi pagi. Aku hampir terantuk ke tembok waktu bangun tidur, tapi keburu ditahan dengan tanganku. Hasilnya … ya, seperti ini,” kilah Kyun Soon.


Dae-Jung menggeleng-geleng. Sangkalnya kemudian, “Tidak, Soon. Itu bukan memar biasa. Aku yakin sekali.”


“Sudahlah, Jung. Tidak usah dipermasalahkan. Lagipula aku tidak apa-apa, ‘kan?”


“Tapi ….?”


“Kamu sudah makan?” tanya Kyun Soon seperti tengah mengalihkan pembicaraan. Dae-Jung mengangguk. Jawabnya, “Tadi aku masak. Maaf, bekas makanku belum sempat dibereskan.”


“Biar aku rapikan sekarang …. “ Kyun Soon bangkit dari duduk, bermaksud hendak ke ruang dapur. Namun cekalan Dae-Jung mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Mata laki-laki itu menatapnya tajam.


“Kita lanjutkan tentang malam kemarin yang tidak sempat dilakukan,” ajak Dae-Jung disertai senyumnya.


“Jangan gila, ah. Aku belum sempat mandi, Jung,” elak Kyun Soon malu-malu.


“Aku tak peduli.”


“Sayang …. “


Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama. Merayakan ulang tahun pernikahan pertama di hari kedua. Bercinta sepenuh hati tanpa aroma alkohol menyengat. Sampai kemudian tergolek puas bersimbah keringat.


“Soon sayang …. “


“Hhmmm.”


“Kamu belum mendengar ceritaku seperti biasa,” ungkap Dae-Jun sambil memeluk erat istrinya. Tanya Kyun Soon, “Cerita apa?”


“Kasus pembunuhan tadi pagi itu.”


“O, iya. Ceritakanlah. Akan kudengarkan …. “ sahut perempuan itu seraya merapatkan tubuh dalam dekapan laki-laki tersebut.


Dae-Jun mulai bertutur, “Pembunuhan terhadap seorang perempuan. Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata semua petunjuk mengarah pada satu orang. Pelakunya itu … suami korban sendiri. Hanya saja, sebelum kami menangkap laki-laki itu, dia kami temukan dalam keadaan sudah mati. Padahal waktu dipintai keterangan, pelaku masih dalam keadaan bugar.”


“Bagaimana bisa secepat itu kamu memecahkan kasus tadi? Hebat sekali.”


Dae-Jung terkekeh. “Justru yang sekarang menjadi fokusku adalah pembunuh pelaku itu. Siapa dan apa motifnya? Aku benar-benar tidak mengerti. Tak ada jejak sedikit pun yang ditinggalkan. Terkecuali, tubuhnya penuh dengan luka …. “ Dae-Jung menghentikan ceritanya. Lalu memeriksa Kyun Soon. “Hhmmm, malah tertidur kamu, Sayang. Dasar …. ”


Akhirnya, lelaki itu pun turut memejamkan mata. Menyusul Kyun Soon yang telah terlelap terlebih dahulu.


* * * * * * * * * * * * * * *


Dilain waktu ….


“Jung … kok, tumben sudah pulang? Pekerjaanmu sudah beres?” tanya Kyun Soon suatu ketika.


Laki-laki itu meletakan tas kerjanya di atas meja. Jawab dia kemudian, “Pelaku perampokan itu sudah mati sebelum kami sergap di kediamannya. Aneh …. “


“Syukurlah. Berarti tugasmu lebih ringan sekarang dan leluasa berada di rumah bersamaku. Aku sudah siapkan makanan khusus buatmu,” ungkap Kyun Soon dengan wajah semringah. “Kamu pasti lapar? Ayo, kita makan.”


“Baiklah, Sayangku.”


Kejadian berikutnya pun hampir sama. Kasus kriminal yang diakhiri dengan pembunuhan terhadap para pelaku kejahatan. Anehnya, sulit sekali bagi Dae-Jung untuk mendapatkan bukti-bukti tambahan atas kasus-kasus yang dia hadapi. Namun sisi positifnya, pekerjaan laki-laki berdada bidang ini jadi ringan. Pulang ke rumah sebagaimana biasa, jarang ada panggilan telepon mendadak, serta waktu bersama Kyun Soon pun lebih banyak.


Sampai pada suatu hari, Dae-Jung tidak menemukan Kyun Soon di rumah. Perempuan yang selalu menyambut kepulangannya itu, tidak menampakkan hidung.


‘Kemana istriku? Apakah belum pulang dari wihara?’ batin Dae-Jung bertanya-tanya. Telepon selulernya pun dalam kondisi tidak aktif. Laki-laki ini mulai gelisah. Khawatir terjadi sesuatu terhadap Kyun Soon.


Di waktu itulah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. ‘Hhmmm, ini pasti dari Kyun—‘ Senyum Dae-Jung serta merta berhenti. Itu bukan panggilan dari sang istri. Melainkan Joo-Won. Anak buahnya di kantor. “Halo, Won … ada apa?”


“Sebaiknya Pak Inspektur datang sekarang juga ke lokasi saat ini kami berada, Pak,” jawab Joo-Won melalui pesawat ponsel.


“Kami? Di mana?”


“Ya, kami. Aku, Joo-Won dan … Inspektur Senior … Ibu Yun Hee, Pak. Sebentar … lokasinya akan kami berikan.”


“Kamu sedang bersama Ibu Yun Hee? Sedang apa dia di sana?” Dae-Jung bergegas masuk ke dalam kendaraan. Lalu melajukannya secepat mungkin.


“Aku datang sendiri juga karena … memang diberitahu oleh Bu Yun Hee.”


“Apa? Mengapa tidak langsung menghubungiku, sih?” Dae-Jung mulai bertanya-tanya.


“Mohon maaf, Pak. Aku hanya menjalankan tugas.”


“Baiklah, tetaplah di sana. Sebentar lagi aku sampai …. ’


Ya, tidak sampai pertengahan jam, Dae-Jung sudah tiba di lokasi dengan cepat. Di depan sebuah rumah kumuh di pinggiran daerah perkotaan. Disambut Joo-Won dan Yun Hee.


“Ada apa ini?”


Joo-Won mengajak Dae-Jung masuk ke dalam rumah tersebut. “Bapak lihat saja sendiri, Pak.”


Alangkah terkejutnya lelaki itu, karena di dalam sana tampak sesosok yang sudah sangat dia kenali, tengah duduk berselonjor dengan kondisi luka berdarah di kaki.


“Kyun Soon!” seru Dae-Jung mengejutkan.


Sosok itu memang Kyun Soon. Dia terperanjat begitu mendapati suaminya datang. “Jung …. “


“Ada apa ini, Sayang? Apa yang kamu lakukan di sini?” Dae-Jung menghambur peluk pada istrinya. “Katakanlah, Sayang! Kakimu terluka. Ditembak? Siapa yang melakukannya?”


“A-aku … a-aku …. “


"Bersenjata? Sejak kapan kamu bisa menggunakan senjata, Sayang? Dari mana mendapatkannya?" cecar Dae-Jung tidak percaya.


Kyun Soon menggeleng. Dia enggan menjawab.


"Siapa yang menembak istriku, Won?"


"Bu Yun Hee, Pak."


"Astaga .... " Dae-Jung mengusap wajahnya. "Aku seperti baru mengenali istriku sendiri."


"Maafkan aku, Jung. Aku melakukan ini, demi kamu." Lirih suara Kyun Soon menyesali perbuatannya.


"Demi aku? Hhmmm .... "


"Bukan pertama ini saja, istri Bapak melakukan--" Ucapan Joo-Won terhenti. Keburu dipotong tegas atasannya tersebut. "Aku sudah dengar tadi. Kamu tahu dari mana, Won?" Dae-Jung menatap geram pada anak buahnya tersebut. Joo-Won menoleh ke arah Yun Hee yang berada di luar ruangan. Jawabnya, "Bukti dan berkasnya ada pada Inspektur Senior."


"Aku benar-benar tidak mengerti. Bukti apa dan dari mana dia mendapatkannya?" gumam Dae-Jung berpikir keras.


"Sudahlah, Jung. Tidak perlu diperdebatkan. Aku melakukan semua ini karena ingin kamu selalu pulang tepat waktu dan punya banyak waktu untukku," timpal Kyun Soon diiringi ringis kesakitan pada kakinya. "Aku sering kesepian karena kamu lebih peduli pada pekerjaanmu."


"Tidak, Soon. Itu bukan alasan. Aku ingin tahu semuanya. Ini kasus berat buat kamu, Sayang," ucap lelaki itu. "Dari mana kamu mengetahui informasi tentang target DPO kami? Selama ini aku tidak pernah bercerita sedetil apa pun padamu."


Kyun Soon melirik sebentar ke arah Joo-Won. Laki-laki hanya terdiam. Lantas lekas menundukkan wajah begitu Dae-Jung memperhatikan mereka. "Ada apa di antara kalian berdua? Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"


Joo-Won menggeleng. "Tidak, Pak. Aku sama sekali tak punya hubungan apa-apa dengan Bu Kyun Soon."


"Tidak, Sayang. Aku pun kenal dia baru sekarang ini. Tak ada yang kusembunyikan darimu," timpal Kyun Soon. Lalu beringsut sambil kembali meringis kesakitan.


“Ya, Tuhan! Cepat panggilkan ambulan, Joo-Won!” teriak Dae-Jung panik. “Sedang dalam perjalanan, Pak,” jawab Joo-Won bingung. "Sebentar lagi juga ... mungkin sampai."


Dae-jung mendengkus keras. "Katakanlah yang sebenarnya, apa yang kamu lakukan selama ini, Sayang?" tanya lelaki itu di antara tatapannya pada Kyun Soon. "Aku masih tidak percaya. Bahkan sama sekali berusaha untuk tidak percaya. Bagaimana Bu Yun Hee bisa mengetahui sepak terjangmu selama ini?"


"A-aku ... a-aku .... "


Tiba-tiba Yun Hee masuk ke dalam ruangan. Tatapannya dingin. Memperhatikan satu per satu orang-orang yang ada di sana. Terutama pada Kyun Soon. "Tinggalkan kami berdua di sini. Aku ingin bicara dengan dia!" Tunjuk perempuan tersebut dengan gerakkan dagunya. Terkesan angkuh dan arogan.


Perlahan Dae-Jung bangkit. Melirik sejenak pada Joo-Won, lalu beralih menatap Yun Hee. Sebelum meninggalkan ruangan, laki-laki ini berkata pelan pada atasannya. "Aku tidak tahu, ada hubungan apa Ibu dengan istriku selama ini? Walaupun diduga dia bersalah, aku berhak tahu kasus macam apa ini. Karena disamping sebagai seorang polisi, aku juga suaminya."


Yun Hee tersenyum kecut. "Kamu mengancamku, Jung? Kita sedang bertugas dan aku adalah atasanmu," jawabnya dingin.


"Aku tahu. Ini bukan kasus biasa, Bu," bisik Dae-Jung. "Aku dengar, Ibu juga yang menembak istriku, 'kan?"


"Kenapa? Kamu mau balas dendam, Jung? Lagipula, aku melakukannya sesuai prosedur. Tak ada yang salah."


"Baiklah, pembicaraan ini kita lanjutkan nanti di kantor."


"Aku tunggu kamu di ruanganku, Inspektur Jung!"


"Hhmmm .... " Dae-Jung mulai melangkah melewati Yun Hee. Namun sebelum sampai di luar, kembali dia berucap, "Tenanglah, Soon. Aku akan membantumu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu."


Joo-Won mengikuti langkah atasannya. Pergi meninggalkan Yun Hee berdua dengan Kyun Soon.


Sepeninggal mereka, Yun Hee mulai mendekati Kyun Soon. Berjongkok di samping perempuan itu dengan pandangan dingin. "Bagaimana, Soon? Kamu menikmati semua ini, 'kan?"


"Apalagi yang kamu inginkan dariku? Kamu sudah berhasil menjebakku. Sekarang mau apa?" tanya Kyun Soon sambil meringis.


Yun Hee tersenyum kecut. "Mauku apa? Menurutmu bagaimana?"


"Kalau saja aku tahu bahwa informasi yang selama ini kudapat darimu, sudah dari awal dulu, kamulah orang pertama yang akan kuhabisi, Perawan Tua!"


"Bodoh sekali kamu, Soon. Sama bodohnya dengan keluargamu yang hanya berupa sampah masyarakat," tukas Yun Hee pedas. "Kamu pikir dengan menikahi Dae-Jung, status sosial kamu akan berubah? Hhmmm? Naif sekali hidupmu."


Dada Kyun Soon berguncang. Napasnya seakan menyesak. "Apa bedanya dengan ayahmu dulu yang telah membantai habis keluargaku, Jahanam? Bahkan untuk membersihkan sampahmu leluhurmu dulu, kamu tak punya malu bersembunyi di balik seragam penegak hukum! Cuih!"


PLAK!


Kyun Soon mengusap perih pipinya.


Yun Hee tersenyum tawar seraya mengelap liur Kyun Soon yang membuncah ke wajahnya. "Akan kupastikan hidupmu lebih lama mendekam di penjara sana, Soon. Kamu tahu apa itu artinya? Aku akan bebas mendekati suamimu. Bertekuk lutut di bawah kakiku sendiri."


"Kamu memang perempuan binal yang tidak ada harganya, Yun Hee! Cuih!"


PLAK! PLAK!


Kyun Soon tertawa seraya mengusap wajah. "Kamu pikir dengan tamparanmu itu akan membuatku diam? Kamu keliru, Yun Hee! Aku sudah terbiasa dengan kekerasan. Kematian bagiku bukan hal yang menakutkan. Tidak seperti ayahmu si Soo Yun yang pengecut itu! Hahaha."

__ADS_1


"Sssttt ... pelankan suaramu, Soon. Nanti suamimu yang polisi itu mendengar dan dia tahu siapa kamu sebenarnya. Seorang perempuan dari keluarga begundal yang pernah membunuh cacing jalanan, hanya karena menolak diajak tidur bersama. Lalu dipungut oleh sepasang tua bangka dan mereka pun bernasib sama. Mati mengenaskan. Drama sekali hidupmu, Soon."


"Setidaknya masih bisa merasakan hidup terhormat. Daripada menjelma jadi perawan tua sepertimu!"


PLAK!


Yun Hee tersurut mundur begitu melihat gelagat Kyun Soon hendak membalas. "Sombong sekali kamu, Soon. Tapi itu semakin membuatku bersemangat untuk bisa merebut Dae-Jung darimu."


"Cuih! Bangsat kamu, Yun!"


Usai menyeka lelehan liur yang memenuhi wajah, perlahan Yun Hee mengeluarkan sebuah pistol dari balik pinggangnya.


"Bagus! Bunuhlah aku sekarang juga. Seperti yang pernah ayahmu lakukan dulu terhadap keluargaku! Ayo, lakukan! Aku tidak takut!"


"Kamu pikir aku sebodoh itu, Soon? Kamu salah .... "


DOR!


"Uuuhhh .... "


"Yun Hee!"


Yun Hee melemparkan senjatanya ke tangan Kyun Soon, lalu menjatuhkan diri ke atas pangkuan istri Dae-Jung tersebut.


Mendengar ada suara tembakan, Dae-Jung dan Joo-Won segera memburu masuk dengan pistol siaga.


"Inspektur Yun!" teriak Joo-Won.


"Sayang?" Dae-Jung tertegun menatap istrinya. "Apa yang telah kamu lakukan itu?"


Kyun Soon menggeleng-geleng. "Tidak, Jung. Aku tidak melakukan apa-apa."


"Tenanglah, Sayang. Berikan senjata itu padaku," pinta Dae-Jung sambil mengarahkan senjata pada istrinya, diikuti oleh Joo-Won. "Turunkan senjatamu, Won. Biar aku yang mengatasi!"


Joo-Won mengikuti perintah.


"Bukan aku, Jung. Aku sama sekali tidak menembak dia!" teriak Kyun Soon histeris.


"Iya, aku percaya. Tapi lemparkan senjata itu padaku. Kamu akan merasa tenang dan aman tanpa benda itu, Sayang. Ayo, berikan padaku sekarang juga."


Yun Hee mengerang kesakitan, seraya memegangi luka tembak di kakinya. "Dia menyerangku, Jung. Merebut pistol dan menembak kakiku. Aaaahhh .... "


"Tidak! Dia bohong! Aku tidak melakukannya!" Kyun Soon makin histeris.


Dae-Jung berusaha menenangkan. "Tenang, Soon Sayang! Kontrol dirimu! Lemparkan senjata itu padaku, sekarang!"


Kyun Soon meraih senjata yang tadi dilempar Yun Hee padanya. Menimang sebentar. Tiba-tiba dia arahkan dengan cepat pada sosok didekatnya.


"Jangan, Soon! Tahan!"


DOR! DOR!


Dua kali tembakan dia lesakkan ke tubuh Yun Hee.


"Kyun Soon!"


"Inspektur Yun!"


Dengan sigap, Dae-Jung memburu istrinya. Merebut senjata tersebut dengan cepat. "Bawa menjauh Inspektur Yuh Hee, Won!"


Joo-Won segera menarik jauh tubuh atasannya dari Kyun Soon. Sementara senjata tadi berhasil direbut Dae-Jung. "Maafkan aku, Sayang. Ini terpaksa kulakukan!" Lalu memborgol kedua tangan istrinya.


"Lepaskan aku, Jung! Akan kubunuh dia! Dia yang telah memberiku inf--"


"Diamlah, Sayang. Apa pun yang kamu ucapkan, akan menjadi bukti dan saksi memberatkan di pengadilan nanti. Tenanglah!"


"Tidak! Biarkan kubunuh perempuan keparat itu! Aaarggghhh!"


"Soon!"


PLAK!


"Jung?" Kyun Soon menatap suaminya. Terkejut. Dae-Jung segera memeluk tubuh perempuan itu. "Maafkan aku, Sayang. Aku tak sengaja melakukannya."


"Kamu menyakitiku, Jung," ucap Kyun Soon lirih.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku .... "


Tanpa sepengetahuan Joo-Won dan Dae-Jung, diam-diam Yun Hee tersenyum mengejek pada Kyun Soon.


"Won, bagaimana kondisi Inspektur Senior?" tanya Dae-Jung. Jawab Joo-won, "Aman, Pak. Bu Yun tidak terluka."


"Serius?"


"Iya. Hanya terkena rompi anti peluru!" jawab Joo-Won.


"Oh, Tuhan. Syukurlah .... " desah Dae-Jung lega.


Kyun Soon memberontak. Geram menatap Yun Hee penuh kebencian. "Dia memang sengaja merencanakan semua ini! Dia menjebakku!"


Dae-Jung cepat-cepat menenangkan istrinya. "Tenanglah dulu, Sayang. Diam .... " Dia berbisik sambil memeluk Kyun Soon, "Jangan sampai dia memberikan kesaksian berat nanti. Aku percaya sama kamu, Soon."


Akhirnya Kyun Soon mau mendengar. Perlahan dia mulai menenangkan diri. Mengontrol emosinya. "Tolonglah aku, Jung. Aku tak ingin berpisah denganmu."


Dae-Jung membelai lembut rambut istrinya. "Percayakan semua padaku. Semua akan baik-baik saja. Karena aku sangat mencintaimu."


Suara ambulan meraung-raung di depan rumah. Yun Hee segera memberi perintah. "Inspektur Dae-Jung dan Joo-Won. Siapkan obat-obatan dan suruh petugas segera kemari!"


"Siap laksanakan, Bu!" jawab Joo-Won.


"Sayang, aku tinggal sebentar, ya."


"Jangan, Jung!"


"Sebentar saja. Kamu tunggu di sini." Dae-Jung menyusul Joo-Won keluar.


Tentu saja ini dipergunakan Yun Hee untuk mengejek Kyun Soon. Ucap perempuan itu, "Ini baru permulaan, Soon. Selanjutnya, kamu akan segera tahu, bagaimana serunya permainan yang sudah kupersiapkan."


"Dasar, kamu perempuan iblis! Jung tidak akan membiarkan itu!" balas Kyun Soon.


"Kita lihat saja .... " Yun Hee pun tersenyum licik.


* * * * * * * * * * * * * * *


Beberapa bulan kemudian, pasca penangkapan Kyun Soon ....


Pukul setengah dua belas malam, Dae-Jung tiba di rumah dari kantor. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu membanting setir kendaraannya ke kiri, memasuki pelataran parkir. Sejenak usai mematikan mesin, dia memperhatikan keadaan rumah yang sepi. Perlahan Dae-Jung membuka pintu, bergegas keluar, dan menutupnya kembali seraya memijit kunci otomatis. Kemudian menapaki beranda rumah dengan langkah hampir tak menimbulkan suara. Berbekal kunci cadangan yang senantiasa dibawa, Dae-Kyung membuka pintu. Agak temaram begitu mulai memasuki ruang depan. Lalu bergegas ke kamar tidur. Seseorang sedang berbaring di sana. Mengenakan gaun indah berwarna marun dengan belahan besar di bagian dada, hingga jenjang pundaknya terbuka. Betis putih mulus tergantung di tepian tempat tidur.


Dae-Jung pun duduk di sebelahnya. Memperhatikan sosok tadi dengan seksama.


"Sudah pulang rupanya kamu, Jung." Sosok itu terjaga.


Dae-Jung tersenyum. "Pasti kamu sedang menungguiku, 'kan, Sayang?" tanyanya seraya membelai lembut dan menarik ke atas gaun yang menutupi sebagian kakinya.


"Kamu menginginkannya, Jung?"


Dae-Jung mengangguk.


"Naiklah .... "


Lelaki itu pun segera naik ke atas pembaringan. Mengusap perlahan tubuh itu dengan lembut penuh pesona. Kemudian menarik lepas kain penutup dada. Dia merangkak. Mendaratkan kecupnya di area leher, terus menyusur hingga batas area perut. Meninggalkan jejak mengilap ujung lidah di sepanjang pergerakan. Sejenak berhenti di sana, sambil menarikan cucup menggelora mengundang hasrat.


Jemarinya mulai bergerilya. Membuka kunci pengatup ikat pinggang sendiri. Lalu menyusup ke balik himpitan celana, menggenggam sesuatu yang panjang dan keras. Dan ....


DOR! DOR! DOR!


"Aaahh ... Jung?" jerit sosok itu menatap tajam Dae-Jung. "Kamu .... "


"Ini yang kamu inginkan, 'kan? Dengan senang hati kuberikan," ujar Dae-Jung. Menuruni ranjang dengan lengan terayun mengarah pada soso tadi. "Ini sebagai bonusnya .... "


DOR!


Sebuah riasan berlubang tepat tergurat merah di antara kedua alis. Sosok itu mengejang sesaat lalu terdiam kaku dengan mulut menganga lebar. Dae-Jung mencium senapannya. "Selamat malam, Sayang."


Dengan santai, Dae-Jung keluar dari kamar tidur. Melangkah menuju pelataran parkir dan segera menghidupkan kembali mesin kendaraan.


"Kita pergi sekarang juga, ya, Sayang. Sebelum mereka menemukan jejak kita di sini," kata Dae-Jung pada sosok yang duduk di sampingnya.


"Terserah kamu, Sayang. Bagaimana dengan dia di dalam?" tanyanya.


Dae-Jung tersenyum. "Aku sudah mengirimnya berkumpul dengan keluarga keparatnya dulu."


"Aku mencintaimu, Jung."


"Aku juga, Sayang," timpal Dae-Jung. Kemudian dia melirik ke arah belakang melalui kaca spion, pada satu sosok lain yang sedang menunggu perintah. " ... dan kamu, lakukan tugas seperti yang aku perintahkan kemarin."


"Siap, Pak!" jawab sosok tadi langsung menghambur ke luar kendaraan.

__ADS_1


Dae-Jung mulai menjalankan kendaraannya. Meninggal pelataran parkir, lalu menginjak pedal gas hingga decit ban pun menjerit di keheningan malam. Tidak sampai setengah menit, terdengar ledakan dasyat dari arah kejauhan belakang mereka.


...TAMAT...


__ADS_2