
...AKHIR SEBUAH PELARIAN...
...Penulis : David Khanz...
Miranda berlari terseok-seok di antara semak belukar, dengan sisa tenaga yang ada. Beberapa kali telapak kaki wanita berusia tiga puluhan itu menginjak tumbuhan berduri, perih menusuk hingga memaksanya menyeringai. Namun landa ketakutan yang sedang dirasa, mengindahkan dera sakit menghujam di setiap jejak.
Napas tersengal diiringi cucuran deras keringat membanjiri tubuh, Miranda mencoba menoleh sekejap ke belakang. Ingin memastikan bahwa tak ada sosok lain di belakang, kecuali dirinya. Bola mata hitam itu berputar-putar mengitari setiap sudut area, dengan bias kekhawatiran teramat sangat.
"Ya, Tuhan ... tolonglah hamba-Mu ini," bisik Miranda seraya mundur perlahan, menuju balik sebatang pohon besar dan rindang. Bermaksud menyembunyikan diri sorot alam terbuka. "Tolonglah hamba, Tuhan."
Wanita itu berjongkok sambil menyandar pasrah, melepas lelah di batang pohon. Lalu berucap doa secara berulang-ulang dengan kelopak mengatup. Mendengkus cemas di antara denyutan rasa sakit di sekujur area kaki. Ada percikan darah segar menghiasi di sana, dari luka kuku jari yang terjungkit ngilu.
SREK!
Miranda menahan napas, begitu terdengar bunyi seperti dedaunan kering terinjak. Jantungnya kembali berdegup kencang, diiringi tatapan nanar dan was-was. "Tuhan, lindungilah hamba," desisnya ketakutan.
Suara itu makin mendekat. Tepat sekali menuju arah di mana Miranda saat itu berada. Tubuhnya sampai menggigil hebat.
'Semoga suara itu bukan dia. Si bedebah terkutuk!' kata Miranda dalam hati. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Bahkan berusaha menahan napas sepelan mungkin.
"Ya, Tuhan!" Miranda mengendus-endus. Tiba-tiba seperti membaui aroma lain. Begitu kuat tercium. Seperti ....
Begitu membuka mata perlahan, persis beberapa langkah di depannya, sesosok laki-laki tengah menyeringai sambil menatap Miranda. "Kau? Tidak!"
"Ha-ha. Mau lari ke mana kamu, Miranda?" suara laki-laki berat bergegas menghampiri. "Jangan, Bang. Aku mohon!" pinta Miranda memelas. "Lepaskan aku, Bang Ugay!"
Laki-laki yang dipanggil Ugay itu tertawa terbahak-bahak. "Tak semudah itu kamu akan kulepaskan, Miranda! Ha-ha!"
"Jangan, Bang! Jangaannn!" jerit Miranda begitu Ugay menyergap dengan cepat. Sisa tenaga yang ada belum sepenuhnya pulih. Habis terkuras digunakan untuk berlari tadi. Dengan mudah didorong jatuh terjerembab ke atas tanah.
Ugay langsung memburu tubuh Miranda. Menindih sedemikian rupa hingga sesak menghimpit dada.
"Jangan! Lepaskan aku!" jerit kembali Miranda sekuat daya. Ugay malah tertawa durjana. "Silakan kamu berteriak sekencang mungkin! Tak ada yang bisa mendengar suara jeritamu, Miranda! Ha-ha!"
BRET!
Laki-laki itu merobek paksa baju Miranda hingga terbuka. Memperlihatkan dengan bebas kedua busung dada. Ugay melelet penuh nafsu angkara. Lalu berusaha menjamahkan kesepuluh jari merenyuk gairah. Wanita itu berusaha menepis, namun kalah tenaga. Beberapa tamparan mendarat telak di wajah, perih tak terkira. "Diam kamu! Atau kuhajar hingga wajahmu tak berbentuk!" ancam Ugay disertai belalak mengerikan.
__ADS_1
"Aku mohon jangan, Bang." Lirih Miranda meminta belas kasih. Namun laki-laki itu makin beringas dan kasar. Bahkan masih sempat menarik celana mangsanya hingga pertengahan lutut. "Jangan, Bang!" jerit Miranda di antara himpitan tubuh Ugay.
Busuk bau napas bedebah itu menerpa. Panas diiringi seringai menjijikkan. Sesaat tangannya turun ke bagian bawah tubuh. Lalu ....
"Aaahhh!" Miranda kembali menjerit. Kali ini disertai rasa sakit menghujam sekujur tubuh. Kemudian ikut terhentak keras seiring gerak tekanan yang dilakukan Ugay. Miranda hanya bisa pasrah, melemah, membiarkan koyak itu melebar pedih. Lelehan air mata perlahan turun menyusuri kulit wajahnya yang lebam.
Wanita itu bukanlah seorang perawan. Dia pernah merasakan itu saat masih bersuami dulu, dari pernikahan dini yang dijalani. Mereguk manis madu kehidupan bersama sang arjuna dalam jalinan penuh cinta. Sayangnya hanya bertahan seumur jagung. Semua gemerlap dunia kandas dihempas badai ego pemilik jiwa-jiwa muda. Sejak itu, Miranda bertahan dalam kesendirian hingga waktu tak terasa, menapaki masa berpuluh-puluh tahun.
Ugay adalah seorang laki-laki yang dikenal melalui hubungan dunia maya. Perkenalan tak sengaja dari sekedar berbalas obrolan, kemudian berlanjut pada ranah privasi. Pesan instan, juga panggilan bergambar. Keduanya saling jatuh hati di atas hamparan pertalian jarak panjang. Hanya bisa bersua di depan nyala ponsel, tanpa mampu bercengkerama indah memadu raga.
Besar harapan Miranda terhadap Ugay, bisa memenuhi asa yang selama ini hampa. Mengisi kekosongan dan merajut kembali untaian lama yang terputus. Gaung pun bersambut. Ugay mengajak Miranda bertemu. Menentukan waktu hingga sepakat, berjanji bersama saling mengikat.
Kesan pertama Miranda terhadap laki-laki itu cukup baik. Ugay memang sosok yang selama ini didambakan. Sopan, lembut, serta romantis. Pertemuan pertama pun berlanjut hingga ke sekian kali. Sampai akhirnya Ugay mengajak Miranda berjalan-jalan ke sebuah tempat. Sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian sekitar.
"Minum, Dik," kata Ugay menawari Miranda sebotol minuman mineral. "Terima kasih, Bang. Aku tak haus, kok," jawab perempuan itu sambil memperhatikan suasana tempat di mana mereka saat itu berada.
"Minum saja dulu. Aku tak mau Adik kehausan nanti," pinta Ugay memaksa. Miranda menggeleng pelan. "Nanti saja, Bang." Dia tetap menolak sopan.
"Kenapa sih, tak mau minum? Aku tak ingin Adik jatuh sakit." Tatap mata Ugay mulai terlihat lain. Itu pun dirasakan Miranda, hingga dia curiga ada hal lain di balik tawaran laki-laki yang dikenal melalui dunia maya tersebut. "Terima kasih, Bang. Nanti aku minum kalau sudah merasa haus," tolak Miranda. Dia yakin ada sesuatu yang tak beres.
Miranda menarik tangan, menghindari genggaman erat Ugay. "Tentu saja, Bang. Makanya aku mau berhubungan dengan Abang juga."
"Masa, sih? Tapi .... "
"Tapi apa, Bang?"
"Aku ragu, Dik."
"Kok, ragu? Memang selama ini aku pernah tak jujur sama Abang?" kilah Miranda.
Ugay menggaruk kepala. "Bukan masalah itu, Dik. Tapi .... "
Miranda mengerutkan kening. "Apalagi, Bang?"
Ugay senyum-senyum. "Aku butuh bukti dari kamu, Dik."
"Bukti? Bukti apa? Aku, 'kan .... "
__ADS_1
Tiba-tiba Ugay berbisik ke telinga Miranda. Perempuan itu terbelalak dan beringsut menjauh. Dia menggeleng-geleng tak percaya.
"Tidak, Bang. Belum waktunya kita--"
"Sekali saja, Dik. Agar aku semakin yakin saja."
"Tidak. Kita tidak boleh mengawali hubungan ini dengan perbuatan salah, Bang."
"Tenang saja, Dik. Aku akan tanggung jawab, kok."
Miranda menggeleng kembali.
"Ayolah, Dik. Sekali ini saja," desak Ugay sambil mendekat. Miranda kembali beringsut menjauh. "Kita pulang sekarang, yuk, Bang. Aku ingin pulang," rengeknya ketakutan.
Kilatan amarah terpancar dari tatapan Ugay. Laki-laki itu kembali mendekat. Dia mencengkeram lengan Miranda, lalu menariknya hingga jatuh dalam satu pelukan. Selanjut berusaha mendaratkan cium di bibir. Miranda mengelak. Berontak dalam pelukan. Lalu ....
BUK!
Kaki kanan Miranda bergerak naik dengan cepat. Lututnya keras mendarat telak, tepat di bagian pangkal paha Ugay. Laki-laki itu menjerit kesakitan. Pelukan pun terlepas. Ini kesempatan Miranda untuk lari menjauh. Berlari dan berlari tak tentu arah, di tengah ketakutan yang menyergap.
"Aaahhh!" Untuk kesekian kalinya Miranda menjerit lirih. Sekian lama tak pernah disentuh lelaki, membuat mahkotanya kembali 'suci'. Hentakan tubuh bedebah itu kembali merobek paksa, menghasilkan rasa perih tak terhingga. Di saat bersamaan, ulah laki-laki itu malah makin beringas.
Miranda terkapar lemah. Tak mampu lagi melawan kuasa himpitan kekar tubuh busuk Ugay. Perempuan itu hanya bisa menangis dan memohon dalam hati. Sampai akhirnya, entah dari mana datangnya. Jemari lentik Miranda seperti menemukan sebuah benda panjang dan padat di atas tanah. Tanpa pikir panjang, segera diraih. Lalu mengayunkan tangan ke atas dengan sisa tenaga yang ada.
SRET!
"Aaarrggghhh!" Ugay menjerit keras sambil pegangi lobang telinga yang tertancap batang ranting, tembus hingga keluar dari bagian telinga lainnya. Darah segar menyembur dari luka menganga di kepala.
Ugay berguling kesakitan, dengan kondisi tubuh setengah telanjang. Belum tuntas mencapai puncak permainan, kini terpaksa mengakhirinya dengan semburan cairan lain. Mengejang sesaat dengan mata membelalak, kemudian diam tak bergerak.
Miranda tersedu. Berusaha bangkit dan menutupi bagian kewanitaannya. Merangkak kesakitan untuk menjauhi sosok bedebah yang telah mati itu. Entah sampai kapan dan sejauh mana dia akan terus berjalan dengan cara tersebut. Pikirannya benar-benar buntu. Semua sudut pandang Miranda seperti terhalang tembok dingin. Bahkan ... ketika sadar sudah berada di balik jeruji.
Niat semula mengakhiri kesendirian, sekarang telah jadi kenyataan. Miranda terkurung sendiri di sebuah ruangan. Gelap dan lembab. Perempuan malang ini didakwa telah sengaja menghilangkan nyawa manusia. Dikenai pasal pembunuhan tak berencana. Ancaman hukuman yang tak sebentar. Jelas, itu akan memperpanjang masa kesepiannya hingga menua dari asa mendapatkan pendamping hidup yang pernah hilang, dulu.
Miranda. Perempuan nahas korban kebejatan, kini harus meringkuk di balik tahanan. Bagaimana itu bisa terjadi? Di mana keadilan dunia? The answer is 'Welcome to this f*cking world'.
...SELESAI...
__ADS_1