
...CALON MENANTU DAN MARTABAK TELUR...
...Written by David Khanz ...
Awal cerita ....
"Tolonglah aku, Reza. Please banget!" untuk kesekian kalinya Shanti meminta bantuan Reza untuk bisa keluar dari masalah yang tengah dihadapinya.
"Tapi ... aku .... " Suara Reza terpatah-patah tak tahu harus berkata apa menghadapi sikap gadis yang dulu pernah ditaksirnya itu.
"Kalau saja Yoga tak kabur meninggalkanku, tak akan pernah mau aku mengemis bantuan seperti ini sama kamu." Shanti mulai kesal dan putus asa. "Bukankah kamu pernah bilang, kamu mencintaiku, kan? Sekarang buktikan dan dapatkan kesempatan ini untuk bisa memiliki aku seutuhnya, Reza!"
"Iya, Shanti. Aku faham itu. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu," jawab Reza semakin bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang seringkali bersama-sama sedari masa-masa kecil hingga dewasa seperti sekarang ini. Bermain, belajar, bahkan sampai bersekolah pun tidak pernah mau terpisahkan.
Seiring waktu berjalan, diam-diam Reza menaruh hati pada Shanti. Berharap suatu saat kelak, Shantilah satu-satunya sosok perempuan yang akan mengganti tulang rusuknya yang kurang satu itu. Namun apa mau dikata, kenyataan kadang tak harus selalu seindah impian. Gadis itu menolaknya secara halus. Dia hanya ingin tautan yang terjalin di antara mereka berdua selama ini, tak lebih dari sekedar hubungan persahabatan.
Reza kecewa? Pasti. Namun rasa itu tak pernah membuatnya tiba-tiba harus menjauh dari Shanti. Dia tetaplah seorang anak muda yang sama seperti masa kecilnya bersama Shanti dahulu.
Di saat yang bersamaan, justru Shanti menjalin hubungan cinta dengan Yoga. Seorang pemuda anak orang kaya, pendatang baru di kampung itu. Bapaknya bernama Johan, adalah seorang kontraktor sukses yang sedang mengerjakan proyek besar di daerah tersebut.
Berbekal sebuah Escudo butut yang dikendarai Yoga, akhirnya hati Shanti pun takluk di tangan anak muda bergajulan tersebut. Parahnya, kedua orangtua gadis itupun sama-sama terkena sihir akan kemilau martabak telur spesial telur yang sering dibawa Yoga saat bertandang ke rumah.
"Sering-sering aja main ke mari, Nak Yoga," ujar bapaknya Shanti sambil mengunyah penganan seharga dua puluh ribuan itu, senang buka kepalang.
"Beres, Pak. Nanti sekalian mau ngajak Shanti jalan-jalan pake mobil sambil melihat-lihat proyek besar yang sedang bapak saya kerjakan," ujar Yoga sedikit berupaya membuka peluang mendapatkan restu orangtua Shanti.
"Silakan, ajak dan bawa saja, Nak. Tapi jangan lupa .... " kalimat terakhir Bapak Shanti agak dipanjangkan untuk memancing rasa penasaran anak muda itu.
Terbukti, Yoga pun langsung bertanya, "Jangan lupa apaan, ya, Pak?"
__ADS_1
Sambil tersenyum malu-malu, Bapak Shanti melanjutkan ucapannya, " ... bawa martabak telur spesial yang agak banyakan, ya? Soalnya enak, tuh, dimakannya pake nasi."
"Ashiaaap, Pak. Bila perlu, saya beli sama gerobaknya," sahut Yoga sombong belagak orang kaya tapi gak mampu merawat mukanya yang penuh ditumbuhi jerawat batu.
Berbekal sogokan martabak telur yang bebas dari jeratan Operasi Tangkap Tangan dari pihak KPK, akhirnya Yoga pun bebas membawa pergi Shanti kemana dan kapan saja dia suka. Mungkin karena berpikir Yoga itu anak orang kaya, kedua orangtua Shanti berharap anak gadisnya yang hanya bisa terlihat cantik oleh efek camera 360 itu, berjodoh dengan Yoga. Itu berarti kedua orangtua Shanti akan ikut kecipratan pundi-pundi hasil proyek besannya nanti.
Sampai suatu ketika ....
"Ooohhh ... jangan, Bang Yoga," erang Shanti sambil memejamkan matanya.
"Gak apa-apa, Dik Shanti. Nanti aku tanggungjawab, kok," ujar Yoga tak berhenti melancarkan serangan demi serangan yang disertai gerakan drible, umpan lambung, sundulan dan lain-lain di area pertahanan tubuh Shanti.
"Maksudku ... jangan berhenti. Terusin lanjut, Bang! Oooohhh .... " balas Shanti mempersilakan Yoga membobol gawangnya yang masih asli berjaring dara.
(Maaf, menit 00:10 tulisan berhenti sebentar. Author benerin dulu porseneling properti pribadi)
(Tulisan berlanjut lagi di menit 00:18)
Akibat ada campur tangan dan campur anggota tubuh lainnya dari pihak kaum ghaib belahan dunia sana, tak lama Shanti mendadak menderita sakit lambung. Hampir setiap saat, gadis itu merasa mual diiringi muntah-muntah. Padahal dia tidak pernah punya riwayat mabuk angkutan darat.
"Mungkin masuk angin, Bu. Semalam ikut nganterin Yoga keliling komplek pemakaman, lupa kelamaan buka jaket ama baju Akhirnya ya begini, nih," jawab Shanti beralasan saat ditanya emaknya.
Sebagai perempuan yang sudah banyak makan asam garam tanpa campuran cabe dan tomat juga terasi kehidupan, tentu saja jawaban Shanti itu tidak langsung dipercayai sang Emak. Dia curiga anaknya bukan masuk angin, pasti kemasukan barang lain atau bisa juga zat protein lainnya.
Sialnya, penyakit masuk angin ini tidak terjadi sehari atau lima hari. Tapi sudah sampai masuk hitungan pekan. Ditambah pula dengan permusuhan tiba-tiba antara Shanti dengan pembalut extra wing, maka ber-positif thinking-lah gadis itu, bahwa dia ....
"Apa? Kamu hamil? Siapa pelakunya? Katakan padaku sejujurnya!" seru Yoga terkejut.
"Aku hamil sama Abang. Masa hamil sama syetan?" jawab Shanti tanpa dibarengi nada suara lagu dangdut yang liriknya berbunyi seperti tadi itu.
"Tenang, kamu tenang saja."
__ADS_1
"Yang kudu tenang itu kamu, Bang. Dari tadi Abang ngomongnya gelagapan terus. Aku, sih, santuy."
"Iya, kamu tunggu saja di rumah. Aku akan datang bareng bapakku untuk melamar kamu."
"Beneran, Bang?"
"Iya, bener."
Memang bener! Maksudnya ... Yoga beneran kabur meninggalkan tanggungjawabnya. Anak muda penuh jerawat batu itu mendadak hilang bagai ditelan samudera di lautan luas.
Tinggallah Shanti merana seorang diri, Siap-siap menanggung malu dan dicoreng di muka kedua orangtuanya. Hanya karena martabak akhirnya mereka semua akan kehilangan martabat.
Dan di saat itulah, Shanti teringat pada sosok anak muda lainnya yang terlupakan dan jarang ditulis kembali dialognya oleh Author. Dia adalah Reza. Tak ada pilihan lain kecuali harus meminta bantuan sahabat masa kecilnya itu, demi menutupi aib yang sudah menganga di depan mata.
"Baiklah, kalau memang itu maumu, Shanti. Aku bersedia membantu. Biarlah orang lain yang makan nangkanya, aku yang kebagian duriannya. Nanti malam, aku akan datang menemui bapakmu," ucap Reza pasrah menerima takdir bakal mendapat apem bekas yang tidak seharga delapan puluh juta itu.
"Terima kasih, Reza. Aku menyesal telah menolakmu. Ternyata kamu baik sekali," ujar Shanti sambil memeluk sahabatnya itu, "aku tunggu kedatanganmu. Perlu aku siapkan kopi? Susu? Kopi susu? Wedang jahe? Atau .... "
"Cukup air teh saja, Shanti. Tapi dikasih gula dikit. Jangan lupa tambahin es batunya juga ya."
"Siap, Bang."
Malam itu juga, Reza datang memenuhi janji. Tapi jawaban bapaknya Shanti tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin karena belum tahu duduk permasalahannya atau bisa jadi karena masih dalam pengaruh martabak telur spesial, dengan lemah lembut dan nada tinggi, bapaknya Shanti berkata, "Anak muda, maafkan saya, ya? Bukannya kami tak mau menghargai niat tulusmu atau tak ingin merestui hubunganmu dengan anak kami, sebagai orang tuanya, kami sudah mempersiapkan calon pendamping hidup untuk anak kami yang berpenghasilan tinggi, kaya raya dan berasal dari keluarga terhormat. Kami sarankan lebih baik kamu mencari calon pendamping hidup yang lain saja. Jangan anak kami."
Reza terpejam sambil menahan sesak rongga pernafasan di dadanya. Perih sekali. Tapi dia berusaha tegar dan tetap tersenyum penuh hormat.
Sebelum pergi dengan rasa kecewa, Reza berusaha menjawab, "Bapak dan Ibu Shanti yang kuhormati. Seandainya saja aku termasuk kriteria calon menantu seperti yang Bapak dan Ibu inginkan, maka aku akan jujur berkata, lebih baik mencari calon istriku sendiri di luar sana ketimbang harus memilih berjodoh dengan anak Bapak dan Ibu."
Setelah mengucapkan kata perpisahan dan salam, Reza langsung pergi dan tak pernah berniat untuk menengok kembali ke belakang. Di mana ada wajah Shanti yang tersembul di antara jendela kaca sambil terisak. Sementara urat nadi tangannya berlumuran darah segar dengan sebilah silet yang masih tergenggam.
...TAMAT...
__ADS_1