
...SEHARI MENJADI ISTRI...
...Oleh : David Khanz...
...---------- o0o ----------...
"Mau kemana, Bu?" tanya aku suatu pagi melihat istri sudah rapih dengan gamis longgar dan jilbab lebar memanjang hingga hampir menutupi separuh tinggi badannya.
"Ada acara sama teman-teman liqo'. Kan, semalem udah dibilangin. Ayah lupa?" jawab istri sambil tetap fokus merapihkan letak lengkungan jilbab di bagian dahi.
Aku mengingat-ingat sebentar.
Tadi malam? Mungkin saat itu aku sedang bercengkerama dengan anak-anak tapi tak sempat mendengar ucapan CS sekasurku itu. Maklum, laki-laki, kan, mayoritas tak bisa multi tasking. Kalau sudah fokus pada satu hal, kadang indera lainnya sulit berfungsi secara maksimal. Termasuk aku, tentunya.
"Oh, gitu ya?" aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal sambil nyengir silent, "anak-anak gak dibawa, kan?"
Ia tersenyum di antara jepitan bibirnya yang menahan jarum pentul, "Gak apa-apa, kan, kalau hari ini Ayah yang ngurus anak-anak? Soalnya kalau dibawa pasti ribet, Yah."
Aku memonyongkan bibir, "Oh ... fine! No problem. I'll take them carefully."
"Artinya apa tuh, Yah?" dahi istri sedikit mengerut mendengar jawabanku, sehingga lengkungan jilbabnya ikut melorot sedikit.
"Iya, gak apa-apa. Bisa aku urus, deh."
Dalam hati aku bergumam, "Gawat! Mana cucian piring sama pakaian masih numpuk di dapur. Belum lagi mainan anak-anak masih berantakan di ruang tengah. Nyapu, ngepel, nyuci, jemurin baju, mandiin anak-anak, masak ... "
"Beneran bisa ngurus, Yah?" tanya istri sambil memandang roman mukaku yang mendadak keruh.
"Bisa ... Kecil itu mah."
"Sekalian tolong nyuci pakaian, lho, Yah. Nyapu, ngepel, jemur baju dan mandiin anak-anak. Bisa, kan?"
Kembali aku bergumam, "Busyet, dah! Gak usah dibilangin juga ngkale, Bu. Itu mah udah ada di dalam kepala gue, barusan."
"Insyaa Allah ... " jawab aku pelan sambil mencabut charger handphone yang sudah terisi penuh.
"Gak apa-apa, deh. Sekali-kali gue ngerjain kerjaan bini. Toh, gak tiap hari ini, kok. Lagian gue udah biasa turun ke dapur kalo lagi libur kerja begini. Huh ... nasib!" kataku dalam hati sambil menepuk jidat sendiri.
Plok!
"Kenapa, Yah? Gak mau? Ya, udah nanti aja aku kerjain kalo sudah pulang, deh," sahut istri dengan nada suara meninggi dan cemberut.
"Lah, kan, aku bilang juga ... Insyaa Allah. Ayah bisa, kok."
"Tadi kenapa tepok jidat?"
Eh ... buseh dah! Urusan tepuk jidat saja kagak luput dari bahan omongan, yak? Dasar perempuan!
"Ini ... WA dari temen semalem, baru kebuka sekarang. Makanya Ayah tepok jidat," kataku terpaksa berbohong daripada berkelanjutan.
Walaupun sebenarnya aku sadar, itu tak boleh dilakukan. Suami istri itu harus saling terbuka. Apalagi kalau jelang tidur malam. Eh ...
'Kan, ada lagunya juga yang berjudul 'Tak Ada Dusta Di Antara Kita'. Jadi, berbohong itu tidak boleh. Kecuali ... kepepet!
__ADS_1
"Emangnya pesen WA apaan, sih? Kok, sampe tepok jidat gitu, Yah? Dari cewek ya?"
Bujug! Kirain jurus dusta tadi bakalan ampuh ngerem rasa 'kepo'-nya. Tahunya malah berepisode.
Ya, Tuhan!
"Temen nanyain file surat kantor yang aku save di komputer. Dia nanya di folder apaan. Begitu ... Cantik," lagi-lagi terpaksa berbohong kembali demi proteksi diri.
Daripada ujung-ujungnya malah 'sidak' riwayat percakapan pesan instanku, kan? Eh ... maksudnya nanti beliau keburu siang datang ke acara kumpulan liqanya. Begitu, Pemirsa! Tapi setidaknya gara-gara ada kata 'cantik' tadi, bibirnya yang semula keriting kini sudah berubah jadi senyum simpul.
Ampuh!
"Jadi, kan, perginya, Bu?" cepat-cepat aku menyambung ucapan tadi sebelum ia bertanya kepo lagi.
"Anterin, dong, Yah," rengeknya mendadak manja.
Biasa, kalau lagi ada maunya, perempuan mah emang begitu. Gak beda sama laki-laki, sekalinya bisik-bisik lembut menjelang tidur, pasti lagi lapar biologis. Sekalinya lagi gak mood, bini minta dipijitin juga malah lebih milih ngorok.
Kemudian, cerita pun berlanjut sampai ke perjalanan. Satu kendaraan roda dua dimuati lima nyawa. Lengkap semua sesuai dengan yang terdaftar di Kartu Keluarga. Ayah, Ibu dan tiga orang anak.
Aku sadar, sebenarnya itu tak baik dan tak layak ditiru. Sangat membahayakan keselamatan. Tapi mau bagaimana lagi? Kendaraan dalam rumah tangga kami hanya itu satu-satunya. Anak-anak ditinggal di rumah, tidak memungkinkan.
Anak yang paling besar, laki-laki, baru berusia tiga belas tahun, yang kedua perempuan, usianya baru lima tahun. Si bungsu yang laki-laki, tahun ini usianya menginjak tahun ketiga.
Ya, tak apalah. Hitung-hitung jalan-jalan keluarga saja. Toh, laju kecepatan motor pun tak lebih dari angka 30 km/jam.
Satu jam kemudian setelah mengantar Ibu Negara, kami sudah kembali di rumah dengan selamat.
Hal pertama yang menjadi rencanaku menjadi 'istri' sehari pada saat itu adalah 'memusnahkan' cucian pakaian kotor. Tugas ini, aku pikir, paling gampang tanpa perlu berseksi ria menggoyang bokong berbekal papan penggilasan, karena cukup dengan nyolokin kabel mesin cuci ke listrik dan atur gilingan cucian ke waktu empat puluh lima.
Sambil menunggu putaran kenob timer mesin cuci habis, aku langsung bergegas mengeksekusi tumpukan piring serta peralatan dapur yang kotor. Tak sampai tiga puluh menit, semua sudah kembali kinclong beraroma sabun jeruk nipis.
Anak-anak aku kurung dulu di ruangan depan dengan posisi kunci depan rumah tertutup rapat dan terkunci. Mereka dibebaskan mau main apa saja. Yang sulung sibuk menggambar serta mewarnai sesuai dengan bakatnya. Anak perempuan main rumah-rumahan dengan boneka kucing kesayangannya. Sedangkan yang bungsu sibuk ngeberantakin koleksi mobil-mobilan dan robot-robotannya.
Wah ... mulai seru nih!
Sambil menunggu cucian kelar, aku buka handphone dan berbalas komen media sosial serta pesan instan. Sempat pula membuat status baru berbunyi, "Duh, capek euy. Nyuci heula ah sabari ngasuh."
Terupdate dengan cepat di bawah jaringan 4G lengkap dengan lampiran foto selfie tanpa menggunakan aplikasi beauty camera, tentunya, berikut background mesin cuci.
"Yah, laper!" sahut anak pertama datang menghampiri sambil pegangin perut, disusul anak bungsu pengen pipis.
"Laper ya, Nak? Oke ... Ayah masak dulu ya, Sayang. Tunggu aja dulu di ruang depan," jawab aku sambil melorotin celana anak bungsu lalu mengantarnya ke kamar mandi.
Sebenarnya sempat terpikir untuk masak mi instan saja ditambah telur rebus. Tapi aku tak mau anak-anak disusupi makanan jenis itu. Selain tak baik untuk kesehatan, anak-anak juga terbiasa menyukai olahanku sendiri. Secara dong, aku ini mantan pengangguran yang dulu hobi ngeliwet kalau lagi bergadang. Masalah bumbu dapur mah udah khatam, deh.
Ku lihat timer mesin cucian tinggal menyisakan waktu empat menit. Berarti belum bisa nyolokin magicom buat masak nasi. Kalau nekat, KWH di depan rumah akan otomatis 'ngejepret' mati. Maklum, daya di rumah kami hanya sebesar 450 Watt. Makanya kalau subuh-subuh sudah harus masak nasi, biasanya lampu depan dan samping rumah akan dipaksa padam. Hanya menyisakan ruang tengah, kamar tidur dan dapur yang dibiarkan menyala.
Empat menit menunggu mesin cuci berhenti, aku langsung masak air. Atau setidaknya bisa panas walaupun tak sampai mendidih. Tujuannya untuk masak nasi di magicom biar tak terlalu lama menunggu matang dan tak banyak mengkonsumsi daya listrik. Hemat, istilah katanya.
"Yah, udah mateng belom?" teriak anak sulung dari ruang depan, "laper nih!"
"Iya, sebentar lagi. Nasinya baru ngagolotrok!" balas aku dengan teriakan yang sama dari arah dapur.
__ADS_1
Oke, deh. Sambil menunggu nasi matang, aku bergegas menuju kulkas. Ada telur, mi instan, sayuran, bakso mentah, sambeleun, telur puyuh, ikan asin dan beberapa bumbu dapur lainnya. Lanjut kembali ke dapur sambil membawa bahan sayuran sop dan segera diproses dengan hati-hati. Tak lupa, sambil duduk selonjoran memotong bahan sayuran, aku buka handphone lengkap dengan headsetnya.
Mau ngapain? Aku nyanyi dangdut online melalui aplikasi Smule. Sukses, sekali rekaman langsung jadi singleku hari itu. Langsung dishare ke Facebook dan tak berapa lama notifikasi handphone mulai ramai berdenting berulang-ulang. Aku tak bernafsu membukanya karena masih sibuk masak sayur, ikan asin, telur dan bahan membuat sambal.
Jepret!
Suara notifikasi magicom terdengar nyaring. Alhamdulillah ... sudah matang nasiku. Tapi itu berarti aku harus lanjut memutar kenob mesin cuci untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya air rendaman pertama dibuang. Untungnya untuk menampung rendaman air cucian baru, tak perlu repot-repot ngambil dari sumurnya langsung. Cukup berbekal selang dan saklar listrik, air sudah mengalir dengan lancar melalui bantuan pompa air listrik.
Tiba-tiba terdengar tangisan dari ruang depan. Itu suara anak perempuanku.
"Yah, Aa nakal. Tètèh nangis," ujar anak bungsu memberi laporan sambil menghampiriku.
"Aa, jagain adiknya, dong. Ayah, kan, lagi masak dulu."
Terdengar keributan kecil di ruang depan. Yang satu ngotot sambil ngomel-ngomel, satunya lagi tangisannya makin kencang.
Duh, Gusti! Mana aku lagi menggoreng ikan asin pula. Kalo kelamaan ngurusin beginian, bakalan jadi 'arang' nih masakan gue!
Terpaksa aku bawa anak perempuan turut masak ke dapur. Sementara yang sulung mendadak ngambek. Terakhir, yang bungsu tadi ditinggal di dapur sibuk ngacak-ngacak sampah sayuran yang sudah ku masukan ke dalam kantong kresek.
Amburadul lagi, deh!
Tiba saatnya makan, anak-anak berkumpul menikmati hidangan hasil olahanku. Aku tidak langsung ikut nimbrung, tapi lebih memilih menjemur pakaian dulu. Sekembalinya dari tiang jemuran, anak bungsu nangis karena diomelin kakaknya gara-gara menumpahkan air minum. Karpet pun basah amarayah.
Kerjaan lagi, nih! Haduh ... Gusti Nu Agung!
Mana yang bocah pengennya makan sendiri. Disuapin malah ngambek dan mingkem. Telor ceplok satu biji hampir ludes, nasinya masih utuh.
Pada saat itu, mendadak aku jadi kangen kehadiran istriku. Bu, segeralah balik. Aku gak tahan, nih!
Habis makan, lanjut beberes rumah. Menyapu, merapihkan bekas main anak-anak, melap debu yang menempel di perabotan, merapihkan kamar tidur bekas semalam 'gelut' dengan istri, kamar anak-anak dan terakhir mengepel.
Selanjutnya memandikan anak-anak hingga mengenakan pakaian mereka masing-masing. Pekerjaan rumah sudah usai? Belum. Dapur masih berantakan.
Oke, aku tinggal kembali anak-anak di ruang depan. Sementara aku sibuk nyuci bekas masak dan makan tadi. Sekaligus selang bekas menyalurkan air sumur ke dalam mesin cuci yang masih melingkar tak karuan mirip oray kadut.
Beres? Ternyata masih belum. Begitu kembali ke ruang depan, kondisi yang tadinya sudah rapih jali, kini kembali berantakan.
Ya Allah! Tiba-tiba dada ini sesak menahan rasa ingin marah. Tapi tak mau kulakukan. Itu anak-anakku, susah payah dibesarkan, masa harus dimarahin gara-gara hal sepele, sih?
"Ayah, pengen jajan," rengek anak perempuanku dan gawatnya diamini oleh kedua saudaranya.
Busyet! Perasaan barusan abis makan, deh? Emang belum pada kenyang tuh bocah? Tadi, kan ... etdah! Jarum jam sudah menunjukan waktu hampir tengah hari. Rasanya dari awal masuk dapur tadi jam tujuhan? Hampir lima jam berkutat di dapur dan daleman rumah. Cepet amat, yak, waktu berputar? Pantesan aja rata-rata kaum Emak-Emak cepet ngerasa tua. Ini nih sebabnya, hampir separuh hidupnya habis di dapur, sumur dan kasur. Siang kerja, malamnya 'dikerjain'.
Nasibmu, istriku!
Sampai tak sadar aku pun terlelap di atas kursi saat menemani anak-anak bermain di ruang depan. Terbangun gara-gara mendengar suara 'ceramah' istri yang baru tiba di rumah, "Kok, rumah masih berantakan? Emang Ayah ngapain aja, sih, di rumah?"
Ngapain aja? Gue tepar nih, Sayang!
Beruntung deh gue terlahir sebagai laki-laki. Itu baru disadari sejak saat itu ...
I love to be a man forever
__ADS_1
...SELESAI...