Zona Dewasa

Zona Dewasa
11. Ketika Respons Suami Lama Saat Dipintai Bantuan Oleh Istri


__ADS_3

...KETIKA RESPONS SUAMI LAMA SAAT DIPINTAI BANTUAN OLEH ISTRI...


...Penulis : David Khanz...


"Pih, tolong ambilin minum buat si Dedek, dong," pinta istri begitu aku baru saja merebahkan diri di atas pembaringan. Bukannya lekas menurut, untuk beberapa saat aku hanya menoleh, memperhatikan dia dan anak bungsu kami di samping. "Pih!" panggil istri kembali.


"Apa?" Aku bertanya.


"Si Dedek pengen minum, Pih. Denger?" Intonasi suara istri berubah agak meninggi dibanding awal tadi.


"Iya," jawabku singkat, tapi masih juga belum bangkit dari rebahan. Beberapa saat malah asyik merenung sampai kemudian perlahan-lahan bangun sambil memasang wajah kecut.


Aneh, pikirku seraya melangkah berat ke ruang makan hendak mengambilkan air minum, kalau aku lagi ada di rumah, sering banget istri minta tolong ini-itu. Terkadang hanya untuk permintaan kecil dan sepele. Apakah begitu berat melakukan tugas rumahan hingga harus sesering mungkin memohon bantuan? Mulai dari mengangkat jemuran, bebenah, menceboki anak balita, sampai ... ya, itu tadi ... menyiapkan minum buat si Anak Bungsu.

__ADS_1


"Tibang dipintain tolong segitu aja, susah banget sih, Pih!" ujar istri suatu ketika, sebelumnya. "Masa semuanya kudu Amih juga yang ngerjain?"


Jujur, kalau mau hitung-hitungan, bukan satu-dua kali aku mencoba berusaha meringankan beban pekerjaan rumahan, mengeksekusi hampir semua rutinitas yang biasa dilakukan istri. Menyapu, mengepel, merapikan kondisi rumah, memasak, mencuci pakaian kotor serta peralatan di dapur dan bekas makan, menjemur ini-itu, memandikan anak, berbelanja, menyiangi halaman, bahkan membetulkan genting yang bocor. Terkecuali ada satu hal yang paling dihindari, yakni menggosok alias menyetrika. Entahlah, walaupun aktivitas terakhir tersebut cukup ringan dikerjakan, akan tetapi aku benar-benar akan dibuat tidak berdaya begitu mulai melihat tumpukkannya (jemuran) saja. Hihihi. Padahal dibandingkan pekerjaan lain, tugas rumahan tadi bisa dikerjakan sambil menonton televisi, mendengarkan musik/pengajian, Smule-an, Youtube-an, Facebook-an, mengasuh bocah, berbalas obrolan WAG, atau menikmati cemilan seblak. Cukupkah itu semua memanjakan istri? Ternyata seringkali tidak. Permintaan lain pun kerap menyusul, seperti ; "Pih, èyong-èyong dulu si Dedek, dong. Gak mau bobo, nih."


"Pèpèndè saja sambil dikasih nènèn, Mih," kataku mengusulkan. "Entar juga tidur sendiri."


"Gak mau-eun, Pih. Malah ngajakin maen geura!" ujar istri menimpali.


"Ya, udah ... kalo 'gitu, Apih aja yang nènèn. Hihihi," imbuhku bercanda. Istri langsung merengut, lantas membalas, "Hadeeuuhhh ... atuh kalo 'gitu mah, malah Amih yang gak bisa tidur, Pih!"


"Ada lagi yang bisa Kakang Prabu bantu, Dinda Permaisuri?" tanyaku usai mengambilkan segelas air minum teruntuk si Bungsu.


"Si Apih ... apaan, sih?" Istri tampak tersipu-sipu. Setelah memberi anak minum, isi gelas malah dihabiskan dia sendiri. Hhmmm ....

__ADS_1


Sebagai seorang lelaki, aku tahu dan paham sekali bahwa mengerjakan tugas rumahan itu sebenarnya adalah kewajiban pihak suami. Namun jika istri berkenan meringankan beban kepala rumah tangga, hal tersebut merupakan salah satu bentuk perwujudan bakti. Hukumnya tidak wajib mengikat, akan tetapi disarankan. Mengapa demikian? Karena status dasar seorang perempuan yang dinikahi itu adalah IRT (Ibu Rumah Tangga), bukan ART (Asisten Rumah Tangga). Jika IRT merangkap sebagai ART, maka disamping wajib dinafkahi, seorang istri pun harus pula diberi upah. Sedangkan gaji/penghasilan yang diterima dari suami, tidak serta merta merupakan pemenuhan hak bagi istri. Sebab, definisi nafkah itu bukan hanya terpaku pada masalah pemberian uang belaka. Hunian, makanan, pakaian, perhiasan, alat kecantikan, kasih sayang, pendidikan, kenyamanan, dan lain-lainnya pun merupakan bagian dari nafkah. Makanya salah besar bila hanya dengan menyerahkan seluruh uang gaji/penghasilan, seorang suami sudah merasa memenuhi kewajiban memberikan nafkah. Itu tidaklah cukup. Sebab, seandainya hal tersebut telah dianggap demikian, hak istri pula mau menggunakan uang yang diterima itu untuk apa (sesuai keinginan).


"Kamu pakai buat apa saja sih, duit gaji yang sudah aku berikan selama ini?" Pertanyaan semacam ini sering terucap dari seorang suami. "Masa kamu bisanya cuma masak begini melulu?"


Jangan terburu-buru emosi. Bisa jadi, bukan berarti istri tidak pandai memasak. Namun dia hanya sedang menekan biaya operasional rumah tangga. Sebab, angka pengeluaran yang paling besar itu adalah biaya pendidikan anak dan kebutuhan dapur. Bukan skincare, pakaian, piknik, jajan, maupun listrik atau pulsa. Pada dasarnya pula, seorang istri tidak akan pernah mengeluh tentang keuangan, selama kebutuhannya terpenuhi. Jika masih demikian, berarti masih ada celah kosong yang belum mampu suami tutupi. Lantas, bagaimana langkah untuk meminimalisir kekurangan yang ada tersebut? Salah satunya adalah dengan cara membantu-bantu mengerjakan tugas rumahan. Walaupun bukan merupakan solusi final, setidaknya --diharapkan-- mampu meredakan beban pikiran istri. Iya, 'kan? Hanya saja ....


Perlu diketahui bahwa seorang lelaki, sejak kecil sudah terbiasa dilayani oleh ibunya. Disamping itu, jiwanya pun sudah dianugerahi sebagai pemimpin bagi kaum perempuan (istri), yakni ; 'Arrijaalu qawamu 'alannisaa.' Sebagaimana karakter cerewet yang dimiliki kaum Hawa, laki-laki pun identik dengan sifat keras hati. Jika merasa ada yang merendahkan martabatnya, secara otomatis mereka akan berontak dan melawan. Tidak terkecuali terhadap istri sendiri. Sebuah permintaan bantuan yang diterima, di dalam otak laki-laki itu akan bermakna mengurangi kewibawaan di hadapan anak-istri. Maka dari itu, mengapa sebabnya seorang suami yang dipintai tolong oleh istrinya, seringkali tidak lekas menurut. Mereka akan bertanya-tanya terlebih dahulu, 'Masa buat urusan begitu saja minta bantuanku, sih? Apa tidak mampu melakukannya sendiri?' Kemudian otaknya kembali merenung keras, "Eh, tapi ... kasihan juga sih, sebenarnya melihat istri kerepotan. Kalau bukan aku sebagai suaminya, lalu siapa lagi yang mau membantu? Kalau misal nanti kecapekan dan jatuh sakit, aku sendiri juga yang bakal kesusahan." Bisa jadi juga cara berpikirnya begini ; 'Tahan dulu, jangan langsung menurut! Penuhi permintaan istri nanti. Seolah-olah aku melakukannya atas dasar kehendak sendiri, bukan karena terpaksa merendahkan diri.'


Lantas bagaimana cara menyikapi kondisi demikian? Jika seorang istri sudah mengetahui karakter suami, lakukan keinginan tersebut dengan cara sindir sampir. Misalkan ; "Anak-anak, makan paginya agak siangan, ya? Amih gak sempet masak, nih. Soalnya mau nyuci dulu, mumpung ada panas. Belum lagi kudu nyapu sama bebenah rumah." Usahakan suara istri didengar oleh yang bersangkutan. Bisa pula menggunakan pertanyaan seperti ini ; "Apih, mau bantuin Amih gak?" atau "Boleh Amih minta tolong, Pih?" Biasanya, kedua pertanyaan tersebut akan terdengar lebih ramah/nyaman di telinga laki-laki dan sulit untuk dijawab 'tidak'. Percayalah, persentase tingkat keberhasilannya jauh lebih besar ketimbang langsung memberi perintah, semisal ; "Pih, angkatin jemuran, dong!" atau "Pih, cebokin si Bungsu, tuh!" Satu hal yang paling disenangi kaum suami jika diperintah istri hanyalah sebait kalimat berikut ; "Bukain ****** Amih dong, Pih. Hihihi."


Apakah sifat lelaki semuanya begitu? Tidak. Aku hanya berbicara melalui dasar karakteristik. Tidak banyak kaum suami yang memiliki kesadaran sendiri, baik karena faktor ketidakpahaman maupun memang egoistis. Satu hal yang perlu digarisbawahi, hindari memberi perintah kepada suami di depan khalayak publik. Mengapa? Sebab di mata orang lain akan bermakna berbeda, semisal ; suami takut istri atau suami lemah. Makanya, akan lebih baik jikalau urusan rumah tangga seyogianya dilakukan secara bersama-sama. Jadikan sebuah kebiasaan baik agar timbul rasa saling memahami satu sama lain, tanpa harus mengandalkan.


Nah, ketika istri meminta tolong untuk mengambilkan air minum untuk anak tadi, sebenarnya aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu, mengapa dia sampai membutuhkan bantuan? Apakah tengah kerepotan? Jika tidak sedang menghadapi halangan, bisa jadi saat itu karena dasar kemanjaan istri atau karena posisi aku yang berada di pinggir tempat tidur dan paling dekat dengan pintu kamar? Mungkin saja merasa enggan jika harus melewati serta menyuruhku menggeser ; "Awas, Pih, Amih mau turun ranjang." Hal yang paling masuk akal lainnya adalah bisa jadi bermakna begini ; "Pih, Amih mau ngelonin anak dulu biar cepet tidur. Tapi dia rewel pengen minum. Apih tolong bantu ambilin, ya? Entar ... kalo si Bungsu udah bobo, 'kan Apih bebas mau ngapa-ngapain Amih juga. Hihihi." Iya, 'kan? Iyain, dong! Iyalah!

__ADS_1


Ya ... ya ... yaaa ....


__ADS_2