Zona Dewasa

Zona Dewasa
15. Misteri Raibnya Seorang Suami


__ADS_3

...MISTERI RAIBNYA SEORANG SUAMI...


...Penulis : David Khanz...


...—---- o0o —----...


"Haikal! Faizal! Cepat, kita pulang sekarang!" seru Ibu saat aku dan adikku sedang asyik menyiangi kebun. Beliau tampak tergesa-gesa menghampiri kami, menerobos rimbunan dedaunan sayuran yang siap dipanen.


"Ada apa, Bu?" tanyaku terheran-heran seraya memerhatikan sosok beliau yang kian mendekat. Jawab Ibu dengan raut wajah cemas, "Jangan banyak tanya dulu. Lekas, bawa adikmu serta ke rumah sekarang juga!"


Dengan benak masih bertanya-tanya, aku segera menurut. Menarik lengan Faizal sambil menjinjing hasil kebun yang kami petik siang itu, mengikuti jejak cepat langkah kaki Ibu menuju rumah. Sesekali pula kulihat beliau menoleh keempat arah seakan-akan tengah dilanda ketakutan.


"Ada apa sih, Bu?" tanyaku kembali begitu tiba di rumah. Ibu tidak menjawab, tapi bergegas membereskan pakaian seadanya dan dimasukkan ke dalam satu buntalan besar. "Bu, kita pergi lagi?" Aku semakin bingung dibuatnya.


"Sudahlah, Kak! Jangan banyak bicara dulu," ucap Ibu tanpa melirik sedikit pun pada kami berdua. "Cepat bantu Ibu berkemas-kemas, sebelum mereka datang ke tempat ini!"


Mereka? Siapa yang Ibu maksud dengan mereka? Apakah orang-orang itu lagi? Sekelompok laki-laki berwajah garang yang kerap datang menemui Ibu, bertanya-tanya, lalu berpesan dengan kalimat yang sama, yakni; "Ingat, jangan coba-coba kalian melakukan hal bodoh atau kami akan berbuat sesuatu yang tidak pernah kalian harapkan!"


Hal bodoh macam apa yang tidak mereka ingin kami lakukan? Bertahun-tahun sudah pertanyaan itu kerap mewarnai isi benak ini. Sejauh itu pula tidak seorang pun mau menjawab, termasuk Ibu sekalipun.


"Sudahlah, kamu masih kecil," ujar Ibu tiap kali kutanya. "Lebih baik kita diam saja. Ibu minta, jangan lagi bertanya-tanya tentang itu."


Tidak bisa. Kini aku bukan lagi seorang anak kecil. Lihat tubuh ini. Sekarang aku sudah tumbuh dewasa. Bahkan tinggi badan saja sudah melebihi panjang tubuh Ibu. Hal tersebut berarti bahwa jawaban itu harus segera diketahui secepatnya.


"Apa untungnya sih kamu mau tahu urusan Ibu, Kak?" Ibu mulai mengeluh kesah saat kudesak. "Ibu sudah lelah dengan keadaan seperti ini. Ibu capek. Jika bukan demi kalian berdua, sudah lama Ibu ingin menyerahkan diri pada mereka. Terserah, apapun yang terjadi, Ibu pasrah."


Segera kudekati Ibu. Menyeka derai air mata beliau dan menatap pilu wajah yang tampak semakin tua itu. Kutanya dengan suara perlahan dan lembut, "Ini ada hubungannya dengan Ayah 'kan, Bu?"


Seketika Ibu melirik. Tidak kaget, melainkan ada tatapan lain yang kumaknai bahwa memang aku kini telah dewasa, lambat laun pertanyaan itu pasti mampu kuterjemahkan sendiri.


"Benar 'kan, Bu?" tanyaku, kembali sedikit mendesak.


Memang Ibu tidak lekas menjawab, tapi tatapan beliau tidak bisa lagi menipuku. Setidaknya menunda hingga lisan ini berhenti bertanya dan bertanya seperti dulu. Tidak. Kali ini, hari ini, semuanya harus segera terbuka. Bukan lagi mendengar cerita yang sama dan tidak pernah diketahui kapan tutur Ibu tersebut berakhir jelas.


Ya, masih kuingat penuturan dari Ibu, sepuluh tahun lalu Ayah pulang dari perjalanan jauhnya. Menyampaikan kabar suka dan duka bagi kami bertiga; Ibu, aku, dan si bungsu Faizal. "Ayahmu mendapatkan tawaran kerja. Tempatnya jauh di seberang pulau," tutur Ibu kala aku masih berusia remaja saat itu. "Katanya, ini kesempatan terbesar yang harus dia terima. Gajinya lumayan besar dan cukup untuk membiayai hidup serta pendidikan kamu dan Faizal sampai kuliah nanti …." Sejenak, Ibu berhenti berkisah. Menyeka terlebih dahulu genangan air mata, menarik napas panjang, lantas melanjutkan cerita. "Tapi … Ayahmu berkata lagi, mungkin untuk jangka waktu setahun atau dua tahun, dia tidak bisa pulang sama sekali. Menurutnya, Ayahmu harus fokus menyelesaikan pekerjaan itu dengan benar. Karena itu adalah sebuah proyek besar dan akan menjadi hasil karya Ayahmu seumur hidup."


"Terus … mengapa sampai sekarang Ayah belum pulang juga, Bu?" tanyaku polos, tapi walaupun begitu, sudah bisa turut menghitung seberapa Ayah telah pergi dan berjanji. "Bukankah ini sudah lima tahun berlalu?"


Dari cerita Ibu pula, aku tahu bahwa Ayah adalah seorang Insinyur ternama di masa itu. Bertahun-tahun mengabdi pada negara dengan bekerja sebagai seorang guru di sebuah Sekolah Menengah Atas pemerintahan, tapi dengan penghasilan kurang dari kata cukup. Kemudian demi mengubah nasib dan perekonomian keluarga, tawaran pekerjaan lain yang berkompeten dengan latar jalur keilmuannya itu pun Ayah terima.


"Ini … simpan dan pegang oleh Ibu," ucap Ayah sebelum pergi meninggalkan kami. Sebuah benda kecil, tipis, dan mirip KTP, kulihat disematkan ke dalam genggaman tangan Ibu. "Semua gaji yang Ayah dapatkan nanti, akan ditransfer ke rekening Ayah. Ibu tinggal ambil saja setiap awal bulan dan gunakan sebijak mungkin, ya."


"Ayah sendiri bagaimana? Darimana Ayah bisa memenuhi buat kebutuhan hidup Ayah di sana nanti?" tanya Ibu dengan suara terdengar tercekat, seperti tengah menahan tangis kesedihan. Jawab Ayah berusaha tegar, "Kalau masalah itu sih, gampang. Ayah punya tunjangan-tunjangan lain. Ya, memang tidak terlalu besar, tapi Ayah rasa cukuplah buat sekadar makan sehari-hari. Yang terpenting, keadaan kalian bisa tercukupi selama Ayah tinggal pergi. Doakan saja ya, semoga semuanya berjalan baik dan lancar, sampai Ayah nanti bisa kembali pulang."

__ADS_1


Kami berpelukan bersama-sama sebelum Ayah berangkat, kemudian beliau menaiki sebuah kendaraan roda empat bersama empat sosok lelaki yang diperkenalkan Ayah sebagai kawan-kawan kerja. Benarkah demikian? Entahlah, karena menurutku saat itu, postur Ayah yang kecil dan kurus, tidak sebanding dengan badan mereka yang kekar-kekar dan tampak legam berotot.


Ada satu hal yang membuat kami bingung, semenjak keberangkatan Ayah itu, hampir semua foto-foto keluarga bersama Ayah beserta surat-surat berharga milik beliau, tiba-tiba raib entah kemana. Tidak satu pun tersisa. Termasuk sertifikat dan juga ijazah-ijazah pendidikan ikut menghilang. Ayah membawa serta itu semua? Bahkan Ibu saja tidak tahu dan dibuat terheran-heran.


Sebulan, dua bulan, hingga hampir menginjak tahun pertama sejak kepergian Ayah, situasi dan kondisi masih dirasakan normal. Kiriman surat melalui Kantor Pos, senantiasa kami terima usai sepekan di bulan pertama. Banyak sekali cerita yang ditulis dan tampak sekali Ayah merasa senang dengan pekerjaan barunya. Namun sejauh itu pula, belum pernah sekalipun bercerita tentang jenis pekerjaan maupun disertai lembar foto sebagai salah satu bukti. Intinya, Ayah hanya menulis, bercerita, bertanya kabar, tapi belum juga berkenan menjawab pertanyaan balasan dari surat-surat yang Ibu kirim. Seolah-olah kami hanya bisa mendengar suara Ayah, tapi gaung dari keluarga tidak pernah sampai ke seberang sana.


"Mungkin Ayah kalian sedang sibuk, sampai-sampai belum sempat membaca surat-surat dari kita," ujar Ibu menghibur rengek kerinduan kami setiap kali surat-surat dari Ayah usai dibacakan. "Berdoa saja, mudah-mudahan Ayah sehat selalu dan bisa kembali lagi pulang berkumpul bersama kita ya, Anak-anak."


Semula aku percaya ucapan Ibu. Namun beberapa lama kemudian, secara tidak sengaja, aku menemukan surat-surat yang kami kirim itu selalu kembali dan tidak pernah sampai ke alamat tujuan. Mengapa? Adakah kesalahan penulisan di sana? Tidak. Ada stempel tertera di sana; ALAMAT TUJUAN TIDAK DIKETAHUI. Berbarengan dengan itu, aku kerap memergoki Ibu yang tengah menangis sendirian.


"Tidak ada apa-apa, Kak," jawab Ibu tiap kali kutanya. "Ibu hanya lagi kangen, terus berdoa buat Ayahmu, eh … kok, tidak terasa … jadi menangis begini. He-he."


Tidak. Aku pikir, Ibu menangis bukan karena sedang merindukan Ayah. Pasti ada sesuatu yang baru. Kabar terbaru tentunya, mungkin. Apalagi? Itu semenjak rumah kami kerap diawasi oleh seseorang yang tidak kami kenal. Siapa? Entahlah. Rupa mereka seperti wajah kawan-kawan Ayah dulu sewaktu beliau hendak berangkat pergi. Seram dan menakutkan.


Pernah suatu ketika, aku melihat seseorang dari mereka mencegah Ibu saat hendak keluar rumah.


"Saya mau memeriksa kiriman uang dari suami saya di Kantor Pos, Pak," ujar Ibu berusaha menjelaskan. "Sudah tiga bulan ini tidak ada kiriman uang dari suami saya. Bahkan surat yang biasa kami terima pun, sekarang sudah tidak pernah lagi sampai."


Sosok menyeramkan itu malah tersenyum kecut, menggidikkan. Lantas berucap berat, "Ibu tidak diperkenankan keluar dari rumah. Untuk keperluan sehari-hari, akan kami antarkan secukupnya untuk perbekalan sepekan ke depan."


"Ya, Tuhan! Ada apa ini? Mengapa saya dihalang-halangi? Apa kesalahan saya dan siapa kalian ini sebenarnya?"


"Ibu tidak perlu tahu siapa kami," jawab mereka terdengar pongah. "Yang pasti, jika Ibu melakukan hal yang bodoh, terpaksa kami akan melakukan sesuatu yang tidak Ibu kehendaki. Paham ucapan kami, 'kan?"


"Terkecuali Ibu, kedua anak-anak Ibu, silakan pergi sekolah. Tapi kalau sampai melakukan kesalahan, kalian bertiga akan mendapat hukuman dari kami. Paham?"


Ibu ketakutan dan kembali memasuki rumah, mengunci pintu, dan berpesan pada kami untuk selalu berhati-hati terhadap orang-orang asing di luar tersebut.


"Siapa orang-orang itu, Bu? Mengapa mereka melarang Ibu berpergian?" tanyaku heran dan ikut merasa ketakutan. Jawab Ibu dengan suara gemetar, "Ibu sendiri tidak tahu, Kak. Tiba-tiba saja mereka datang dan selalu mengawasi kita. Kalian jangan kemana-mana, ya. Tetaplah di dalam rumah kalau bukan hendak pergi ke sekolah."


"Iya, Bu."


Semilir kabar itu pun akhirnya sampai ke ruang dengarku. Seseorang membisi bahwa Ibu pernah mendatangi seorang petinggi pemerintahan wilayah setempat untuk sebuah urusan. Entahlah masalah apa. Namun sejak itu pula, gerak-gerik keluarga kami tiba-tiba selalu dipantau oleh orang-orang seperti tadi, secara bergantian dan hampir di setiap waktu.


Barulah kini, Ibu bersedia membeberkan apa yang selama ini beliau pendam dari aku.


Sebelum berbicara, Ibu menyodorkan dua gelas minuman padaku dan buat Faizal.


"Minumlah, sebelum kita bersiap-siap pergi dari sini," kata Ibu disertai senyum lirih.


"Iya, Bu."


Kemudian ….

__ADS_1


"Secara tidak sengaja, Ibu mendapatkan kabar …." ujar Ibu melanjutkan cerita sambil sesekali melihat-lihat ke luar rumah, " … bahwa orang nomor satu di wilayah kita ini, menggunakan surat-surat berharga dan ijazah milik Ayahmu untuk menduduki jabatannya sekarang, Kak."


"Bagaimana Ibu tahu?" Aku mulai turut berpikir-pikir. Jawab Ibu perlahan-lahan, "Tentu saja Ibu tahu, Kak. Ibu ingat persis; nama, kelahiran, fakultas, juga foto Ayahmu sewaktu muda dulu yang tertera di sana. Tapi mengapa sekarang tiba-tiba semua itu dipegang oleh pejabat tadi?"


"Ibu yakin itu milik Ayah?" tanyaku kembali masih belum bisa memercayai penuturan Ibu barusan.


"Ibu yakin sekali. Bagaimana seorang istri bisa melupakan sosok suaminya sendiri?" Tatap mata Ibu terlihat geram. "Apakah karena rupa Ayahmu itu mirip dengan raut wajah pejabat tadi? Ah, Ibu rasa tidak sepenuhnya begitu. Tapi mengapa pula namanya pun malah serupa? Tadinya Ibu pikir, dia adalah Ayahmu yang telah sepuluh tahun menghilang. Nyatanya bukan."


Tidak! Ini tidak mungkin! Jelas sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Ayah pergi, menghilang beserta dokumen-dokumen pribadi, foto-foto keluarga, surat balasan yang tidak pernah sampai, orang-orang berwajah sangar itu, dan sekarang muncul sosok laki-laki yang —kata Ibu— mirip, walaupun aku sendiri belum pernah melihat bagai wujud asli orang tersebut.


Bertahun-tahun kami berpindah-pindah tempat demi menjaga keselamatan, menghindar dari sosok-sosok yang kerap mengancam. Lantas hubungan dari semua yang sudah kami lewati itu dengan Ayah, apa? Kalau begitu, ada seseorang yang menghendaki 'kepergian' Ayah dan merampas keuntungan tertentu dari beliau. Benarkah demikian? Cuma karena alasan seperti itu? Ah, kepala ini mendadak pusing berdenging. Lantas perlahan menaruh gelas minuman yang sedari tadi tergenggam. Bersamaan dengan itu, menyaksikan Faizal sudah tergolek lelap di atas balai pembaringan.


"Bu Mariana!"


Seseorang berteriak memanggil dari arah luar rumah.


"Ya, Tuhan! Itu mereka, Bu?" tanyaku terperangah di tengah denyut menyakitkan mengujam seisi batok kepala. "I-ibu … I-ibuuu …."


Kulihat Ibu malah tersenyum, lantas bergegas keluar menghampiri.


"Aaahhh, Dodo Subiandono … mengapa lama sekali kamu menjemput aku, Sayang?" Terdengar Ibu menyapa seseorang.


"He-he … kamu masih ingat saja nama asliku, Mariana Sayang. Bukankah sekarang namaku berubah menjadi Dodo Wibowo, humm?" Yang ini suara laki-laki.


"Ah, itu 'kan nama mendiang suamiku yang dulu, Mas Dodo. Hi-hi."


"Bagaimana dengan kedua anak laki-laki itu, Mariana?"


"Hhmmm, kamu urus saja sesukamu. Lagipula, terlalu lama aku mengurus anak-anak tiriku itu. Sekarang, sudah saatnya aku kembali bersamamu 'kan, Sayang? Bagaimana pula dengan Irene?"


"Dia sudah kukirim bersama suamimu yang guru miskin itu, Mariana sayang. Kini saatnya, kita berdua melanjutkan hubungan terdahulu yang sempat terputus, gara-gara kedua orangtuamu lebih memilih si Insinyur sialan itu ketimbang aku. He-he."


"Aaahhh, sayaaanggg. Aku sudah tidak sabar menjadi seorang Ratu bagi rakyatmu, Mas Dodo. Sekarang … kamu sudah memiliki semuanya. Aku dan juga gelarmu. Hi-hi."


"He-he. Tidak sia-sia aku menunggumu sekian tahun, Sayang. Ternyata kamu lebih pintar dari yang aku duga."


"Aku juga, Sayang."


Aku masih jelas mendengar obrolan mereka berdua di antara denging yang tidak kunjung berkesudahan. Tapi mengenai Ibu … a-aku … sama sekali tidak pernah menduga, b-bahwa … b-bahwa ….


"Aaahhh …."


Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya!

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2