
...PERNIKAHAN SELARAS (2)...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Gema itu kembali mengiang menusuk-nusuk ruang pendengaran, menembus matra kegelapan di antara dua lorong berbeda. Keduanya nyaris serupa, tapi tentu saja memiliki akhir tujuan masing-masing.
"Selaras …."
Ada seseorang memanggil. Suaranya sudah sangat dikenal. Siapa lagi kalau bukan lelaki terkasih yang kerap dirindukan. Kemudian sosok itu pun muncul perlahan-lahan, tersenyum, lalu melambaikan tangan. Indah sekali laksana panggung tiga dimensi dengan bias dwiwarna.
"Mas Fadli …."
"Kemarilah, Sayang. Ikutlah bersamaku mulai sekarang. Ayo, sini mendekat."
"Tapi, Mas, aku harus—"
"Ayolah, Laras, ikut sekarang juga. Kita bersama-sama lagi seperti dulu."
"Iya, aku mau, Mas. Tapi …."
"Ayo, Selaras …."
"Mas Fadli!"
"Selaras …." panggilan itu begitu lembut penuh kehangatan. "Sadarlah, Sayang."
"Mas Fadl—"
"Ini Ibu sama Bapak, Nak."
Selaras memicing sejenak dan berusaha mengingat, untuk mengenali sosok yang ada di depannya.
"Ibu? Bapak?" Lirih suara perempuan itu di tengah kebingungan. " … dan itu?" Selaras menunjuk pada sesosok lelaki muda asing yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Pak Sugara dan Ibu Selaras serempak menoleh ke arah laki-laki tadi. "Mendekatlah, Nak," titah mereka padanya.
"Ini Selaras, Pak-Bu?" tanya sosok asing tersebut. Jawab Pak Sugara, "Benar, ini Selaras anak kami, Nak. Beginilah kondisinya sekarang."
"Ooohhh … hhmmm," gumam laki-laki itu seraya memandangi Selaras yang masih duduk termangu di tepian ranjang.
Ibu Selaras menimpali, "Laras, coba kamu lihat, siapa yang datang?"
Selaras menatap tajam sosok yang dimaksud ibunya. Lama mereka saling beradu tatap, sampai kemudian senyum bibir perempuan itu pun perlahan mengembang. Hal tersebut cukup mengejutkan kedua orang tuanya, serta mengira bahwa Selaras menyukai kehadiran laki-laki muda tadi. Hanya sesaat, sampai kemudian kebahagiaan mereka pun berubah ….
"Mas Fadli …." bisik Selaras masih dengan senyumannya, menatap hangat sosok lelaki muda tersebut.
"Ya, Tuhan … Selaras …." desah Pak Sugara kecewa. "Itu … itu bukan Fadli, tapi …."
"Saya Wisnu, Ras," sahut laki-laki tadi memperkenalkan diri. " … Wisnu Aritama." Selaras menggeleng tidak percaya.
"Bukan, kamu Mas Fadli. Ya, Mas Fadli-ku yang telah kembali."
Wisnu melirik pada kedua orang tua Selaras. Dia terlihat bingung harus berkata apa. Ada sedikit roman kekecewaan menghiasi wajah laki-laki tersebut, sampai akhirnya bergegas keluar dari ruangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Nak Wisnu, tunggu, Nak!" seru Ibu Selaras seraya mengejar anak laki-laki Pak Alex itu, meninggal Pak Sugara yang sedih bercampur marah pada anak perempuannya.
"Dia Wisnu, Laras. Bukan Fadli yang sudah mat—" Pak Sugara tidak melanjutkan ucapannya. Dia segera menutup mulut dengan telapak tangan, sambil memejamkan mata. Imbuh laki-laki tua itu kemudian, "Bangunlah, Sayang. Sadarlah. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Terpuruk dalam kesedihan dan meratapi orang yang sudah tidak bisa hid— … aaahh! Haruskah Bapak katakan saja yang sebenarnya?! Tuhanku, tolonglah kami …."
Selaras melirik ayahnya, lemah.
"Bapak marah sama Laras?" tanya Selaras lirih.
Pak Sugara menggeleng, lantas lekas memeluk anak perempuannya penuh kecintaan. "Tidak, Sayang. Bapak hanya belum mampu bersabar lebih lama. Bapak sedih dengan kondisimu, Nak."
Selaras terdiam. Dia bingung, mengapa ayahnya turut bersedih. Bukankah dia yang saat ini tengah berduka?
"Terus … kenapa Mas Fadli pergi lagi, Pak?" tanya Selaras dalam pelukan ayahnya.
"Apakah dia sudah tidak mencintai Selaras?"
"Ya, Tuhan!" pekik Pak Sugara kian erat memeluk anaknya. Tersedu sedan menahan perih yang semakin menusuk.
Sementara itu Wisnu yang buru-buru pulang tadi, menghadap ayahnya di kantor. Laki-laki muda itu tampak marah dengan sorot matanya menatap Pak Alex.
"Jadi Papah meminta Wisnu untuk menikahi perempuan gila itu, Pah?" tukas Wisnu disertai napas memburu. "Papah pikir ini lucu? Begitu?"
"Tenanglah, Nak. Sabar dulu …" ucap Pak Alex menenangkan. "Dengarkan dulu penjelasan Papah. Ini sama sekali tidak seperti apa yang kamu kira, Nak."
"Tidak!" balas Wisnu geram. "Wisnu sudah bertemu perempuan itu. Coba tebak, apa yang Wisnu dapatkan dari dia? Perempuan itu gila! Dia mengira Wisnu ini adalah kekasih dia yang sudah mati. Papah harus tahu itu!"
"Justru karena itulah, Nak. Ada sesuatu yang ingin Papah lakukan untuk keluarga Pak Sugara …." Pak Alex meminta anaknya untuk bersama-sama duduk. "Papah tahu, ini memang berat. Papah hanya ingin membantu sahabat Papah yang—"
"Itu, 'kan, urusan Papah dengan Pak Sugara. Mengapa justru Wisnu yang dilibatkan? Mengapa bukan Papah saja yang mendekati perempuan itu, sekaligus menikahinya? Papah juga, 'kan, duda?"
PLAK!
"Jangan kurang ajar sama Papah, ya, Wisnu!"
Laki-laki muda itu mengusap pipinya yang perih. Itu bukan hal pertama Wisnu mendapatkan tamparan dari sang ayah. Beberapa bulan lalu, setahun silam, bahkan sebelum waktu-waktu tersebut sekalipun.
Imbuh Pak Alex, "Ingat, ya, kejadian kamu dengan istrimu beberapa bulan lalu. Kalau bukan Papah yang membereskan masalahmu, siapa lagi?"
Wisnu menunduk.
"Kalau bukan karena atas jasa Pak Sugara, Papahmu ini tidak akan seperti sekarang, Wisnu! Itulah sebabnya, Papah sangat ingin membantu sahabat Papah itu. Dengan bantuanmu …."
"Mengurus perempuan itu?" tanya Wisnu pelan.
Pak Alex menarik napas panjang. Lanjutnya berucap, "Bukan hanya itu, tapi juga menjadi pengasuh Selaras selamanya."
"Maksud Papah?"
"Selaras tidak gila, Wisnu," kata Pak Alex. "Dia hanya belum bisa melupakan mantan kekasihnya. Itulah tugas kamu untuk mendampinginya mulai detik ini. Sebagai kompensasi, Papah akan menyerahkan semua usaha sama kamu, jika sampai Selaras sembuh dan mampu mencintaimu."
Wisnu termenung beberapa lama, sampai kemudian senyum laki-laki itu pun terkembang.
---------- o0o ----------
Malam kian merapat ke dini hari, pekat berhiaskan desah alam yang diiringi dendang binatang-binatang kegelapan. Bernyanyi lirih menyaksikan sebuah peristiwa di suatu tempat di pinggiran kota. Di saat jalanan telah lama sunyi, di sana terlihat sebuah kendaraan berhenti dalam kondisi mesin masih menyala, tapi seluruh lampunya dimatikan. Terdapat tiga sosok manusia di dalamnya, duduk membisu bermandikan gulita. Sampai kemudian, salah seorang mulai membuka suara.
__ADS_1
"Apakah yang akan kita lakukan ini benar? Tak adakah jalan lain selain cara ini buat menuntaskan semua permasalahan kita? Jujur saja, rasanya—"
Belum usai yang satu berbicara, sosok lainnya cepat-cepat menyela, "Tetaplah rapat-rapat menutup mulut, karena semakin banyak yang terucap, itu akan mengacaukan rencana ini."
"Tapi, Pah …."
"Diamlah, Wisnu! Papah bilang juga, tetap tutup mulutmu!" seru sosok yang berada di belakang kemudi. "Ini tidak akan terjadi seandainya sejak awal kamu mendengarkan omongan Papah. Sekarang, apa? Papah juga, 'kan, yang harus membereskan?"
Salah satu sosok yang bernama Wisnu menunduk dalam-dalam, ucapnya lirih, "Maafkan Wisnu, Pah. Ini memang salah Wisnu …."
"Sekarang … cepatlah, bawa keluar penumpang kita itu!" ujar sosok tersebut yang ternyata Pak Alex, memberi perintah pada anaknya. "Lakukan, selagi jalanan ini sepi, Wisnu."
"I-iya, Pah!" jawab Wisnu gugup, lantas cepat-cepat beranjak pindah ke bagian kursi belakang kendaraan. Di sana ada sesosok perempuan, tergolek lemas dalam keadaan tidak sadar. "Maafkan aku, Mas. Terpaksa kulakukan ini padamu," desah laki-laki muda ini. Perlahan-lahan mendudukkannya, lalu membuka pintu kendaraan, dan terakhir menyeret keluar.
"Cepatlah, Wisnu! Haruskah Papah turun tangan sendiri dan ikut menuntaskan perempuan itu!" hardik Pak Alex tidak sabar.
"I-iya, Pah, i-iya!"
Wisnu segera mempercepat usahanya untuk mengeluarkan sosok perempuan yang dimaksud.
"Maaf aku, Mas. Maafkan aku …." ucap Wisnu tersedu sedan. Pak Alex yang masih berada di balik kemudi, menoleh dengan tatapan marah, lantas berseru, "Dia bukan Dimas, Wisnu."
"Ini Dimas, Pah. Dimas Aritama …."
"Aarrgghh! Sialan! Ternyata harus kulakukan semua!" rutuk Pak Alex seraya keluar dari dalam kendaraan. Menghampiri Wisnu yang terengah-engah menyeret tubuh seorang perempuan ke tepian sebuah jurang. "Sini, biar Papah sendiri yang membuang perempuan sialan ini! Kita sudah terlalu lama di tempat ini, Wisnu!"
"Dimas … Dimaasss …. "
"Diamlah, Wisnu! Dia bukan Dimas! Tapi dia ini adalah …."
"Tidak, Pah! Tidak! Dia Dimas-ku!"
"Wisnu! Sadarlah! Bangun!"
"Dimas … Dimaasss .…!"
PLAK!
"Papah?" Wisnu menatap Pak Alex seraya mengusap-usap pipi. "Apa yang terjadi, Pah? Apa yang Papah lakukan?"
Pak Alex mendengkus kesal. Dia berkacak pinggang disertai gemeretak gigi menahan amarah.
"Kamu pasti melamun lagi, 'kan?" tanya Pak Alex tajam. "Sudah Papah bilang, lupakan semua masa lalu kamu, kita! Ini saatnya buat kamu berubah, Wisnu! Ada seseorang yang bisa membantumu berubah, atau setidaknya menyembunyikan aib kamu itu! Seorang perempuan dengan permasalahan yang sama denganmu. Dia … Selaras. Anak sahabat Papah sendiri!"
Wisnu celingak-celinguk memperhatikan penampilan Pak Alex, sang ayah. Lalu dirinya sendiri. Sama-sama rapi dengan setelan tuksedo berwarna senada.
"Jadi …."
"Hari ini kita akan melamar Selaras," kata Pak Alex.
"Hari ini juga?" tanya Wisnu ragu. Jawab Pak Alex, "Iya, sekarang. Hari ini juga. Kenapa? Ada masalah denganmu?"
Wisnu menggeleng.
"Ya, sudah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, 'kan? Ayo, kita berangkat!"
"Tapi, Pah … bagaimana dengan Dimas?"
PLAK!
PLAK!
"Lupakan soal Fadli, Laras," seru Pak Sugara mulai hilang kesabaran. "Tidak ada yang bisa kamu harapkan dari laki-laki itu. Dia telah pergi meninggalkanmu dan besar kemungkinan tidak akan kembali!" Sengaja Pak Sugara tidak menggunakan kata 'meninggal' untuk ketiadaan sosok Fadli atas Selaras. Khawatir hal tersebut akan memperburuk kondisi dan suasana hati sang anak.
Selaras menggeleng diiringi isak tangisnya.
"Tidak, Pak," jawab Selaras lirih. "Fadli pasti akan kembali. Laras akan terus menungguinya. Sampai kapan pun."
Pak Sugara nyaris mendaratkan telapak tangan akibat sudah tidak dapat menahan emosi, tapi keburu ditahan Ibu Selaras. "Tahan, Pak! Kekerasan justru akan semakin membuat anak kita sulit untuk bisa segera sembuh! Ingat itu, Pak! Ingat! Nyebutlah …."
"Tapi Bapak sudah tidak tahan lagi, Bu!" timpal Pak Sugara. "Setiap waktu dan hampir semua orang asing yang dia lihat, semuanya dikira si … Fadli! Sampai kapan dia akan melupakan laki-laki itu?"
"Sabarlah, Pak," ujar Ibu Selaras menenangkan. "Kita sedang berusaha. Mudah-mudahan ini jalan terbaik bagi anak kita, untuk bisa menerima perjodohan ini dan perlahan melupakan Fadli."
"Astaghfirullah …." Laki-laki tua itu mengelus dada. Lalu melirik anaknya yang termangu.
"Mas Fadli akan datang, 'kan, Pak-Bu?" tanya Selaras dengan pandangan hampa.
Pak Sugara dan Ibu Selaras saling berpandangan. Usai menarik napas panjang, laki-laki tua itu pun menjawab, "Ya, sebentar lagi Fadli datang. Dia mau melamarmu kembali. Bersiaplah, Nak."
"Pak!" seru Ibu Selaras bingung dengan ucapan suaminya barusan.
"Diamlah, Bu," ujar Pak Sugara pasrah, lalu meninggalkan Selaras yang tersenyum-senyum semringah. Terkecuali istrinya.
"Mas Fadli … akhirnya kamu datang juga, Mas."
---------- o0o ----------
Kendaraan hitam itu perlahan berbelok memasuki halaman rumah. Setelah berhenti tepat di depan garasi, Wisnu segera keluar memutari, lantas membukakan pintu untuk Selaras. Perempuan itu tersenyum begitu laki-laki tersebut mempersilakannya turun.
"Terima kasih, Mas," ujar Selaras seraya menjejakkan kaki, disambut pegangan tangan Wisnu menuntunnya memasuki rumah. "Kamu yakin, kita akan melakukannya hari ini?" tanya Selaras begitu mereka sudah berada di kamar. Duduk berdua di tepian tempat tidur.
Wisnu menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab. Dia memutari pandang ke seisi ruangan yang temaram dengan aroma yang berbeda. Bagaimana tidak, itu adalah hal pertama kali mereka berada dalam satu kamar dengan posisi duduk berduaan seperti itu.
"Aku sendiri masih bingung, Ras," jawab Wisnu setelah beberapa saat terdiam disertai detak jantung yang kian bertalu-talu.
"Kamu masih ragu?" tanya Selaras kembali. Wisnu menggeleng. Wajahnya tertunduk malu dengan kulit pipi merona. Jawab laki-laki tersebut, "Bukan begitu, Ras. Tapi …."
Selaras mengerutkan kening.
"Kalau memang kamu belum siap, aku tidak akan menuntutmu untuk melakukannya hari ini, Mas," ujar perempuan itu sembari memalingkan muka. Imbuhnya kemudian, "Karena aku sadar, kita memang belum saling mencintai, 'kan?"
"Bukan tentang itu, Ras. Tapi …." Wisnu ragu untuk berkata. Dia meremas jemari istrinya dengan lembut, lantas lanjut berucap hampir berupa sebuah bisikan, " … aku belum pernah melakukannya."
Selaras menoleh, terkejut.
"Apa?" Kening perempuan itu kembali mengerut heran. "Bukannya kamu sudah pernah menikah, Mas? Bagaimana mungkin kamu—"
"Iya, aku tahu itu. Tapi …."
"Ada apa sebenarnya denganmu, Mas?" Selaras penasaran. Sepintas laki-laki itu tampak seperti acuh, tapi saat mulai mengenalnya kian dekat, seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan di balik sikap dingin Wisnu selama ini.
__ADS_1
"A-aku … a-aku …."
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Beberapa bulan sebelum mereka, Selaras dan Wisnu, berumah tangga atas dasar perjodohan, laki-laki tersebut berencana menikahi seorang perempuan bernama Sarah. Semula semuanya berjalan lancar, sampai kemudian awal masalah pun timbul.
"Kenapa baru sekarang kamu berterus terang, Sarah? Kenapa tidak dari awal? Setidaknya, kita bisa mengubah rencana ini sebelumnya. Sekarang, coba kamu pikir, kita sudah terlanjur melangkah hingga tahapan terakhir ini!" seru Wisnu menahan emosi yang hampir meledak. Dia membanting hiasan tarbus pengantin di kepala, kemudian melepas balutan baju velvetnya dan melempar kasar ke lantai kamar pengantin disertai berdengkus.
"Maafkan aku, Mas Wisnu," ucap Sarah seraya bersimpuh di belakang kaki suaminya yang merasa kecewa. "Aku tahu, ini akan teramat menyakitkan. Bagiku, terutama kamu, Mas. Tapi … aku tidak mau bertahan dalam kepura-puraan kalau hal ini tidak kuungkap sama kamu."
"Kenapa baru sekarang, Sarah! Masalahnya itu!" teriak Wisnu geram. "Kalau sejak awal kamu menyukai adikku, kenapa aku yang kamu pilih?!"
Tubuh Sarah bergetar hebat, antara menahan rasa takut dan merasa bersalah, karena telah menyakiti laki-laki tersebut.
"Aku telah mengenal Dimas jauh sebelum bertemu denganmu, Mas Wisnu."
"Itu bukan sebuah alasan, Sarah!" bentak Wisnu menyeramkan. "Apa pun yang kauucapkan sekarang, semua sudah terlambat. Kita telah terlanjur menikah, dan itu sangat menyakitiku. Kamu harus tahu itu!"
Wisnu memiliki seorang saudara kembar laki-laki bernama Dimas Aritama. Mereka berdua tumbuh berkembang tanpa kehadiran seorang ibu, karena meninggal dunia sewaktu melahirkan Wisnu dan Dimas dulu. Kondisi kedua bayi tersebut cukup memprihatinkan, dimana sang kakak memiliki masalah dengan mental, sementara kelainan jantung diidap oleh Dimas, sang adik.
Di bawah asuhan Pak Alex yang tengah merintis usaha bersama kawan lamanya bernama Pak Sugara, perlahan-lahan kondisi kedua anak tersebut sedikit membaik, walaupun belum pulih total hingga mereka besar. Wisnu dan Dimas saling menyayangi, hingga nyaris tidak dapat dipisahkan.
Permasalahan pun timbul setelah mereka tumbuh dewasa. Tepatnya saat Dimas bermaksud untuk bertunangan dengan seorang perempuan tambatan hati bernama Sarah. Namun Pak Alex bersikeras menolak, dengan alasan khawatir akan menyakiti Wisnu. Di samping karena statusnya sebagai seorang kakak, kondisi mental laki-laki tersebut yang paling ditakuti oleh Pak Alex bakal kembali mengalami kemunduran. Di sisi lain, jantung Dimas pun terancam seandainya rencana pernikahan mereka dibatalkan.
Akhirnya jalan tengah pun diambil, Pak Alex menangguhkan pertunangan Dimas dengan Sarah, kemudian mengirim laki-laki penyakitan itu secara mendadak ke luar negeri untuk menjalankan usaha baru milik keluarga. Sementara Wisnu sendiri diam-diam dinikahkan dengan Sarah tanpa sepengetahuan Dimas. Satu hal lagi yang sangat dirahasiakan, Sang kakak sama sekali tidak mengetahui hubungan antara Sarah dengan adiknya.
Kemudian ….
Kemiripan Wisnu dan Dimas yang hampir tidak dapat dibedakan, menipu Sarah, sehingga perempuan yatim piatu tersebut menerima pernikahan itu. Namun semua terkuak saat acara ijab kabul. Laki-laki yang menikahinya bukanlah Dimas, melainkan Wisnu.
Di tengah kekalutan rumah tangga pasangan muda tersebut, tanpa sepengetahuan Pak Alex maupun Wisnu, Sarah diam-diam mencari-cari keberadaan Dimas dan mengabari tentang dirinya.
"Aku tidak percaya, Sarah," jawab Dimas melalui percakapan interlokal. "Bisa saja ini sebagai siasat agar aku lekas menikahimu, 'kan?" tukas kembali laki-laki tersebut. "Papah dan Mas Wisnu sangat menyayangiku, dan itu tidak mungkin mereka lakukan padaku. Itu harus kauketahui, Sarah."
Sarah mulai tersedu sedan.
"Ya, Tuhan … Mas Dimas," pekik Sarah melalui ponselnya. "Aku sudah tidak tahan hidup dengan Mas Wisnu. Kakakmu itu benar-benar lain denganmu. Dia … itu g-gila."
"Kamu mengatai kakakku gila? Kurang ajar sekali kamu, Sarah!" Dimas pun marah. "Selama ini tidak ada seorang pun yang boleh menghina Mas Wisnu! Tak seorang pun, tapi kamu …."
"Mas … maafkan aku," ungkap Selaras lirih. "Aku tidak bermaksud begitu, tapi kenyataan yang aku dapatkan, memang seperti itu. Kakakmu itu mempunyai kelainan jiwa. Dia—"
"Diam kamu, Sarah!"
Dimas yang masih tidak percaya dengan kejadian tersebut, akhirnya kembali ke tanah air, bermaksud menemui Pak Alex serta Wisnu. Di sana, kenyataan itu pun terungkap melalui Sarah.
Dimas terkejut luar biasa. Penyakit jantungnya pun langsung kambuh, dan merenggut nyawa laki-laki tersebut seketika.
Wisnu datang terlambat dan melihat Sarah yang tengah menangisi jasad Dimas. Di mata sang kakak, kematian adiknya ini akibat kesalahan istrinya. Sarah dikira telah melakukan pembunuhan. Maka laki-laki yang bermasalah dengan mentalnya ini pun menyerang perempuan tersebut, merawak rambang.
Nahas, akibat amukan Wisnu, Sarah mengalami luka-luka teramat serius. Bahkan nyaris terenggut nyawanya. Kemudian di tengah kekalutan seorang Wisnu, dia menghubungi sang ayah.
"Ya, Tuhan! Kenapa jadi seperti ini?" seru Pak Alex panik.
"Dimasku, Pah! Dimasku!" teriak Wisnu sambil mengguncang-guncangkan tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa.
"Tenang, Wisnu! Diamlah! Biarkan Papah berpikir sebentar …." Pak Alex memutar otak agar kejadian ini tidak sampai terendus pihak lain.
Demi melindungi sang anak, Pak Alex memutuskan membuang tubuh Sarah jauh-jauh. Saking paniknya, mereka mengira perempuan itu sama-sama telah meninggal dunia, padahal ….
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
"A-aku ingin mandi dulu, R-ras …."
"Mas …."
"M-maaf, R-ras."
Wisnu bergegas meninggalkan Selaras yang keheranan.
'Laki-laki aneh,' gumam perempuan itu terpaku menatap punggung suaminya hingga lenyap di balik pintu. 'Ada apa sebenarnya dengan dia? Mungkinkah ada sesuatu yang telah terjadi, sampai dia berubah seperti ini.'
Lama Selaras diam merenung di sana menunggui Wisnu, sampai kemudian tersenyum-senyum sendiri, seraya merogoh ponselnya. Mencari-cari sebuah nomor kontak, lantas bermaksud melakukan panggilan. Namun, tiba-tiba suara dering itu terdengar begitu dekat. Berasal dari tas kerja ….
"Mas Wisnu?"
Selaras memandang layar ponselnya yang bertuliskan nama kontak Fadli, lalu beralih pada tas kerja milik Wisnu. Dering itu masih menjerit-jerit di dalam sana. Belum percaya, dia ganti panggilan ke nomor sang suami. Suara itu kembali terdengar dari arah yang sama.
"Mas Fadli? Mas Wisnu?" Selaras bertanya-tanya sendiri. "Jadi … selama ini …."
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Selaras terkejut. Suara itu begitu keras, hingga ….
"Selamat siang, Bu."
"Iya, selamat siang."
Selaras melihat beberapa sosok lelaki berseragam coklat berdiri tegap di depan rumah.
"Mohon maaf mengganggu," kata salah seorang di antara mereka dengan suara keras. "Apakah benar ini rumahnya Saudara Wisnu Aritama?"
Selaras memandangi sosok-sosok tersebut satu per satu. Jawab perempuan itu lirih, "Iya, benar. Saya istrinya. Mas Wisnu sedang mandi di dalam. Ada apa, ya, Pak?"
Kemudian sosok tadi memperlihatkan sebuah kertas, menjelaskan, kemudian tanpa dipinta memerintahkan yang lain agar segera masuk ke dalam rumah.
Selaras terperenyak. Bersimpuh lemah tanpa bisa berkata-kata. Bahkan ketika Wisnu meronta dalam cekalan sosok-sosok itu pun, perempuan tersebut hanya bisa menatap hampa.
"Laras! Katakan pada mereka, aku tidak bersalah! Aku tidak pernah melakukan apa pun seperti yang mereka tuduhkan padaku!" teriak Wisnu berusaha melepaskan cekalan tangan-tangan kekar itu. Tubuhnya diseret paksa ke luar dan dimasukkan ke dalam sebuah kendaraan.
"Suami Ibu terlibat tindak kriminalitas, penganiayaan terhadap seorang perempuan bernama Sarah. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya bersama dengan Pak Alex, bapaknya. Ibu kenal dengan perempuan bernama Sarah tadi?" tanya mereka sesaat sebelum membawa Wisnu pergi.
Selaras menggeleng beberapa kali. Dia balik menatap sosok tadi dengan mata berkaca-kaca.
Tanya Selaras perlahan padanya, "Mas Fadli … akhirnya kamu datang juga, Mas. Aku sangat merindukanmu, Sayang. Hihihi."
Sosok berseragam coklat itu tidak membalas. Dia menatap pilu pada Selaras, lalu memerintahkan yang lain agar menghubungi pihak keluarganya.
Perempuan itu rupanya tengah berbahagia. Entah karena baru saja lepas dari Wisnu, atau kini telah menemukan sosok 'Fadli' yang baru. Tentunya kebahagiaan itu nyaris tidak bertabir. Sebab bagi Selaras kini, antara benar dan tidak, sama sekali tiada batas apa pun, terkecuali semringah melalui tawa.
Seperti saat ini, esok, lusa, mungkin seterusnya. Selaras sudah menemukan dunia itu sendiri. Sebuah alam tak berbatas sebagaimana yang selama ini mengelilinginya.
__ADS_1
"Hihihi … Mas Fadli-ku, Sayang. Kapan kamu akan menikahiku lagi? Kamu sudah berjanji, 'kan? Hihihi …."