
...PERNIKAHAN SELARAS (1)...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Sayup dari kejauhan, terdengar lantunan indah suara azan. Perlahan menyibak dimensi alam mimpi para insani yang tengah terlelap semalaman, termasuk seorang perempuan muda di atas sebuah pembaringan. Selaras namanya. Dia mengerjap sejenak, seraya memandangi keremangan kamar, kemudian menoleh ke samping.
"Mas Wisnu …." bisik perempuan itu memanggil sebuah nama, tapi yang dia lihat adalah tempat yang kosong. 'Kemana suamiku sepagi ini?' tanya Selaras dalam hati, lantas bangkit dan beringsut turun dari atas kasur.
'Pukul setengah lima,' ujar Selaras kembali begitu menyalakan lampu kamar dan melihat jam dinding. Kemudian dengan langkah tertatih, perempuan itu keluar kamar, mencari-cari sosok yang dia panggil tadi.
"Ya, Tuhan …." seru Selaras kaget begitu mendapati lelaki yang baru menikahinya sebulan lalu itu, tergolek lelap di ruang tengah. Di atas sofa tanpa selimut maupun bantal. Ini bukan hal pertama terjadi, tapi semenjak mereka menempati rumah kontrakan sejak seminggu yang lalu. Wisnu tidak pernah sekalipun tidur di kamar, bersama Selaras istrinya.
"Mas …." panggil perempuan tersebut lembut diiringi usapan perlahan di bahu Wisnu. "Bangun, Mas, sudah Subuh," ujar Selaras kembali, masih dengan benak dipenuhi pertanyaan.
Lelaki itu mendeham.
"Hhmmm, ya … aku bangun, Ras," kata Wisnu, tapi tetap memicing. Dia mengeliat sebentar lantas menggeliat.
Selaras memandangi wajah suaminya tersebut. Ingin bertanya padanya, akan tetapi merasa segan karena khawatir akan menyinggung perasaan Wisnu. Akhirnya hanya duduk-duduk di kursi sebelah sambil menunggu sosok itu bangkit.
"Lho, kamu masih di sini, Ras?" tanya Wisnu begitu bangun dari rebahnya, mendapati Selaras belum beranjak dari sana. Perempuan itu tersenyum. "Belum salat Subuh?"
Selaras menggeleng. Jawabnya kemudian, "Nungguin kamu, Mas."
"Kenapa harus nunggu aku?" Kening Wisnu mengerut, heran. "Kamu bisa salat sendiri, 'kan?"
Selaras mengangguk pelan. " … tapi, aku pengen sekali salat berjamaah sama kamu, Mas. Itu sudah kutunggu sejak sebulan lalu saat kita menikah."
Wisnu tidak menimpali. Dia hanya mendengkus, lantas bangkit dan bergegas ke ruang belakang tanpa kata-kata. Lagi-lagi, Selaras hanya bisa terdiam. Jelas sekali, dari sorot mata laki-laki itu tadi, sepertinya dia tidak menyukai ucapan sang istri.
'Ya, Tuhan … sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu padaku, Mas?' gumam Selaras lirih. 'Sejak pertama kali kita menikah lalu, belum pernah sekalipun Mas Wisnu memperlakukanku dengan semestinya. Jangankan menyentuhku, bicara lembut pun … seakan-akan belum mau.'
Selaras teringat saat pertama kali dikenalkan oleh orangtuanya pada Wisnu. Duda muda yang baru ditinggal mati istrinya, terkesan seperti terpaksa menerima perjodohan tersebut atas dasar balas jasa. Apalagi, kalau bukan karena kisah masa lalu Bapaknya Selaras dan Wisnu. Sebuah alasan klasik, tapi masih kerap terjadi di masa kini, merekatkan kembali hubungan pertemanan menjadi jalinan kekeluargaan. Itu bagi mereka, para orangtua, tapi tidak dengan pernikahan Selaras dan Wisnu.
"Maaf ya, Ras," ujar Wisnu pada malam pengantin mereka sebulan lalu. "Aku belum bisa memberikan apapun sama kamu malam ini. Termasuk … menunaikan kewajiban kita."
"Aku paham, Mas," balas Selaras berusaha tenang walau hatinya sedikit kecewa. "Mas bisa melakukannya kapan saja. Mungkin tidak malam ini. Karena seharian tadi, Mas pasti capek setelah menerima para tamu undangan. Jadi—"
"Bukan karena itu, Ras," imbuh Wisnu memotong ucapan Selaras.
"Lalu?"
Lelaki itu menarik napas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Aku hanya … belum bisa … menyukaimu, Ras."
"Mas …."
"Maafkan aku, ya?" Wisnu menunduk. "Aku tahu, ini memang menyakitkan, tapi aku harus mengakui itu dari sekarang. Sebelum kamu mulai bertanya-tanya padaku."
"Terus … kenapa Mas menyanggupi perjodohan kita ini? Kalau sejak awal Mas tidak menyukaiku, setidaknya kita bisa menolak pernikahan ini, 'kan?"
"Itu tidak mungkin, Ras," balas Wisnu. "Kamu tahu sendiri, 'kan, bagaimana sikap kedua orangtua kita jika itu terjadi. Terutama buat aku."
"Warisan keluargamu?" tanya Selaras menduga-duga, disambut kekehan kecil Wisnu.
Lelaki itu menoleh. Memperhatikan bola mata istrinya yang mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku ya, Ras," ucap Wisnu lirih. "Kehidupan ini harus tetap berlanjut. Bagiku, buatmu. Karena apa yang akan kudapatkan, kelak bakal menjadi milikmu juga, 'kan?"
"Dengan kondisi pernikahan kita seperti ini?" Kembali Selaras bertanya. Dia masih berusaha menahan gemuruh perih di dadanya yang sejak tadi ingin meledak-ledak. Apalah daya, semua harus seperti yang mereka berdua rencanakan. Memberi kesan pada keluarga bahwa pernikahan tersebut berjalan lancar dan baik-baik saja.
Masih teringat jelas ketika Bapak Selaras bersikukuh dan menekankan pada anak perempuannya itu, bahwa perjodohan itu teramat penting untuk menautkan kembali jalinan hubungan pertemanan mereka dulu.
"Bapak punya banyak utang budi sama bapaknya si Wisnu itu, Ras," tutur Pak Sugara mengawali cerita. "Pak Alex itu, dulu banyak membantu Bapak waktu masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Dia yang membayarkan uang kuliah Bapak, mengajak Bapak tinggal di kontrakannya, makan-minum, bahkan … sampai mendapatkan pekerjaan bagus di perusahaan rekanan bapaknya Pak Alex. Itu semua karena jasa dia. Termasuk … menyekolahkan kamu hingga perguruan tinggi. Tanpa bantuan Pak Alex, bapakmu ini bukan siapa-siapa, Ras."
Seperti biasa, Selaras hanya mendengarkan omongan bapaknya, Pak Sugara. Sama seperti sang Ibu yang lama-lama seperti ikut terhipnotis oleh kehadiran keluarga Pak Alex dan bermaksud berbesan dengan mereka.
"Coba kamu pikir, Ras," ucap Pak Sugara melanjutkan ceritanya. "Jika kamu berada di posisi Bapak, apakah kamu tega menolak keinginan Pak Alex buat menikahkan anaknya dengan anak Bapak?"
Selaras mencoba menimpali. "Ini bukan tentang menolak atau menerima, Pak. Tapi—"
"Wisnu memang pernah gagal dalam pernikahannya, Ras. Tapi di sisi lain dia masih muda dan sebaya denganmu, mapan, tanpa anak, serta …." Pak Sugara melirik pada istrinya sejenak, kemudian lanjut berkata, "Dia juga lumayan ganteng, 'kan? Tidak jauh berbeda dengan … siapa itu laki-laki yang sering datang ke mari itu, Ras?"
"Fadli."
"Ya, itu dia," timpal Pak Sugara seraya mencibir. "Sampai sekarang, statusnya tidak jelas. Pengangguran. Ngakunya sarjana tapi …."
"Mas Fadli punya kegiatan sendiri, Pak," balas Selaras tidak senang Pak Sugara mulai membanding-bandingkan kekasihnya tersebut dengan Wisnu yang belum dia kenal sama sekali. "Mas Fadli punya usaha. Wiraswasta. Lagipula, dia tidak seburuk yang Bapak sangka."
"Halah, bisa-bisanya kamu mengagulkan si … Fadil itu."
"Fadli, Pak. Bukan Fadil," ucap ibunya Selaras membetulkan.
"Siapa pun dia, pokoknya Bapak tidak suka dengan anak muda itu, Bu," ujar Pak Sugara dengan raut memperlihatkan ketidaksukaannya dengan sosok Fadli, lelaki yang sudah lama menjalin hubungan kasih denga Selaras.
"Sebelumnya, Bapak tidak pernah bicara seperti itu. Kenapa sekarang jadi lain, Pak?" selidik sang istri. "Jangan-jangan karena …."
"Aaahhh!" jerit Selaras memenuhi ruangan tengah. Dia menjambak rambut sendiri, diiringi entakan kaki di lantai. Kesal.
Wisnu muncul tergopoh-gopoh dari arah ruang belakang. Tanya penuh keheranan, "Ada apa, Ras? Kamu kenapa?"
Selaras menatap tajam suaminya.
'Kamu yang kenapa, Wisnu? Bukan aku!' geram Selaras membatin. 'Tanya diri kamu sendiri, ada apa dengan kamu? Laki-laki normalkah? Atau ….'
"Maaf, Mas. Ada cicak jatuh," jawab Selaras seraya bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan tengah untuk menunaikan salat Subuh. " … kita jadi salat berjamaah 'kan, Mas?" tanya perempuan itu begitu hendak melewati suaminya.
"Aku mau salat di masjid saja, Ras," jawab Wisnu seperti tergesa-gesa hendak menghindar. "Kalau kamu mau salat, sendiri saja, deh, di rumah."
"Tumben … biasanya kamu selalu salat di rumah juga, Mas."
Wisnu tidak menjawab. Dia buru-buru melangkah menuju pintu keluar. Masih dengan setelan pakaian tidur, tanpa membawa sajadah maupun kain sarung.
Selaras menatap lelaki tersebut hingga menghilang di balik pintu.
Pengorbanannya meninggalkan Fadli demi dinikahi Wisnu masih belum terbalas baik. Apalagi harapan untuk bisa membina rumah tangga yang harmonis, sepertinya masih jauh untuk terwujud. Apakah ini justru sebuah karma karena telah mengecewakan Fadli? Entahlah, Selaras hanya berpikir, bagaimana mempertahankan pernikahnya dengan kondisi dan sikap Wisnu seperti itu? Sampai kapan bisa bersabar dan terus menjalani hidup, berada dalam sebuah asa? Semoga ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuknya. Tidak seperti sang suami, Wisnu Aritama. Tentu saja kedepannya perlahan akan berubah lebih baik dan selaras, laksana nama yang dia miliki.
---------- o0o ----------
Suara denting notifikasi dari ponsel milik Wisnu di atas nakas, sesekali terdengar nyaring. Bukan nada dering panggilan percakapan, melainkan pemberitahuan atas beberapa pesan instan yang masuk. Selaras hafal sekali bunyinya. Pesan-pesan tersebut dari aplikasi Whatsapp. Ingin sekali perempuan itu mengintip sejenak layar gawai di sana selagi sang suami tengah mandi, melihat-lihat kiriman apa dan dari siapa, tapi dia masih berusaha bertahan untuk tidak melakukannya. Percuma saja, karena selalu dalam keadaan terkunci.
'Mungkin itu dari temannya, grup alumni, atau bisa juga dari kantor Mas Wisnu,' Selaras membatin. Namun sebagai sosok istri yang masih kerap diabaikan, rasa penasaran itu senantiasa meronta-ronta. Apalagi jika melihat Wisnu sedang asyik masyuk dengan smartphone-nya disertai kekehan sendiri, buah pikiran aneh pun sering kali menghinggapi benak perempuan tersebut.
'Mungkinkah itu dengan mantan kekasih Mas Wisnu? Atau jangan-jangan dia ….' Selaras lekas membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Walaupun Wisnu belum juga mau menyentuh area pribadi tubuh sang istri, bisa jadi itu karena dia memang belum mencintai. Bukan lantaran ….
"Ras, kamu lagi apa di sini?" Suara besar Wisnu mengejutkan Selaras.
"Eh, Mas …." seru Selaras kaget seraya menoleh ke arah asal suaminya datang.
Lelaki itu bertelanjang dada, dan hanya mengenakan belitan handuk menutupi bagian perut hingga ke bawah. Titik-titik air bekas mandi masih tersisa di sana, tubuh tinggi dan tegap dengan lipatan gagah menghiasi bagian otot-otot kelelakiannya.
"Ras …."
Selaras langsung tersadar dan mengalihkan arah pandang dari sosok di depannya, disertai wajah sedikit merona.
"A-aku … lagi menunggu Mas Wisnu mandi. Eh … m-maksudku … a-aku sudah menyiapkan pakaian kerjamu. I-ini, M-mas," ujar Selaras terbata-bata sembari menyodorkan setelan rapi dan wangi pada Wisnu.
Laki-laki itu tersenyum tawar, lantas memperhatikan tubuhnya sendiri yang tadi sempat diperhatikan oleh Selaras. Ujar Wisnu kemudian, "Kamu tidak perlu repot-repot seperti itu, Ras. Aku bisa mempersiapkan pakaianku sendiri, kok."
Selaras memejamkan mata. Rasa perih tiba-tiba menoreh dinding hatinya. Kata-kata Wisnu barusan seperti menghendaki perempuan itu untuk jangan coba-coba mendekati suaminya. Bila perlu, tidak pernah memedulikan dia sekalipun.
"Tidak, bukan begitu, Mas. Tapi aku hanya ingin menunaikan tugasku saja. Sebagai seorang istri pada suami, tentunya."
Lagi-lagi Wisnu tersenyum kecut. Ucapan Selaras itu seperti sedang menyindir dirinya yang tidak juga kunjung memenuhi kewajiban sebagai seorang suami.
Lanjut Selaras berkata seraya mendekati Wisnu, " … biar aku bantu mengeringkan badanmu, Mas."
"Jangan, Ras! Tidak usah!" timpal Wisnu menolak, diiringi seret langkahnya ke belakang.
"Kenapa, Mas?" tanya Selaras heran. "Kita, 'kan, sudah menik—"
Jawab Wisnu kikuk, "Pokoknya … aku bilang juga … tidak perlu. Aku bisa mengurus diri sendiri. Oke?"
"Tapi …."
"Aku pinta, kamu keluar sebentar dari kamar ini, ya, Ras," titah Wisnu sambil menunjuk pintu kamar. "Aku mau pakai pakaian dulu."
"Mas …."
"Aku mohon, Ras. Oke?" pinta Wisnu dengan kedua telapak tangan merapat di depan dada.
Selaras menatap heran suaminya. Namun karena tidak ingin terjadi perselisihan, perempuan tersebut memilih untuk mengalah. Menuruti perintah suami. Bukankah itu salah satu bentuk dari ketaatan?
"Baiklah, Mas," ucap Selaras lirih. "Aku mau menyiapkan sarapan buatmu. Aku tunggu kamu di meja makan, ya?"
Selaras masih bergeming menunggu respons dari Wisnu. Sampai akhirnya lelaki itu pun mengangguk perlahan.
"Terima kasih," balas Selaras langsung bergegas keluar dari kamar. 'Kita impas, Mas. Kamu memohon, aku pun meminta,' membatin perempuan itu disepanjang langkah menuju dapur.
Sebentar kemudian, Selaras sudah duduk anggun di depan meja makan. Menunggu Wisnu keluar dari kamar dan berharap laki-laki itu menepati janji untuk sarapan bersama-sama.
Benar saja. Tidak berapa lama, Wisnu datang menghampiri. Sudah rapi dengan setelan yang sudah Selaras persiapkan tadi.
"Sarapan dulu, Mas," ucap Selaras menyambut disertai senyuman. Lantas segera mempersiapkan piring dan sendok layaknya seorang pramusaji. "Maaf, kalau masakanku ini tidak begitu menggugah seleramu, Mas. Mudah-mudahan saja kamu suka, ya?"
Wisnu tidak menjawab. Seperti biasa, hanya bereaksi kecil berupa senyum tawar tersungging.
"Mau sekalian kusuapi, Mas?" tanya Selaras setelah sekian waktu Wisnu tidak kunjung menyentuh makanan di depannya. Lelaki itu mendelik, lalu menjawab, "Kamu pikir aku ini anak kecil?"
Selaras mengekeh.
"Lagian, kamu diam saja, sih," goda perempuan itu, tidak lepas menatap suaminya yang masih bersikap dingin tersebut. "Sarapanmu itu tidak akan habis kalau cuma dilihatin, lho, Mas. Makanlah. Mumpung masih hangat."
Kini Wisnu yang berganti menatap tajam istrinya. Lantas mengajukan tanya, "Kenapa, sih, kamu mau repot-repot ngurusi aku, Ras? Sedangkan sikapku sendiri sama kamu selama ini, mungkin banyak mengecewakanmu."
Selaras malah tersenyum.
'Bagus,' membatin perempuan itu. 'Rupanya sadar juga dia dengan perilakunya yang menyebalkan itu. Hhmmm, ini sebuah kemajuan yang cukup baik. Setidaknya demikian, disamping sudah mau memenuhi permintaanku tadi untuk duduk bersama di ruang makan ini.'
"Ras, kamu kok … malah tersenyum-senyum begitu? Ada yang lucu?"
'Ah, lagi-lagi dia mulai perhatian padaku. Bahkan sampai senyumku saja, dia mau bahas. Hihihi."
"Ras … Selaras," panggil Wisnu mulai kesal rupanya.
'Ya, ampun! Dia panggil nama lengkapku juga sekarang! Biasanya cuma Ras … Ras … dan Ras. Ah, Mas Wisnuku sayang … ternyata kamu mulai menyuk—'
"Ya, sudah. Aku berangkat sekarang, ya?"
"Eh, Mas!" Selaras buru-buru menahan laju bangkit Wisnu yang bersiap-siap hendak meninggalkan meja makan. "Jangan berangkat dulu, Sayang … eh, Mas. Sarapannya dicoba dulu beberapa suap. Please …."
"Beberapa suap, ya?" Wisnu mengulangi ucapan terakhir Selaras barusan.
"Iya, beberapa suap, Mas."
Wisnu duduk kembali, lantas menciduk sarapannya sebanyak dua sendok. Selaras tersenyum senang melihat laki-laki itu mau memakan hasil olahannya pagi ini.
"Sudah aku makan," kata Wisnu usai menelan makanannya. "Sekarang aku ber—"
"Coba lagi beberapa sendok, dong, Mas," pinta Selaras kembali. Kali ini dengan desah kemanja-manjaan.
"Tadi sudah dua sendok aku makan," ujar Wisnu seraya bangkit..
Selaras bersikukuh.
"Aku tidak menyebut angka, Mas," balas perempuan itu masih dengan gaya bicara yang sama seperti terakhir tadi. " … aku bilang juga … beberapa. B-e-b-e-r-a-p-a. Oke, Say— eh, Mas?"
Wisnu mendelik. Bukan marah, melainkan lebih ke makna merasa sebal saja dengan sikap istrinya itu.
"Terus … maunya kamu berapa kali?" tanya Wisnu kesal.
'Ah, Sayangku … Wisnu Aritama. Akhirnya kamu memberiku pilihan sendiri,' gumam Selaras senang. 'Ini pertama kalinya dia bersikap manis padaku. Hihihi. Jadi makin gemes aja, deh, memperhatikan laki-laki ini. Aaarrggghhh!'
"Coba saja terus makan, Mas. Sampai nanti aku bilang 'cukup'. Nah, setelah itu—"
"Oke, aku coba lagi!" ujar Wisnu lalu menyuapkan sesendok demi sesendok makanan di piringnya. Mata lelaki itu tidak lepas memandangi Selaras. Berharap kata 'cukup' tadi lekas terucap. "Cepetan bilang cukup, ya? Nanti aku telat datang di kantor, nih."
Selaras tersenyum-senyum sendiri. Turut menikmati gerakan mengunyah mulut laki-laki tersebut, melalui gerak rahang Wisnu yang keras.
"Oke …." ucap Selaras beberapa lama kemudian.
"Cukup, 'kan?" tanya Wisnu seperti merasa senang pada akhirnya.
"Bukan …." jawab Selaras. "Maksudku … kamu mau nambah nasinya, Mas?"
"Hah?"
Lelaki itu memandangi piringnya yang sudah kosong. Tanya dia masih dengan roman kaget, "Yang ini belum cukup, Ras?"
"Kalau kamu merasa kenyang, ya … sudah. Tapi kalau mau nambah, dengan senang hati aku—"
"Sudah!" timpal Wisnu. "Aku sudah kenyang! Serius!"
Selaras tertawa kecil.
"Ya, sudah, Mas. Makasih, lho, Mas Wisnu sudah mau mencoba masakanku ...sampai kenyang."
"Hhmmm!"
"Bagaimana rasanya, Mas? Enak? Atau … kurang micin, mungkin?" tanya Selaras terus-terusan berusaha menggoda suaminya tersebut.
Wisnu menjilati bibir sendiri yang mengilap oleh minyak bekas makanannya tadi, dengan bola mata bergerak-gerak ke atas-bawah dan kanan-kiri.
"Eeuummhhh …." Suami Selaras tersebut berpikir sebentar. "Lumayan."
"Lumayan?"
"Maksudku … masih lebih enak masakanmu, Ras, daripada mi bakso malang yang sering lewat malam-malam di depan rumah kontrakan kita ini," ujar Wisnu sangat menyebalkan Selaras.
'O, iya? Masakanku dibanding-bandingkan dengan jualan si Mamang-Mamang kaki lima. Huh … nasib, ya, nasib mengapa harus begini? Eh, kenapa aku malah nyanyi, sih?' Selaras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Punya suami, kok, tidak paham banget makna romantis? Haduh!'
"Oh, begitu? Baiklah … aku sangat berterima kasih atas kesediaan kamu, mau mencicipi hasil olahanku, Mas," kata Selaras menahan rasa jengkel.
"Kenapa? Aku salah ngasih review, ya?"
'Bukan salah lagi, Mas! Kamu itu sudah keterlaluan!' rutuk Selaras masih kesal. Sudah berusaha merayu, menggoda, mempermanjakan, merendah, memurah harga diri, bahkan bersabar selama beberapa pekan lalu, belum ada satu pun yang membuahkan hasil. Wisnu masih sama seperti lelaki asing yang menikahinya dengan terpaksa. Haruskah Selaras bersikap seolah-olah dialah yang sedang mengejar-ngejar laki-laki tidak acuh? Tak berperasaan! Dingin! Bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali.
Namun setidaknya kejadian hari ini mampu membuat Selaras bertahan. Berharap sedikit demi sedikit, Wisnu akan berubah. Walaupun tidak mencintainya, mungkin bisa lebih saling menghargai. Tidak termasuk yang terakhir ini ….
"Mas …."
"Ada apalagi, sih?" tanya Wisnu sudah bersiap-siap berangkat di dalam kendaraan.
"Tidak cium keningku dulu, Mas, sebelum kerja?"
Wisnu hanya tersenyum. Kecut. Seperti biasa. Kemudian pergi begitu saja tanpa pamit, apalagi mengucap salam.
---------- o0o ----------
Petang makin merayap malam, Wisnu belum juga kunjung pulang. Entah sampai pukul berapa dia akan lembur hari ini, seperti yang disampaikannya tadi siang, atau mungkin malah Selaras yang akan menghabiskan malam ini dalam kesendirian? Memang tidak aneh, sebelumnya pun perempuan itu sudah terbiasa terlelap tanpa kehadiran sang suami. Laki-laki tersebut lebih memilih kursi sofa ketimbang sekasur dengan istri sendiri. Ajaibnya, Sejauh ini Selaras masih tetap bersabar dan bertahan.
Beberapa saat berlalu, rasa kantuk pun mulai menghinggapi. Sebentar-sebentar Selaras menguap lebar dan mengerjapkan mata berusaha untuk tetap terjaga. Kemudian melirik jam dinding, sudah menunjukkan waktu hampir pukul sebelas.
'Kemana Mas Wisnu, ya?' Selaras membatin. 'Ponselnya pun tidak aktif,' imbuhnya seraya melihat-lihat kiriman pesan pada nomor sang suami tadi, masih membentang cek tunggal.
Sikap laki-laki itu masih saja seperti awal bertemu; cuek, dingin, serta tidak banyak bicara. Terkecuali kemarin pagi, sebelum berangkat kerja, sudah mau diajak makan bersama dan mendengarkan Selaras. Ada perubahan? Tentu, walaupun tidak terlalu maksimal. Hal lain, setidaknya, Wisnu tidak pernah melupakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan sang istri melalui kartu ATM miliknya.
"Gajiku semua disimpan di situ, Ras," ujar Wisnu beberapa hari setelah mereka menikah lalu. "Terserah, kamu mau pakai buat apapun, aku tidak akan pernah menanyakannya. Malah kalau masih kurang, aku bisa tambahkan."
Namun dia lupa bahwa pernikahan bukan hanya masalah ekonomi, masih ada beberapa poin penting yang belum juga Wisnu tunaikan. Salah satunya adalah tentang Selaras; hingga saat ini masih tetap suci, perawan, belum pernah dijamah sekalipun.
"Aku normal, Ras," jawab Wisnu saat ditanyakan alasan mengenai yang satu itu. " … buktinya, aku pernah menikah sebelum bersama kamu, 'kan? Di luar pun, aku tidak pernah berbuat macam-macam."
"Iya, aku percaya sama kamu, Mas," balas Selaras masih belum bisa menerima alasan sang suami terkait sikap dinginnya tersebut. " … tapi setidaknya kamu bisa mencobanya, walaupun—"
"Karena aku belum bisa mencintaimu seutuhnya, Ras," timpal Wisnu lirih. "Aku belum merasakan apapun tentangmu."
"Karena mendiang mantan istrimu?" Selaras mencoba menyelidik. Wisnu mengangguk perlahan seraya berucap, "Salah satunya … karena itu."
Selaras menarik napas panjang, lanjut kembali bertanya, "Butuh berapa lama kamu, hingga bisa melupakan bayangan istrimu itu, Mas?"
Wisnu menggeleng.
Kondisi demikian, mau tidak mau, Selaras seperti dihadapkan pada dua pilihan; bertahan sambil mengejar cinta laki-laki tersebut, atau menyerah dengan konsekuensi pernikahan mereka berakhir di tengah jalan. Tentu saja, opsi kedua tersebut sangat tidak diharapkan oleh Wisnu. Apalagi kalau bukan karena alasan harta dan statusnya di dalam keluarga Pak Alex.
Dalam situasi gamang seperti itu, tiba-tiba saja Selaras teringat pada sosok Fadli. Kekasihnya dulu. Laki-laki yang kerap mengisi hari-hari perempuan itu dengan cinta dan penuh perhatian. Kesungguhan Fadli menjalin hubungan kasih sejak sama-sama kuliah, membuat Selaras yakin bahwa jodohnya memang dia. Namun kenyataan berkata lain. Perempuan itu —terpaksa— harus menjadi 'tumbal' atas masa lalu dan utang budi orangtuanya.
Selaras ingat, beberapa hari lalu Fadli sempat berkirim pesan padanya. Sekadar menyapa serta bertanya tentang kehidupannya bersama Wisnu selama sebulan ini.
"Aku harap kamu baik-baik saja, Laras," tulis Fadli melalui Whatsapp. "Aku yakin Wisnu bisa memberimu kebahagiaan …."
Selaras memejamkan mata. Perih. Tidak tahu apa yang mesti diucapkan. Kalimat yang Fadli tulis tersebut baginya terasa bagai sebuah sindiran belaka.
"Maaf jika selama kita menjalin hubungan dulu, aku banyak mengecewakanmu, Laras," lanjut Fadli menulis. "Jujur saja, seandainya kamu berubah pikiran, aku masih berharap banyak sama kamu …."
__ADS_1
Artinya Fadli masih membuka hatinya untuk Selaras. Dia belum bisa melupakan sosok perempuan itu. Berkenan menunggu? Untuk apa? Ataukah dia mengetahui kehidupan rumah tangga mantan kekasihnya tersebut saat ini?
Dari semua pesan yang diterima dari Fadli, belum satu pun yang dibalas Selaras. Bukannya tidak mau, tapi ….
Tiba-tiba ponsel berbunyi. Ada panggilan dari nomor ….
"Halo, Mas Wisnu."
"Ras, aku di depan. Tolong bukain pintu, dong!"
Wisnu pulang.
Selaras buru-buru berlari ke ruang depan hendak membukakan pintu. Kemudian, di luar sana berdiri sesosok lelaki yang sedari tadi dinantikan.
"Ras …."
"Mas, apa yang terjadi padamu?" tanya Selaras kaget melihat kondisi Wisnu.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba tubuh Wisnu ambruk.
"Mas!"
---------- o0o ----------
Wisnu berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumah, dibantu Selaras memapah tubuh suaminya yang beberapa kali hampir terjatuh.
"Kenapa kamu ini, Mas?" tanya perempuan tersebut berusaha mengerahkan tenaganya untuk menopang berat tubuh Wisnu. "Mobilmu juga tidak ada. Di mana?"
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah terkekeh di sepanjang langkah. Ada aroma menyengat dari mulutnya. Selaras tahu, itu bau alkohol. Lalu timbul dalam pikiran, sejak kapan Wisnu suka mabuk-mabukan?
Akhirnya setelah bersusah payah, Selaras berhasil membawa suaminya hingga ke atas tempat tidur. Tidak lupa, melepaskan tas yang membelit di tubuh, serta melucuti sepatu dan kaos kaki laki-laki tersebut.
"Apa yang terjadi sama kamu, sih, Mas?" Selaras kembali bertanya-tanya. "Aku pikir kamu akan berubah semakin baik. Tapi, melihatmu dalam kondisi seperti ini, rasanya aku mulai menyangsikanmu, Mas."
Titik-titik bening mulai jatuh menyusuri pipi Selaras. Sesekali disertai isak perih, sambil memandangi wajah Wisnu yang menjijikkan.
'Ya, Tuhan ….' membatin perempuan itu. 'Apakah aku mulai membenci suamiku sendiri? Rasa ini, tiba-tiba saja begitu tidak suka melihat sosok Mas Wisnu. Apalagi dengan kondisi seperti ini.'
Rasa kantuk yang sedari tadi mendera, kini seperti sirna. Kamar tidur itu mendadak memuakkan. Biasanya di atas kasur sana, tergolek sosok Selaras. Sendiri dalam kesepian. Malam ini ada Wisnu turut terbaring, tapi dalam keadaan yang tidak pernah perempuan itu harapkan. Dia mabuk dan dari dengkus napas itu tercium bau sangat memualkan.
'Mas Fadli ….' Nama itu terbisik begitu saja dari bibir Selaras. Entah mengapa, tiba-tiba dia teringat pada sosok lelaki tersebut. 'Seandainya waktu itu aku tetap memilihmu, Mas. Aku yakin, neraka ini tak akan tercipta dalam rumah tanggaku.'
Kembali Selaras membuka-buka pesan Whatsapp dari Fadli. Dengan jemari bergetar, dia bermaksud membalasnya. Mungkin ini saat yang tepat bagi sang mantan kekasih tersebut untuk mengetahui kondisi Selaras yang sebenarnya. Maka, perlahan dia sentuh layar ponsel guna menulis kata ….
"Laras …." Tiba-tiba terdengar suara berat di samping Selaras.
Perempuan itu menoleh, kaget, melihat ada sesosok yang baru saja akan dia balas pesannya.
"Mas Fadli!" pekik Selaras antara rasa kejut dan senang. "Mengapa kamu ada di sini? Rumahku? Darimana kamu—"
"Sssttt …." Fadli menempelkan jari telunjuknya di bibir Selaras. "Tenanglah, Laras. Sengaja aku datang malam begini, karena aku sangat merindukanmu. Aku masih belum bisa melupakanmu, Sayang."
"Mas …."
"Aku tahu apa yang rasakan selama ini," imbuh Fadli. "Kamu tidak bahagia, 'kan, dengan Wisnu?"
"Mas Fadli, maafkan atas kesalahanku waktu itu, ya, Mas. Aku benar-benar membuat sebuah pilihan keliru. Seharusnya aku mempertahankan hubungan kita, 'kan?"
"Sudahlah …." ujar Fadli sembari mengusap lembut wajah Selaras. "Bersama atau tidak, kita masih bisa bertemu, kok, Laras."
"Benarkah itu, Mas?"
"Iya, tentu saja, Sayang. Karena masih teramat menyayangimu, Laras."
"Aku juga, Mas. Aku merindukanmu …."
Perlahan Fadli menarik lengan Selaras menuju sofa. Tempat favorit Wisnu selama ini menghabiskan malam-malam. Detik itu, entah mengapa, justru menjadi peraduan pertama dua insan tersebut mengoyak waktu.
"Lakukanlah, Mas," ujar Selaras seraya memejamkan mata ….
---------- o0o ----------
"Ras, bangun, Ras!"
Sebuah tepukan kecil hinggap berkali-kali di pipi perempuan itu. Selaras mendesah, lantas mengeliat sejenak dengan mata masih terpejam. "Jam berapa ini, Mas?" tanya istri Wisnu tersebut seraya menarik selimut, karena udara dingin terasa menusuk-nusuk pori.
"Hampir pagi, Ras. Bangunlah."
"Aahhh, Mas …." seru Selaras manja. Malah menggeser tubuh guna mendekap erat sosok di sampingnya. "Tak bisakah pagi ini kita tak usah terburu-buru bangun, Mas? Setidaknya—"
" … tapi aku harus berangkat kerja, Ras."
Perlahan Selaras membuka mata. Kemudian samar-samar sosok yang ada di dekatnya itu terlihat jelas. Seketika perempuan itu terpekik kaget seraya beringsut menjauh, "Ya, Tuhan! Mas Fad … eh, Mas Wisnu!"
"Ya, ini aku," ujar sosok lelaki yang bersamanya tersebut. Tidak lain memang Wisnu. Suami Selaras sendiri. "Ada apa, Ras?"
"Tidak! Kamu bukan … eh, apa yang kamu lakukan di sini? Kita …." Selaras bingung. Dia menggeleng berulang-ulang. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Aku juga malah merasa aneh, mengapa kamu tidur di sini?" timpal Wisnu terkaget-kaget. "Kamu juga …." Laki-laki itu memandangi kondisi tubuh Selaras yang hanya tertutupi selimut.
"Ya, Tuhan! Ini tidak mungkin terjadi! Tidak!" pekik Selaras seraya menggeleng-geleng tidak percaya. Lantas kembali beringsut menjauhi suaminya. 'A-aku … ah, ini mustahil sekali! Seingatku semalam bukan Mas Wisnu yang bersamaku, tapi ….'
membatin perempuan itu dengan wajah memucat.
"Ras …." panggil Wisnu pelan.
'Tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi!" jerit Selaras dalam hati. 'D-dia … semalam bukannya dia pulang dalam keadaan mabuk? Ah, lalu … a-aku … Mas Fadli, semalam dia datang. Terus kami …."
"Ras, kamu kenapa?" tanya Wisnu kembali. Dia bangkit hendak mendekati istrinya, tapi Selaras buru-buru menghindar.
'Tidak! Ini benar-benar sudah keterlaluan! D-dia … dia … laki-laki dingin itu … telah menjamahku dalam keadaan mabuk! Sementara aku sendiri … ah, mana mungkin sampai tak sadar bahwa … ah, Tuhanku!'
Selaras berlari ke belakang. Masuk ke dalam kamar mandi dan mengurung diri di sana. Meringkuk di sudut ruangan di bawah guyuran air shower dingin.
Dari luar, Wisnu mengetuk-ngetuk pintu seraya memanggil istrinya. "Ras, aku ingin bicara. Keluarlah sebentar saja, Ras," seru laki-laki tersebut lirih. "Aku juga benar-benar belum mengerti, apa yang terjadi dengan kita semalam."
Selaras tidak mau mendengar. Dia menutup telinga dengan telapak tangan. Tangisnya perlahan pecah mengimbangi gemercik suara air yang jatuh membasahi dari shower.
'Tidak! Aku tidak sudi disentuh laki-laki dingin itu dalam keadaan tak sadar! Aku jijik!' jerit Selaras kembali dalam sedu sedan. 'Begitu rendahnyakah aku hingga harus mendapatkan hakku sendiri dengan cara hina seperti itu? Sementara yang kupikir, semalam justru Mas Fadli ….'
Fadli?
Selaras menghentikan tangisnya.
'Mas Fadli? Ya, Tuhan! Apakah benar, dia yang semalam datang?' Benak perempuan berusaha mengingat-ingat. 'Seingatku … memang Mas Fadli yang … ah, darimana dia masuk? Bagaimana mungkin dia tahu tempatku tinggal bersama Mas Wisnu? Tapi, kejadian semalam benar-benar terasa nyata bagiku. Sosoknya, suaranya, bahkan sentuhan itu … ah, ya, Tuhan! Apakah itu cuma halusinasiku belaka?'
Berkali-kali Selaras menepuk-nepuk kepala. Berharap agar segera tersadar dari bayangan di dalam benaknya yang kian sulit dipahami. Namun tetap saja, semakin ditekan ingatan tentang kejadian semalam, makin membuat perempuan itu pusing. Hingga dia terpaku beberapa waktu di bawah guyuran air dingin.
"Mas …." panggil Selaras begitu keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh. Mencari-cari sosok yang selama ini bersamanya. "Mas Wisnu, kamu belum berangkat, 'kan?"
Tidak ada jawaban. Hening. Begitu pula saat memasuki kamar tidur serta ruangan lainnya. Sama-sama kosong tanpa penampakan Wisnu. Kendaraan di depan pun, juga tidak ada.
'O, iya … bukankah semalam Mas Wisnu pulang tanpa membawa mobil?' Tiba-tiba Selaras mengingat awal kejadian semalam. 'Lalu ke mana dan dari mana saja dia semalaman tadi? Benarkah dia pulang lembur dari kantor?'
Berbagai pertanyaan menumpuk di dalam kepala perempuan itu. Hanya saja begitu memeriksa ponselnya, Wisnu mengirimkan sebuah pesan sebelum menghilang tadi.
"Maaf, Ras, aku berangkat tanpa memberitahumu. Aku berharap, kamu baik-baik saja," tulis Wisnu dalam pesannya. "Aku benar-benar tidak tahu, apa yang terjadi dengan kita semalam. Tahu-tahu begitu bangun, kamu sudah ada di sampingku."
Selaras mendecak. Tidak ada hal yang bisa memberi jawaban apa pun terkait kejadian tadi malam. Benaknya justru sibuk mencari-cari tahu, apakah benar Fadli datang semalam?
"Tidak, Laras. Aku tidak pernah menemuimu kapanpun. Bahkan, aku sendiri belum tahu di mana kamu tinggal saat ini," jawab Fadli begitu Selaras bertanya-tanya. "Kamu baik-baik saja, 'kan, Laras?"
Beberapa panggilan masuk tak terjawab menghiasi layar pemberitahuan. Semuanya berasal dari nomor Wisnu.
'Ya, Tuhan! Apakah semalam hanya mimpi belaka?' Selaras kembali bertanya sendiri. 'Apakah karena selama ini aku terlalu berharap banyak dari Mas Wisnu, lalu sampai terobsesi untuk kembali pada Mas Fadli? Atau mungkin saja, aku sudah mulai gila dengan kondisi pernikahanku sekarang ini?'
Sekali lagi sebelum berganti pakaian, Selaras berusaha mengingat-ingat. Percakapan semalam dengan Fadli, kemudian sentuhan lelaki itu, lalu … perempuan itu menunduk untuk beberapa saat.
' … aku tak merasakan perubahan apa pun pada tubuhku. Semuanya terasa seperti biasa. Tak ada yang hilang, maupun sakit ….'
Akhirnya, Selaras mengirimkan pesan khusus pada Fadli, "Aku ingin bertemu denganmu, Mas. Hari ini juga."
Pesan itu langsung tercentang dua dan biru. Sesaat kemudian tampak Fadli sedang mengetik sesuatu. Entah apa. Karena Selaras lekas mengayun ponselnya ke atas kasur, kemudian bergegas mengenakan pakaian.
---------- o0o ----------
Selaras mematut diri di depan cermin seraya tersenyum-senyum ceria. Sebentar-sebentar dia memajukan kepala untuk meneliti riasan di wajahnya. Kemudian bangkit dari duduk dan memutar-mutar tubuh sambil berujar, "Aku sudah terlihat cantik, 'kan, Mas Fadli? Lihatlah … aku masih seperti Laras yang kamu kenal sebelumnya. Hhmmm, kamu pasti akan terpesona melihatku. Hehehe."
TING!
Terdengar suara notifikasi di ponsel Selaras. Sebuah pesan masuk. Perempuan itu meraih gawainya, lantas membuka dan membacanya. Dari Fadli.
"Maaf, Laras," tulis laki-laki mantan kekasih Selaras tersebut. "Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Kita tidak bisa bertemu hari ini."
Selaras mengerutkan kening. Tanyanya, "Kenapa, Mas?"
"Aku mintanya hari ini, Mas," desak Selaras disertai emoticon dua telapak tangan menempel berdiri. Memohon. "Ada sesuatu yang ingin aku obrolkan sama kamu."
"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku belum bisa."
"Kenapa, sih, Mas?" tanya Selaras kesal. "Aku pikir kamu masih mencintaiku? Tapi kenapa sekarang kamu berubah?"
Beberapa saat, percakapan terhenti. Centang biru membeku di layar tanpa ada reaksi balasan. Selaras mendengkus kesal. Segera dia pilih gambar telepon untuk menghubungi nomor Fadli melalui obrolan suara. Berdering, tapi tidak diangkat.
"Angkatlah, Mas Fadli!" seru Selaras makin kesal. "Aku membutuhkanmu! Angkat, dong!"
Masih seperti semula. Panggilan teleponnya tidak juga diangkat. Justru pesan masuk yang datang.
"Maaf, Laras. Aku lagi di luar. Aku tidak bisa menerima panggilan teleponmu," tulis Fadli dari seberang sana.
"Angkat sekarang juga, Mas! Aku ingin bicara sama kamu sekarang!" teriak Selaras histeris disertai terisak-isak. Kali ini melalui fitur pesan suara.
"Tenanglah, Laras. Tenang." Fadli berusaha menenangkan. "Aku janji, suatu saat kita pasti akan bertemu. Tapi tidak sekarang."
"Aku bilang sekarang, Mas Fadli!" Kembali Selaras berteriak. "Aku sudah tidak tahan dengan semua ini! Pernikahanku, dan juga laki-laki tak berperasaan itu!"
"Maksudmu … Wisnu?"
"Siapa lagi? Kamu pikir dengan siapa selama ini aku diperistri, hah? Bukan sama kamu, Fadli!"
"Ya, Tuhan! Tenanglah, Laras. Tenanglah," tulis Fadli seakan-akan turut panik mendengar pesan suara Selaras barusan.
"Tidak! Aku tidak mau tenang sebelum kamu memenuhi permintaanku, Fadli!"
Percakapan terhenti sama sekali, walau berulang kali Selaras mengirimkan pesan suara dan panggilan telepon. Sia-sia saja. Tidak satu pun direspon oleh Fadli.
"Sialan!" pekik Selaras seraya membanting ponsel ke atas kasur. "Semua lelaki di dunia ini, sama saja! Tidak ada seorang pun yang bisa memahami perasaanku! Aaarrghhh!"
Perempuan itu mengacak-acak riasan di wajah dengan kesepuluh jemarinya, disertai raungan tangis yang memilukan. Dia kesal dan marah. Terhadap diri sendiri, maupun kedua laki-laki yang di maksud tadi. Wisnu dan Fadli.
Beberapa waktu Selaras terisak sendiri di depan cermin, lantas membalik badan dan menghambur ke atas pembaringan. Sampai kemudian, sesosok laki-laki muncul di ambang pintu kamar.
"Ras …."
Selaras menghentikan tangis, mengangkat kepala, lantas menoleh ke arah asal suara tadi. "Mas Fadli?" tanya perempuan itu spontan.
Sosok itu mendekat.
"Oh, tidak! Kamu …." Selaras beringsut menjauh.
"Ras …." panggil sosok tersebut lirih. "Kamu baik-baik saja, 'kan?"
"Mas Wisnu …." ucap Selaras sambil memandangi lelaki yang berjalan mendekatinya.
"Bukannya kamu sudah berangkat kerja?"
Sosok tadi memang Wisnu. Suami Selaras. Entah mengapa, mendadak dia kembali ke rumah secara senyap seperti itu. Tanya lelaki tersebut kemudian, sambil meraih tubuh istrinya yang terlihat masih kebingungan, "Kamu sakit, Ras? Wajahmu pucat begitu. Sini …."
Wisnu menarik tubuh Selaras ke dalam peluknya. Mendekap dengan erat penuh kehangatan.
"Mas …." desah Selaras pasrah. Membiarkan Wisnu memeluknya untuk pertama kali.
"A-aku … a-aku …."
"Maafkan aku, Ras," bisik Wisnu lembut. "Aku tadi meninggalkanmu begitu saja. Aku merasa bersalah. Lalu … aku memutuskan untuk kembali dan melihat keadaanmu. Ternyata …."
"Mas …."
Selaras membalas pelukan suaminya dengan erat. Gundah yang tadi dirasa, lambat laun memudar. Berganti ketenangan dan rasa bahagia di hati, seakan-akan tengah terbang, melayang berputar-putar di alam nirwana. Sekian lama menantikan perhatian dari Wisnu, hari ini bisa terwujud.
"Kamu sakit, Ras?" tanya Wisnu usai melepas pelukannya. Memandangi riasan di wajah Selaras yang sudah tak beraturan, lantas meraba dahi perempuan tersebut. Panas. "Kita berobat, ya?"
"Aku tidak apa-apa, Mas," jawab Selaras seraya menyeka bulir bening di pelupuk mata. "Aku sehat, kok. Aku hanya—"
"Tidak, Ras," kilah Wisnu. "Badanmu panas."
"A-aku …."
"Aku antar kamu berobat sekarang juga," ujar Wisnu sambil menarik tubuh Selaras agar turun dari tempat tidur dan segera berdiri. "Mau, ya?"
"Mas, aku …."
"Ayo, ikut aku, Ras."
Selaras enggan menolak. Dia menuruti ajakan Wisnu, berjalan ke luar kamar, setelah sebelumnya menghapus bersih riasan yang acak-acakan tadi.
"Mas Wisnu …."
"Hhmmm?"
"Bolehlah aku memintamu sekali lagi?"
"Apa itu?" tanya Wisnu heran.
Selaras tersenyum. Dia melingkarkan kedua tangannya di pundak laki-laki tersebut."Peluk aku sekali lagi."
Wisnu kikuk. Balasnya kemudian, "T-tentu s-saja, R-ras. T-tentu …."
Selaras langsung membenamkan tubuhnya dalam pelukan Wisnu. Dia ingin sekali merasakan kembali sensasi kehangatan tadi, sambil memejamkan mata, lantas membayangkan lelaki yang ada di depannya itu adalah Fadli.
---------- o0o ----------
Wisnu dan Selaras keluar bergandengan tangan dari ruang pemeriksaan dokter. Sikap laki-laki itu kini terlihat agak berubah secara perlahan-lahan. Tidak berkesan dingin maupun acuh seperti biasa.
"Terima kasih, dok, atas bantuannya," ujar Wisnu sebelum meninggalkan tempat praktik dokter tadi seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Sama-sama, Pak Wisnu. Tolong awasi selalu kondisi Bu Selaras," pinta sang dokter pelan, usai melirik sejenak istri Wisnu tersebut. "Beliau butuh istirahat, kasih sayang, dan dukungan penuh dari orang-orang terdekat. Terutama keluarga dan Anda sendiri sebagai suaminya."
"Tentu, dok, akan saya pastikan itu," balas Wisnu diiringi senyum penuh arti.
Selaras tidak banyak bicara selagi berada dalam proses pemeriksaan tadi. Hanya menjawab ketika ditanya dan bercerita sedikit tentang hal yang tengah dia rasakan selama ini. Masa lalunya, serta kehidupan berumah tangga bersama sang suami.
"Aku baik-baik saja, 'kan, Mas?" tanya Selaras dalam perjalanan pulang di dalam kendaraan. Wisnu menoleh, tersenyum, lantas menjawab, "Tentu, Ras. Kamu sehat, kok."
Mata perempuan itu bergerak-gerak sesaat, seperti memperlihatkan ketidakpuasan terhadap jawaban suaminya. Decak dari mulut itu pun sesekali menghiasi gerak kegundahan yang masih dia rasa.
"Terus … kenapa aku harus menjalani tes psikosomatik, Mas?" tanya Selaras kembali mengejutkan Wisnu. Hampir saja lelaki itu menginjak pedal rem secara mendadak. Lanjut perempuan tersebut bertanya, "Tidak ada masalah, 'kan, dengan kejiwaanku, Mas? Aku tidak gila, 'kan?"
"Ya, Tuhan … Laras," seru Wisnu masih dalam rasa kejutnya. "Kamu sehat, Sayang. Tidak ada masalah apa pun dengan dirimu. Percayalah."
Selaras menggeleng belum paham.
"Lalu, kenapa kamu membawaku ke psikiater? Kamu pikir aku—"
"Bukan! Bukan begitu maksudku, Ras," tukas Wisnu buru-buru memotong ucapan istrinya. "Aku hanya berpikir … mungkin kamu terlalu banyak memikirkan kondisi pernikahan kita. Terutama sikapku selama ini. Jadi … aku khawatir … hal itu membebani pikiranmu. Tapi—"
"Kamu sendiri tidak bahagia, 'kan, dengan pernikahan kita ini? Apalagi … kita belum bisa saling mencintai hingga saat ini," ucap Selaras lirih, diikuti genangan bening di pelupuk matanya. Dia mulai terisak.
"Ya, Tuhan …." pekik Wisnu seraya menepikan kendaraan ke bahu jalan. Berhenti untuk beberapa waktu. "Maafkan aku, Ras. Maafkan aku," ujar lelaki tersebut, terus menarik istrinya ke dalam pelukan tubuh kekar itu.
Tangis Selaras semakin menjadi. Dia benamkan wajahnya di dada sang suami, hingga air mata itu deras membasahi kemeja Wisnu.
"Menangislah, Sayang. Tumpahkan semua kekesalanmu itu padaku," bisik Wisnu sambil mengusap lembut kepala istrinya. "Dari awal, semua memang salahku. Tidak sepantasnya aku memperlakukanmu seperti ini. Tolong, maafkanlah aku …."
Beberapa saat, Wisnu membiarkan Selaras menangis dalam pelukannya. Hingga perlahan, mulai mereda. Refleks tangan kekar itu meraih selembar tisu yang tersedia di atas dashboard kendaraan. Lantas meregangkan dekapan, dan menyeka lelehan air mata di pipi sang istri.
"Kamu masih ingin menangis, Sayang?" tanya Wisnu lembut. Bukan tanpa sebab, dia tahu bahwa dengan menangis mungkin bisa sedikit membantu meredakan gejolak yang tengah bersemayam di hati Selaras. Seperti sekarang ini.
Perempuan itu menggeleng perlahan.
" … atau kamu menginginkan …." Wisnu tak meneruskan ucapannya. Setelah beberapa saat memandangi mata Selaras, kemudian wajah lelaki itu maju, mendekat, lantas ….
"Ah, jangan, Mas!" Selaras mundur, menjauhkan tubuhnya dari tatapan Wisnu.
"Kenapa, Ras? Kamu tidak menginginkan itu dariku?" Lelaki itu terheran-heran. "Aku suamimu. Kita sudah sah menikah. Tidak ada larangan apa pun tentang—"
"Bukan itu masalahnya, Mas."
"Lalu?"
Selaras menjawab dengan pandangan lurus ke depan, "Tak adakah tempat yang lebih baik untuk memulai kewajibanmu itu, Mas?"
"Eh …." Wisnu mendadak salah tingkah.
"Bukannya kamu harus kerja?"
__ADS_1
"O, iya. Tapi … aku sudah terlanjur minta izin tak masuk kantor hari ini," jawab lelaki tersebut seraya pura-pura mengusap-usap kemejanya yang basah oleh air mata Selaras tadi.
"Terus?" tanya Selaras kembali.
Wisnu menoleh, kikuk. "Teruuuss … teruuusss … terus apanya, ya, Ras?"
Selaras tersenyum-senyum sendiri. Sekali lagi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
"Aku ingin pulang, Mas."
"Oh, baiklah. Kita kembali ke rumah sekarang, ya?" kata Wisnu sigap, segera mengatur tuas persneling, lantas melajukan kendaraan.
Ujar Selaras sesaat usai melanjutkan perjalanan, " … di rumah akan lebih baik dan nyaman, Mas."
Spontan Wisnu menoleh. Tanyanya, "Untuk?"
Perempuan itu mengikik sejenak, lalu menjawab, "Apalagi?" Dia mengedipkan mata. Genit.
"Apa, sih? Aku—"
" … yang barusan, Mas."
"Hah?"
"Kamu mau, 'kan?"
Wisnu tidak menjawab. Tangan kirinya segera mengambil sisa tisu di atas dashboard, lalu memberikannya pada Selaras. "Bawa ini, Ras," kata lelaki tersebut disertai jakunnya yang bergerak turun-naik.
"Buat apa?" tanya Selaras bingung.
Wisnu tersenyum simpul.
"Kamu tidak ingin sepraimu kotor, 'kan?" tanya lelaki tersebut menggoda.
"Iihh, kamu!"
Wisnu tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, kepura-puraannya terhadap Selaras selama ini akhirnya akan segera berakhir.
'Terima kasih, Mas,' membatin Selaras. 'Penantianku padamu, hari ini akan segera terwujud. Itu semakin membuatku yakin, bahwa kamu memang masih mencintaiku, Mas Fadli ….'
---------- o0o ----------
Bau aroma obat-obatan memenuhi ruangan berukuran besar itu, lengkap dengan deret ranjang pasien yang terbagi dalam dua bagian. Semuanya berjumlah enam buah. Dua di antara banjar tersebut kosong tidak berpenghuni.
"Pasien yang di sebelah Mbak itu, baru saja meninggal tadi sore," kata salah seorang pengunjung pada Selaras yang duduk terpaku di sisi ranjang. Seorang wanita tua penunggu pasien. Baru sepekan ini datang bersama seorang lelaki sebayanya, terbaring lemah semenjak ketibaan mereka lalu.
"Sakit apa, Bu?" tanya perempuan muda itu seraya menoleh pada sosok Fadli yang terbaring pucat di sebelahnya.
Pengunjung tadi menggeleng.
"Kurang tahu, Mbak. Mungkin sama dengan Mas yang itu …." Mata wanita tersebut bergerak menunjuk pada Fadli.
"Ya, Tuhan …." desah Selaras lirih.
Fadli sendiri baru dirawat di sana selama kurang lebih tiga hari. Semula mengeluh sakit pada bagian dada, kemudian jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
"Suami Embak?"
Selaras mengangkat wajah. Terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari wanita tua tadi.
"Belum, Bu," jawab Selaras pelan. "Kami belum menikah, tapi baru akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lalu."
"Maksud Embak?" Wanita tua tersebut mengerutkan kening. "Mbak dan Mas itu …."
Selaras menunduk sedih.
"Tiga hari lalu … seharusnya kami melangsungkan pernikahan," tutur Selaras mulai bercerita. " … tapi kenyataan berkata lain, Bu. Mas Fadli jatuh sakit saat sedang mempersiapkan acara untuk resepsi kami."
"Ya, Allah!"
Selaras melanjutkan ungkapannya, "Mas Fadli memang mempunyai penyakit jantung. Mungkin karena terlalu bersemangat, sampai mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Dia kelelahan, lalu jatuh pingsan di atas panggung pelaminan. Tempat yang seharusnya kami duduki bersama pada keesokan harinya."
Wanita tua itu mendekat, meraih jemari Selaras, lalu menggenggamnya erat. "Maafkan saya, ya, karena sudah lancang bertanya-tanya sama Mbak. Saya tidak tahu—"
"Tidak apa-apa, Bu," sahut Selaras berusaha tegar. "Ini memang sudah menjadi takdir kami. Yang terpenting, Mas Fadli bisa kembali pulih dan …."
"Yang sabar, ya, Mbak."
Wanita tua itu memeluk Selaras, mengelus rambut dengan lembut, serta berbisik, "Saya hanya bisa ikut mendoakan, Mbak, untuk kesehatan calon suami Mbak ini."
Selaras mengangguk-angguk dalam pelukan wanita tua tersebut.
"Terima kasih, Bu," bisik Selaras. "Doa yang sama, untuk suami Ibu. Semoga kita semua bisa kembali berkumpul bahagia."
"Aamiin."
Itu hari ketiga Selaras berada di sana. Setia mendampingi Fadli sejak di rawat di rumah sakit. Orang tuanya serta calon mertua perempuan tersebut beberapa kali meminta agar Selaras pulang. Namun ditolak. Dia bersikeras ingin menunggui Fadli hingga sembuh nanti.
"Ini … Bapak dan Ibu bawakan pakaian, mukena, dan sajadah buat kamu, Laras," kata Pak Sugara begitu datang menjenguk kemarin. "Sudah dua hari ini kamu belum mengganti pakaian. Mandilah dulu sana, Sayang."
"Kamu sudah makan, Nak?" Ibu Selaras turut bertanya.
Perempuan itu menggeleng lesu.
Timpal Pak Sugara menambahkan, "Makanlah dulu, Ras. Terus mandi. Biar Bapak sama Ibu yang menjaga Fadli."
Selaras menurut. Dia bergegas ke kamar kecil yang tersedia di ruangan itu. Mandi, berganti pakaian, lantas makan walau hanya beberapa suap.
Menjelang petang, kedua orang tua Selaras berpamitan kembali pulang. Meninggalkan dua sosok terkasih mereka di sana.
"Pak Haris dan Bu Rieke belum datang lagi, Nak?" tanya Ibu Selaras tentang kedua orang tua Fadli sebelum meninggalkan ruang perawatan.
"Mungkin nanti malam, Bu," jawab Selaras dengan wajah muram. "Baru tadi pagi mereka pulang dari sini. Bergantian menjaga Mas Fadli."
"Oohhh …." Ibu Selaras mengangguk-angguk. "Apa tidak sebaiknya, kamu juga pulang dulu, Nak. Istirahat di rumah sampai—"
"Tidak, Bu," ujar Selaras. "Laras masih ingin di sini bersama Mas Fadli."
"Tapi …."
Selaras memandangi kedua orang tuanya, lalu berkata, "Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir. Laras sehat, kok. Laras bisa jaga diri. Hanya saja … saat ini, Laras hanya ingin menemani Mas Fadli."
Ibu Selaras menoleh pada suaminya.
"Ya, sudah kalau begitu," ujar Pak Sugara. "Jaga dirimu baik-baik, ya, Sayang. Terutama kesehatanmu."
"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Bapak dan Ibu, ya?"
Selaras mengangguk.
Malam harinya, kedua orang tua Fadli berhalangan datang karena sesuatu hal. Selaras memaklumi dan menenangkan mereka.
"Tidak apa-apa, Pak-Bu," ucap Selaras melalui percakapan telepon. "Biar Laras yang jagain Mas Fadli. Tadi sore, orang tua Laras juga sudah datang menjenguk, kok."
"Oh, begitu, ya?" balas Pak Haris di seberang sana. "Ya, sudah kalau begitu. Tapi Bapak dan Ibu janji, besok pagi-pagi sekali kami datang ke sana, ya, Nak."
"Iya, Pak."
Malam ini Selaras terpaksa menjaga Fadli seorang diri. Tertidur duduk di samping sang kekasih yang masih belum tersadar dari pingsannya sejak pertama kali datang lalu. Sampai kemudian, perempuan itu terbangun karena merasa ada sentuhan lembut mengusap-usap ujung kepalanya.
"Mas Fadli …." seru Selaras kaget. Dia melihat laki-laki itu sedang tersenyum ke arahnya. "Mas sudah sadar?"
Fadli mengedipkan matanya perlahan-lahan. Terlihat masih lemah, dengan belitan selang infus di tangan dan oksigen menempel di kedua lubang hidung.
"A-apa k-kabar, S-sayang?" tanya Fadli setengah berbisik dan terpatah-patah.
Selaras mengecup jemari tangan kekasihnya penuh kecintaan. Senyum itu pun segera menguar menghiasi wajah perempuan tersebut karena bahagia. Fadli sudah siuman, dan berharap akan lekas pulih seperti sedia kala.
"Baik, Mas," jawab Selaras semringah. "Aku sehat. Aku senang, Mas Fadli sudah tersadar."
Fadli tersenyum ringkih.
"A-aku s-sayang s-sama k-kamu, Rasss …."
"Aku juga, Mas. Aku sangat mencintaimu."
Fadli kembali tersenyum. Kedip matanya kian melemah, dengan bola mata sesekali bergerak-gerak ke atas.
"Mas?"
Selaras bangkit dari duduknya. Mendekati wajah Fadli, serta mengusap-usap ujung kepala lelaki tersebut.
"M-ma … afhhkann a-aakhuu, R-rasshh. Uuhhh …."
"Ya, Tuhan! Mas Fadli!" pekik Selaras panik. "Kamu kenapa, Mas? Mas! Mas Fadli!"
"R-rraaasshhh …."
"Mas Fadli!" teriak Selaras membuat beberapa penunggu pasien di ruangan tersebut ikut terbangun dalam keterkejutan. "Tolong panggilkan dokter! Tolong! Tolong Mas Fadli-ku!"
Kondisi tiba-tiba menjadi riuh. Beberapa orang tenaga medis berdatangan setelah dipanggil salah seorang pengunjung ruangan itu. Dengan sigap mereka menyiapkan peralatan yang tersambung ke aliran listrik. Kemudian …
"Mas Fadli!" teriak Selaras menghambur peluk pada sosok sang kekasih. Meraung-raung memilukan. Menangis di dada Fadli yang sudah tidak lagi berdetak.
Tidak dinyana, malam itu adalah malam terakhir Selaras mendengar suara Fadli. Sang kekasih menyapa dan mengungkapkan rasa cintanya sebagai tanda perpisahan.
Perempuan itu belum mau percaya bahwa lelaki terkasih tersebut telah pergi selama-lamanya. Dia tetap menganggap, Fadli masih hidup. Melanjutkan kisah mereka dan merajut kembali rencana untuk membina rumah tangga.
Sejak itu, Selaras berubah menjadi sosok pemurung. Kerap menceracau sendiri. Seolah-olah tengah berbincang mesra dengan sang kekasih di luar sana ….
---------- o0o ----------
Selaras masih berjongkok pilu di depan pusara dengan linang air mata. Sedih. Fadli sang kekasih, baru saja dikuburkan di dalam sana, meninggalkan segenap rasa sedih yang kian menyayat. Perempuan itu terpejam, menunduk, serta bibirnya enggan berhenti melafalkan kalimat-kalimat doa.
"Laras, pulang, yuk," ajak Ibu Selaras dengan lembut seraya mengusap bahu anak perempuannya tersebut. "Kita sudah terlalu lama di sini. Biarkan Fadli beristirahat deng—"
"Laras ingin di sini dulu, Bu," ujar Selaras lirih. "Kalau Ibu sama Bapak mau pulang, duluan saja. Nanti laras nyusul."
Ibu Selaras melirik suaminya yang berdiri tidak jauh dari mereka, kemudian pada pasangan Pak Haris dan Bu Rieke di samping Pak Sugara.
"Bagaimana ini, Pak?" tanya Bu Rieke pada Pak Sugara. "Tidak mungkin kita meninggalkan Laras sendirian di sini. Apalagi dalam kondisi seperti itu."
Pak Sugara menarik napas panjang. Bimbang. Namun mau tidak mau, dia harus segera mengambil keputusan. Maka, perlahan mendekati sosok anaknya, lalu berkata perlahan, "Sayang, sebaiknya Laras istirahat dulu di rumah. Tenangkan pikiran. Kita lanjutkan berdoa di sana, ya. Bagaimana?"
Selaras membuka mata, menoleh pada ayahnya, lantas menjawab lirih, "Laras ingin di sini menemani Mas Fadli, Pak."
Pak Sugara turut berjongkok di samping Selaras. Tanpa memandangi anaknya, lelaki tua itu mengusap-usap kayu nisan yang menancap di atas kuburan Fadli, kemudian bergumam, "Bapak paham sekali apa yang sedang Laras rasakan saat ini, Sayang. Kami pun sedih. Bapak, Ibu, bapak-ibunya almarhum Nak Fadli. Kita semua merasakan hal yang sama. Kehilangan orang yang kita sayangi. Terlebih lagi … Laras sendiri. Tapi—"
"Pulanglah, Pak. Laras hanya ingin di sini untuk beberapa waktu." Selaras bersikukuh. "Kasihan Mas Fadli kalau ditinggalkan …."
"Ya, Tuhan … Laras," desah Ibu Selaras lekas memeluk anak perempuannya. "Sabarlah, Sayang. Laras tidak bol—"
"Bu!"
Wanita tua itu melirik pada suaminya. Pak Sugara memberikan isyarat melalui telunjuk yang ditempelkan di bibir. Meminta agar istrinya tersebut untuk diam. Kemudian menarik lengan Ibu Selaras menjauh dari sana dan berkumpul bersama Pak Haris dan Bu Rieke.
"Saya akan menemani Selaras di sini sampai dia mau pulang," bisik Pak Sugara pada ketiganya. "Pulanglah duluan. Urusan selanjutnya, nanti kita bicarakan kembali."
"Tapi, Pak …." Ibu Selaras tampaknya kurang setuju dengan saran suaminya tersebut.
Pak Sugara menepuk bahu istrinya, lalu berkata, "Pulanglah dengan Pak Haris dan Bu Rieke. Aku akan mencoba membujuk Laras untuk—"
"Laras mau pulang sekarang, Pak-Bu." Tiba-tiba Selaras sudah berdiri di belakang mereka. Serentak keempat orang tua itu menoleh kaget.
"Laras?!"
Selaras tidak menyahut. Perempuan itu malah bergegas terlebih dahulu menuju kendaraan yang diparkir tidak jauh dari area pemakaman.
Tanpa menunggu komando, keempatnya segera mengikuti langkah Selaras. Tentu saja tanpa disertai obrolan apa pun. Mereka kompak menutup mulut rapat-rapat karena khawatir akan mengubah keputusan Selaras tadi.
Di tengah perjalanan, tidak ada satu pun ucapan yang keluar dari mereka. Semua membisu dengan kecamuk pikirannya masing-masing. Apalagi Selaras. Dia terlihat begitu sedih dengan tatapan hampa dan derai air mata yang tidak berhenti membasahi pipi.
Hari-hari di rumah keluarga Pak Sugara pun berubah sunyi. Selaras lebih betah mengurung diri di dalam kamar, sementara kedua orang tuanya sibuk meratapi nasib yang di alami sang anak. Semua menjadi hambar. Tidak ada lagi keceriaan. Terkecuali suara isak pilu yang sering kali menghiasi di dalam kamar sana.
"Sampai kapan Laras akan seperti itu, Pak?" tanya Ibu Selaras suatu ketika pada suaminya. "Aku khawatir, anak kita—"
"Kita bawa berobat saja, ya, Bu," usul Pak Sugara. "Ke psikiater, mungkin, atau … ah, aku baru ingat!"
"Ingat apa, Pak?" tanya Ibu Selaras kaget sekaligus penasaran.
"Sini, Bu," bisik lelaki tua itu menarik tubuh istrinya agar lebih mendekat. "Kebetulan aku punya teman. Beberapa minggu lalu, aku ketemu sama dia, teman kuliah dulu …."
"Iya, Pak. Lalu?" tanya kembali Ibu Selaras sambil menahan napas dari aroma mulut suaminya yang begitu dekat. Bibirnya sampai bergerak-gerak ke atas memberi reaksi.
"Ibu kenal sama Pak Alex, 'kan?"
"Tidak!" jawab Ibu Selaras dengan wajah bersemu merah akibat terlalu lama menahan napas.
"Lho … kok, tak kenal? Bagaimana, sih, Ibu ini?" protes Pak Sugara.
"Dia, 'kan, teman kuliah Bapak, bukan teman madrasah aliahku," jawab kembali Ibu Selaras makin pucat raut wajahnya.
"O, iya … benar juga, ya? Hehehe," kata Pak Sugara diiringi tawanya. Namun cuma sesaat, sampai kemudian meneliti kondisi muka sang istri. "Kamu kenapa, Bu? Mukamu kayak mau meledak, begitu."
"Oke, sebentar …." Wanita tua itu menjauh sebentar. Berpaling ke lain arah, membuang napas, mengaturnya, lantas menghirup udara sekian banyak untuk stok oksigen di paru-paru. " … lanjutin lagi sekarang, Pak."
Pak Sugara menarik kembali istrinya kian dekat. Malah kini hampir merapat. Khawatir obrolan mereka terdengar oleh Selaras. Begitu alasan lelaki tua tersebut.
"Begini, Bu …." Pak Sugara melanjutkan ceritanya, diangguki Ibu Selaras sambil —kembali— menahan napas. "Pak Alex yang sudah lama hidup menduda itu, 'kan, punya anak laki-laki muda. Sebayalah dengan Selaras …."
"Iya. Lalu?" Kali ini hidung wanita tua itu yang bergerak-gerak.
" … sayangnya, anak Pak Alex itu … juga duda. Tapi tanpa anak, sih. Baru beberapa bulan lalu ditinggal istrinya."
"Ditinggal? Ke mana? Jadi TKW?"
"Hus! Sembarangan!" seru Pak Sugara hingga ujung hidung Ibu Selaras kepanasan terkena hawa mulut suaminya. "Pak Alex itu keluarga pengusaha, Bu. Masa menantunya dibiarkan jadi TKW?"
"Lalu?" tanya Ibu Selaras. "Cepetan, dong, ceritanya!" Dia ingin segera mengakhiri tekanan deritanya saat itu.
"Istri anaknya Pak Alex itu meninggal," ucap Pak Sugara.
"Ooohhh …." Ibu Selaras mengangguk-angguk. Lupa dengan stok oksigen di parunya terkuras boros barusan.
"Nah, waktu terakhir kami ketemu itu, Pak Alex pernah ngomong sama aku, bahwa dia ingin sekali menjalin tali kekeluargaan dengan kita."
"Besanan?"
"Artiannya kurang lebih seperti itu, Bu," kata Pak Sugara semringah. "Hanya saja … waktu itu anak kita, 'kan, sudah bertunangan dengan Fad … eh, almarhum Nak Fadli. Jadi, aku tak punya pilihan lain, kecuali menolak secara baik-baik, disertai alasannya."
"Sekarang Bapak mau menjodohkan anak kita dengan Pak Alex yang duda itu?"
"Anaknya, Bu. Bukan Pak Alex-nya! Walaupun mereka berdua sama-sama duda."
"Ooohh … kirain."
"Ya, ampun!"
"Kira-kira anaknya Pak Alex itu, masih belum menikah lagi atau sudah, Pak? Jangan-jangan malah sold out! Secara, 'kan, duda muda dan tajir. Siapa, sih, yang berani nampik?"
"Makanya … aku ingin ke sana secepatnya. Mudah-mudahan saja anaknya Pak Alex masih single. Jadi, kita bisa melanjutkan tawaran dari Pak Alex dulu itu. Bagaimana, Bu?"
Jawab Ibu Selaras, "Apakah Selaras mau dijodohkan dengan anaknya Pak Alex, Pak?"
"Kita coba saja dulu, Bu. Ini, 'kan, demi kebaikan anak kita juga. Sekaligus … menjalin silaturahim kembali dengan temanku dulu."
Dengan kondisi wajah bersemu merah, Ibu Selaras menimpali, "Terserah Bapak saja, deh. Yang penting anak kita kembali ceria seperti dulu, Pak."
Pak Sugara tersenyum, seraya menarik diri dari obrolan jarak dekat mereka.
"Aaahhh … legaaa!" seru Ibu Selaras sambil mencari-cari udara segar.
Akhirnya setelah menghubungi Pak Alex terlebih dahulu, pada keesokan hari, Pak Sugara dan Ibu Selaras bertandang ke rumah bekas teman kuliah laki-laki tua tersebut. Meninggalkan Selaras seorang diri di dalam kamarnya.
Itu adalah kesalahan terbesar kedua orang tua itu, membiarkan Selaras yang sedang depresi tanpa pendampingan.
Kemudian hal mengerikan pun terjadi begitu mereka kembali tiba di rumah.
"Kayak bau gas, Pak!" seru Ibu Selaras seraya mengendus-endus aroma khas bahan bakar dapur tersebut.
"Ya, Tuhan!" Pak Sugara terkejut. "Ibu lupa matiin kompor?"
"Tidak, Pak!"
Pak Sugara segera berlari ke dapur sambil berteriak, "Jangan nyalain listrik, Bu! Buka pintu dan jendela lebar-lebar!" Namun beberapa saat kemudian kembali dengan panik. "Di dapur tidak ada tabung gas, Bu! Terus bau ini …."
Serentak suami-istri itu menoleh ke arah kamar anak perempuan mereka.
"Selaras?"
Benar saja, begitu pintu kamar Selaras di buka, bau menyengat itu langsung menampar mereka.
"Laras!" teriak Pak Sugara panik. Langsung menghambur ke dalam dan menemukan sosok Selaras tergeletak di atas tempat tidur. Sementara tidak jauh dari sana, sebuah tabung gas dengan selang terpotong mendesis-desis mengeluarkan aroma menyesakkan.
"SELARAS!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...