Zona Dewasa

Zona Dewasa
6. Akhir Kisah Si Jomlo


__ADS_3

...AKHIR KISAH SI JOMLO...


...Written by David Khanz...


...---------- o0o ----------...


Panggil aku Mira, lengkapnya Mira Armagia. Entahlah, mengapa orangtua memberi nama akhiran tersebut. Mungkinkah karena terinspirasi judul film Armageddon yang dibintangi oleh aktor Hollywood Bruce Willis, mantan suami Demi Moore itu? Ah, itu tak penting dan tak perlu diperbincangkan. Pastinya saat ini usiaku sudah genap dua puluh sembilan tahun. Bukan seorang remaja maupun perempuan berstatus ibu rumah tangga. Ya, aku masih sendiri, single, atau jomblo menurut istilah orang-orang jaman sekarang. Sebagaimana halnya kesendirianku dalam mengarungi hidup, semenjak ditinggal oleh orang-orang terkasih.


Kekasih? Sejujurnya ... dulu pernah menjalin hubungan khusus dengan seorang laki-laki, akan tetapi tak berjalan lama. Namai saja dia, Dulhong, kepanjangan dari ‘ngawadul dan ngabohong’. Terpaksa kutinggalkan, karena hampir setiap pertemuan, dia kerap minta ini dan itu. Paham 'kan, apa yang dimaksud?


“Neng, kamu sayang gak sih, sama aku?” tanya Dulhong sambil senyum-senyum malu dengan gerak tubuh yang mirip belatung nangka.


“Ya, sayang bangetlah, Bang. Aku mau jalan sama Abang karena hati ini cinta ama Abang. Emang kenapa, sih? Masih ragu?” Aku merasa agak ngeri sedikit, memperhatikan kedua tangan Dulhong yang acap kali menggosok-gosok area pribadi bagian tubuhnya.


“Ragu sih, kagak, Neng. Cuma ... aku perlu bukti aja ... ” balas Dulhong kembali dengan senyuman yang sulit dimaknai, namun aku hapal sekali dengan tanda-tanda yang tak lazim tersebut.


“Ragu gimana, Bang? Aku sering bohongin kedua orangtua, demi Abang. Pamit mau ke rumah temen, nyatanya malah ketemuan ama Abang di tempat remang-remang kayak gini. Itu salah satu bukti, kalo aku ini sayang ama Abang. Begitu ... “ tandasku sambil menepuk-nepuk betis yang gatal digigiti nyamuk kebun.


“Hehehe ... “ kekeh Dulhong malu tapi masih tetap menunggu jawaban Mira yang lainnya. Tentu saja yang sesuai dengan isi kepala laki-laki pengangguran itu. “Iya, aku percaya. Tapi kan, perlu ada pembuktian yang lain, Neng.”


“Pembuktian apalagi, Bang?” Aku mulai merasa ada aroma yang tidak beres di wajah serta senyumannya tersebut. Terutama gerakan telapak tangannya tadi itu.


Fix! Memperhatikan geliat seperti itu, rasanya isi kepalanya sudah mulai perlu disemprot vacum cleaner.


“Itu, Neng ... “ Dulhong menguncupkan kesepuluh jemari tangannya, lalu menirukan sebuah gerakan mematuk-matuk pada ujung kuncup satu dengan yang lainnya secara berulang.


Aku terperanjat. Benar kan, apa yang kukhawatirkan sedari tadi? Laki-laki itu ....


“Dih, Abang jorok!” sergahku lalu beringsut dari tempat duduk semula di sebelah Dulhong. “Gak boleh lakuin itu, Bang! Belum waktunya dan dosa!”


Wajah laki-laki kumal bertahi lalat di hidung itu seketika berubah murung. Entah kecewa ataukah marah.


“Cuma beginian doang, Neng!” tukas Dulhong kembali memperagakan gerakannya seperti tadi. “Apa salahnya, sih? Gak bakal bikin kamu ham--“


“Iyalah, awalnya minta itu, lalu minta ini, kemudian ini dan itu, dan akhirnya begini-begitu. Ujung-ujungnya .... “


“Jadi kamu gak mau, Neng?” Suara Dulhong meninggi.


“Bukannya gak mau, Bang, tapi belum waktunya aja!” Aku berusaha menyadarkan laki-laki itu yang kini jemari tangannya sudah berubah mengepal. “Kalau Abang bener-bener serius, nikahi aku!”


“Lah, sekarang aku ajak kamu kawin, malah gak mau?” Dulhong mulai marah.


“Nikah, Bang! Bukan kawin!”


“Emang apa bedanya?” Masih belum paham juga si Dulhong.


Aku menghempaskan nafas sesaat, sekedar menghambarkan rasa jengkel. “Beda atuh, Bang! Nikah mah ke penghulu dan kalo kawin itu ‘tindih menindih’ menjadi satu. Paham, Bang?”


“Au, ah!” jawabnya dengan roman kecewa.


Lama kami terdiam dan sibuk berjibaku mengusir nyamuk kebun yang datang kian menyerang. Sampai kemudian, laki-laki penghisap vape itu pun berucap ....


“Kita putus!”


“Apa?” Aku terperanjat tapi tak sampai jatuh pingsan.


“Mulai sekarang, elu ... gue ... end!” sergah Dulhong sembari bangkit dan melangkah meninggalkanku.


“Bang Dul! Bang!” teriakku memanggil laki-laki culun itu, namun tak dihiraukan. Dia tetap berjalan sendiri tanpa berkenan menoleh sedikit pun.


Percuma saja mengejar, karena teriakan ini hanya akan dianggap angin lalu. Terkecuali jika kuserukan, ‘Bang, ayo ... kita lakuin apa yang Abang mau itu sekarang juga!’ dia pasti kembali lagi secepat kilat.


Kupikir lagi, buat apa mempertahankan sebuah hubungan kalau hanya dilandasi kemesuman. Kalaupun dia benar-benar tulus mencintaiku, sudah tentu akan menjaga diri ini seutuhnya, hingga momen indah itu tiba sesuai masa. Faktanya bukti yang ada tak sesuai asa.


Begitulah resiko menjalin kasih dengan orang yang tak bisa berpikir jernih. Hanya modal mentraktir martabak bangka, tapi berharap dibalas dengan busung dada. Sekalinya diberi secara sukarela, lama-lama beralih minta isi celana. Tak sudi aku!


Sejak hubunganku dengan Dulhong berakhir pada petang itu, tak ada satu pun laki-laki yang mau mendekat. Minimal sekedar memberi sapa menggoda, ‘hai ... cewek! Godain Abah, dong!’

__ADS_1


Semua kaum berjakun itu sepertinya tak berminat menjadikanku seorang calon istri. Padahal wajahku tak teramat cantik. Jika dibandingkan dengan Farah Queen yang berkulit eksotik itu sekalipun, tentulah dia lebih menarik. Tapi sekedar mengajakku menjadi teman untuk pergi hajatan, rasanya tak akan sampai membuat acara bubar. Karena aku adalah seorang perempuan sejati yang terlahir dengan tubuh asli, memiliki rahim serta tanpa efek suara sengau.


Ah, aku hanya bisa menerima nasib. Apa pun yang kujalani dan didapatkan, itu semua atas kehendak Tuhan. Bagja, pati, dan cilaka sudah menjadi ketentuan-Nya. Kendatipun hampir semua orang tahu tentang hal tersebut, namun suara-suara mulut gatal dan berbusa itu kerap kali menusukku dengan kalimat-kalimat senada;


“Kapan nikah? Kamu 'kan, sudah tak muda lagi.”


“Umur orang kan, tak ada yang tahu. Cepetan nyari pendamping hidup biar bisa segera merasakan indahnya surga dunia.”


“Kelamaan menunda pernikahan itu bisa menjadikan kamu perawan tua lho, Ndok!”


“Kamu masih perawan, 'kan?”


“Makin tua lubang kencingmu makin alot!”


“Tuh, lihat. Teman-teman dan tetangga seusiamu saja sudah pada punya anak dan cucu. Kamu kapan punya suami?”


“Ah, kamu kondangan mulu. Kapan dong, ngundang-ngundang orang?”


“Gak laku ya? Cucian deh, lu!”


“Sepertinya kamu kudu dirukiah.”


Bahkan ketika ikut mengantar tetangga yang meninggal dan dikubur, masih sempat saja ada orang yang tega menyindirku, ‘kamu kapan menyusul?’


Aku tak tahu sampai kapan suara-suara menyakitkan itu akan berhenti bergema di dalam kepala. Bukannya tak ingin berkeluarga, tapi pemilik tulang iga ... eh, tulang rusuk yang kupegang ini, belum juga kunjung menjemput. Segala cara telah kulakukan; mendaftar di perkumpulan pencari jodoh, titip salam untuk teman laki-laki yang dikenal, menulis status dramatis di media sosial, berdoa, hingga aktif hadir di berbagai acara reunian. Berharap ada teman laki-laki seangkatan yang senasib denganku.


Sampai suatu hari, ada sebuah akun media sosial berprofil seorang laki-laki, meminta pertemanan. Namanya Arman Engaño. Tanpa rasa curiga, langsung diterima. Kemudian dia memberikan respon like pada semua postinganku, hingga notifikasi ponsel penuh dengan dengan ikon jempol. Berlanjut saling lempar sapa dalam kolom komentar, lalu disusul merambah ke percakapan pribadi melalui aplikasi pesan instan.


Senang sekali rasanya walaupun hanya bisa berbincang melalui jagat maya. Hari-hariku semakin berbunga dan asa yang selama ini mulai membeku, lambat-laun tumbuh subur dengan aroma mewangi. Sampai akhirnya, puncak kebahagiaan pun meletup tanpa disangka-sangka, ketika Arman mengungkapkan isi hatinya.


“Aku menyukaimu, Mira.”


Ah, aku tak percaya. Masih belum bisa percaya. Sesingkat itukah rasa itu muncul, di tengah arus hambatan yang selama ini membelenggu lambaian indah mimpi-mimpiku.


“Jangan memberiku sebuah harapan jika sekiranya kau tak akan mampu mewujudkannya. Aku bukanlah seorang perempuan yang bisa menerima kehadiran laki-laki, untuk sekadar melabuhkan hasrat sesaat di atas landasan gelora yang tak berkelanjutan,” tulisku melalui pesan instan, lalu dikirim segera agar lekas mengetahui, tanggapan Arman di balik makna rangkaian kata-kata tersebut.


“Saat ini aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku memang menyukaimu, Mira. Tak peduli walaupun suatu saat aku menemukanmu dalam kondisi yang tak sesuai dengan bayangan ini. Aku mengenalmu, karena kau sendiri yang seringkali bercerita melalui ungkapan-ungkapan lirihmu. Salahkah jika ada hati lain yang tiba-tiba turut tersentuh dan bermaksud melengkapi semua kekuranganmu? Itu adalah aku ... “ balas Arman kemudian, membuat mataku berkaca-kaca sambil menatap lekat layar laptop yang enggan berkedip.


“Tentu saja, Mira sayang .... “


Ya, Tuhan! Bebang rasanya darah yang mengalir serta melambungkan tubuhku hingga tak berjejak kedua kaki. Bahagia pun bersemi melarut dalam angan.


Kini aku bisa berlena dalam nyenyak, ringan berlangkah, sekaligus unjuk muka di hadapan orang-orang yang selama ini memperolok-olok kesendirianku.


Ah, tak ada salahnya pula bila kusandingkan foto Arman untuk menghiasi semua profil hidup lama itu, agar penghuni jagat buana termangu-mangu, bahwa aku pun mampu mendapatkan apa yang selama ini mereka hinakan.


“Selamat malam ya, Arman. Semoga mimpi indah menyapa dalam tidurmu ... “ pungkasku sebelum mematikan layar laptop dan mengakhiri obrolan dengannya di masa lain.


Kuhempaskan badan ke atas pembaringan sambil membuka-buka kembali jejak percakapan dengan Arman, melalui sapuan jemari pada layar ponsel yang tinggal menyisakan sedikit daya. Senyumku kembali mengembang tiap kali membaca rangkaian kata laki-laki itu. Begitu indah dan menyentuh kisi-kisi hati yang selama ini banyak terabrasi.


Hhhmm ... kini suara-suara sumbang yang kerap menyakitkan tersebut, sudah mulai jarang terdengar. Kehadiran sosok Arman dalam hidupku, telah berhasil membungkam mulut-mulut busuk penuh nista itu. Mereka terdiam, tertunduk, dan bahkan berusaha menjauh saat hendak berpapasan. Malu, mungkin itu yang dirasakan manusia-manusia pemilik dengki dan tak pernah memandangku dengan empati.


Aku tak peduli, karena sekarang ada Arman yang selalu siap mendengar keluh, tawa, tangis, dan juga diamku, walaupun hanya melalui tabir layar menyala. Itu sudah lebih dari cukup dan tak perlu menuntutnya bersua, untuk sementara waktu. Biarlah hubungan ini berjalan seadanya sampai ....


“Aku ingin bertemu denganmu, Sayang. Bisa, kan? Aku ingin membuktikan kesungguhan cintaku padamu,” kata Arman dalam sederet tulisan.


Aku terperanjat seketika dengan detak jantung yang mengentak dinding dada. “Kapan?”


“Besok petang.”


“Di mana?”


“Stasiun kereta.”


Aku berpikir sejenak. “Baiklah. Aku akan ke sana besok petang.”


“Jangan lupa, besok aku akan mengenakan pakaian berwarna serba putih, agar kamu gampang mengenaliku.”

__ADS_1


“Baiklah .... “


“Janji ya, kamu besok datang.”


“Iya, aku janji!”


Akhirnya yang kutunggu-tunggu selama ini, bakal segera tiba. Arman datang menemuiku.


Dia ... datang menemuiku? Ataukah aku sendiri yang akan datang menemuinya? Ah, masa bodoh! Yang penting, untuk pertama kalinya, kami akan berjumpa. Mengenali satu dengan lain secara nyata, tidak seperti yang selama ini terjadi.


Keesokan harinya aku sengaja datang ke stasiun lebih awal dari yang dijanjikan. Takut Arman mengubah rencana dan membuat kejutan khusus untukku. Sebagaimana halnya yang sering dia lakukan selama ini. Hhhmm ... laki-laki itu memang penuh kejutan.


Aku duduk paling depan di antara deretan kursi yang memanjang, agar mudah menemukan sosok Arman yang mengenakan pakaian serba putih dalam lautan manusia yang berlalu-lalang nanti, Oh, iya! Aku pun sengaja memakai warna busana yang senada dengan Arman. Hitung-hitung sebagai ungkapan perasaan yang sama terhadap laki-laki itu, juga untuk menyambut pertemuan pertama kami dalam balutan warna suci.


Lama aku duduk dalam diam, sambil memperhatikan setiap penumpang yang turun dari gerbong kereta. Belum ada satu sosok laki-laki pun yang sesuai dengan ciri-ciri Arman. Begitu seterusnya hingga sebuah pemberitahuan melalui pengeras suara mengabarkan bahwa kereta terakhir untuk hari itu akan segera tiba.


Aku segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju peron dengan penuh harap, kalau kereta terakhir itulah yang ditumpangi oleh Arman, sang kekasih pujaan. Tak sabar rasanya hati ini untuk segera berjumpa. Menatap, berjabat tangan, berbicara, dan selanjutnya menghabiskan malam ini berdua dengannya.


Ah, Arman ... mana sosokmu itu, Sayang? Netra ini belum melihatmu. Bahkan ketika kereta itu tiba dan aku mencarimu hingga pijakan terakhir seseorang yang turun dari dalam sana, kamu tak kunjung kutemukan. Di manakah, Arman? Apakah dia tak jadi datang? Mengapa tak juga memberitahuku?


Benar, Arman memang tak datang. Laki-laki itu telah mengingkari janjinya.


Aku melangkah dengan kecewa. Sakit sekali rasanya. Seluruh tubuh ini rasanya membeku, hingga ayunan kaki pun tak lagi sanggup kugerakan. Tangis ini tak mampu lagi dibendung meratapi kebodohan diri akan janji seorang manusia yang tak pernah tersentuh wujudnya. Aku terduduk lemah bersandarkan besi pagar pembatas jalur antrean loket stasiun disertai sauk tangis.


Kuhidupkan ponsel, berharap ada pesan singkat yang masuk dan belum sempat dibaca. Kosong. Tak ada pemberitahuan apa pun. Masih penasaran, jejak obrolan semalam dengan Arman kembali dibuka. Semuanya sama, hanya ada kalimat terakhir yang tertulis ‘Iya, aku janji!’.


“Arman, di mana kamu sekarang?” tulisku mencoba meyakinkan jika laki-laki memang ....


“Aku di sini, Mira sayang.”


“Di mana? Aku tak melihatmu.”


“Aku di sini.”


“Di mana?”


“Di hatimu. Aku selalu ada di hatimu, di mana pun kamu berada.”


“A-aa-aku tak mengerti, Arman. A-aku .... “


“Sayang, aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Kita adalah satu, Sayangku.”


Aku terkejut dan spontan melemparkan ponsel ke lantai. Ingin sekali menangis dan menjerit meratapi diri, sambil berpegangan pada besi pagar. Tak peduli dengan sorot mata orang-orang yang memandangku dengan tatapan aneh. Aku hanya ingin menangis, menangis dan menangis.


Beberapa orang datang menghampiri, memegang bahu serta mengangkat tubuhku untuk berdiri.


“Tidak! Jangan bawa aku! Jangan bawa aku!” teriakku sambil meronta kuat hendak melepaskan diri dari cekalan tangan-tangan kekar berbusana putih yang menahan gerak ini.


“Mir ... tenang, Mir!” kata seseorang yang tiba-tiba menghampiriku dengan wajah lesu memelas.


“Siapa kamu?” tanyaku garang menatap lekat sosok asing itu.


“Maafkan aku, Mir.” Sosok itu berwajah lesu tersedan-sedan berusaha meraih jemari tanganku yang terus meronta.


“Siapa kamu? Kamu bukan Arman! Kamu bukan Arman!”


Sosok itu menyeka kedua kelopak matanya yang basah, “Karena aku, kamu jadi begini. Ini semua salahku, Mir! Aku yang selama ini telah mengguna-gunaimu hingga kamu seperti ini. Maafkan aku!”


Lucu! Lelucon macam apa ini? Rasanya ingin sekali kutertawa terbahak-bahak sekerasnya. Ya, dia lucu dan rasanya tak ada yang bisa menahanku untuk tertawa, kan? Hahaha!


“Sebaiknya Bapak pulang dulu sekarang dan biarkan Mira istirahat sendiri di kamarnya. Kami akan tetap merawatnya. Bantulah kami dengan doa, semoga Mira lekas sembuh dan kembali pada kehidupannya semula ya, Pak,” ucap seseorang yang berbaju putih dan mencekal badanku dengan kuat.


Sosok yang tak pernah kukenal dengan ciri kulit wajah kumal dan bertahi lalat di hidung itu menganggukan kepala perlahan.


“Baiklah, saya pulang dulu. Tapi ... bolehkah saya ke sini setiap waktu untuk menjenguk Mira, Pak?” tanyanya dengan suara lemah seperti menahan beban rasa bersalah yang teramat besar.


“Silakan datang saja, Pak, asalkan sesuai dengan jadwal besuk yang telah ditetapkan.”

__ADS_1


Sosok itu tersenyum hambar, kemudian berlalu dengan langkah gontai meninggalkan kami. Tenagaku mulai melemah, setelah sebuah jarum suntik menusuk dan memasukan cairan tertentu ke dalam daging lengan ini.


Tidak berapa lama, aku pun merasa mengantuk dan tertidur dengan nyenyak.


__ADS_2