Zona Dewasa

Zona Dewasa
16. Bebas


__ADS_3

...BEBAS...


...Written by David Khanz...


...---------- o0o ----------...


.


Lelapku buyar saat terdengar dentang jeruji besi diketuk-ketuk. Seorang laki-laki berseragam, sangar berdiri memandang dengan sorot tajam, membuka kunci gembok pintu ruang tahanan. Lengkap dengan pentungan tergenggam di tangan. Siap menebar teror mengerikan bagi semua penghuni lapas.


"Keluar!" Suaranya menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. Aku bangkit dan bergegas keluar dari dalam sel. "Ada apa pagi-pagi aku disuruh keluar, Pak?" tanyaku heran. Dia mengekeh berat seraya menutup kembali pintu terali. "Kau pikir sekarang pagi, hah? Dasar tukang tidur!" ujarnya dingin. Menguliti hampir setiap jengkal tubuhku dengan bola matanya. "Ikuti aku dan jangan banyak bertanya!"


Itu perintah. Setiap ucapan yang keluar dari mulut laki-laki itu itu adalah aturan yang wajib dipenuhi. Kalau tidak, laras batang hitam ditangannya akan melayang telak tanpa kenal ampun. Nama sosok ini Robert. Sipir penjara yang terkenal paling sadis memperlakukan penghuni lapas, jika berani membangkang.


Kuikuti langkahnya menuju sebuah ruangan kecil dan temaram. Berhenti di sana, kemudian berbalik seraya memandangiku seperti tadi. Menggidikkan. "Buka pakaianmu!" titah Robert keras. Aku ragu. Apa yang akan terjadi? Penyiksaan ataukah ... ah, tidak. Jangan sampai hal terakhir itu kualami. Tentang kabar tak senonoh yang diterima oleh teman sesama napi lain. Menjadi gundik pemuas syahwat kaum asusila.


"Semuanya, Pak?" Tanganku gemetar saat hendak menanggalkan sisa pakaian, yang masih melekat menutupi area kelelakian. "Semua, bodoh! Tunggu apalagi?" sentaknya dengan suara menggelegar.


Ya, Tuhan! Terpaksa kulorotkan juga sambil menutup mata dan dada berdegup kencang. Pasrah, apapun yang terjadi. Mungkin hari ini akan menjadi saat tersial dalam sejarah hidup. Kehilangan 'kesucian' di tangan laki-laki yang paling kubenci di jagat dunia ini. Lalu menunggu beberapa lama kemudian, tanpa berani membuka kelopak. Membayangkan Robert tiba-tiba menyergap dari belakang dengan rakus.


"Pakai ini!" ujar Robert setelah beberapa waktu hening. Dia melemparkan sesuatu pada tubuhku. Seperti kain. Perlahan kuberanikan membuka mata. Melihat seonggok pakaian tergeletak tepat di dekat kaki.


Masih was-was bercampur rasa heran, kuraih satu per satu tanpa sudi balas menatap pandangan laki-laki itu. Namun setidaknya ini mematahkan bayangan buruk tentang dia. Tak mungkin sekelas Robert bernafsu terhadap sesama kaum berjakun. Itu kuyakini saat memperhatikan pakaian yang disodorkan tadi. Bukan berupa daster atau sejenisnya.


"Sekarang ikuti aku!" kembali Robert memberi perintah. Aku patuh. Mengikuti langkahnya yang selalu diiringi derap keras menciutkan nyali. Sudah ratusan tubuh pernah merasakan ujung laras sepatu laki-laki. Hasilnya? Aku tak tahu dan tak pernah ingin mencari tahu. Terlalu mengerikan.


Robert masuk ke sebuah ruangan lain. Terang benderang di hampir setiap langit-langit. Ada beberapa personil, bersiaga dengan tugas masing-masing.


"Duduk!" Ujung mata Robert menyuruhku menempati kursi yang dia sodorkan dengan sepakan kakinya, di depan sebuah meja kayu keras. "Tak usah dibaca. Tanda tangani berkas-berkas ini segera." Dia membanting map berisi kertas ke hadapanku.


"Apa ini, Pak?" tanyaku tak mengerti. Mata Robert melotot garang. "Aku bilang juga tanda tangan, bodoh! Jangan banyak bertanya!" bentaknya meluruhkan daya di tubuhku.


"B-b-aik, P-pak. M-m-aaf-f," jawabku gemetar hebat. Lekas membuka berkas, lalu menandatangani disetiap tempat yang dipinta. "S-s-udah s-s-se-mua, P-pak."

__ADS_1


Robert menatap dingin. Dia mendekat. Berdiri dengan satu kaki terangkat menjejak lututku. Hanya bisa diam dan meringis sakit, membiarkan alas sepatu laki-laki itu menekan kuat-kuat.


"Sekarang pergilah dari sini," ujar Robert datar. "Kamu bebas pergi ke mana saja."


Aku melirik di antara rasa takut. "Aku bebas, Pak?" Tak percaya begitu saja. Mengingat masa hukuman yang harus dijalani, masih tersisa seperempatnya. "Kenapa? Masih betah? Ingin mati membusuk di sini, hah?!" Robert memajukan kepala. Dengkus napas busuknya menyapu wajahku. "T-tidak, P-pak!" Semakin gemetar tubuh ini disertai suara terbata-bata. Disambut seringai Robert menjijikkan.


Kemudian laki-laki bertubuh gempal itu memberi perintah pada salah seorang personil di sana. Menggerakkan kepala sekali, menyuruh mengantarku ke depan gerbang lapas.


"Nikmati kebebasanmu. Kami harap, kau tak berlama-lama di luar sana," kata petugas yang melepasku tepat di pintu gerbang. Seringai aneh seperti Robert tadi, tampak menghias bibir hitamnya.


Ah, aku tak peduli. Tak ada untungnya harus menerka apa yang tersirat dari raut wajah mereka. Saat ini, hanya ingin segera pergi menjauh dari tempat terkutuk tersebut. Beberapa tahun lamanya mendekam dalam tahanan, menjalani masa hukuman atas perbuatan yang tak pernah dilakukan. Ya, aku dipenjara atas ulah seseorang. Dituduh melarikan seorang perempuan muda.


Bukan salahku karena sebelumnya tak pernah tahu. Dia meminta tolong. Ketakutan. Lari dari seorang pria kaya yang mengancam hendak membunuhnya. Sial, tanpa menyelidik terlebih dahulu, aku bersedia membantu. Sampai akhirnya suatu ketika, beberapa laki-laki berbadan tegap datang menyergap.


Kepalan tinju serta tendangan perih kaki mereka, menghiasi akhir masa kebebasanku. Kami digelandang beramai-ramai menuju tempat penghakiman. Dijerat hukum berlapis; berbuat asusila dengan istri orang lain serta berusaha melarikannya. Tuduhan aneh. Padahal tak secuil pun tubuh perempuan itu sempat kusentuh. Semua berakhir mulus tanpa bisa mengelak, mendekam di balik jeruji besi yang dingin dan lembab. Entah bagaimana dengan nasib perempuan itu. Sampai jejak kaki menginjak tanah bebas hari ini, belum pernah terdengar kabarnya. Bahkan laki-laki kaya itu sekalipun. Bedebah!


Barulah tersadar, ini bukan pagi seperti yang dibayangkan sebelumnya. Langit mengelam disertai rintik kecil memenuhi alam. Tersapu miring oleh hembusan angin dingin mencucuk tulang. Pukul berapa ini? Tak ada kehidupan di sekitar. Semua menyatu dalam satu kata, hening.


Jalanan basah dan sepi. Dengan kondisi tubuh lembab, kumerapat ke sebuah tempat. Numpang berteduh di tengah suasana menggigilkan raga. Tak jauh dari sesosok tubuh yang meringkuk di sana. Gelandangan? Mungkin. Baunya sempat tercium dari aroma pakaian kumal yang dia kenakan.


Ah, sial! Perut ini semakin perih minta diisi. Tak ada seorang pun yang bisa kumintai makanan. Terkecuali dia. Sosok kumuh itu.


"Hei, bangun!" seruku setelah mendekat. Dia tersadar. Membuka mata dari pejamnya. "Kamu punya sedikit makanan untukku?"


Dia bangkit dengan susah payah. Menatapku dengan pandangan kosong dan wajah pucat pasi. Sakitkah? Peduli setan. Aku hanya sedang ingin memikirkan perut lapar. "Beri aku sedikit makanan itu. Aku kelaparan," kataku mengulang begitu melihat seonggok roti sisa tergeletak di dekatnya.


Dia menggeleng. Tampak ingin berucap, namun hanya mampu mengeluarkan suara lirih yang tak kumengerti sama sekali.


"Uuhhh ... aaahhh," katanya sambil menggerakkan telapak tangan ke kiri dan kanan. Perlahan dan lemah.


"Apa maksudmu, gembel?" Aku berusaha mencerna, namun buntu. Lilitan perih perut ini lebih menyiksa, ketimbang harus memahami gerak bahasa isyarat sosok tersebut. "Kamu tak mau berbagi? Bedebah! Kikir sekali kau!"


Kuambil sisa onggokan roti itu. Dia berusaha mencegah, namun kibasan tangannya terpaksa tak diindahkan. Lalu segera melahap habis rampasan makanan tersebut. Lumayan bisa mengganjal perut untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Maaf, aku terpaksa mengambil makananmu. Aku lapar karena baru saja keluar dari penjara. Kamu harus tahu itu!" Kutepuk pipinya beberapa kali. Hangat. Hhmmm, kulit gembel itu ... apakah dia sedang demam. Mengingat di tengah cuaca dingin seperti ini, tak mungkin tubuhnya bisa sehangat itu.


Lagi-lagi aku tak peduli. Perut ini masih perih. Itu yang seharusnya lekas kusudahi. Mencari makanan di tempat lain. Syukur-syukur ada yang memberi gratis. Jika tidak, rasanya terpaksa menggunakan cara sama. Seperti tadi. Mencuri. Di mana? Selarut ini sulit menjumpai orang-orang. Semua pasti sedang menikmati alam impian. Terkecuali, penjaja makanan yang kerap bergadang menunggui pelanggan, atau bisa pula tempat lain.


Dengan kondisi lusuh dan lembab, kumasuki sebuah tempat. Mini market. Beberapa pasang mata menatap aneh dan curiga. Apalagi dengan kaki telanjang, kotor meninggalkan jejak di sepanjang langkah. Sekali lagi, aku tak peduli. Hanya ingin segera menyudahi jerat siksa lapar yang melilit perut. Itu saja.


"Maaf, aku tak jadi belanja," kataku usai mengelilingi rak dagangan di ujung sana, pada petugas yang sedari tadi menatap penuh curiga.


"Tunggu, Mas. Jangan pergi," ujarnya sembari mengikuti. "Ada apa?" tanyaku berpura-pura bingung. Dia memperhatikan gelembung bajuku. "Itu apa?" Dia menunjuk.


Aku gelagapan. "Bukan apa-apa. Hanya perbekalan baju. Karena aku tak bawa tas," jawabku berbohong. Dia tak percaya, "Maaf, boleh saya periksa?"


"Jangan. Aku bilang cuma baju. Kamu tak percaya?" gertakku. "Bukannya tak percaya, tapi ijinkan saya memeriksanya sebentar," kata petugas tadi seraya menggapai baju di bagian yang dia inginkan. Aku berkelit. Berusaha menghindar dan cepat-cepat berlari ke luar.


"Maling!"


Teriakan itu mempercepat lariku. Serentak, orang-orang yang ada di sekitar sana berhamburan memburu. Ah, sial! Harus lekas menghindar sebelum ....


BUK!


Satu pukulan telak mendarat keras di tengkuk. Aku kehilangan keseimbangan. Jatuh terjerembab di atas tanah becek, lalu meraung kesakitan saat hantaman-hantaman selanjutnya mengenai sekujur badan. Tak ada kesempatan untuk sekedar bangkit meneruskan laju kaki, kecuali pekik amarah yang mengantarku ke alam gulita.


Ketika tersadar, aku menemukan diri tergolek di sebuah ruangan temaram, dingin, dan pengap. Beberapa pasang mata menatap tak bersahabat. Nyeri mendera setiap persendiaan, kala mencoba bergerak dan beringsut. Bibirku terasa membengkak, disertai rasa yang sama dan asin memenuhi permukaan lidah. Pandangan pun sulit terbuka.


Tiba-tiba di depan sana terdengar kekeh keras menyebalkan. Suara yang tak asing memenuhi rongga telinga selama beberapa tahun terakhir. "Bagaimana rasanya menikmati kebebasan sesaatmu, bodoh?" tanya pemilik suara itu di balik jeruji besi. "Sebentar lagi, kamu akan bebas sebebas-bebasnya. Bukan di sini, tapi di alam lain secara perlahan." Kemudian disusul suara gelak senada.


Ingin kujawab, namun sulit menggerakkan rahang ini. Sakit sekali rasanya. Hanya bisa mengeluarkan lenguhan lirih melalui lobang hidung yang kerap mengeluarkan cairan merah kental.


Laki-laki berbadan besar mengenakan seragam, serta selalu menggenggam laras tongkat hitam itu, menyapu pandangan. Tepatnya, pada seisi ruangan sempit namun dihuni banyak jiwa-jiwa yang sedang menjalani masa hukuman. "Kalian juga, para jahanam laknat, akan bernasib sama dengan dia. Jadi tak usah banyak berharap, karena hidup kalian hanya tinggal menghitung hari. Hahaha," katanya lalu meninggalkan kami begitu saja.


Entahlah, apa yang dia maksud. Aku tak mengerti. Hanya bisa mengerang kesakitan di sisa beberapa hari menjelang tubuh ini melemah. Demam tinggi berkepanjangan, batuk-batuk, pusing, serta batas napas yang terhirup menyesakkan dada. Itu terjadi bukan hanya padaku, tapi juga mereka. Sesama penghuni ruangan. Berselang tak sampai waktu setengah bulan. Lalu ....


Aku pun menjerit kesakitan, mengejang, kemudian terdiam kaku bersama-sama. Selamanya.

__ADS_1


__ADS_2