
...MENJEMPUT LEMBAYUNG DI PENGUJUNG SENJA...
...Penulis : David Khanz...
Magdalena, perempuan muda yang biasa kupanggil Lena, terhuyung menarik koper besar menuju bagasi kendaraan yang terparkir di depan rumah. Wajahnya muram tergurat sisa pilu yang masih membekas di antara tatapan mata hampa. Garis tawa yang dulu pernah kulihat melintang manis di pipi, kini seolah sirna tak tertinggal. Hanya desah napas berat, sesekali mengiringi langkah kaki menuju alam bebas. Dunia baru yang lama dia rindukan, setelah terkatung-katung dalam rona takdir memilukan.
"Kamu sudah siap, kan, Len?" tanyaku ketika perempuan itu merandek di ambang pintu depan rumah. Melirik sesaat, lalu melepas pegangan gagang koper lanjut menyandarkan diri di dinding. "Aku bingung, Frans," keluhnya bimbang.
Kuraih pundaknya, menuntun perlahan ke arah sofa. Berusaha menenangkan galau yang tengah dia rasakan di antara duduk, bertemankan segelas air putih tersaji di atas meja. "Minumlah dulu. Biar kamu bisa sedikit rileks, Len," kataku seraya menyorongkan minuman tersebut.
"Terima kasih, Frans," ujar Lena setelah meneguk hampir setengah isi gelas seperti orang kesetanan. "Untung ada kamu. Kalau tidak, entahlah ... apa yang akan terjadi padaku selanjutnya."
Aku tersenyum tawar. "Tak apa, Len. Justru aku sangat bersyukur sekali, bisa datang membantu walaupun terlambat mengetahui semuanya."
Kunyalakan sebatang rokok, lalu memberikan pada Lena. Perempuan itu segera menghisap penuh nikmat, kepulan asap nikotin melalui bibirnya yang kering kerontang. Tak ada sisa kecantikan yang dulu pernah membuat hati ini tergila-gila. Sekarang, laksana seonggok jerangkong hidup di antara buih belatung. Kurus kering, kusam, bau, serta dipenuhi memar bekas hantaman benda tumpul di sekujur tubuh. Menyedihkan.
"Maafkan aku, ya, Frans," kata Lena di sela keheningan obrolan kami, "dulu sempat membuatmu kecewa. Pastinya kamu juga sakit hati, kan?"
"Lupakanlah, Len. Itu sudah lama berlalu. Lagipula--"
"Tidak, Frans. Bagiku itu sebuah kesalahan fatal yang pernah kulakukan. Lebih memilih Alex ketimbang kamu. Akhirnya, seperti inilah garis kehidupan yang harus kurasakan," imbuh Lena seraya menatapku dalam-dalam, lengkap dengan lelehan air mata menyusuri pipi. "Aku terbuai dengan semua bujuk rayu Alex, Frans."
Kupejamkan mata sesaat diiringi helaan napas panjang, mengingat kejadian beberapa tahun ke belakang. Di mana ketika sosok gadis terkasih itu, menanggalkan cincin tunangan yang tersemat dengan indah di jari manis, lalu melemparkannya tepat ke arah mukaku. Lena mengakhiri hubungan kami secara sepihak, diiring ucapan tajam mengiris dinding hati dengan perih. "Nih, aku kembalikan barang murahan yang kamu anggap bisa memilikiku seutuhnya, Frans. Sekarang, aku bebas menentukan pilihanku sendiri. Hidup yang layak bersama laki-laki yang lebih segala-galanya darimu."
"Len .... " panggilku tak percaya. "Apa maksudmu dengan semua ini?"
Gadis itu tersenyum kecut. "Maaf, Frans. Aku tak mau hidup denganmu. Saat ini, ada laki-laki lain yang berjanji akan membawaku pada kehidupan lebih baik, dan sanggup memenuhi semua impianku."
Aku masih tak percaya dan mencoba untuk menyadarkan Lena, serta mempertahankan jalinan kasih yang sudah lama terikat. "Siapa dia, Len? Siapa? Kamu sadar, kan, apa yang kamu ucapkan itu?"
"Tentu saja, Frans," jawab Lena kembali diiringi senyum kecut. "Kamu juga pasti kenal dengan laki-laki itu."
"Dia? Siapa?"
__ADS_1
"Alex."
"Alex? Sepupuku?"
Lena tertawa lebar. "Siapa lagi? Tentu saja Alex sepupumu yang tajir itu, Frans."
Aku menggaruk kepala berulang-ulang. Ruang kepala ini makin tak percaya untuk menampung semua bualan gadis itu. "Bagaimana bisa kamu berpaling sama dia, Len? Dia itu--"
"Playboy? Cassanova? Buaya darat? Hidung belang?" Lena tertawa keras. "Istilah apalagi yang akan kamu gunakan untuk memfitnah dia, Frans. Hahaha. Yang pasti, dia lebih kaya dari kamu, dan itu yang sangat kusuka dari Alex. How about your self? It's nothing, Frans. Just sorry to say good bye .... "
"Len! Lena!"
Ah, percuma saja kupertahankan dia. Lena sudah terjebak mulut berbisa Alex. Gadis cantik itu rela mengingkari semua janji yang pernah terucap, untuk hidup bersama laki-laki yang baru dikenal.
Beberapa tahun lamanya, tak pernah terdengar kabar tentang Lena. Gadis itu benar-benar menghilang dalam gemerlap kehidupan duniawi bersama Alex. Aku pun seperti tak ingin mencari-cari tahu. Hanya ingin fokus dengan pekerjaan dan bisnis yang semakin berkembang pesat, sambil melupakan rasa perih di balik dada ini. Sampai kemudian di suatu waktu, ponselku berdering disertai sebuah nama tertera jelas di layar ... MAGDALENA.
"Frans .... " sahut suara Lena di seberang sana.
"Kamu masih mengenal suaraku?" tanya Lena dengan suara lirih.
"Tentu saja, Len. Aku masih menyimpan nomor kontak kamu. Ada apa? Kamu--"
Tiba-tiba terdengar suara tangis Lena. Begitu memilukan dan membuahkan banyak tanya dalam benak ini. "Kamu kenapa, Len? Kamu masih sama Alex, kan?" imbuhku penasaran.
Tangis Lena semakin keras. Dia berusaha berucap di antara sedu sedan yang tak kunjung mereda. "Tolonglah aku, Frans. Datanglah sekarang juga. Aku butuh bantuanmu segera!"
"A-ada a-pa, Len? A-pa yang ter-jadi?" Tiba-tiba aku merasa gugup dan mulai berpikir ada yang tak beres dengan gadis itu.
"Datanglah sekarang juga, Frans. Aku tak sanggup mengatakannya di sini," jawab Lena lirih.
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Kamu berada di rumah Alex, kan?" tanyaku menerka dan dijawab singkat oleh Lena, "iya."
Tak sampai satu jam, aku sudah berada di tempat tujuan. Rumah dalam keadaan sepi dan tak terkunci. Alex memang memiliki kediaman pribadi yang cukup besar dan luas. Hanya dihuni oleh mereka berdua, Alex dan Lena.
__ADS_1
"Frans .... " panggil Lena dari sebuah ruangan kamar. Aku segera menghampiri arah asal suara. Terkejut, itulah awal yang dirasakan. Bagaimana tidak, lantai serta kasur banyak dipenuhi bercak-bercak darah segar. Sementara Lena terduduk di sebelah tubuh Alex yang tergeletak diam tak bergerak, terpotong-potong dalam beberapa bagian. Menggidikkan!
"Apa yang terjadi, Len?" Aku menatap gadis itu dengan sebilah pisau tergenggam ditangannya, penuh dilumuri cairan amis berwarna merah.
Lena menangis histeris. "Aku telah membunuh laki-laki jahanam itu, Frans!"
"Ya, Tuhan! Kenapa bisa seperti ini? Ada apa sebenarnya di antara kalian berdua? Aku ... aku ... " Ucapanku tak sempat usai, karena tiba-tiba isi lambung terdorong kuat disertai rasa mual hebat.
Setelah tuntas mengeluarkan muntahan, aku terdiam mendengarkan penjelasan Lena yang terbata-bata. Dia mengaku telah membunuh Alex, karena sudah tak tahan dengan perlakuan kasar laki-laki tersebut. Selama ini Lena seringkali menjadi sasaran amarah kekasihnya itu jika tengah dilanda emosi. Ternyata di samping dicap dengan stempel playboy, Alex juga seorang temperamental. Manusia berkepribadian ganda. Kadang lembut dan beradab, namun di sisi lain bisa beringas melebihi kebuasan binatang liar sekali pun.
Di puncak penderitaan yang selama ini ditahan, Lena nekat mengakhiri hidup laki-laki durjana itu di ujung pisau, setelah sebelumnya meracuni. Bahkan dengan gejolak rasa benci, membutakan akal waras gadis itu untuk melampiaskan murkanya pada tubuh Alex yang telah menjadi mayat. Sayatan serta ayunan benda pipih tajam di tangan, berhasil memutilasi dalam beberapa bagian.
Aku terduduk lemas tak bertenaga menatap kegilaan mantan orang terkasih tersebut. Bagaimana tidak, sambil menceracau tak karuan, dia sibuk memasukan potongan-potongan tubuh Alex ke dalam koper besar yang sudah disiapkan. "Bantu aku membuang tubuh bajingan ini ke beberapa tempat sepi, Frans. Aku tak ingin dia membusuk di sini," ujar Lena menatapku tajam.
Aku menutup wajah sebentar, tak kuasa melihat genangan darah yang masih tercecer di lantai ruangan. "Aku butuh udara segar dulu, Len. Perutku mual. Rasanya ingin minuman segar untuk memulihkan tenagaku kembali."
"Pergilah ke dapur. Aku akan membersihkan sisa darah di ruangan ini," timpal Lena menggidikkan. Aku menurut, kemudian menunggunya di ruang depan, setelah sebelumnya mempersiapkan kendaraan dengan posisi pintu bagasi terbuka lebar.
"Kita berangkat sekarang ke arah utara," suara Lena mengejutkan lamunanku. "Hari sudah mulai gelap. Aku ingin semuanya tuntas sebelum tengah malam nanti, Frans."
"Baiklah, Len," balasku seraya beranjak dari sofa.
Semua koper berisi potongan tubuh Alex sudah terangkut dalam bagasi. Aku tak tahu kapan Lena membereskannya. Mungkin saat termenung panjang tadi? Entahlah.
Perjalanan senja yang cukup lama dan akan memakan banyak waktu. Sesuai permintaan Lena untuk mencari tempat sepi, guna melenyapkan pecahan mayat dalam koper-koper tersebut. Gadis itu lebih memilih diam, duduk di sebelahku yang memegang kendali kemudi sepenuhnya. Tak ada suara ataupun helaan napas dari balik dada Lena. Matanya terbuka bulat dengan buih putih keluar dari mulut.
Aku tersenyum licik. Mobil pun berhenti di sebuah tempat sepi dan gelap. Tak ada lalu-lalang manusia maupun kendaraan di sana. Hanya ada beberapa suara-suara binatang malam yang menemani gerak-gerikku dalam pekat alam.
Sebelum meninggalkan tempat, aku menatap wajah Lena yang kaku biru, di antara terpaan sinar pemantik api gas dalam genggaman sambil berkata, "Maafkan aku, Len. Aku tak pernah dendam padamu. Tapi kematian Alex karena ulahmu, itulah yang membuatku harus kehilangan pundi-pundi bisnisku di masa yang akan datang. Jujur saja, perusahaan yang kumiliki saat ini pun, itu juga hasil barter kamu pada Alex. Dia satu-satunya saudaraku yang bisa membantu semua impianku menjadi kenyataan. Kaya raya di usia muda, Len. Seperti yang pernah kamu katakan dulu. Hehehe. Sekarang, nikmatilah kehidupanmu bersama Alex di alam lain. Just sorry to say good bye. Muah ... I've never love you, Len. It's all about bussines."
Lalu kujatuhkan pemantik api yang masih menyala ke bagian bawah kendaraan. Seketika, api dengan cepat menyambar tangki bahan bakar yang sengaja dibuka lebar. Menghanguskan semua isi di dalamnya ....
...~ Selesai ~...
__ADS_1