
...SANG PENGUNTIT...
...Penulis : David Khanz ...
Jelang tengah malam, sepulang kerja sif dua, aku berjalan sendiri menyusuri trotoar yang sudah tampak sepi. Hujan sedari sore tadi sepertinya membuat sebagian warga betah berdiam di rumah, karena cuaca lebih terasa adem. Mungkin juga mereka sudah terlelap dibuai gemerlap alam mimpi. Sementara aku, justru baru usai menjalani rutinitas harian. Sialnya lagi, Ina rekan sekerja sekaligus teman sekamar kos yang biasa bersama-sama, hari ini absen karena sakit. Semula memutuskan untuk pulang menggunakan jasa angkutan umum daring, namun baru diketahui sesaat setelah keluar dari ruangan kantor, tidak bisa membuka aplikasi yang dimaksud karena ponsel telah kehabisan daya. Terpaksa, walaupun didera rasa khawatir akan keselamatan, aku nekat pulang.
Baru beberapa meter berjalan, firasat ini mengatakan seperti ada seseorang yang mengikuti. Entah siapa. Ina? Tidak mungkin. Satpam kantor? Untuk keperluan apa? Tadi sempat berpapasan dengan mereka, tidak ada tanda-tanda apa-apa. Lalu siapa di belakang sana itu? Kalau saja pejalan kaki biasa, mengapa juga harus turut berhenti begitu aku pura-pura mengaso sebentar. Tidak satu atau dua kali.
'Duh, mana sekarang malam Jumat lagi, ah. Serem amat, sih. Merinding gue,' ujarku dalam hati seraya mengusap tengkuk. 'Itu di belakang gue, manusia atau sejenis genderuwo bukan, ya? Kok, ngikutin terus, sih?'
Aku mempercepat langkah. Sebentar-sebentar menengok ke belakang untuk memastikan keadaan. Sosok itu masih terus menguntit. Bahkan kini setengah berlari. 'Ih, beneran ini, sih. Dia pasti punya maksud jahat ama gue?' Aku memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah gang sempit di antara tembok tinggi pongah gedung dan rumah bertingkat. Berharap kali ini dia akan kehilangan jejak dan untuk sementara mencari-cari tempat untuk bersembunyi.
KROSAK!
Aku terperanjat mendengar suara sesuatu terinjak langkah berat dari arah belakang.
"Ya, Tuhan!" pekikku dengan mata terbelalak usai menoleh ke asal sumber suara tadi. "Siapa lu?" Seseorang berdiri tidak berapa jauh di sana. Temaram. Tidak jelas tampak wajahnya. Tapi memperhatikan bentuk tubuh itu, tidak ayal lagi pastilah seorang laki-laki. "Mau apa lu?"
Aku beringsut menjauh. Akan tetapi lagi-lagi sial, gang yang dipilih tadi ternyata buntu. Hanya ada satu jalan keluar di pinggir sana, yaitu berupa solokan beraroma busuk. Pasti aliran airnya hitam pekat. Beberapa kali harus menahan mual begitu menghirup semerbak udara di sekitar tempat tersebut.
"Mbak ...." Sosok itu memanggil.
"Diam di sana dan jangan bergerak! Elu jangan coba-coba, ya! Gue udah gak perawan! Kemaren malah baru berobat dari klinik penyakit kelamin! Jadi, kalo elu pengen tetep sehat ... gak usah nyoba ngelakuin hal yang enggak-enggak ama gue!" seruku panjang lebar seraya menudingkan telunjuk pada sosok tadi.
"Mbak!"
"Gue bilang jangan nyoba-nyoba, Bro!" teriakku histeris. "Lebih baik elu cari cewek lain di luar sana. Kalo elu pengen ngambil tas gue, percuma aja. Gue belom gajian! Gue gak punya duit, makanya jalan kaki! Paham lu?"
"Maksud saya begini--"
"Diam lu di sana! Jangan ngedeketin gue!" Aku kembali menunjukkan jari dengan suara galak. Sosok tadi terlihat maju selangkah hendak mendekat. Kali ini justru memperlihatkan wujud mukanya yang asli, diterpa lampu di atas tembok sana. 'Eh ... ya, Tuhan!' Kali ini tiba-tiba aku bergumam sendiri sambil menggigit bibir.
"Maafkan saya, Mbak. Sebenarnya dari tadi ...."
Mata ini berubah sayu seraya menatap wajah sosok di depan. 'Dia ganteng banget. Kelihatannya laki-laki baik. Low profile. Duh, kenapa jantung gue jadi olah raga 'gini, ya?'
__ADS_1
" ... sebenarnya dari tadi saya ingin nyapa Mbak buat mastiin. Tapi saya ragu. Makanya saya nyoba ngikutin aja dulu sampe nanti yakin," ujar sosok tadi yang memang berwujud seorang laki-laki muda dengan setelan pakaian modis dipadu jaket bercorak warna merah dan hitam.
Aku masih tak ingin mendengar. Kepala ini malah terus fokus berhalusinasi. 'Duh ... Bang. Kalo emang pengen, jangan pake merkosa gue ngapa? Nikahin aja gue dulu. Abis itu baru gue bakal nyerahin diri buat Abang. Abisnya ... Abang ganteng banget, sih. Hihihihi!'
"Mbak?" Lelaki itu maju beberapa langkah sambil menatapku. "Kenapa Mbak senyum-senyum begitu? Mbak denger kata-kata saya tadi, 'kan?"
Aku langsung terperanjat. "Eh, apa? Siapa yang senyum-senyum? Gue ... eh, aku gak senyum. Cuma mastiin aja kalo elu ... aih, kamu gak ada niat jahat ama gue ... aeh, aku. Begitu maksudnya," jawabku gelagapan. 'Duh, ngapa gua ngomong belibed 'gini, ya? Ada apa ini? Gara jantung gue, nih, kerja ekstra abis lihat si Abang ganteng ini.'
Laki-laki itu tersenyum. "Oh, maafkan saya kalo 'gitu. Hehehe."
Aku ikut tersenyum, dan sadar itu terasa aneh. Tadi sempat marah-marah. Tapi kali ini justru mendadak anggun seperti Cinderela yang baru terbangun dari tidur panjang. "Gak apa-apa, Mas ... eh, Bang. Tadi justru aku yang marah-marah duluan. Kirain Abang ini mau ngelakuin sesuatu ama saya ... eh, aku."
Aku mengetuk-ngetuk batok kepala sendiri sejenak. Entah mengapa, sepertinya ada yang tidak beres dengan sikap ini. Mungkinkah karena faktor menyandang status jomlo akut terlalu lama? Lalu dikejar-kejar lelaki keren tidak dikenal di malam hari, merasa seperti mendadak jadi selebritis diuber-uber paparazi. Duh!
Lelaki mengaruk-garuk kepala dihiasi senyum aneh dan multi tafsir. Aku sendiri bingung, entah apa yang tengah dia pikirkan. Ujarnya kemudian, "Begini, Mbak. Saya hanya ingin ... eh, nama Mbak ini Lesli, 'kan?"
Aku mengangguk pelan penuh keanggunan. "Iya, hehehe. Lengkapnya Lesliana Dewi Sari Tunggal Armawidya."
"Ooohh ... panjang juga, ya?"
Tiba-tiba aku seperti merasa kepanasan. "Hehehe. Kok, tahu, Bang? Aku emang suka yang panjang-panjang, kok."
"Apanya, Bang?" tanyaku heran. Ada yang salah denganku tadi? Tak tahu.
Akhirnya setelah beberapa waktu terdiam, laki-laki itu kembali berujar, "Maksud saya ... mau nyampein paket kiriman atas nama ... ya, itu tadi. Mbak Lesli, 'kan?"
"Betul ...." jawabku seraya mengigit bibir bawah beberapa kali. Sosok itu terlihat menghindari saling beradu pandang. Dari gestur tubuhnya, mungkin dia merasa sedang tidak nyaman. Kira-kira karena apa, ya? Niat rudapaksanya keburu ketahuan? Mengapa tak dilanjut sekarang saja, sih, Bang. Aeh!
"Dari siang tadi saya datangi alamat ini," katanya seraya menyerahkan sebuah paket berbentuk kotak padaku. "Itu ... enggak bisa saya temui orangnya. Bahkan nomor kontak yang tertulis pun, gak bisa dihubungi. Terus, saya dapet informasi dari penghuni kontrakan sekitar alamat ini ... katanya Mbak Lesli kerja di kantor tadi, ya?"
Aku termenung. Pantas saja dia mulai menguntit dari sejak keluar kerja tadi. Jadi rupanya laki-laki ini petugas jasa kurir. "Tapi ... aku gak ngerasa mesen apa-apa, Bang."
"Nama Mbak ini ... Mbak Lesli, 'kan?"
"Iya."
__ADS_1
"Nah, itu ... sesuai tertulis di sana."
Aku memeriksa alamat yang tertera dalan paket. Benar namaku. Nomor ponsel itu ... duh, itu punya si Ina. Mengapa harus menggunakan namaku, sih?
"Itu ... COD, Mbak." Laki-laki tadi mengingatkan.
'COD? Gila si Ina. Giliran sistem bayar di tempat aja, pasti pake nama gue! Sialan tuh anak!' rutukku geram.
Tanpa banyak bicara, langsung kubayar. Urusan ganti, nanti setibanya di kamar kos. Tapi hikmahnya, jadi bertemu cowok keren malam-malam begini, 'kan?
"Terima kasih, ya, Mbak. Saya mohon pamit mau langsung pulang," ujar laki-laki tadi.
"Eh, kenapa buru-buru, sih, Bang?" Aku berusaha menahan. Siapa tahu sekalian berkenalan dan ... berjodoh. Aeh! "Lagian, kenapa gak besok aja, sih, dianterin lagi? Jangan malem-malem 'gini. Jadi serem, lho, Bang."
Dia tersenyum simpul. "Itu paket terakhir yang harus saya sampein malam ini juga. Soalnya, besok dan lusa saya cuti kerja."
"Terus, kenapa harus buru-buru pulang kalo besok gak mesti kerja?" Aku ingin dia mengantar pulang. Pastinya bakal kuperpendek setiap langkah agar banyak mendapatkan waktu untuk mengobrol di sepanjang jalan. Ya, itu tadi. Semoga saja sosok ini bisa membebaskan kutukan jomlo ini malam sekarang juga! Wuih!
Dia kembali tersenyum. "Mohon maaf. Saya lagi ditunggu istri di depan gang ini."
'Istri? Duh, ternyata dia udah kawin. Kirain masih lajang. Masih kelihatan muda soalnya ....' gumamku dengan rasa kecewa yang tiba-tiba datang menyergap.
Aku mengangguk. Membiarkannya berlalu. Tapi segera kuikuti hingga depan gang tadi. Bisa saja dia berbohong.
Nyatanya memang ada seseorang di sana yang sedang menunggu. Di atas sepeda motor. Keduanya saling melempar senyum begitu mendekat. "Kita berangkat sekarang, Sayang?"
"Tentu aja, Mas. Sesuai rencana kita buat ngabisin liburan bersama-sama."
"Untungnya kerjaanku beres juga malam ini. Tadi udah ketemu pemilik paketnya."
"O, ya? Begitu, Mas?"
"Iya, Bang. Yuk, berangkat ...."
"Oke, Sayang."
__ADS_1
Mereka berdua pun berlalu. Melaju cepat di atas sepeda motor. Sementara aku hanya bisa terpaku. Berdiri di bawah kegelapan dengan mata membulat dan mulut terbuka lebar. Entah mengapa, tadi sempat kecewa. Sekarang malah seperti kejatuhan jackpot misterius! Kaget bukan alang kepalang!
...TAMAT...