
...GEMA CINTA DI AKHIR ASA...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Deru gemuruh ombak di lepas pantai, bergulung riuh membentengi lautan. Berlarian disertai buih putih, seakan tengah berlomba mendahului menggapai tepian daratan. Terayun kuat bersama sapuan banyu yang menarik ulur tiada henti. Sementara sang surya pun tak ingin ketinggalan, dengan pongahnya menyemburkan bara memanggang bumi. Bercampur baur dalam semilir yang kian menyengat.
Tak jauh dari sebuah gubuk sederhana yang berdiri di sana, seorang perempuan mematung bertelanjang kaki, beralaskan pasir putih. Sesekali matanya menatap luas lautan yang membentang, dengan bias penuh pengharapan. Di antara helaan napas berat dan seringai bibirnya yang kering, seakan memberi tanda bahwa dia tengah berada dalam sebuah penantian. Entah apa atau siapa yang sedang dia tunggu.
Sesekali, tangan kasar perempuan itu mengusap lembut perutnya yang membuncit. Lalu menyeka peluh yang mengucur deras membanjiri pelipis. “Sabar ... ya, Nak! Ayahmu mungkin sedang sibuk menjala ikan di tengah lautan sana, untuk bekal makan kita nanti malam. Semoga saja lekas pulang dan kembali menyapamu seperti biasa,” gumam dia lirih diiringi senyum hampa, seraya memandangi perutnya yang seringkali bergerak-gerak. Menandakan tengah hamil tua. Kemudian melangkah gontai dan berat, terbebani oleh besarnya kandungan. Sesaat sebelum sampai di gubuk, perempuan itu menoleh kembali ke arah lautan yang tak bertepi. Berharap seseorang yang tengah dinantikannya, muncul di antara buih lautan biru.
“Masih ada sisa ikan kering dan beberapa potong ubi kayu, bekas kita makan malam kemarin. Semoga bisa membuatmu nyaman, tidur di rahim Ibu, ya, Nak.” Ucapan menghibur di antara seringai bibirnya yang menahan rasa perih, dilanda lapar yang tak kunjung reda. Lanjutnya, “Ibu tahu, kamu pasti rindu pada Ayahmu, 'kan? Hhhmm … begitu pula dengan Ibu, Sayang. Namun, kerinduan akan kehadiran Ayahmu jauh lebih besar, ketimbang berharap sesuap nasi yang lama tak kita rasakan. Ibu juga menginginkan Ayahmu segera pulang dan bercanda denganmu. Bercerita tentang keberanian dirinya mengarungi lautan seorang diri, demi menghidupi kita berdua.”
Perut buncitnya kembali bergerak-gerak. Seakan memahami ungkapan lirih sang ibu, yang terus-menerus mengusap dengan lembut.
Perempuan itu duduk di balai depan gubuk penuh kehati-hatian, sambil menatap pantai sepi berhiaskan hamparan pasir putih. Menerawang jauh ke depan, membuka cakrawala alam pikiran untuk sekedar mengenang rekaman sejarah kehidupan yang telah lampau. Sejenak senyum tipis itu menguak di bibirnya yang retak, saat teringat masa-masa awal perkenalan dia dengan sosok Syaiful. Suami perempuan yang tengah hamil tua tersebut.
“Kadang aku tak mengerti. Mengapa gadis secantik Adinda, lebih memilih aku sebagai calon pendamping untuk hidupmu kelak? Padahal, di kampung ini masih banyak pemuda-pemuda tampan dan kaya, yang berharap mendapatkan hatimu, Dinda Bunga,” ucap Saiful di bawah rindang pepohonan, setelah lelah berlarian berdua.
“Entahlah, Kanda. Aku sendiri tak pernah bisa memahaminya hingga saat ini. Saat pertama kali melihat Kanda, rasanya aku yakin, bahwa Kandalah orang terakhir yang kucintai setelah kedua orangtuaku,” jawab Bunga dengan wajah masih bersimbah peluh.
“Apa yang membuatmu begitu yakin, bahwa aku adalah orang yang pantas mendapatkan cinta terakhirmu itu, Dinda?” tanya Syaiful sambil membelai lembut rambut panjang nan indah sang kekasih dengan penuh cinta. Ada aroma harum semerbak khas bunga dan akar tetumbuhan yang tercium di setiap helainya.
“Sebagian orang berujar bahwa cinta itu buta. Memandang sosokmu, rasanya ada pesona luar biasa yang mampu meluluhkan kebekuan hatiku selama ini. Alam pikiranku membutakan semua tentangmu. Yang kurasa adalah ... kenyaman yang teramat saat engkau berada di dekatku, Kanda,” jawab Bunga seraya menjatuhkan wajah di dada Syaiful yang bidang dan berbulu. Mata gadis itu terpejam, menikmati kenyaman dan kehangatan yang hadir menyelimuti wajahnya yang merona.
“Aku hanyalah seorang nelayan biasa yang tak berlimpahkan harta dunia. Sementara keluargamu adalah hartawan terkemuka yang bertahta. Wajar saja, jika selama ini Ayahmu begitu murka melihat jalinan hubungan kita ini, Dinda.” Syaiful menarik napas. Mendadak dadanya terasa sesak.
Bunga terhenyak. Menengadah, lalu memandang mata Syaiful yang mulai berkaca-kaca. Ujarnya kemudian, “Bagiku semua itu tak penting, Kanda. Cinta seutuhnya yang Kanda berikan padaku, itu sudah lebih dari cukup. Harta tidak menjamin lahirnya sebuah kebahagiaan, tapi justru banyak menimbulkan keangkuhan. Apakah selama ini aku pernah memintamu sesuatu yang lebih selain cintamu, Kanda?”
Syaiful tak menjawab. Lelaki kekar itu memeluk erat tubuh Bunga penuh kasih sayang. Keduanya terdiam dalam kebisuan. Sampai kemudian, tanpa mereka sadari, tiba-tiba langit memuntahkan isak tangisnya dengan lebat. Seakan turut bersedih melihat kisah kasih dua insan yang berbeda kasta ini.
Syaiful dan Bunga bergegas, berlari mencari tempat berteduh. Kebetulan tak jauh dari sana, ada sebuah gubuk tua dan kecil. Cukup untuk menahan derasnya terpaan air hujan yang turun.
“Kau kedinginan, Dinda?” tanya Syaiful melihat Bunga menggigil sambil merapatkan kedua lengan di dada. Gadis itu mengangguk perlahan. Lalu merapatkan duduk di sebelah laki-laki tersebut.
Syaiful segera membuka baju dan menyelimutkannya pada tubuh Bunga. Perlahan-lahan gadis cantik itu pun merebahkan kepala di pangkuan Syaiful.
“Tidurlah kalau Dinda merasa mengantuk. Semoga hujan segera berhenti, agar aku bisa secepatnya mengantarmu pulang,” ujar Syaiful seraya menatap atap gubuk tua yang bolong-bolong. Sehingga air hujan yang jatuh, tetap dapat menembus. Membasahi kedua insan yang tengah dimabuk cinta ini.
Bunga tak menjawab. Perlahan matanya meredup dan tertidur pulas di pangkuan Syaiful. Sementara laki-laki muda itu memandangi wajah ayu nan cantik gadis yang telah rela melabuhkan cinta padanya. Ada senyum tipis mengembang di bibir Syaiful. Entah bermakna apa. Namun jelas tergurat, lelaki itu tampak senang dengan sesuatu yang hanya dia sendiri pahami.
Hujan turun deras disertai kilatan cahaya petir yang menyambar. Berlangsung lama.
Tak tahan didera kantuk, akhirnya Syaiful pun ikut berbaring pulas di sisi Bunga yang sudah terlebih dahulu menyambangi alam peraduan. Keduanya tergolek kuyup bermandikan air hujan, di atas lantai pasir beralaskan tikar pandan. Sampai kemudian tanpa disadari, hujan mulai pun mereda. Diiringi redup alam yang menggulita, ditinggal sang surya yang harus kembali ke dekap peraduan di ufuk barat. Bersamaan dengan itu, beberapa langkah kaki serta merta berjalan serempak memburu tempat dimana Syaiful dan Bunga tengah terlelap.
Wajah-wajah beringas memandang tak bersahabat ke arah gubuk tua. Di tangan mereka terselip beberapa bilah senjata tajam dan api obor yang menyala temaram.
“Kamu yakin mereka ada di dalam sana?” tanya seorang lelaki tua berkumis lebat dan bersuara berat memandang beringas ke arah gubuk.
"Yakin sekali, Datuk. Aku melihat sendiri mereka memasuki gubuk itu saat hujan tadi sore,” jawab salah seorang di antara mereka dengan raut wajah ketakutan.
“Hhhhmm.” Lelaki tua tadi mendengus, menahan amarahnya. “Amrul! Dillah! Syahrul! Periksa gubuk itu! Bila mereka ada di dalam, seret keduanya kemari!”
“Baik, Datuk Mahmud!” jawab ketiga orang yang disebut namanya tadi serempak. Kemudian mereka bergegas mendekati gubuk yang ditunjuk.
__ADS_1
Tak berapa lama ketiganya keluar sambil menyeret dua sosok tubuh yang tak lain adalah Syaiful dan Bunga. Kedua pasangan kasih itu meronta sekuat tenaga.
“Ayah!” seru Bunga begitu mengenali sosok lelaki tua berkumis lebat yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
Syaiful beringsut beberapa langkah, melihat raut muka Datuk Mahmud yang terlihat bengis.
“Anak kurang ajar! Kau telah membuat malu keluarga!” bentak Datuk Mahmud menggelegar. Dipandanginya sosok Bunga yang menangis ketakutan sambil beringsut mendekati Syaiful.
“Dan kau ... anak muda tak tahu diri yang telah mengotori kampung ini dengan perbuatan bejatmu! Memalukan!” seru Datuk Mahmud sambil melayangkan kepalan tangannya yang penuh dengan hiasan cincin batu akik.
PLAK! PLAK!
Dua kali ayunan tinju keras menghujami wajah Syaiful. Namun lelaki muda itu tak bergeming, tatap matanya enggan berkedip. Beradu pandang dengan lelaki tua berkumis lebat itu. Seakan tengah menantang.
Tak sampai di situ. Tanpa disadari, ujung kaki Datuk Mahmud melayang dan mendarat telak di perut lelaki muda itu hingga jatuh tersungkur. Darah segar membuncah menghiasi bibirnya yang koyak. Syaiful tetap tak bergeming. Menatap kuat bola mata Datuk Mahmud. Seakan serangan yang didapatkan tadi, belum sepenuhnya membuat dia kalah.
Bunga meraung. Buru-buru memburu tubuh Syaiful. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, memohon ampunan sang Ayah yang tengah murka. “Jangan, Ayah! Aku mohon. Jangan sakiti Kanda Syaiful! Kalau Ayah marah, pukul saja aku! Karena semua ini adalah salahku, Ayah!” seru Bunga seraya bersimpuh di kaki Datuk Mahmud.
“Anak kurang ajar kau!” bentak Datuk Mahmud seraya menjambak kuat rambut anaknya.
“Jangan sakiti Dinda Bunga, Datuk! Pukul saja aku sesukamu! Aku yang bersalah, karena--” teriak Syaiful. Namun belum sempat menyelesaikan ucapan, beberapa lelaki yang tadi menariknya dari gubuk turut menghujami beberapa pukulan.
Tak ayal, tubuh Syaiful pun kembali ambruk bermandikan darah segar. Bunga menjerit, “Hentikan semua ini, Ayah! Aku mohon. Hentikan!” Namun bukannya berhenti, para lelaki itu kembali menyerang Syaiful secara membabi buta.
Mendapat lawan yang tak seimbang jumlahnya, sudah jelas Syaiful menjadi bulan-bulanan. Beberapa kali tubuhnya terhempas ke atas pasir putih yang basah dengan wajah membiru berlumuran darah.
TREK!
Datuk Mahmud menjentikan jarinya, menyuruh para lelaki itu menghentikan serangan. Lalu maju mendekati tubuh Syaiful yang sudah tak berdaya sambil mencabut sebilah senjata tajam dari balik baju.
“Tenanglah, Datuk Mahmud! Jangan kau kotori tanganmu dengan masalah seperti ini!” seru seorang lelaki tua berjanggut putih pada Datuk Mahmud yang sedari tadi hanya berdiam di belakang kegelapan. Datuk Mahmud menahan tangannya yang bergetar hebat menahan amarah yang sudah memuncak. Dia melemparkan senjata tajam itu ke atas pasir sambil berkacak pinggang. Matanya memerah menatap bengis pada sosok Syaiful yang meraung kesakitan.
Di Balai Kampung Adat, Syaiful dan Bunga diadili. Mereka berdua dituduh telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum Adat dan agama. Walaupun keduanya menyangkal disertai sumpah, tapi pengadilan akhirnya memutuskan, bahwa Syaiful dan Bunga harus dinikahkan dan diasingkan di sebuah tempat terpencil.
Datuk Mahmud sangat terpukul sekali dengan kejadian tersebut. Anak semata wayang yang diharapkan bisa memberikan kebanggaan pada keluarga, justru telah mencoreng kehormatan dan nama besarnya. Dia tak mampu berbuat apa-apa, terkecuali hanya bisa menerima keputusan pengadilan adat dengan hati terpaksa.
Setelah menikah, Bunga dan Syaiful diusir dari kampung. Mereka berdua pergi ke sebuah pulau yang tak berpenghuni dan menempati sebuah gubuk kecil serta sederhana. Harapan Bunga akan keindahan dan kebahagiaan hidup bersama orang yang dicintai, ternyata perlahan menjauh dari impian. Syaiful berubah menjadi sosok lelaki yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Sikap laki-laki itu kasar. Mudah sekali terpancing amarah. Tak jarang dari mulutnya, berhamburan kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan hati.
“Sejak awal, aku tak pernah mencintaimu, Bunga! Aku hanya berharap bisa mendapatkan anak seorang saudagar ternama yang akan menjadikanku kaya raya. Tapi nyatanya kini, malah aku hidup menderita, berduka nestapa. Itu semua karena gara-gara kamu!” bentak Syaiful memekakan telinga.
“Aku tahu, mungkin Kanda kecewa dengan sikap Ayah dulu. Sehingga Kanda melampiaskan semuanya padaku. Tapi bagiku, cinta ini tak akan pernah lepas dari sanubari dan siap mengikuti ke mana pun langkah Kanda pergi. Walau Kanda kerap memperlakukanku sedemikian rupa, Adinda tetap mencintaimu, Kanda,” sahut Bunga lirih namun tetap berusaha tersenyum manis. Segala rasa sakit yang menghujam dinding kelembutan hati, senantiasa dia tahan dan dibalas dengan penuh kecintaan. Berharap lelaki pujaan itu akan memahami dan berkenan memanjakannya kelak.
“Kau pikir hidup ini hanya cukup dengan cinta? Omong kosong!” jawab Syaiful sambil mendorong perahunya ke tengah lautan.
“Ini untuk perbekalan di tengah lautan sana, Kanda. Jaga kesehatanmu, ya? Aku akan tetap menantimu di sini.” Bunga meletakan bungkusan makanan di sisi perahu.
Senyum Bunga tetap hadir dengan manis, walau sang suami tak sudi menoleh sedikit pun. Setidaknya, memberikan kecupan lembut di kening istri sebelum berangkat mencari nafkah di tengah samudera. Seperti dulu. Namun itu tak didapatkan, sampai sosok Syaiful tenggelam dalam bayang-bayang lautan malam.
Bunga berdiri di bibir pantai dengan wajah murung sambil mengusap perutnya yang membesar. “Aku yakin Kanda Syaiful mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku juga yakin, suatu saat nanti ... Kanda Syaiful akan mengatakannya padaku,” bisik Bunga di antara desiran angin yang menyapu wajahnya yang kusam. Kecantikan perempuan itu masih terlihat, di balik tabir guratan lara yang menyelimutinya selama ini.
Sebagai orang tua yang masih memiliki keterikatan batin kuat dengan anak, sesekali Datuk Mahmud datang mengunjungi putri semata wayangnya. Tak lupa juga orang tua berkumis lebat itu membawakan perbekalan makanan cukup.
“Kemanakah gerangan suamimu itu, Nak? Tiap kali Ayahanda datang ke mari, selama itu pula mata ini tak pernah sekali pun melihat dirinya. Apakah pernikahanmu baik-baik saja, Nak?” tanya Datuk Mahmud prihatin sekaligus perih, melihat kondisi putrinya kurus kering dengan perut membuncit.
“Kanda Syaiful sedang melaut, Ayah. Rumah tangga kami juga baik-baik saja. Kami sangat bahagia walaupun dengan kondisi seadanya. Kanda Syaiful seorang suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Dia rela melakukan apa pun demi kebahagiaanku dan calon anak kami ini,” jawab Bunga dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Datuk Mahmud menarik napas. Bisikan batinnya tetap mengatakan, bahwa Bunga tengah menyembunyikan sesuatu. Terutama tentang Syaiful, sang menantu. “Jikalau almarhumah ibumu melihat semua ini, tentunya dia akan bersedih sekali melihat keadaan dirimu, Nak.”
“Ibunda sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri bersama Tuhan, Ayah. Tak patutlah mengusik ketenangan beliau di alam sana. Biarkan Ibunda terlelap dalam tidur panjangnya. Sampai suatu saat nanti ... kita diperkenankan untuk berkumpul kembali,” imbuh Bunga berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tak inginkah kau kembali ke kampung dan hidup bersama Ayah, Nak? Ayah sangat merindukanmu." Mata Datuk Mahmud mulai berkaca-kaca. "Ajak serta suamimu dan kita sama-sama meniti kembali kehidupan yang tercerai berai."
Bunga menatap wajah Datuk Mahmud dan turut menitikkan air mata. Sebenarnya Bunga bersedia, tapi kewajiban untuk tetap taat pada suami, malang tak dapat ditolak. Dia harus mengecewakan ayahnya kali ini. "Bukankah kami masih sedang dalam masa hukuman adat, Ayah? Sampai bayi ini terlahir dan tumbuh dewasa, barulah nanti hanya cucu Ayah ini yang diperbolehkan kembali pulang ke kampung. Bunga dan Kanda Syaiful harus tetap berada di sini hingga .... "
"Ayah akan mencoba berbicara dengan ketua adat. Mungkin saja beliau bisa memahami, Nak." Datuk Mahmud bersikukuh.
"Tidak, Ayah. Jangan ajari Bunga dan keturunan Ayah ini untuk melanggar aturan yang sudah disepakati dan berlaku sekian lama. Biarkan kesucian tanah leluhur kita terjaga dari jamah tangan-tangan kami yang kotor."
"Tapi kamu dulu tak pernah melakukan hal terkutuk itu, 'kan, Nak?" Datuk Mahmud memegang bahu Bunga penuh harap. Bunga menggeleng. Jawabnya, "Tidak, Ayah. Bunga dan Kanda Syaiful tidak pernah melakukannya. Bahkan sampai akad nikah itu terjadi, Bunga masih tetap menjaga kesucian Bunga."
Datuk Mahmud memeluk anaknya diiringi isak tangis memilukan.
Siapa menyangka, ternyata hari itu adalah pertemuan sekaligus pelukan terakhir yang didapatkan Bunga dari seorang ayah. Beberapa hari setelah orang tua itu berkunjung. Kemudian ....
"Maaf, aku tak bisa datang dan melihat jenazah Ayah. Karena suamiku belum pulang," ujar Bunga ketika utusan kampung memberitahukan kabar tentang kematian Datuk Mahmud.
"Tapi ini Ayahmu sendiri yang meninggal, Kak. Tak bisakah Kakak datang sekejap untuk melihat jenazah Ayah Kakak itu?" Geram sekali pengantar kabar itu melihat kekerasan hati seorang Bunga.
Bunga menundukan wajahnya. Lalu menjawab, "Hidupku sekarang tanggung jawab suamiku, dan aku tak mungkin pergi tanpa seijinnya. Aku hanya bisa turut berdoa di sini untuk almarhum Ayahandaku yang tercinta. Mohon maaf .... "
Perempuan itu bergegas masuk ke dalam gubuknya. Menangisi diri dalam kepedihan, tanpa kejelasan akankah Syaiful pulang hari ini? Mengingat ini sudah menginjak pekan ketiga sang suami itu tak kunjung pulang, sejak kepergiannya yang lalu dibalut murka. Sekaligus, jelang kelahiran anak pertama mereka di akhir masa kandungan.
"Anakku, Sayang. Kalau sudah besar nanti, jangan seperti Ayahandamu ini, ya? Berjayalah dan jadi orang besar yang bisa menaklukkan dunia dengan kehebatanmu. Di sini, Ayah hanya bisa berusaha membantu mewujudkan impian dan berdoa," ucap Syaiful dulu ketika masa-masa muda kehamilan Bunga. "Ayah berjanji akan selalu berusaha menjagamu dan bundamu."
Tak jarang celoteh laki-laki itu sering membuat Bunga tergelak. Syaiful kerap mengajak anak mereka berbincang sambil merapatkan wajah di perut istri. Di waktu itulah kebahagiaan Bunga benar-benar mencapai puncaknya. Berharap laki-laki itu akan terus mencintai keluarga hingga akhir hayat.
Akhir hayat? Bahkan sampai detik-detik Bunga merasakan mulas di perut, Syaiful belum kunjung pulang. Entah kemana.
Bunga terbujur di atas tembikar kering berbahan ilalang, tempatnya selama ini berbaring melepas penat dan menghabiskan malam. Perutnya dirasa kian melilit menghujam. Peluh membanjiri sekujur tubuh sambil meringis menahan sakit tiada tara. "Kanda!" jerit lirih Bunga dengan suara tercekat di tenggorokan.
Darah mulai mengalir dari kedua renggangan kaki, bercampur dengan cairan ketuban yang menggenang membasahi tembikar. Lengking perempuan itu kembali pecah disertai dorongan otot-otot perut, membantu sang jabang bayi yang merindukan sosok ibunya di alam nyata.
"Kandaaaa!" Kembali jerit Bunga membahana di antara riuh suara alam yang berhembus kencang disertai rintik deras berhiaskan gelegar suara di langit. Bunga berusaha mendorong isi rahimnya dengan sisa tenaga yang masih ada. Percikan darah semakin membuncah terseruput ke dalam pasir putih.
Di saat-saat genting seperti itu, pintu gubuk terkuak dengan keras. Diiringi hentakan dahsyat petir yang bersahutan. Sesosok tubuh berdiri limbung di ambang pintu dengan kondisi kuyup, bercampur tetesan darah yang mengalir dari luka menganga di ubun-ubunnya.
"Bunga .... " Sosok itu ambruk ke atas pasir dan berusaha merangkak, masuk ke dalam gubuk. "Bunga ... Kanda pulang, Sayang."
Bunga terkesiap memandangi sosok yang selama ini dirindukan. Sahutnya, "Kanda .... "
Ya, itu adalah Syaiful. Dia nekat pulang dikala cuaca lautan sedang murka. Terombang-ambing dalam amukan samudera, hingga menghancurkan perahunya. Salah satu puing kayu menghantam keras batok kepala Syaiful hingga terluka. Laki-laki itu berusaha bertahan berbekalkan sisa bongkahan perahu yang hancur dan berenang sekuat tenaga untuk mencapai tepian pantai. Sampai kemudian, dia tiba dengan kondisi lemah karena banyak mengeluarkan darah.
"Bunga ... maafkan Kanda, Sayang. Maafkan Kanda .... " Syaiful merangkak mendekati Bunga yang terbujur lemah. "Kanda mencintaimu."
Bunga tersenyum beruraikan air mata. Akhirnya kalimat yang sangat diharapkan itu terucap juga dari laki-laki yang sangat dia cintai. Sebuah ungkapan paling jujur, terlahir dari dasar sanubari terdalam.
Dengan susah payah, akhirnya Syaiful berhasil menggapai tangan Bunga dan menciumi berkali-kali. "Maafkan Kanda, Sayang. Kanda sangat menyesal telah meninggalkanmu. Kanda mencintaimu."
"Dinda juga sangat mencintaimu, Kanda," balas Bunga dengan rasa bahagia tak terkira, sekaligus memberinya tenaga baru untuk segera mengeluarkan bayi yang masih tertahan di dalam rahim.
Lalu perlahan, tubuh Syaiful pun terkulai berbantalkan lengan Bunga.
__ADS_1
"Kanda ... Kanda ... " panggil Bunga berusaha memanggil suaminya. Namun laki-laki itu tak menyahut. Diam tak bergerak. "Kanda ... anak kita .... "
Dibalut rasa sedih dan bingung, Bunga mendorong kuat otot perutnya sampai kemudian sang jabang bayi pun terlahir ke dunia. Tersengal napas Bunga disertai letih yang telah mencapai puncak. Diawali napas panjang dan berat, akhirnya Bunga ikut terkulai sambil memegang kepala Syaiful yang terkoyak lebar. Sementara bayi yang baru saja terlahir itu, sama-sama tak bersuara maupun bergerak. Ketiga sosok itu terdiam kaku di tengah amukan alam yang mulai mereda.