
...GERHANA DI UJUNG SENJA...
...Ditulis oleh David Khanz ...
Delfina mengibaskan ujung gaun bawahnya, mengusir segerombolan semut yang mengerubungi. "Pergilah, jangan ganggu! Aku hanya sebentar berada di sini!" seru perempuan itu dengan logat khas Galicia. Sebuah perkampungan sebelah utara pesisir Spanyol yang masih asri dengan bentangan sungai Avia, di O'Ribeiro. Sebentar-sebentar matanya menatap jauh ke depan, pada terusan jalan memanjang menuju kawasan desa sebelah, Ria de Vigo. Tempat di mana beberapa bulan lalu, Javiera pamit pergi dan menghilang.
Hari itu, tepatnya di bulan keenam sejak kepergian Javiera, Delfina menerima kabar bahwa laki-laki tersebut akan pulang. Kembali ke kampung dimana selama ini mereka hidup bertiga, bersama Yoana, istri Javiera yang mandul dan buta.
Pada Yoana, Delfina sempat bertanya-tanya tentang kepastian janji Javiera. "Apakah kau yakin, laki-laki itu akan kembali ke sini?" Keraguan tampak jelas menghiasi raut wajah perempuan yang belum pernah menikah tersebut. Bagaimana tidak, dalam kondisi berdua ditinggal penduduk setempat, tinggal mereka yang tersisa menghuni kawasan terbengkalai dari perhatian pemerintah kota. Galicia adalah hutan perkampungan dekat perbatasan Iberia. Perlahan dari tahun ke tahun mengalami depolusi hingga nyaris lenyap dari peta negara setempat.
Yoana tersenyum kecut mendengar pertanyaan Delfina tadi. Kerinduan mendalam menggayuti dihampir setiap helaan napasnya. Kemudian jawab perempuan berambut pirang tersbut, "Hampir separuh usia ini kuhabiskan bersama Javiera. Selama itu pula, belum pernah sekali pun dia mengecewakanku. Jadi ... sangat tak beralasan, jika kuragukan janjinya, bukan?" Terdengar naif, tapi begitulah seorang Yoana. Walau selama ini belum bisa memenuhi impian sang suami untuk memberikan keturunan, Javiera akan tetap mencintainya sampai kapan pun.
Delfina menelan ludah. Pahit. Begitu besar kecintaan Yoana, sehingga kepekaannya berubah beku. Terutama pada sikap Javiera selama ini. Dia tidak banyak tahu bahwa kehadiran Delfina sejak lalu, banyak melahirkan bibit-bibit kisah lain di antara mereka. Hati Yoana buta sebagaimana kepekatan mata yang dia alami akibat kecelakaan terdahulu.
"Termasuk janji kepulangan Javiera besok hari?" tanya Delfina kembali menelisik. Yoana mengangguk yakin. Jawabnya, "Tentu. Bukankah suratnya sudah kau baca, Fina?"
Delfina merogoh secarik surat dalam saku flamenco-nya. Membuka, lalu membaca ulang seperti saat pertama kali menerima tulisan tangan Javiera itu kemarin siang. Meneliti kata demi kata dengan ujung mata, tapi hati kecil perempuan ini menyangkal. Ungkapan laki-laki itu bukan tertuju pada Yoana. Ada seseorang lain yang dimaksud. Siapa lagi? Tentu saja dirinya sendiri.
"Tidak perlu kau bacakan lagi, Fina. Aku sudah mendengarnya kemarin," ujar Yoana begitu mendengar celepik kertas dalam genggaman Delfina.
"Aku hanya ingin memastikan saja, Ana. Mungkin ada bagian terlewat kemarin," kata Delfina disambut tawa kecil Yoana di depannya. Istri Javiera itu pun menimpali, "Aku yakin, dia sangat merindukanku. Sebagaimana aku dalam beberapa bulan ini."
'Kita lihat saja, Ana .... ' balas Delfina di dalam hati.
Waktu bergulir dengan cepat. Pagi-pagi sekali Delfina sudah pamit pergi ke jembatan di atas sungai Avia. Menanti kedatangan Javiera di ujung jalan dengan tunggangan kuda Gallego. Hal yang ditunggu pun tiba menjelang sore. Derap sepatu binatang khas peranakan jenis Garrano tersebut menyentak lamunan. Setelah memastikan terlebih dahulu, Delfina bangkit seraya melambaikan tangan.
"Javiera! ¡Estoy aquí!" teriak perempuan itu semringah.
Dari kejauhan, laki-laki itu tersenyum. Dia mempercepat langkah kudanya. Menghampiri segera, lalu bergegas turun dari tunggangan. "Oh, Del sayangku. Sudah lama kau berada di sini?" tanya Javiera kemudian memeluk erat perempuan tersebut. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga, Xavi," desah Delfina sebelum menyambut ******* hangat lelaki itu di bibirnya. Decak peraduan cium pun mengiringi kedua insan tersebut. Semilir sejuk alam Galicia turut menyibak gerai gaun panjang yang terangkat, sebatas paha Delfina menghimpit pinggang Javiera.
Dengan sigap, jemari liar Javier berusaha menarik temali belahan dada Delfina yang terikat kuat. Perempuan itu tiba-tiba menepisnya. "Mengapa?" tanya lelaki itu keheranan.
"Tidak adakah tempat lain yang lebih bagus untuk menuntaskan kerinduan ini, Xavi?" Delfina melepaskan pagutan bibirnya.
"Di rumah?" tanya Javier menggoda. Delfina tak menjawab. Namun senyum binal perempuan itu seakan mengiyakan. "Ada Yoana di sana, Sayang."
"Apa pedulimu? Bukankah selama ini kau selalu bebas bermain-main di belakang dia?" rajuk Delfina sembari membenarkan cakupan tali pengikat belahan dadanya. Jawab Javier, "Ya, aku tahu. Tapi .... "
__ADS_1
"Dia buta, Xavi," sela perempuan itu mengingatkan. Javier menyeringai. Ungkapnya kemudian, "Hhmmm, kau sangat menginginkanku rupanya, Del."
Delfina memutar tubuh, membelakangi lelaki yang baru saja dia jumpai. Setengah berbisik, perempuan itu berujar, "Kau pikir saja sendiri, apa yang kurasakan selama kepergianmu itu? Aku hanya berdua dengan Yoana. Mengurus perempuan buta itu demi kau, Xavi. Bukan waktu sebentar, tapi berbulan-bulan."
"Del .... " Javier memeluk Delfina dari belakang. Sesaat mata perempuan itu terpejam. Merasakan gemuruh yang kembali menghentak jiwanya. Dengan suara terbata, dia lanjut berkata-kata, "Kalau saja aku mau, sudah sedari dulu kutinggalkan Yoana sendiri di kampung mati itu. Menyusulmu dan melanjutkan sandiwara kita tanpa kehadiran istrimu itu. Tapi aku teramat mencintaimu, Xavi. Bahkan begitu bodoh hingga bersedia menuruti semua permintaanmu itu."
"Del!" Javier menarik putar tubuh Delfina sampai berhadapan kembali. Tatap mereka pun beradu. Disertai dengkus menyesakkan menerpa wajah. Panas membakar bersama gelegak aroma kerinduan yang sekian lama terpendam. "Kita tunggu hingga masanya nanti, Del. Tinggal beberapa langkah lagi. Semuanya akan usai dan kita berdua akan bebas pergi dari sini selamanya. Tanpa Yoana."
"Javier .... " desah Delfina gemetar.
"Kau pikir aku pergi selama ini untuk apa? Aku .... "
"Cukup, Sayang. Simpan ceritamu itu untuk sementara." Delfina meletakkan telunjuknya pada bibir Javier. "Kau tak ingin segera menemui Yoana dan mengakhiri rencanamu itu?"
"Tapi aku .... " Lelaki itu hendak kembali mendaratkan kecupannya, tapi Delfina menolak lembut. "Tahan dulu, Xavi. Sebaiknya kita segera pulang. Aku khawatir Yoana berpikir macam-macam atas kepergianku hari ini," elak perempuan itu seketika mengguratkan rasa kecewa di wajah kekasihnya tersebut.
Benar saja. Istri Javier tengah menantikan ketibaan suaminya dengan penuh harap. Perempuan itu langsung menghambur peluk begitu Javier memasuki rumah. "Javier sayang, lama kutunggu kau di sini sendirian. Aku takut sekali sesuatu terjadi padamu. Apa kabar, Cintaku?"
Javier menahan laju Yoana yang berlari ke arah lain. Lalu segera membalas peluk istrinya dengan erat. "Aku di sini, Sayang. Maaf jika kepergianku terlalu lama. Aku janji, setelah ini aku tidak akan lagi membuatmu khawatir." Usai berkata demikian, mata Javier melirik ke arah Delfina yang masih berdiri mematung memperhatikan mereka. Perempuan itu mendelik. Sorot matanya tak mampu menyembunyikan kecemburuan di hati. Bagaimana tidak, lelaki itu kini berpelukan hangat di depan mata.
"Bagaimana perjalananmu mencari Paman Rojas? Sudah kau temukan dia?" tanya Yoana setelah duduk bersama suaminya di sebuah kursi kayu.
Lama Javiera tak menjawab. Dia memutar kembali memori beberapa bulan lalu, ketika Yoana tiba-tiba meminta mereka pindah dari perkampungan Galicia. Seperti yang dilakukan oleh warga setempat dari hari ke hari. Mulanya laki-laki itu bingung hendak menetap di mana. Berhubung tidak ada lagi tempat yang dimiliki, terkecuali tanah hunian tersebut. Yoana ingat, dia masih mempunyai hak atas tanah warisan peninggalan mendiang keluarganya dulu. Kini kekayaan tersebut dalam kuasa adik dari ayah Yoana bernama Paman Rojas.
Sempat berniat meninggalkan istrinya, langkah Javier tertahan begitu mengetahui latar kehidupan Yoana yang kaya raya. Lalu rencana jahat pun dipersiapkan. Javier meminta Delfina untuk menemani istrinya, sampai usaha mencari kediaman Paman Rojas ditemukan. Di tengah kepergian lelaki itu, sesuatu terjadi di antara Yoana dan Delfina. Tentu saja tanpa sepengetahuan Javier itu sendiri.
"Javier sayang ... kau tak menjawab tanyaku?" Pertanyaan Yoana mengaburkan lamunan lelaki tersebut. Dengan suara gagap, dia berusaha berkata. "Oh ... belum, Ana. Aku masih mencari-cari pamanmu itu," jawab Javier seraya menoleh ke arah Delfina berdiri tak jauh dari mereka.
Kekecewaan tampak menggayuti roman Yoana. Dia mengelus lengan suaminya dengan lembut. Hiburnya kemudian, "Tidak apalah, Sayang. Mungkin lain kali, kau bisa segera menemukannya. Aku hanya tak ingin kehidupan kita berlarut-larut seperti ini."
"Tentu saja, Sayang. Aku akan berusaha kembali demi kebahagiaan kita berdua. Bukankah begitu, Ana?"
Yoana meraba-raba tubuh suaminya, lalu memeluk erat penuh cinta. Sementara Delfina langsung bergegas meninggalkan rumah itu dengan muka masam. Javier memperhatikan kepergian perempuan itu dengan hati berat.
"Tenang saja, Del sayang. Kamu jangan berlaku kekanak-kanakkan begitu. Wajar saja Yoana bersikap demikian. Dia juga pasti merasa rindu padaku, 'kan?" keluh Javier usai menuntaskan kerinduan istrinya di atas pembaringan beberapa saat lalu.
Delfina menatap mata Javier dalam-dalam. Imbuhnya, "Bagaimana aku bisa tahan melihatmu bercinta dengan istrimu sendiri, Xavi! Aku juga punya rasa cemburu. Apalagi aku ini perempuan."
Javier menarik tubuh Delfina hingga jatuh dalam dekapannya. Perempuan itu tak menolak. Matanya seketika terpejam. "Kau ingin segera mendapatkan bagianmu, 'kan? Hhmmm?" Ciuman-ciuman hangat pun mendarat penuh hasrat memenuhi bagian jenjang leher dan daun telinga Delfina.
__ADS_1
"Jangan di sini, Xavi. Aku takut istrimu tahu," desah Delfina seraya mengusap-usap dada bidang Javier yang polos dan masih basah dengan peluh. Lelaki itu tersenyum. "Dia tengah tertidur setelah kucabik-cabik tubuh sensitifnya. Tidak akan tahu. Lagipula dia buta. Tak mungkin bisa melihat kita berdua, bukan?"
"Tapi, Xavi .... "
"Ayolah, Del sayang. Di kampung ini hanya ada kita bertiga," desak Javiera seraya menarik belitan tali di bagian belahan dada Delfina. Lalu menarik paksa gaun yang dikenakan perempuan itu.
"Jangan, Xavi. Aku .... " lenguh Delfina begitu tubuhnya dibanting Javier hingga terlentang bebas.
"Diamlah, Sayang," seru Javier seraya menindih kekasihnya dengan ganas.
"Tidak, Xavi. Hentikan!" jerit Delfina berusaha mendorong tubuh lelaki tersebut ke samping. Namun perlakuan Javier makin buas. Sampai kemudian, tiba-tiba lengkingan keras meraung dari mulut suami Yoana itu.
"Aaakkhhh!!!"
"Xavi!" Delfina berseru kaget.
Tubuh Javier menggelosoh ke samping. Mulutnya mengerang kesakitan, sambil meraba-raba arah punggungnya yang berlumuran darah. Hal paling mengejutkan adalah, di samping mereka sedang berdiri sesosok Yoana. Perempuan itu menatap tubuh Javier dibarengi isak sendu memilukan.
"Yoana?" panggil Delfina sambil beringsut menjauh.
Istri Javier itu menoleh ke arah Delfina. "Tenang saja, Delicia. Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik. Aku tidak akan membunuhmu." Ketakutan masih melanda Delfina begitu mendapati Javier sudah tak bergerak. "Aku yakin, kematian Javier akan membuat saudara kembarmu itu tenang di alam sana. Kalau saja Delicia tidak pernah membeberkan rahasia jahanam suamiku ini, tentu sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengetahui rencana jahat dia padaku."
Beberapa waktu begitu Javier pamit hendak pergi dulu, Delicia berterus terang bahwa Javier mengkhianati Yoana. Rasa bersalah terus menggayuti, hingga akhirnya nekat mengakhiri hidup melalui seutas tali. Sebelum itu, Delicia berpesan agar setelah kematiannya, organ mata perempuan itu disumbangkan untuk Yoana. Tentu saja terlebih dahulu menyurati Delfina, saudara kembar Delicia di lain tempat, agar membantu mewujudkan impian tersebut.
Semula Delfina menolak. Namun iming-iming harta warisan dari Yoana, membuat dia bersedia membantu. Termasuk berpura-pura menjadi sosok Delicia. Memalui Delfina juga, Yoana sudah mengetahui terlebih dahulu tentang Paman Rojas. Lelaki serakah itu mati diracun oleh Delfina atas permintaan Yoana.
Kini rasa penasaran Yoana akan kesetiaan Javier terjawab sudah. Laki-laki itu memang pantas mati di tangannya. Melalui mata Delicia, Yoana menyaksikan langsung siapa sebenarnya sosok Javier selama ini. Kini mereka berdua dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, usai kembali mendapatkan harta peninggalan keluarga Gutiérrez.
"Bersamamu, aku merasa bahwa kakakku kembali hidup denganku, Ana," ujar Delfina sambil membawakan dua gelas anggur merah ke hadapan Yoana.
"Terima kasih juga, karena kau sudah membantuku, Fina. Tanpa bantuanmu, tentu saja aku tidak akan mendapatkan kemewahan ini," timpal Yoana sambil menerima sodoran gelas dari tangan Delfina.
"Untuk kesenangan ini, kita rayakan dengan minuman ini .... "
Denting gelas anggur pun beradu. Kemudian keduanya segera meminum hingga habis. Sampai kemudian, perlahan-lahan tubuh Delfina menggelosoh tak berdaya.
"Yoana ... kau?"
Perempuan itu tersenyum seraya memuntahkan cairan anggur dari dalam mulutnya. "Kau pikir aku ini bodoh, Delfina. Sebelum kau berniat membunuhku, aku sudah memasukkan racun ke dalam semua botol minuman di rumah ini. Kau pikir saja sendiri, bagaimana bencinya aku saat membayangkan saudara kembarmu itu bergumul dengan si jahanam Javiera! Tidak terkecuali dengan kau sendiri. Hahaha. Kini kalian bertiga akan merasakan bagaimana busuknya dunia kematian itu!"
__ADS_1
Usai tertawa keras, Yoana segera meninggalkan sosok Delfina yang sudah terdiam dengan mulut berbusa. Lantas menumpahkan semua isi botol minuman keras ke lantai, terakhir melemparkan korek menyala sebelum keluar dari dalam rumah. "Gemerlap dunia sering membutakan mata dan batin manusia. Sudah sepatutnya, pangkal dari permasalahan ini kumusnahkan seketika!"
...TAMAT...