
...DUA AYAH...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Entah mengapa akhir-akhir ini Alisha, anak perempuanku, seringkali bersikap aneh. Hampir setiap kali bertemu denganku, anak itu menunjukan sorot mata seperti tengah menyelidiki. Ditambah lagi dengan berbagai pertanyaan yang tidak lazim seperti biasanya. Ayah dari mana?" tanyanya dingin begitu aku tiba di ruang tengah, melewati pintu kamarnya. Masih dengan tangan yang menenteng tas kerja. Rupanya anak itu sudah lama menunggu kepulanganku dari kantor.
"Kamu itu., Ayah baru pulang bukannya salaman sama Ayah!" sahutku tanpa menjawab pertanyaannya tadi. Alisha segera meraih tanganku dan menciumnya dengan takzim. Anak baik, begitu kupikir.
"Ayah belum jawab pertanyaan Alisha!"
Aku tersenyum dan segera mengecup keningnya dengan penuh rasa sayang. Tidak ada penolakan tapi tetap dingin tak memberikan respon seperti biasa. Memelukku dengan hangat. Itu kebiasaannya jika cium ini sudah mendarat di wajah putihnya yang cantik.
"Ayah dari kantor, sayang. Tadi ada pekerjaan tambahan jadi Ayah harus lembur sebentar," jawabku akhirnya masih dengan senyum yang mengambang di bibir yang tak berkumis. "Beneran lembur? Tidak ada hal lain yang mengharuskan Ayah pulang terlambat kan?" tanya Alisha kembali dengan sorot mata seperti tengah mencari kejujuran di antara kedua belah bola mata ini.
"Iya, lembur, sayangku. Ini kenapa, sih? Tumben anak Ayah yang cantik ini tanya-tanya kayak 'gitu?"
Dia tidak menjawab, tapi kemudian menghilang di balik daun pintu kamarnya yang bergerak menutup. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Oh, Ayah sudah pulang rupanya." Suara istri mengejutkanku yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar Alisha. "Maaf ya, tadi aku lagi sholat Isya."
"Alisha kenapa sih, Bu?" tanyaku pada istri yang masih mengenakan mukena.
"Gak tahu, Yah. Dari semenjak pulang sekolah tadi siang dia seringkali bertanya ; kapan Ayah pulang dari kantor," jawab istri seraya mengambil tas kerjaku yang masih tergantung dengan jemari yang mulai terasa penat. "Ayah mau langsung makan? Atau mau mandi dulu? Aku sudah siapkan air hangat."
"Oh, iya ... tadi Ayah sudah makan malam sama rekan kantor! Maaf, Ayah lupa ngasih tahu kamu, Bu?"
"Teman kantornya cewek apa cowok, Yah?" tanya Alisha tiba-tiba dari balik pintu kamarnya.
"Pak Mulyadi. Kamu sudah kenal beliau 'kan, cantik? Dia temen kantor Ayah yang--"
"Tempat makannya yang ada di depan kantor Ayah, 'kan? Bukan tempat lain?" tanya Alisha kembali sambil membuka-buka buku pelajaran yang dipegangnya. Tanpa menatapku sama sekali.
"Kamu ini kenapa sih, sayang? Kalau tidak percaya bisa Ayah teleponkan Pak Mulyadi sekarang juga," aku semakin heran melihat sikap anak perempuanku tersebut.
Segera kurogoh telepon selulerku di dalam saku celana. Bermaksud untuk menelepon teman kantorku yang bernama Pak Mulyadi itu tadi.
"Hhmm, ini anak sama Ayahnya lagi pada ngomongin apaan, sih? Ibu jadi bingung, deh." Istriku menyela memperhatikan tingkah laku kami. "Sudahlah, gak usah. Nanti malah mengganggu orang lain."
Alisha cemberut lalu masuk kembali ke bilik kamarnya. Sementara Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan dalam, seraya menoleh ke arah istri sambil mengangkat alis tinggi-tinggi.
"Kalian berdua tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?" tanya istriku dengan sorot mata menyelidik, berharap sebuah kepastian.
"Menyembunyikan apa, Bu? Ayah lagi bingung dengan serangkaian pertanyaan Alisha akhir-akhir ini! Ayah berharap, justru Ibu yang tahu kenapa anak kita bersikap begitu."
"Alisha belum cerita apa-apa sama aku. Dia hanya sering bertanya tentang Ayahnya."
Kugaruk kembali kepala yang tidak gatal. Kemudian segera berlalu dari hadapan istri yang masih memperhatikan dengan pandangan sedikit aneh. Ya, aneh. Sikap yang sering ditunjukan oleh anak perawanku juga. Memberikan beberapa pertanyaan yang sama, tiap kali aku lembur kantor maupun pulang terlambat. Kadang pulang kuliah pun tidak langsung ke rumah, tapi dengan setia menunggui jam kerjaku sampai habis. Berangkat bersama dan pulang pun harus bareng-bareng
Satu hal yang belum didapatkan, Alisha belum pernah menjawab pertanyaanku perihal sikapnya itu. Aneh.
Sampai suatu ketika, sesaat sebelum jam kerjaku habis, Alisha datang ke kantor bersama dengan seorang laki-laki muda seusianya. Mungkin teman kuliah atau bisa juga pacarnya. Hhmm, anakku sudah dewasa rupanya. Berinisiatif sendiri memperkenalkan teman laki-laki pilihannya. Anak yang baik.
"Yah, kenalkan ini Ferdy. Teman kuliah Alisha, sekaligus--"
"Halo, anak muda," sapaku sambil menyambut uluran tangan pemuda yang bernama Ferdy tadi.
"H-halo." Bergetar suara anak muda itu seperti tercekat di antara rongga tenggorokannya.
Sama gemetarnya dengan tangannya yang tengah bersalaman denganku. Mendadak dingin kurasakan dalam genggaman. Matanya pun tidak berkedip semenjak beradu pandang tadi.
"Saya Ayahnya Alisha. Kalian baru pulang kuliah dan langsung kemari?" tanyaku basa-basi seraya memandangi keduanya dengan ramah.
"Nama Om ini .… " Anak muda itu kembali bertanya dengan suara bergetar. Genggaman tangannya seperti tak mau lepas. Perlahan aku berusaha menyudahinya.
"Oh, nama saya David Lesmana. Bisa lihat di badge nama saya, kan, Nak Ferdy?" tanyaku geli sambil menunjuk baju seragam di bagian dada. Raut muka Ferdy seketika berubah dingin. Sepertinya kecewa setelah membaca papan nama yang menempel di seragamku. Perlahan dia melepaskan genggaman tangannya. Hanya Alisha yang sedari tadi sibuk memperhatikan kami berdua. Tentu saja masih dengan sorot mata menyelidik dan aneh.
Tak ada yang tahu, apa sebenarnya yang ada dalam isi kepalaku. Melihat garis-garis di kulit wajah anak laki-laki muda bernama Ferdy itu, aku seperti menoleh sesaat pada sejarah beberapa tahun silam. Tapi entah tentang apa? Yang pasti, mungkin pada satu sosok manusia. Pertanyaan adalah siapa, di mana, kapan dan lainnya.
Masih belum bisa memulihkan kembali, sisa rekaman yang masih mengendap dalam memori otak. Mungkin sebaiknya dibiarkan saja terlebih dahulu. Seiring waktu, biarlah Tuhan sendiri yang akan memberikan jawaban dengan cara Dia sendiri.
Perkenalan singkat dan kaku di antara kami. Kumaklumi, karena mungkin ini kali pertama anak muda itu mengenal sosok Ayah dari teman perempuannya, Alisha. Sempat kutawari makan malam bersama sambil saling mengenali satu dengan lain. Ferdy menolak. Anak muda itu memilih segera pergi dengan sebuah sedan mewahnya. Sementara aku dan Alisha, pulang bersama skuter kami yang sudah tua. Menyusuri jalan raya padat menyambut malam.
Berhari-hari sudah berlalu. Sikap Alisha belum juga berubah. Masih aneh dan misterius. Aku menanggapinya dengan penuh bijak. Sama sekali tak berniat memaksa dia berterus terang. Mungkin saja, itu sebagai salah satu bentuk ekspresi yang ingin ditunjukkan bahwa dia sayang sekali padaku. Aku hafal sekali dengan karakter anak itu. Kalau memang sudah waktunya berbicara, akan mencari sendiri momen yang tepat tanpa harus menuntut lebih.
Kami memang dekat sekali. Hampir tak ada rahasia antara berdua. Bahkan, kadang ibunya sendiri harus menahan cemburu, memperhatikan kedekatan kami sebagaimana seorang anak dan orangtua.
Suatu ketika di siang hari, saat kutengah berkumpul bersama rekan-rekan kerja di kantin kantor, Alisha datang tergopoh-gopoh sambil memeluk buku diary miliknya. Mata anak itu memandang tajam. Seperti ingin menangis namun ditahan. Tapi butiran air mata yang menggenangi pelupuk, tak bisa menyembunyikan kalau anak perempuan itu memang sedang ingin menangis.
Setelah meminta ijin sejenak pada rekan-rekan kantor, aku mengajak Alisha duduk berdua di ujung ruangan kantin, yang sepi dan jauh dari sekumpulan orang-orang bersantap siang.
"Ayah membaca buku diary-ku ini, ya?" Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir yang mungil, begitu tangisnya meledak di sandaran dadaku.
Oh, iya. Memang, tadi pagi kami tak berangkat bersama-sama sebagaimana biasa. Alisha pergi pagi-pagi sekali karena ada tugas yang harus dikerjakan di kampus. Mungkin karena terburu-buru, sampai melupakan buku diary-nya. Tergeletak begitu saja di meja makan. Aku sendiri yang mengambil dan meletakannya kembali di kamar Alisha.
"Anakku sayang datang menemui Ayah hanya untuk bertanya tentang hal itu? Kenapa gak melalui handphone saja, Sayang?" Aku sedikit menggoda. "Ayah jawab … tidak."
"Ayah bohong," sahut Alisha. "Sejak kapan Ayah bohong sama putrinya sendiri?" Alisha mengangkat wajah, memandangiku dengan saksama.
"Mata Ayah yang berbicara."
Aku tersenyum. Agak hambar.
"Ayah berkata benar, Sayang. Percayalah."
Entah mengapa kalimat terakhir tadi itu terasa berat sekali untuk kuucapkan. Ada perasaan bersalah yang menggayuti relung hati. Tapi kuberusaha tetap tenang dan berharap anak itu akan segera mendapatkan keceriaannya kembali saat itu juga. Setidaknya sampai dia berlalu dari hadapanku, kembali ke kampusnya.
Aku hanya bisa mengutuk diri sendiri di antara tarikan nafas yang terasa mual bercampur aroma dusta. Noda kebohongan. Tak pernah berharap ada dan hadir di setiap kalimat-kalimat kasih ini pada anak Alisha, juga istri tentunya. Berat sekali kurasakan karena terpaksa. Entahlah, hanya bisa menahan sampai jelang malam mengelam.
Terus terang, pagi tadi aku memang sempat membaca isi diary Alisha. Isinya begitu misterius, terutama pada bagian tertentu. "Hari ini aku melihat seraut wajah yang sepertinya sudah tidak asing lagi di mataku. Hanya seraut wajah. Itu pun hanya melalui selembar foto kusam yang sudah dimakan waktu. Tergeletak secara tidak sengaja, terlempar dari himpitan celah dompet milik Ferdy, laki-laki yang telah mengenalkanku pada mayanya dunia asmara. Foto rupa seorang laki-laki yang kelihatan masih muda, penuh daya cinta. Tidak banyak ekspresi namun berambisi.
Foto itu mengingatkanku pada sosok yang selama ini kukenal dan sangat dekat sekali denganku. Ayahku sendiri. Aku sendiri tidak tahu mengapa orang yang ada dalam foto itu sangat mirip sekali dengan Ayahku? Saat kutanya siapa dia, Ferdy hanya menjawab bahwa itu adalah foto mendiang Ayahnya yang telah lama pergi. Aku tidak tahu pergi kemana? Ferdy tidak banyak cerita."
"Maksud elo, bokap elo udah meninggal?" tanya Alisha benar-benar penasaran dengan foto yang kini sudah terselip kembali di dalam dompet Ferdy.
"Gue gak tau, Lish. Nyokap gue cuma bilang, bokap gue udah lama pergi. Ya … lamanya seusia gue ama elo, dah. Dua puluh satu tahun yang lalu. Gue cuma dikasih fotonya doang. Kata nyokap, sih, ini foto kenang-kenangan terakhir dari bokap gue. Jangan sampe hilang. Makanya gue simpen terus di dompet gue. Emang kenapa, sih?" Ferdy balik bertanya.
Alisha tak menjawab. Keningnya berkerut tanda tengah berpikir.
"Nama bokap elo siapa?"
__ADS_1
"Kepo amat, sih, jadi orang. Apa untungnya buat elo, Lish?"
"Eh, kita ini pacaran, Ferdy. Siapa tahu kita berjodoh, lalu jadi kawin, punya anak. Lah, entar kalo anak kita nanya siapa nama engkong dari bokapnya, gimana?"
"Eh, iya juga, ya?" Ferdy tergelak. "Oke, deh. Kelar kuliah kita kawin, ya, Cinta."
"Nikah!"
"Iya … itu maksud gue. Hikz!"
"Namanya siapa, Ferdy?"
"Ups, lupa. Kalo gak salah, sih, namanya Jhony Andrean."
"Bokap elo yang punya salon kecantikan itu?"
"Busyet, dah! Bukan Jhony nyang entuh, Sayang," sahut Ferdy sambil menggerakan tangannya dengan gemulai dan bibir monyong. "Ini Jhony bokap gue sendiri."
"Kirain .… " Alisha tertawa cekikikan. "Bokap elo gak punya kembaran, 'kan?"
"Kagaklah. Kata nyokap gue, sih, bokap gue itu anak tunggal. Tapi kalo ada yang sempet kloning bokap gue, sih, mungkin bisa aja ada yang mirip-mirip gitu, dah," jawab Ferdy tertawa keras, sehingga seisi ruang kantin kampus serentak menoleh ke arah mereka berdua.
Alisha tak ikut tertawa. Dia justru semakin berpikir, "Kok, mukanya mirip banget sama muka bokap gue, ya? Perasaan, pernah ngelihat foto yang sama kayak punya si Ferdy itu. Tapi di mana, ya?"
"Semenjak saat itu, aku mulai menduga-duga. Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba muncul di setiap ruang otakku. Mungkinkah itu Ayahku? Tapi nama Ayahnya berbeda dengan nama Ayahku! Bisa saja, kan, seseorang itu memiliki nama ganda! KTP ganda! Identitas ganda! Ya, Tuhan! Ataukah mungkin Ayahku memiliki saudara kembar? Tapi setahuku, sudah mengenal semua keluarga dari pihak Ayahku. Tidak ada satu pun yang terlewat."
"Ataukah mungkin … Ayahku dan Ayah Ferdy … sama-sama … Ayah kami? Ayah selingkuh? Ayah punya istri yang lain? Ayah pernah memperkosa seseorang, mungkin? Ah, terlalu jahat pikiran itu! Ayahku seorang yang baik dan tak mungkin melakukan perbuatan biadab itu? Tapi dari mana Ferdy bisa mendapatkan foto itu, ya? Ya, Tuhan … jangan biarkan misteri ini terlalu lama menghantuiku, Tuhan! Aku harus menyeledikinya sendiri … "
"Say, hari ini anter gue ke kantor bokap gue, ya? Sekalian mau ngenalin elo sama bokap gue. Gimana?" ajak Alisha suatu ketika.
"Fine. No problem. I got you," jawab Ferdy santai.
"Dan hari itu juga, aku benar-benar mengenalkan Ferdy pada Ayah. Satu pemandangan yang tak biasa aku lihat, Ferdy seperti shock setelah melihat dan mengenal sosok Ayahku. Mungkin dia pikir Ayahku itu adalah sosok Ayah yang selama ini ada dalam foto yang senantiasa dia bawa dalam dompetnya! Semenjak itu pula Ferdy selalu memintaku untuk bisa kembali bertemu Ayah. Tapi untuk sementara tidak bisa kulakukan sampai aku sendiri tahu dan menemukan kunci dari kisah misteri ini. Aku tahu Ayah seorang yang jujur. Tidak pernah sekali pun beliau berbohong padaku dan juga Ibu. Aku melihat Ayah sama sekali tidak tahu tentang sosok di balik Ferdy, pacarku itu!"
Sampai di situ, aku sempatkan membaca isi buku diary Alisha tadi pagi.
Sepertinya malam ini juga, aku harus bicara padanya. Tapi menunggu saat-saat yang tepat, tentunya. Dan itu pun terjadi, saat istri sudah berada di balik selimut mimpinya yang indah. Terbujur kaku dengan nafas memburu. Sementara tubuh putihnya hanya menyisakan sedikit butiran-butiran peluh yang lembut dan hangat. Sisa dari pergumulan hebat di atas ranjang kami dengan penuh nikmat.
Rupanya Alisha belum tidur. Sesaat setelah kuketuk pintu kamarnya, seraut wajah cantik muncul membukakan pintu. Di tangannya tergenggam sebuah buku diary, penuh dengan goresan kisah-kisah hidupnya.
"Ayah gak bisa tidur dan mau minta maaf sama kamu, Sayang."
Alisha memandangiku dengan mata yang terlihat sembab, seperti baru menangis. Dia tak menjawab dengan bibirnya, namun kemudian membalas dengan pelukan hangat.
Ah, tega sekali. Aku telah melukai hatinya yang penuh kasih itu. Aku tahu di balik pelukan yang erat tadi, dia ingin sekali menunjukan kekecewaannya. Namun sekaligus memaafkanku dengan tulus.
"Tadi pagi Ayah memang sempat membaca isi buku diary-mu, Sayang. Tapi hanya sebagian. Tidak semuanya. Itu pun belum bisa menjelaskan keingintahuan Ayah tentang sikapmu akhir-akhir ini. Ayah sengaja tak melanjutkan membaca, karena Ayah hanya ingin tahu, langsung dari putri Ayah sendiri yang cantik dan baik ini. Sungguh, Ayah sangat tersiksa dengan perasaan ini sejak siang tadi, Sayang. Ayah sudah berbohong sama kamu." Tak terasa kelopak mataku mulai menghangat, dibanjiri air yang tak dapat dibendung lagi sedari tadi. "Ayah minta maaf, ya, Sayang. Itu kebohongan pertama dan terakhir yang pernah Ayah lakukan seumur hidup Ayah sama kamu."
"Alisha sudah tahu itu. Ayah memang gak berbakat jadi seorang pembohong. Ayah terlalu baik. Mata Ayah yang berbicara dan hati Alisha yang menyakini. Ayah seorang pembohong payah," jawab Alisha sambil tersenyum. Kucubit pipi anak itu dengan penuh kasih.
"Ayah sudah menyakiti hatimu, ya?"
"Hanya sesaat, Yah. Tapi luka itu kini sudah sembuh kembali seketika, sejak Ayah mengetuk pintu kamar Alisha tadi. Karena Alisha yakin, Ayah memang gak akan bertahan lama memendam rasa bersalah itu. Semua sudah Alisha tulis di diary ini. Bahkan sampai ke tahap kita berbicara seperti sekarang ini?"
"Kamu itu anak Ayah atau paranormal, sih?"
Alisha tergelak sesaat memecah kesunyian malam.
"Kalau Ayah mau mengetahui apa yang ada dalam pikiran Alisha selama ini, bacalah diary ini. Semua sudah Alisha tulis di sini."
"Apa itu, Ayah?"
"Mencintai dan mengasihimu, Sayang."
Seketika Alisha memeluk erat. Berulangkali tanganku diciumnya penuh kasih.
" … dan juga Ibumu tentunya."
Alisha tertawa kecil.
"Hhmmm, aku gak lagi ngelihat yang lagi pacaran malam-malam begini, kan?" Satu suara yang sudah sangat kami kenal muncul dari arah belakang secara tiba-tiba. Serentak kami menoleh. Melihat sosok istri berdiri sambil cemberut menahan cemburu. Kami tertawa dan mengajaknya bergabung.
"Hmm, yang tua datang. Rasanya Ayah harus selingkuh, berbagi hati pada dua perempuan-perempuan cantik ini, deh?" sahutku berkelakar, disambut cubitan-cubitan kecil di kedua pipi dari kedua wanita tersebut.
Seketika kesunyian malam di rumah, terisi dengan tawa canda kami bertiga. Entah sampai pukul berapa? Yang pasti begitu tersadar dari tidur kami bertiga di ruang tengah, saat adzan shubuh berkumandang. Aku dan istri bergegas mandi. Sementara Alisha langsung beranjak mengambil air wudu.
Paginya aku tak pergi kerja. Ini hari libur. Saatnya berkumpul bersama dengan dua orang wanita cantik, yang selalu memberiku suntikan semangat di tiapkali lelah datang mendera tubuh, yang mulai menua. Tak ada rencana ke mana-mana. Hanya ingin menghirup udara segar nan bebas dari segala hiruk-pikuk aktivitas kantor dan nuansa perkotaan yang panas. Berlindung bersama di bawah atap rumah kontrakan kami yang telah ditinggali hampir selama seusia anak gadisku sekarang. Tak ada yang mewah. Namun semuanya dinikmati dengan penuh rasa syukur. Karena selalu ada aura keharmonisan yang terpancar dari tiap-tiap jiwa yang menghuninya dan siap membaginya untuk setiap relung hati yang keropos termakan hawa nafsu. Bahu-membahu mencari bibit semangat baru untuk melanjutkan asa yang masih tersisa.
Tak terduga, siangnya pejam mataku terbuka, ketika deru sebuah kendaraan masuk dan terparkir di halaman rumah kontrakan kami. Aku bergegas memburu keluar, mencari tahu siapa yang bertamu.
Sebuah sedan hitam mewah yang pernah kulihat beberapa waktu lalu. Dari dalamnya, keluar sesosok anak laki-laki muda, tersenyum begitu melihatku berdiri di ambang pintu. Ferdy, siapa lagi? Dan sudah ada Alisha di luar sana rupanya, menyambut dengan wajah sumringah.
"Selamat siang, Om," sapa Ferdy ramah menghampiri sambil memburu cium tanganku dengan penuh hormat.
"Selamat siang, Nak Ferdy. Sendiri saja?" tanyaku basa-basi saat hanya dia seorang yang muncul dari dalam kendaraannya.
"Iya sendiri, Pah," jawab Ferdy tanpa sadar yang langsung dicolek pinggangnya oleh Alisha yang kebetulan berdiri di samping anak muda itu. "Eh ... iya, Om. Eh, anu … iya, gitu!"
"Ya, sudah. Saya tinggal masuk ke dalam, ya? Kalian berdua di sini saja. Jangan ke mana-mana," kataku mengingatkan.
"Oomm," Ferdy menahan laju langkah. Tangannya mencengkeram pegelangan tanganku. Mata anak muda itu memandang sendu, seperti ada sesuatu yang sedang dia tahan dan ingin dicurahkan saat itu juga.
"Ada apa? Mau minum?"
"Aku ingin bicara sama Papah."
Aku melihat raut wajah anak muda itu dengan heran. Tak kalah herannya dengan Alisha yang sedari tadi terus-terusan mencolek perut Ferdy.
"Papah?" kuulangi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ferdy tadi.
Anak muda itu tak segera menjawab, namun tiba-tiba dia mengeluarkan selembar foto kusam dari dalam dompet. Perlahan kuraih dari pegangan jemarinya.
Memperhatikan dengan saksama setiap detil wajah yang ada dalam foto tersebut. Keningku berkerut, berusaha berpikir dan mengingat, mungkinkah foto itu ada hubungannya denganku. Terutama masa lalu.
"Darimana kamu mendapatkan foto ini?" tanyaku begitu mengenali sosok yang ada dalam foto itu.
"Mamah. Dari Mamahku, Pah," jawab Ferdy pelan diiringi isak kecil tersedu-sedu.
"Mamah? Siapa nama Mamahmu, Nak Ferdy?"
Agak lama anak muda terdiam karena tak tahan dengan rasa sesak yang ada di balik dadanya.
__ADS_1
"Selvi … Selvi Herawati."
Aku menarik nafas panjang sekedar mencari udara segar, agar tak terlalu menyesak saat mengenali nama yang disebut Ferdy tadi. Istri kebetulan muncul dari balik pintu, memandangku nanar dan rasa kejut luar biasa. Perlahan dia mendekat dan memelukku dari belakang.
Alisha hanya bisa terbengong dan diam seribu bahasa. Benar-benar belum memahami apa yang sedang terjadi. Apalagi ketika melihat raut mukaku dengan nama Mamanya Ferdy itu. Sepertinya sudah tak asing lagi di telinga.
"Siapakah Selvi Herawati bagi Ayah? Ibu? Aku merasa ada misteri yang belum terpecahkan tentang masa lalu keluarga kita, Yah." Alisha mulai terdengar panik.
"Masuk ke dalam dan duduklah dulu. Ibu akan ambilkan air minum sebentar. Tolong jangan ada sepatah kata pun yang keluar sebelum aku kembali ke ruangan ini." Istriku bergegas ke dalam rumah untuk membawakan beberapa air gelas putih yang segar. Dia paham betul bahwa sepertinya sebentar lagi akan ada percakapan panjang dan lama di dalam ruangan itu.
Di ruangan itu pula, dua puluh satu tahun yang lalu, aku, istri dan juga Alisha yang masih bayi merah, memulai hidup baru yang penuh tantangan. Meninggalkan semua harta kekayaan yang sempat kami rasakan berdua.
"Mengapa Ayah kembali pulang ke rumah sekarang? Bukankah Ayah harus melaksanakan kewajiban Ayah sebagai suami baru bagi maduku itu?" Pertanyaan pertama dari bibir istri saat kumasuk ke dalam rumah dengan kondisi lemah dan tertunduk.
Aku tak langsung menjawab. Hanya satu yang ingin segera dilakukan, yaitu memeluk istri dengan erat dan enggan melepaskannya walau sesaat.
Tangis ini mulai keluar.
Tangis seorang laki-laki yang terluka dan bertekad untuk sesuatu hal yang sangat penting dalam seumur hidup kami.
"Aku telah menceraikan dia malam ini juga, Sayang," jawabku beberapa saat kemudian.
Istri melepaskan pelukannya. Matanya memandangku, seakan tak percaya.
"Kenapa, Ayah?"
"Wanita itu hanya menginginkan tubuhku saja untuk menutupi aib yang sudah ada dalam perutnya," jawabku perlahan dengan suara tercekat. Sakit sekali rasanya.
"Maksud Ayah … Bu Selvi hamil?"
Aku mengangguk.
"Itu anakmukah?"
Aku menggelengkan kepala.
"Lalu?"
Aku memandangi istri yang masih dilanda kejut luar biasa.
"Pak Jhony. Jhony Andrean yang melakukannya."
"Atasan Ayah sendiri?"
"Iya, laki-laki itu telah melarikan diri meninggalkan aib yang ada di perut Bu Selvi. Dan ... laki-laki itu sudah meninggal dunia. Kecelakaan pesawat saat akan pergi ke luar negeri."
"Lalu kenapa Ayah yang harus menikahinya, kalau memang Ayah tak pernah melakukan hal apa pun pada Bu Selvi, Yah?"
Aku menarik nafas sesaat. "Bu Selvi itu pemilik perusahaan tempat Ayah bekerja. Sementara Pak Jhony Andrean itu rekanan kerja Bu Selvi yang memiliki hampir separuh saham yang ada di perusahaan. Mereka sudah lama melakukan hal gila itu. Lalu ketika laki-laki tua itu mati, Bu Selvi memilihku yang harus menikahinya. Karena dia tahu, bahwa Ayah dulu pernah menaruh hati padanya."
Saat itu aku tengah mengerjakan tugas. Lembur sendirian di ruangan kerja. Yang tahu, hanya ada Mang Diman di sana. Masih setia menunggui di ruang pantry. Sebelum laki-laki tua itu pulang, aku memintanya untuk dibuatkan kopi. Tak berapa lama dia datang membawa pesanan, sekaligus berpamitan pulang.
Beberapa saat setelah meminum kopi yang disajikan Mang Diman, kepalaku terasa seperti pusing. Berat sekali dirasakan. Sempat berpikir, mungkinkah kasus kopi ber-sianida itu akan kembali terulang dan terjadi padaku? Yang pasti di saat-saat pandangan mulai mengabur, hasrat biologis ini tiba-tiba berkecamuk dan kesadaran perlahan sirna. Ada sesosok tubuh yang berparfum wangi pekat menggoda menghampiri. Bibirnya yang merona gincu merah menyala dengan sigap dan rakus menciumi setiap jengkal tubuhku, yang baru beberapa bulan ini dipersembahkan untuk istri. Aku seperti ikut terdorong di bawah alam sadar. Membalas setiap perlakuannya yang terus menghujani. Sampai akhirnya, tak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Hanya bercak-bercak bercampur peluh di sekujur tubuh yang terasa.
Aku terbangun pada keesokan paginya. Menemukan diri ini dalam keadaan tak berbusana. Pakaian berserakan tak tentu tempat. Sementara di sekeliling tergeletak beberapa botol bening, menyisakan sedikit isinya dan menebarkan aroma alkohol yang menyengat. Yang lebih mengejutkan, di sampingku tergeletak sesosok wanita dalam kondisi tubuh sama. Mengerang kesakitan. Sosok yang sangat dikenal, Bu Selvi.
Ya, Tuhan. Apa yang sudah terjadi? Di antara sisa rasa pusing yang masih ada, aku berusaha mengingat hal terakhir yang sempat terekam dalam memori otak. Dengan sedikit tertatih-tatih, berusaha berdiri dengan tubuh limbung. Di saat itulah terdengar suara erangan Bu Selvi. Wanita itu menangis dengan pilu.
"Kamu yang telah melakukannya, David! Kamu tega!" jerit Bu Selvi sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. "Kamu harus bertanggung jawab!"
Aku panik dan sebisa mungkin dengan kondisi kepala yang masih pusing, mendekati Bu Selvi. Tangis perempuan itu semakin menjadi-jadi. Histeris memukul-mukul tubuhku. Bahkan beberapa tamparan keras mendarat telak di wajah ini. Sakit sekali. Sekaligus membuatku sedikit tersadar dengan kondisi yang ada.
Di saat itulah tiba-tiba terdengar pintu ruangan didobrak paksa. Beberapa petugas keamanan beserta beberapa pegawai berhamburan masuk. Mereka terkejut.
Masih dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab, aku diseret kasar keluar dari ruangan. Sementara beberapa pegawai wanita berhamburan menghampiri Bu Selvi. Menutupi sekujur tubuh wanita itu dengan pakaian seadanya.
"Tolong ambilkan handphone-ku. Aku harus menelepon istriku!" kataku pada salah seorang petugas sekuriti .
Salah seorang di antara mereka mengambilkan, lalu menyerahkannya padaku. Ada banyak notifikasi pesan yang tercantum di layar. Salah satunya, banyak pemberitahuan miscall dari istri. Ditambah beberapa pesan melalui aplikasi percakapan instan. Aku yakin, pasti semalaman istri berusaha menghubungi.
"Sayang, Ayah masih lembur di kantor. Maaf, tadi malam tak sempat Ayah angkat, karena handphone Ayah ketinggalan di kantor. Sementara Ayah berada di tempat lain. Setelah urusan ini selesai, Ayah akan segera menghubungimu secepatnya, ya." Terpaksa harus berbohong untuk menutupi apa yang sedang terjadi saat ini. Sakit sekali harus membohongi istri sendiri yang tengah hamil dua bulan. Ini demi menjaga perasaannya dan anak yang ada dalam kandungan. Sakit memang. Tak sesakit luka di bibirku yang terus mengucurkan darah segar, akibat hantaman kepalan tinju dari beberapa orang sekuriti yang menyeretku tadi.
Akhirnya aku dipertemukan kembali dengan Bu Selvi yang sudah terlihat segar dan tenang. Cepat sekali sembuhnya untuk ukuran seorang wanita yang mengaku telah diperlakukan tak senonoh. Hhmm.
Di ruangan itu, disertai beberapa pihak yang berkepentingan, aku diberikan tawaran. Mempertanggungjawabkan perbuatanku dengan menikahi Bu Selvi atau masuk penjara disertai denda yang tak sedikit. Nilai denda yang setara dengan semua harta kekayaan yang selama ini dikumpulkan untuk persiapan menikahi seorang perempuan, yang kini telah menjadi istriku. Sungguh opsi yang tak adil untuk satu perbuatan yang, rasanya, tak pernah dilakukan. Tapi tak bisa mengelak karena semua bukti mengarah padaku. Tak ada celah untuk bisa membela diri, kecuali pasrah.
"Percayalah, Sayang. Ayah tak pernah melakukan hal sekeji itu pada Bu Selvi. Ayah berani bersumpah," ucapku di depan istri yang tak mau berhenti menangis begitu mendengar kejadian tersebut.
Dilematis sekali. Perempuan itu begitu mencintaiku. Dia tak begitu percaya, sekaligus tak rela harus kehilangan sosok suami, meringkuk di balik terali besi kantor polisi. Sampai kemudian dia memutuskan dan memintaku supaya bisa menerima tawaran damai dari Bu Selvi. Segera menikahinya.
Di saat sakit akibat luka di hati, dia masih sempat memperhatikan dan memberikan sisa kasih sayangnya untukku.
Akhirnya kami pun menikah. Aku dengan Bu Selvi. Digelar dengan resepsi yang mewah di sebuah hotel berbintang. Dihadiri tamu undangan dari berbagai kalangan, orang-orang berkelas. Tak seorang pun yang kukenal. Hanya satu, istri masih setia berdiri di antara tamu undangan. Menatap pedih. Bahkan di saat pesta usai pun, dia masih sempat menghampiri dan tersenyum pada madunya.
"Jangan pikirkanku, Ayah. Lakukan tugasmu dengan baik. Berikan yang terbaik untuk istrimu yang baru itu. Aku akan baik-baik saja. Jikalau saatnya berbagi waktu untukku, Ayah sudah tahu, kan, ke mana harus pulang? Aku akan selalu menunggumu dengan segenap peluk kasih ini yang masih tersisa," usai berkata, istri melangkah pergi meninggalkan kami yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar hotel yang sudah didekorasi dengan indah dan mewah.
Semakin perih sekali terasa saat melihat sosoknya berjalan sambil terisak. Mengusap-usap kandungannya. Sementara aku harus bersiap-siap memadu kasih dengan seorang wanita lain.
Aku seperti sebuah robot yang pasrah diperlakukan apa pun oleh pemiliknya. Tanpa ada daya untuk bisa melawan, kecuali diam dan pasrah. Malam pertama yang seharusnya berjalan romantis penuh dengan cinta, harus berakhir dengan caci-maki tiada henti. Bu Selvi kecewa dan marah dengan sikapku yang dingin. Di ambang puncak kemarahan, tanpa sadar dia telah mengakui bahwa semua itu adalah rencana dan rekayasa belaka.
Aku tak pernah sekali pun menidurinya. Semua dilakukan tanpa sadar di bawah pengaruh obat perangsang yang sengaja telah dia taburkan ke dalam segelas kopi yang dibuat oleh Mang Diman waktu itu. Laki-laki tua tersebut tak pernah mengetahui apa yang telah terjadi sesungguhnya. Yang kutahu, Mang Diman telah mengundurkan diri dari kantor, begitu mengetahui ada peristiwa besar yang menimpaku.
Yang paling membuatku terkejut luar biasa, ternyata Bu Selvi kini sedang berbadan dua. Tentu saja itu hasil hubungan gelap dengan rekan bisnisnya yang bernama Jhony Andrean. Sayang lelaki itu itu telah mati. Memberikan warisan aib berusia dua bulan di dalam rahim Bu Selvi. Untuk menutupi aib sekaligus mendapatkan status kejelasan untuk calon anaknya kelak, Bu Selvi sengaja menjebak dan memilihku untuk menjadi bapak biologis anaknya.
Penjelasan Bu Selvi bukannya membuatku semakin terpuruk dengan nasib yang ada, justru seperti memberikan tenaga baru untuk melawan kelaliman ini. Pertengkaran hebat pun terjadi. Di puncak amarah, aku menceraikan wanita murahan itu. Sekaligus menjadi malam dengan segala konsekuensi yang harus diterima. Tak peduli. Aku hanya ingin kembali pulang pada istri. Masa bodoh dengan semua harta kekayaan, pekerjaan, atau juga jabatan yang kini sudah tak dimiliki lagi, secuil pun. Aku hanya ingin menebus rasa sakit yang dirasakan oleh istri atas perbuatan yang tak pernah kulakukan.
Alisha berlari menghambur sambil menangis dan memeluk kami dengan erat. Isak tangis pilu, semakin menumbuhkan rasa sayang pada diri kami masing-masing.
"Di ruangan inilah, semua kasih sayang kami hadir pada hari itu. Melahirkan bibit rindu yang baru di antara kami, karena aku harus pergi bersama dengan beberapa orang polisi yang sudah memborgolku. Menarik dan menyeret ke dalam jeruji besi. Menghabiskan beberapa tahun di sana tanpa bisa melihat anak pertama, Alisha, lahir dengan selamat dan cantik."
Ferdy terdiam membisu. Anak muda ini tak mampu berkata apa-apa lagi. Kecuali hanya bisa memandangi foto kusam yang masih tergenggam dengan erat di telapak tangannya.
"Itu memang foto lamaku. Entah dari mana Mamamu mendapatkannya? Mungkin saja dari dokumentasi kantor! Bisa jadi."
Dengan suara tercekat anak muda itu perlahan mengangkat wajah, memandangiku. Matanya memerah penuh dengan butiran air mata.
"Maafkanlah atas semua kesalahan yang telah diperbuat oleh Mamaku, Om. Beliau mungkin sosok yang tak baik di mata kalian, tapi selama ini dia selalu memberikan kasih sayang dengan tulus untukku. Beliau tetap Mama yang baik buatku hingga saat ini," ujar Ferdy tertunduk perih.
"Sekarang di mana Mama kamu berada?" tanyaku setelah tangis kami reda. Lama Ferdy tak menjawab. Pandangan kosong seperti tak bergairah. "Mama menderita kanker otak, Om. Sudah hampir setahun ini dirawat di rumah sakit."
Kami bertiga terkejut. Satu dengan lain saling berpandangan.
__ADS_1
"Entahlah sampai kapan sisa hidup yang Tuhan berikan untuk Mama. Yang pasti, beliau hanya memberikan foto ini padaku. Dengan bahasa isyarat, beliau menunjuk-nunjuk foto ini, lalu … menunjuk diri Mama sendiri dan aku. Sepertinya Mama begitu mencintaimu, Pah … eh, Om. Sebelum diberikan padaku, Mama kerap tidur sambil memeluk foto ini."
Entahlah kami tak mengerti maksud dari semua itu. Terkecuali bertemu langsung dengan Bu Selvi di sana.