Zona Dewasa

Zona Dewasa
25. Salihah Tapi Bedebah


__ADS_3

...SHALIHAH TAPI BEDEBAH...


...Penulis : David Khanz...


Menjelang keberangkatan Danim ke tempat kerja, semua pekerjaan di rumah sudah teratasi. Sarapan tersedia di atas meja, cucian tergantung rapi di utas jemuran, lantai bersih mewangi, dan anak-anak pun telah bersiap dengan seragam sekolah. Pagi yang penuh kemelut, dikerjakan Danim sepenuh hati. Karena hari ini, Senin, dia akan kembali meninggalkan keluarga selama sepekan, pergi tugas menunaikan kewajiban.


“Abi, susunya tumpah sama si Adek,” rengek Jasmine, anak perempuan Danim saat menunggui panas mesin kendaraan motor. Lelaki itu menoleh dengan raut kaget. “Kok, bisa sih, Kakak?” Kemudian dia segera memutar kunci stop kontak. “Tolong ambil lap di dapur ya. Nanti Abi bantu bersihkan tumpahan susunya.”


Jasmine berlari kecil menuruti perintah Danim. Sementara di dalam rumah, terdengar suara tangis Azra, anak laki-laki kedua, dengan baju basah terkena tumpahan air susu. Rahmah, istri Danim, mengomel-ngomel tiada henti seperti biasa. “Umi bilang juga, apa? Jangan dulu pake seragam. Masih pagi begini sudah siap-siap!”


Danim mendekati sosok Azka, seraya menenangkan anak tersebut. “Sudahlah, Dek. Jangan nangis ya? Sini Abi bersihkan bajunya,” ujarnya lembut. Menuntun Azka menuju kamar mandi.


“Abi juga! Terlalu memanjakan anak-anak! Jadinya mereka banyak bertingkah ‘kan?” seru Rahmah dari dalam kamar sambil membereskan bekas tidur.


Danim tidak menyahut. Dia lebih memilih diam ketimbang membalas. Karena dipikir, tidak baik berseteru di depan anak-anak mereka.


Jasmine datang memberikan lap yang diminta Danim tadi. “Ini, Bi, lapnya.”


“Taruh dulu dekat tumpahan susunya. Jangan diapa-apain dulu. Nanti Abi yang kerjain ya, Sayang,” kata Danim di dalam kamar mandi. Mengelap bekas tumpahan susu pada baju Azka. Tanpa harus berkata dua kali, Jasmine langsung menurut.


Dari ruang tengah, kembali terdengar suara nyaring Rahmah berbicara pada Jasmine. “Mau apa kamu, Jasmine? Mau nambah kerjaan Umi lagi?”


“Enggak, Umi. Mau naruh lap di sini disuruh Abi,” jawab Jasmine.


“Kamu itu! Kalo disuruh Umi aja sering ngeyel. Giliran Abi kamu yang minta langsung nurut, kenapa sih, hah?” Rahmah memelototi anak perempuannya. Jasmine menjawab kembali, “Soalnya Umi marah-marah terus!”


“Kamu itu kalo Umi bilangin, selalu aja nyahut! Gak ada sopan santunnya sama orang tua!” Rahmah merebut lap kering yang ada di tangan Jasmine, lalu melemparnya pada bekas tumpahan susu di lantai. Setelah itu dia bersihkan menggunakan kaki.


Danim muncul sambil menggendong Azka, si bungsu yang masih duduk di PAUD. Anak laki-laki itu bertelanjang dada, karena baju seragamnya dilepas.


“Sudahlah, Umi. Kenapa sih pagi-pagi harus ngomel-ngomel ‘gitu? Cuma tumpahan susu doing kok,” ujar Danim. “Mungkin gak sengaja. Namanya juga anak-anak.”


Rahmah menoleh galak kearah suaminya. Lanjutnya berkata, “Terus aja belain anak-anak, Bi! Biar mereka ngelunjak sama Umi. Begitu mau Abi?”


“Lho, kok jadi ngelantur ke arah lain sih? Kalo Umi gak mau bersihin bekas anak-anak, ya sudah. Nanti Abi sendiri yang ngerjain,” sahut Danim kesal seraya mengambil setrika untuk mengeringkan basahan di baju seragam Azka. “Sebentar, Abi mau ngeringin baju Azka dulu.”


Masih dengan raut masam, Rahmah menimpali, “Pagi-pagi, ada aja masalah. Lagian masih lama anak-anak berangkat sekolah.”


Danim menggelengkan kepala. “Abi ‘kan harus berangkat pagi-pagi, Umi. Tempat kerjaan Abi lumayan jauh. Makanya, sekalian nganter Umi dan anak-anak ke sekolah.”


“Emang gak bisa ‘gitu berangkat agak siangan? Daripada pagi-pagi begini, mau ngapain coba Umi sama anak-anak di sekolah? Kayak gak ada kerjaan aja?” ujar Rahmah bersungut-sungut.


Danim menarik napas. Berusaha untuk tetap bersabar menghadapi sikap perempuan yang sudah bersamanya selama sepuluh tahun ini. “Ya, gak bisa dong, Umi. Kantor Abi juga ‘kan punya aturannya sendiri. Sama kayak sekolahan tempat Umi mengajar.” Rahmah memang berprofesi sebagai guru sekolah. Sekaligus tempat anak-anak mereka mengenyam pendidikan.


“Sekali-kali ‘kan gak apa-apa, Bi? Dispensasi. Lagian cuma sekali doang selama seminggu Abi nganter Umi dan anak-anak. Banyak aturan amat sih?”


Danim menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. “Gak boleh begitu, Umi. Sebagai seorang istri, justru Umi harusnya ikut mengingatkan. Biar kerjaan Abi bagus dan hasilnya berkah. Bukan malah menyarankan yang enggak-enggak. Itu namanya korupsi waktu. Umi sendiri mau gak, kalo tiap hari Senin datang jam delapan dan gak pernah mengikuti apel bendera?”


“Kamu ini kalo ngomong paling bisa balik-balikkin!” kata Rahmah ketus.


Danim melirik masih sambil mengeringkan baju seragam Azka. “Lho, bukan balik-balikkin. Hanya pengen Umi juga mau memahami kerjaan Abi. Kita sama-sama punya aturan kerja masing-masing ‘kan?”


Rahmah mendelik. “Kamu bisa ngomong kayak ‘gitu juga karena gak tiap hari ngurusin anak-anak. Gak nyadar apa, tiap pagi aku tuh sibuk pontang-panting ngerjain ini-itu.”


Bibir Danim bergetar. Ingin kembali membalas, tapi hatinya berusaha untuk tetap bersabar.


Tidak setiap hari memang, Danim berada di rumah. Dalam sepekan hanya punya waktu dua hari berada di rumah. Itu pun karena libur kerja. Selama berada di rumah, lelaki itu tidak pernah diam dan berleha-leha. Dia memaklumi kesibukan istrinya selama ditinggal pergi. Makanya, sebisa mungkin mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dilakukan Rahmah semenjak bangun tidur.


Pagi tadi sebelum azan Subuh berkumandang, Danim sudah bangun. Usai melaksanakan salat malam, dia langsung membereskan tumpukan pakaian kotor di dalam mesin cuci. Padahal baru Jumat malam yang lalu, begitu tiba di rumah, semua langsung dia tuntaskan. Sabtu pagi sebelum matahari bersinar, sudah berjejer di tempat jemuran. Begitu selesai menunaikan kewajiban salat Subuh, Danim pun sibuk mempersiapkan sarapan untuk keluarga. Dia berpikir, biarlah dua hari itu menjadi hari libur istrinya dari pekerjaan rumah. Terpenting dengan begitu, Rahmah bisa sekalian istirahat dan tidak selalu sibuk mengeksplorasi kebiasaan buruknya. Mengomel.


Namun apa yang dilakukan Danim, sepertinya tidak pernah berharga di mata Rahmah. Selalu saja kurang dan tidak pernah memuaskan. Mulut perempuan itu kerap mengeluarkan berbagai nasihat pada orang lain, tapi terlampau sulit untuk mengamini bagi diri sendiri. Termasuk kepada anak-anak.


“Kak Jasmine kenapa gak mau makan, Nak?” tanya Danim begitu berkumpul makan bersama. Hasil olahannya sendiri tadi di dapur.


“Jasmine maunya makan sama telor dadar, Abi,” jawab anak perempuan berusia delapan tahun tersebut.


Danim tersenyum manis membujuk anak itu. “Makan dulu yang ada ya, Nak. Nanti buat makan malam, Abi buatin telor dadar. Gimana?”


“Enggak mau, Abi. Jasmine maunya sama telor dadar,” ujar Jasmine bersikukuh.


“Ya, sudah. Sebentar, Abi mau ke warung dulu ya. Beli telor buat Kakak.”


Rahmah menimpali. “Gak usahlah, Bi. Biarin aja.”


“Kasihan, Umi. Daripada Jasmine gak mau makan ‘kan?” elak Danim.


Rahmah melotot pada anak perempuannya. “Kamu itu kalo makan kok kolokan amat sih? Makan saja yang ada. Syukuri. Jangan pengen yang macam-macam deh!”


“Sudahlah, Umi. Jangan dimarahi ‘gitu. Nanti malah dianya tambah ngambek,” kata Danim menengahi.


“Lagian Abi nurutin apa maunya anak terus sih? Jadinya si Kakak tambah manja! Menyebalkan!” rutuk Rahmah galak.


“Sudah, sudah. Abi ke warung dulu sebentar ya.”


“Umi bilang juga gak usah, Abi! Kamu itu dibilangin kok gak mau denger sih?”


“Bukan begitu, Umi. Kakak—“


“Biarin ajalah. Entar juga kalo lapar, bakal minta makan sendiri!” tukas Rahmah seraya mengambil piring Jasmine. “Anak-anak harus diajari berhemat. Lagian kalo kamu punya uang, jangan terlalu boros kenapa sih, Bi? Mendingan dipake buat keperluan lain.”


Danim merasa serba salah. “Lah palingan harga telor sebutir berapa sih, Umi? Cuma dua ribu ‘kan?”


“Abi memang gak pernah tahu berapa keperluan jajan mereka tiap hari? Abi cuma dua hari sama anak-anak. Semua keinginan dipenuhi. Kalo sudah ngeyel, siapa yang repot? Aku, Bi!”


Danim mengurungkan niatnya untuk pergi ke warung. Dia mendekati Jasmine yang diam dan mau menangis. Lalu dengan lembut, dia berusaha membujuk anak gadis tersebut. “Sudahlah. Jangan nangis ya, Nak. Sekarang kita makan dulu yang ada. Abi suapin ya. Mau?” Mulanya Jasmine menolak, tapi akhirnya bersedia juga ikut makan.


Rahmah kembali menimpali. “Tuh ‘kan mau juga makan. Sama Abi saja nurut. Kalo sama Umi pasti ngambek dia!”


“Sudahlah, Umi. Anaknya sudah mau makan kok. Gak usah diomelin terus, ah.”


“Lagian kesel sih ngelihatnya.”


Danim membelai rambut Jasmine dengan lembut, seraya berkata, “Kita lanjutin lagi ya makannya, Sayang.”

__ADS_1


Jasmine mengangguk pelan sambil menyeka air matanya.


Lain hal ketika Rahmah yang protes dengan hasil masakan yang ada. Bersungut-sungut dia berkata dengan wajah masam. “Ini kenapa oncomnya dibikin ‘gini sih, Bi? Mana leuncanya mateng-mateng ‘gitu lagi?”


“Yang ada memang begitu, Umi. Leuncanya pada mateng-mateng semua. Gak ada yang masih ijo,” timpal Danim dengan dada sesak.


“Tapi Umi ‘kan gak suka kalo diginiin, Bi? Apalagi leunca item-item begitu!”


“Sudahlah. Makan saja yang ada dulu. Syukuri, Umi.”


“Dibilangin aku itu gak suka. Abi ini gak mau ngerti kalo dibilangin?”


Denim menarik napas panjang. “Ya, mau bagaimana lagi? Bisanya Abi masak ya segitu adanya. Nanti kalo mau sesuai selera, Umi masak sendiri saja ya?”


“Enak aja! Hari ini ‘kan giliran kamu yang masak, Bi,” timpal Rahmah berdecak kesal. “Jadi gak berselera nih makan.”


“Mau ke mana, Umi?” tanya Danim begitu melihat istrinya beranjak.


Sambil bersungut-sungut, Rahmah menjawab, “Beli hati ama ampela ke warung sebelah.”


Danim tak membalas. Dia memilih diam. Makan bersama kedua anaknya.


Tak berapa lama, Rahmah pun kembali. Makan dengan menu hati dan ampela, tanpa mau berbagi dengan suami dan anak-anak.


Begitulah sikap Rahmah selama ini. Kerap tidak mau lembut dan ramah terhadap suami dan anak. Namun bertolak belakang jika sudah bertemu dan bergaul dengan teman-teman sekelompoknya. Tutur kata dia berubah drastis. Bahkan sering menghiasi lisan dengan kalimat-kalimat menyejukkan.


“Eh, Ustazah. Dari mana?” tanya seorang perempuan berpakaian serba longgar menjuntai hingga menutupi kakinya yang berkaos kaki, di suatu ketika.


“Ini … abis ikut liqa di kampung sebelah,” jawab Rahmah dengan mata menyipit. “Afwan, ini dengan siapa ya? Kok, rasa-rasanya ana kenal dengan antum?”


Perempuan tadi menepuk lengan Rahmah. “Dih, Ustazah ini. Aku ‘kan Uminya Malika. Anak murid Ustazah sendiri.”


“Masyaa Allaah. Ana sampai lupa. Afwan ya, Bunda. Maklum kalo di sekolah, jarang-jarang merhatiin bunda-bunda anak didik,” imbuh Rahmah sambil mengusap-usap bahu lawan bicaranya.


“Gak apa-apa, Ustazah. Aku maklumin kok. Hehehe.”


“Dari mana, Bunda?”


“Ini abis belanja sayuran. Tadi waktu lihat Ustazah dari kejauhan, kok kayak kenal. Ternyata benar ‘kan Ustazah Rahmah.”


“Ooohh, begitu.”


Perempuan itu mengasongkan bungkusan di tangan pada Rahmah. “Maaf, Ustazah. Ini ada sedikit bahan sayuran buat Ustazah.”


“Masyaa Allah. Padahal gak usah repot-repot, Bunda. ‘Kan buat keluarga antum nanti di rumah.” Rahmah menerimanya dengan senang hati.


“Enggak apa-apa, Ustazah. Ini aku masih banyak kok.”


“Wah, syukron ya, Bunda.”


“Iya, sama-sama, Ustazah.”


“Jazakallah khairan katsir. Semoga mendapat kebaikan dan rejekinya melimpah ya, Bunda.”


Setelah berbasa-basi, akhirnya kedua perempuan itu pun berpisah. Kembali ke rumahnya masing-masing. Begitupun dengan Rahmah.


Di rumah disambut anak-anaknya dengan penuh suka cita.


“Hore, Umi sudah pulang!” teriak Jasmine dan Azka.


Danim yang sedang menonton televisi menoleh.


“Diam ah, Anak-Anak! Umi capek nih! Jangan ngerecokin ya,” kata Rahmah menyuruh anak-anak menjauh. “Abi kalian mana?”


Jasmine menunjuk ruang tengah. “Tuh, lagi nonton TV, Umi.”


Rahmah beranjak menghampiri suaminya. Begitu melihat Danim sedang berbaring santai, dia pun berkata, “Kamu ini, Abi. Jam segini masih saja nyantai. Bukannya siap-siap masak kek.”


Danim menyahut. “Aku temani anak-anak nonton dulu, Umi. Nanti masaknya abis salat Asar. Tanggung sebentar lagi.”


Rahmah melemparkan bungkusan sayuran pemberian Umi Malika tadi pada Danim. “Nih, masakin, Bi. Tadi ada yang ngasih dari ibunya anak muridku.”


“Alhamdulillah. Rejeki datangnya dari mana saja ya.”


“Iyalah. Makanya jadi orang itu harus rajin salat Duha. Kayak aku. Buktinya tuh, ada saja yang ngasih rejeki.” Rahmah mendelik. “Sekarang aku mau mandi dulu. Badan kayak lengket begini rasanya.”


“Kalo masih keringetan, jangan langsung mandi, Umi. Tunggu dulu sampe kering di badan.”


“Ah, sok tahu kamu, Bi. Orang aku udah gerah begini,” sahut Rahmah. “Udah cepetan sana masakin. Aku udah laper nih.”


“Anak-anak gak sekalian kamu ajak mandi juga, Umi?”


“Sama Abi saja deh. Anak-anak suka susah kalo dimandiin sama aku.” Rahmah pun pergi ke kamar mandi.


Danim bangkit dari rebahannya. Sebelum pergi ke dapur, dia berpesan pada anak-anak. “Abi tinggalin dulu ya, Anak-Anak. Awas, jangan nonton yang lain.”


“Iya, Abi.”


...--- o0o ---...


Sepuluh tahun yang lampau, Danim dan Rahmah dipertemukan dalam keadaan sama-sama baru putus hubungan dari kekasihnya masing-masing. Mereka berdua dikenalkan oleh seseorang. Perkenalan yang unik, karena hanya melalui secarik foto untuk melihat wajah. Kemudian saling memperkenalkan diri dalam selembar surat bertuliskan tangan. Tidak butuh waktu lama, kurang dari sebulan Danim dan Rahmah sepakat saling bertemu. Sebuah tempat di salah satu rumah teman Danim dan selalu ada yang menyertai mereka berdua agar tidak sampai menimbulkan fitnah.


Satu hal yang membuat Danim merasa tertarik untuk mengenal sosok Rahmah lebih dekat, dalam surat pertama yang dia terima, gadis itu menyertakan cita-citanya menjadi seorang istri shalihah kelak. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan selama ini, pikir Danim. Begitu pula dengan Rahmah, usai dikecewakan oleh lelaki lain, kini justru berpeluang mendapatkan sosok pengganti yang jauh lebih unggul. Baik jasmani maupun rohani. Terbukti pada pertemuan perdana mereka pada saat itu, Rahmah langsung minta dinikahi oleh Danim dalam waktu dekat.


Tentu saja permintaan Rahmah itu terlalu dini. Belum lama berkenalan sudah dimintai kepastian status. Mungkin saja karena gadis tersebut tidak ingin kehilangan sosok Danim yang banyak diminati gadis-gadis seusianya pada waktu itu.


“Aku tidak ingin terlalu lama pacaran, Bang. Takut jadi fitnah dan menambah dosa,” kata Rahmah kala itu beralasan. Padahal selama menjalani proses pengenalan, Danim selalu mengajak salah seorang kawannya atau juga teman Rahmah untuk hadir di antara mereka berdua. Kurang dari setahun, tidak sampai sepuluh hitungan jemari kedua insan itu saling bertemu. Sampai kemudian Danim pun menjanjikan sesuatu yang sangat diharapkan oleh Rahmah. Pernikahan.


Sebuah pesta pun digelar dengan sederhana. Banyak dipenuhi undangan memberikan doa restu. Terlebih dari pihak Rahmah sendiri yang ternyata seorang aktivis dalam sebuah perkumpulan khusus dan simpatisan partai tertentu. Hanya sehari Danim berada di rumah orang tua Rahmah, untuk selanjutnya lelaki itu memboyong sang istri ke kediaman keluarga besarnya.


Sesampai di sana, Danim ingin menguji ketaatan Rahmah dengan memintanya membukakan tali sepatu. Jawab sang istri kala itu dengan wajah masam, “Boleh saja meminta aku berbakti, tapi jangan sampai memperbudak istri.”


Danim terkejut. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam pola pikir istrinya tersebut. Lelaki ini berpikir bahwa kegiatan Rahmah mengikuti kajian dan pengajian dalam kelompoknya selama itu akan membuatnya menjadi sosok lembut dan penurut. Sekaligus mendukung cita-cita menjadi istri shalihah sebagaimana yang pernah dia ungkapkan.

__ADS_1


Belum setengah bulan tinggal bersama orang tua Danim, keganjilan demi keganjilan semakin tampak pada diri Rahmah. Perempuan itu sama sekali tidak mau bergaul dengan keluarga besar suaminya, terlebih lagi dengan ibu mertua. Dia kerap mengurung diri di dalam kamar, dan keluar dari sana hanya karena urusan pekerjaan. Danim dan Rahmah memang sama-sama bekerja sejak sebelum menikah.


Tidak jarang begitu Danim pulang kerja, selalu masakan ibunya yang dia makan. Belum pernah sama sekali merasakan hasil olahan istrinya tersebut. Tiap kali ditanya alasan mengapa tidak mau masak, jawab Rahmah, “Aku sudah ngasih uang sama Ibu kamu. Terserah mau dimasakin apa juga.”


“Tapi sekarang ‘kan keadaannya sudah beda, Dek. Aku sudah beristri. Yaitu kamu. Aku gak mau selalu dilayani sama ibuku. Malu,” balas Danim.


“Ya, sudah. Besok-besok aku beli aja di warung. Apa susahnya sih?” tukas Rahmah tetap tidak mau menuruti permintaan suaminya. “Masa urusan kayak ‘gini diributin?”


Danim tidak tahu alasan sesungguhnya. Apakah karena Rahmah masih merasa malu atau belum bisa masak? Padahal jauh sebelum mereka menikah, Danim sudah memiliki peralatan masak dan makannya sendiri. Itu karena lelaki tersebut rajin menyisihkan uang gaji setiap bulan untuk ibunya. Maksud hati ingin memberi. Namun pada kenyataannya, uang itu dikumpulkan oleh sang ibu dan dibelikan peralatan rumah tangga. “Gak apa-apa, Nak. Ini semua buat kamu nanti kalo sudah nikah,” ujar Ibu Danim pada waktu itu. “Melihat kamu sudah berumah tangga saja, Ibu sudah bahagia. Tidak usahlah berpikir macam-macam tentang Ibu ya. Pokoknya semua sudah Ibu persiapkan.”


Karena malu dan demi menghindari pertengkaran kecil di masa-masa pengantin, terpaksa Danim turun tangan sendiri ke dapur. Memasak untuk dirinya dan Rahmah. Untunglah dia mahir dalam hal tersebut. Itu berkat sering membantu sang Ibu memasak dulu, ketimbang keluyuran tidak jelas bersama kawan-kawannya.


“Istrimu gak masak, Nak?” tanya Ibu Danim suatu ketika mendapati anak lelakinya sedang sibuk di dapur.


Danim tersenyum. “Rahmah kecapekan, Bu. Kasihan habis pulang kerja.”


“Ooohh,” balas Ibu Danim tidak mau banyak bertanya. Padahal itu bukan pertama kali melihat Danim sibuk sendiri. Pun begitu, belum pernah wanita tua itu berjibaku berdua dengan menantunya.


Hal paling membuat Danim kesal juga terjadi saat malam takbiran. Ibunya sibuk sendirian di dapur tanpa ada yang membantu, sementara Rahmah justru lebih memilih tiduran di kamar.


“Dek, bantu Ibu di dapur dong. Kasihan Ibu masak sendirian tuh,” kata Danim.


Rahmah tak bergeming. Malah dengan manja dia merayu suaminya. “Kita jalan-jalan saja yuk, Bang. Sambil lihat orang-orang pada bakar petasan. Seru banget deh kedengerannya.”


“Dek, aku bilang juga tolong bantuin Ibu. Bukannya malah jalan-jalan,” ujar Danim mulai kesal.


“Biarin ngapa sih, Bang. Ibu juga pasti ngerti. Kita ‘kan masih pengantin baru,” elak Rahmah tanpa merasa bersalah.


“Iya tapi gak harus sekarang dong, Dek. Nanti kalo kerjaan Ibu sudah beres, baru kita jalan-jalan.”


“Keburu malam, Bang. Gak asyik nanti ngelihatnya.”


“Kamu itu kalo dibilangin kok susah amat sih?”


“Lagian Abang juga gak mau ngertiin istri sendiri.”


“Lho? Yang gak ngertiin kamu itu siapa? Abang cuma—“


“Au ah! Abang mah ‘gitu sama aku. Egois!” seru Rahmah mau menangis.


Karena kesal, akhirnya Danim meninggalkan Rahmah di kamar sendirian. Dia membantu ibunya mengerjakan di dapur. Padahal tadinya dia berniat hendak ke Masjid untuk mengikuti takbiran bersama tetangga laki-laki lainnya.


Keganjilan atas sikap Rahmah selama ini, sedikit banyaknya terjawab setelah usia pernikahan mereka menginjak hampir delapan tahun. Secara tidak sengaja, ketika Danim menginap di rumah mertua bersama Rahmah dan kedua anak mereka pada bulan Ramadhan. Lelaki itu memperhatikan sang ibu mertua sibuk sendiri di dapur menyiapkan masakan untuk santap sahur. Sementara Rahmah sendiri lebih asyik dengan ibadah malamnya, kemudian dilanjut tadarus Al Quran.


“Umi, kamu gak bantu Ibumu di dapur? Kasihan sendirian tuh. Mana sudah tua begitu,” kata Danim begitu mendekati Rahmah.


“Abi gak lihat aku lagi ngaji?” Perempuan itu malah balik bertanya.


“Iya, aku lihat. Tapi ngajinya ‘kan bisa entar abis Subuh atau siang nanti. Sekarang waktunya nyiapin buat makan sahur, Umi.”


“Abi, ini ‘kan bulan puasa. Aku juga harus banyak beribadah. Nyari pahala. Masa segitu aja Abi gak paham sih?” Suara Rahmah mulai meninggi.


“Iya, aku paham banget soal itu. Terus, nyiapin makanan buat keluarga itu bukan ibadah?”


“Ah, kamu jangan rewel deh, Bi. Pagi-pagi udah berisik begini. Sudah sana. Kamu juga ngaji yang banyak. Biar sama-sama ngumpulin pahala. Buat bekal di akhirat nanti. Sana, jangan ganggu aku!”


Danim terpaksa mengalah. Tidak ingin suara-suara mereka sampai terdengar ke luar. Lelaki itu pun lebih memilih ke dapur, membantu ibu mertua.


“Lho kamu ngapain ke sini, Nak?” tanya ibu mertua.


Danim merasa kikuk. “Mau bantuin Ibu. Habisnya dari tadi Ibu sendirian di dapur.”


“Gak apa-apa, Nak. Ibu sudah terbiasa begini kok.”


Terbiasa? Seperti itukah kebiasaan di dalam keluarga Rahmah? Dahi Danim berkerut. Pantas saja kelakuan istrinya tersebut tidak jauh berbeda ketika masih tinggal bersama ibunya Danim dulu.


Danim tahu, Rahmah bukan tidak bisa masak. Terbukti, setelah sebulan menjalani masa-masa pengantin baru, lelaki itu memutuskan untuk tinggal terpisah dari keluarganya. Mengontrak rumah. Di tempat baru tersebut, Rahmah cukup pandai memasak. Hanya saja tidak begitu cekatan dalam urusan bersih-bersih dan menjaga kerapian. Selalu saja punya alasan jika diingatkan kondisi rumah kontrakan yang kotor berdebu di luaran. “Aku itu kalo nyapu suka kerasa pegel-pegel nih tangan, Bang. Lagian ini ‘kan bukan rumah kita. Cuma ngontrak aja.”


Di sisi lain perihal kegiatannya bersama kelompok pengajian dan partai di luaran, Rahmah sangat antusias. Tidak pernah terdengar sekalipun mengeluh. Apalagi pada saat musim kampanye. Bahkan kerap meninggalkan rumah tanpa seijin suami.


“Aku ‘kan pergi liqa, Bang. Mengaji. Ngapain juga urusan begini mesti bilang-bilang sama kamu? Lagian diluaran aku gak macam-macam kok,” tandas Rahmah waktu ditegur Danim sepulang dari kepergiannya.


“Iya, aku percaya kamu memang ngaji, Dek. Tapi setidaknya kalo mau keluar itu kasih tahu aku. Makanya begitu aku pulang kerja dan gak nemuin kamu, gak sampai nanya-nanya kayak ‘gini. Lagian seorang istri itu kalo mau bepergian, wajib minta izin dulu sama aku. Suami kamu, Dek. Masa sih soal beginian kamu gak paham? Selama ikut pengajian dari dulu, kamu itu ngaji apaan aja sih?” Danim mulai emosi.


“Halah, soal beginian saja diributin sih, Bang.”


“Aku gak nyari ribut. Cuma ngasih tahu. Wajib hukumnya lho, Dek.”


“Sudahlah. Aku capek. Kamu kalo mau makan, nih sudah aku beliin tadi di luar. Aku mau istirahat dulu.” Rahmah bergegas ke kamar. Meninggalkan suaminya yang masih terbengong-bengong. Lelaki itu tetap berusaha bersabar dan berharap suatu saat kelak, Rahmah akan berubah.


Di lain waktu jika Danim keluar rumah tanpa sepengetahuan Rahmah, perempuan itu langsung mencecarnya dengan berbagai omelan.


“Kamu ke mana saja sih, Bang? Pergi gak bilang-bilang sama istri! Kamu pikir aku ini apa? Ditinggal seenaknya ‘gitu. Mana tanggung jawab kamu sebagai kepala rumah tangga?” seru Rahmah begitu Danim baru menjejakkan kaki di rumah.


“Kamu tadi lagi tidur, Dek. Aku gak tega buat ngebangunin,” jawab Danim.


“Alasan saja! Asal kamu tahu saja ya, Bang, aku ini ngikut ke sini karena kamu. Ngikut suami. Sekarang sudah pindah ke sini malah ditinggal seenaknya ‘gitu. Dasar egois!”


“Lho? Yang egois itu siapa?”


“Ya, kamulah! Dari dulu juga kamu itu memang keras kepala ‘kan? Aku denger sendiri dari adik kandung kamu, kalo kamu mau tahu! Sama kayak bapak kamu tuh!”


“Ya Tuhan, Dek. Kenapa harus bawa-bawa keluargaku sih? Kalo mau marah, fokus saja ke masalah kita. Jangan merembet ke yang lain. Apalagi bapakku segala kamu sebut-sebut.”


“Bodo amat! Emang kamu turunan keras kepala ‘kan?”


“Adek!”


Untuk pertama kalinya dalam sejarah rumah tangga mereka, Danim sudah tidak kuasa menahan amarah. Sebuah setrika listrik hasil kado pernikahan dari teman Rahmah jadi korban. Hancur berkeping-keping dibanting Danim.


Begitulah. Dari awal membangun rumah tangga, percekcokan demi percekcokkan kerap mewarnai hari-hari mereka. Dari hal kecil yang tidak perlu dipertentangkan sekalipun, bisa memercik perselisihan hebat. Anehnya, dengan kondisi semacam itu tidak pernah sekalipun terbersit niat untuk berpisah atau bercerai.


Sampai kemudian pada suatu hari, Rahmah pun berbadan dua ....

__ADS_1


__ADS_2