
...RAE...
...Written by David Khanz...
...---------- o0o ----------...
Derap suara langkah membahana di sepanjang koridor terminal kedatangan. Saling menyusul bersahutan diiringi laun obrolan kecil para penumpang yang baru saja turun dari pesawat. Aku sendiri hanya terdiam, mengikuti arah orang-orang di depan, berjalan sesuai arahan plang petunjuk ruangan. Setelah melewati berbagai proses pemeriksaan petugas bandara, lalu menuju area crub. Sebelumnya, banyak pengunjung berjubel menantikan sosok yang ditunggu. Beberapa di antara mereka, memegang selembar tulisan nama sambil memperhatikan kami.
"Jonas!" teriak satu suara memanggil namaku di sela-sela sesak para penjemput. Mata ini lekas mencari-cari sosok peneriak barusan. Beberapa saat hanya terpaku, menatap satu per satu wajah-wajah mereka. "Saya di sini, Jonas! Arah jam dua!" Kembali sapuan pandang kulesakkan ke samping kanan dari tempat berdiri, hingga akhirnya berhenti begitu menemukan seseorang dengan uraian rambut blonde melambai-lambaikan tangan.
'Rae?' Kening ini berkerut sejenak. Memperhatikan wujud seorang perempuan tengah berhimpitan membelah celah. Kemudian perlahan aku mendekat dengan rasa ragu. "Anda yang bernama Rae, 'kan?"
Perempuan itu mengangguk diiringi senyuman semringah. "Ya ... saya Rae, yang sejak beberapa waktu lalu meneleponmu."
"Oohh .... " Bibir ini membulat.
Kuperhatikan sosok Rae dari bawah hingga ujung rambut. Berpostur sepadan. Cukup tinggi untuk ukuran rata-rata perempuan Meksiko, walau tanpa lekukan seksi membelit di pinggangnya. Mengenakan stelan kasual dan bercelana jin. Lengkap dengan balutan hoodie tebal dan besar menutupi sebagian kepala.
"Ayo, Jonas. Kita secepatnya meninggalkan tempat ini," ujar Rae tanpa basa-basi seraya menarik kuat tanganku.
"Ke mana?"
Rae tak menjawab.
"Hei ... saya tanya Anda, Nyonya!" Kulepas cekalan jemarinya. Berhenti mengikuti. Menunggu sampai dia menjelaskan keingintahuan ini.
Rae mendengkus kuat. Mungkin mulai merasa kesal. Namun berusaha tenang di balik tatapannya. "Nanti saya jelaskan semua, begitu sampai di tempat tujuan. Ini tempat umum dan terbuka. Kamu paham, 'kan, maksudnya?"
"Lalu ... bagaimana dengan ayah saya? Mengapa dia--"
"Cukup, Jonas! Saya hanya sedang menjalankan tugas dari Tuan Artur. Fokus utama saya kali ini adalah menjauhkanmu dari keramaian. Tolong, jangan persulit saya!" Rae menegaskan. Mata coklatnya sampai membulat besar.
Hhmmm, sial! Keras juga perempuan ini. Mungkin karena itu pula, ayahku bersedia mempekerjakannya. Sama-sama sangar dan konsisten terhadap diri.
Aku mengangkat bahu diiringi seruak senyum membelah pipi. Menuruti perintah Rae dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di crub depan. Selanjutnya tak ada percakapan apa pun hingga kami meninggalkan bandara megah Suvarnabhumi di Racha Thewa - Thailand. Merasakan sejenak sentuhan berkelas dunia dari tangan dingin seorang Helmut Jahn. Seorang arsitektur asal Jerman yang sudah beberapa kali menancapkan karyanya di beberapa belahan dunia.
Rae tetap memasang muka dingin di sepanjang perjalanan. Hanya sesekali berucap mengarahkan sopir taksi melajukan kendaraan ke tempat yang tak pernah kuketahui.
"Sudah berapa lama Anda bekerja pada ayah saya?" tanyaku memecah kesunyian. Rae tak mau menjawab. Dia cuma melirik sejenak, lalu kembali menatap tajam ke depan. "Bahkan untuk mengucap satu angka pun, Anda keberatan? Hehe. Saya yakin, ayah pasti membayarmu besar, 'kan?"
Rae menepuk pahaku. "Diamlah!" ujarnya disertai belalak mata mengerikan.
Aku tertawa-tawa. Memperhatikan dari samping lekuk tubuh Rae yang sedikit gempal dengan warna kontras kulitnya. Belum terlihat begitu tua. Tampak menarik dan berani kutebak, siklus menstruasi dia masih aktif. Itu berarti, rahim Rae terbilang hangat. Baguslah, setidaknya ....
"Berhentilah menatap saya seperti itu, Jonas!" seru Rae tanpa menoleh sedikit pun. "Kita turun di sini!" Lanjutnya seraya meraih tas kecil di atas pangkuan. Kemudian meminta sopir taksi untuk berhenti.
"Di hutan seperti ini?" Aku terheran-heran. Memperhatikan kondisi sekitar jalan yang dipenuhi pepohonan tinggi menjulang, khas daerah pegunungan. Akan ke mana Rae membawaku?
DOR!
Sebuah suara tembakan mengejutkanku. Lebih parah lagi, melihat Rae menyarungkan kembali senjata di tangannya usai melesakkan peluru tepat di kepala sopir taksi. "Ya, Tuhan! Apa yang Anda lakukan, Nyonya? Anda membunuhnya?"
Rae menatapku tajam. Jawabnya, "Seandainya kamu tak banyak bicara tadi, mungkin dia masih bisa saya biarkan hidup. Sayang sekali ... sekarang tak ada pilihan lain. Sorry, Jonas."
Seketika darah dalam tubuh ini terpompa dengan cepat menuju kepala. Debaran jantung kian berpacu menghentak dada. Sopir itu terkulai mati seketika bermandikan darah segar. Itu bukan apa-apa dan sudah terbiasa mengisi memori otak di sepanjang hidupku. Apalagi memiliki seorang ayah kandung yang tak pernah jauh dari dunia hitam. Ya, segenap darah serta daging di tubuh ini, adalah hasil dari kejahatan.
Arturo Del Palmas, seorang mafia besar pemilik bandar narkoba terkenal di Miraflores. Sebuah tempat terpencil di Los Cabos sebelah timur San José del Cabo - Meksiko. Di sana ayah membangun kerajaan bisnis haramnya. Sempat beberapa tahun berada di dalam lingkup panas, entah mengapa menjelang memasuki usia remaja, ayah mengirimku ke Idaho - Amerika Serikat. Tepatnya menitipkanku pada keluarga Paman Marco. Bersekolah hingga menuntaskan kuliah di sana, tapi melarang pulang kembali ke Meksiko. Bertahun-tahun hidup terpisah dengan sosok ayah, sebagaimana tak pernah mengenali siapa wanita yang melahirkanku. Sampai suatu ketika, beberapa bulan lalu, Paman Marco datang menghampiri dengan wajah gelisah.
"Jonas, sebaiknya kamu cepat-cepat berkemas. Pergi dari sini dan temui seseorang bernama Rae. Nanti dia akan menghubungimu," kata Paman Marco dengan suara bergetar.
"Ke mana, Paman?" Aku bingung. Sepertinya ada sesuatu yang mengkhawatirkan sedang terjadi.
Paman Marco menatapku. Jawabnya kemudian, "Paman tak tahu apa yang direncanakan Kak Artur. Tapi ini genting sekali. Pokoknya, turuti saja arahan yang akan diberikan Rae padamu nanti, ya?"
"Siapa Rae?" Aku semakin tak mengerti. Jawab Paman Marco, "Dia salah seorang kepercayaan ayahmu. Paman sudah memberikan nomor ponselmu yang baru. Bicaralah dengan Rae. Ingat, kamu jangan percaya selain pada dia."
Aku menggeleng keras. "Tidak, Paman. Aku tak akan pergi meninggalkan Paman. Aku ingin tetap di sini, sampai ayah menjemputku pulang."
"Tolonglah, Jonas. Jangan keras kepala. Ini demi keselamatanmu, Nak," desak Paman Marco.
"Keselamatanku? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi?"
"Ya, Tuhan ... Jonas. Paman mohon jangan beri pertanyaan banyak seperti itu lagi. Paman sendiri pusing harus memulai dari mana, Nak." Paman Marco menggaruk-garuk kepala beberapa kali. Tampak kegundahan itu tergambar jelas. Dia sedang dilanda ketakutan. Oleh siapa? Apa? Entahlah, sampai kemudian sepulang menghadiri pesta di rumah teman, aku menemukan Paman Marco tergeletak mati bersimbah darah. Tubuhnya penuh dengan lobang bekas peluru.
Dalam keadaan panik dan bingung, Rae menelepon. Menyuruhku lekas meninggalkan tempat dan terbang menuju tempat di Asia. Thailand. "Segera pergi ke bandara. Di sana saya sudah mengutus seseorang yang akan mengurus keberangkatanmu," seru Rae. Sosok bersuara perempuan, tapi tak pernah sekali pun kulihat wajahnya. Dia tidak pernah mengizinkan percakapan melalui video call.
__ADS_1
Tak tahu harus berbuat apa, akhirnya kuturuti semua perintah Rae. Sekaligus memenuhi permintaan Paman Marco beberapa waktu lalu. Penuh misteri. Begitulah nasib yang harus dijalani. Menjadi bagian dari keluarga keras ayah. Senantiasa diincar marabahaya akibat lingkar dunia kelam. Jujur saja, sering kali diri ini merindukan masa-masa damai. Bermain bersama mereka yang mencintai kedamaian, serta harmonis dikelilingi aroma kesejukan rindang pohon jacaranda.
Kini hanya bisa berlari menjauh sampai batas yang tak pernah diketahui, dari kejaran sesosok iblis berwujud manusia bernama Naldo Fausta. Itu aku dengar dari penuturan Rae di kemudian hari. "Tuan Artur dituduh membocorkan rahasia Tuan Naldo. Bisnis laki-laki hitam penuh tato itu, diberangus pihak kepolisian. Dia hampir dipenjara, tapi berhasil menyuap oknum aparat penegak hukum di sana. Lalu menuntut balas pada Tuan Artur, hingga detik ini."
"Lalu, ayah sekarang ada di mana?" tanyaku menahan kerinduan padanya. Rae menggeleng. "Saya tak tahu, Jonas. Tuan Artur tak pernah mau menyebutkan keberadaannya. Saya hanya ditugaskan untuk menjagamu. Itu saja."
Aku memperhatikan sosok Rae. Putih bersih. Tidak menampakkan dia berasal dari ras amerika latin. "Berapa lama Anda bekerja pada ayah saya?" Pertanyaan itu kembali menguar karena waktu di bandara lalu belum dijawab.
Rae menarik napas panjang. "Hampir dari setengah usia kamu saat ini, Jonas. Apakah itu penting?"
Aku mengekeh. "Tapi ayah tak pernah cerita kalau dia mempunyai orang kepercayaan seperti Anda, Nyonya."
Rae tidak membalas. Dia mengibaskan rambut pirang sebahunya, lantas bangkit menjauh. "Kamu pasti lapar. Saya akan masakkan untukmu, Jonas." Aku pikir ini hanya trik Rae untuk mengalihkan pembicaraan. Dari penampilan perempuan itu, yakin sekali dia jarang turun ke dapur. Sayangnya, keliru. Dia jago memasak makan kesukaanku. Chilaquiles. Roti tortila yang diisi daging ayam, keju, sedikit toping bacon, serta salsa dan saus mole.
"Selama ini hanya ayah saya yang jago masak Chilaquiles seperti ini. Bagaimana Anda bisa tahu makanan kegemaran saya?" tanyaku penasaran. Rae diam. Dia memilih menikmati hasil masakannya ketimbang menjawab. Lalu lanjut berkata, hingga tiba-tiba wajah Rae memerah padam. "Mungkin saja Anda pernah menjalin hubungan dekat dengan ayah saya, sampai Anda pun bisa sehebat ayah disamping kegemarannya bermain-main dengan Magnum. Hahaha."
"Leluconmu sangat amatiran, Jonas!" seru Rae seraya meninggalkan meja makan. Aku tergelak keras, lantas lanjut menggodanya, "Bisa jadi juga Anda sering tidur bersama ayah, 'kan, Nyonya?"
DOR!
Aku terkejut. Mangkuk tempatku makan tiba-tiba mental diterjang peluru yang dilesakkan Rae. Perempuan itu tersenyum sinis. "Kalau kamu bukan seorang Jonas, sudah sedari kemarin saya satukan tubuh kamu dengan sopir taksi sialan itu! Sekarang, masih mau mengoceh menyebalkan?"
Aku menjawab terbata-bata, "O-oke, s-saya d-diam .... "
"Good boy! I am so glad to hear that, Jonas. Thanks."
"You are very welcome, Ma'am."
"Nikmati makan malammu. Saya mau tidur. Good night, Johanes Del Palmas."
Oh, golly! Dia tahu nama panjangku. Selama ini hanya ayah yang selalu mengucap kalimat sapa itu menjelang tidur malam. Siapakah sebenarnya Rae? Apakah diam-diam ayah pernah menikahi perempuan itu? Terus masakan Chilaquiles tadi? Ah! Pusing sekali memikirkannya. Lebih baik sekarang ikut beristirahat. Di dalam gubuk kecil yang dibangun seadanya. Di tengah hutan pula. Entah siapa yang mempersiapkan semua ini? Rae? Mustahil. Setangguh itukah dia?
Tak ingin terus dibebani pikiran berat, aku pun tertidur pulas di atas sebuah ranjang bambu. Sementara Rae sudah terlelap lebih dulu sambil terduduk di kursi lapuk. Gelap gulita dan ditemani nyanyian binatang malam saling bersahutan. Perlahan mengatupkan kelopak mata. Sayu. Kemudian ikut hanyut dalam suasana alam.
Hanya sesaat, sampai aku terlonjak kaget sambil berteriak kencang. "Tidaaakkk!"
"Jonas!"
"Tidak! Jangan bunuh ayah saya!"
"Jonas!"
"Ini aku, Jonas. A-ay ... Rae!"
"Ayah?"
"Bukan. Saya Rae!"
"Lalu di mana ayahku?"
Gelap masih membutakan. Aku tak tahu di mana sosok Rae berada. Sampai kemudian perlahan sebuah tangan menyentuh bahuku dengan lembut. "Kamu pasti bermimpi, Jonas. Tidurlah kembali. Ini hampir menjelang pagi."
Aku memberontak. "Tidak! Aku ingin bertemu ayahku!"
Tubuhku ditarik Rae. Mendekat. Kemudian jatuh dalam dekapan hangatnya. Menyentuhkan dada kami dengan lembut. "Maafkan aku, Jonas .... "
"Rae?"
Terdengar isak Rae di dekat daun telingaku. Ujarnya, "Aku hanya ingin kamu tetap hidup."
"Rae?"
Tak sengaja, jemariku menyentuh dada perempuan itu. Repleks saja kemudian naik ke atas. Menyusuri permukaannya yang terbelah dua. Diikuti gelegak hormon oksitosin seketika berlarian di dalam tubuh ini. Berkumpul di satu titik mencubit-cubit binal.
PLAK!
Tiba-tiba kurasakan perih di sekujur kulit pipi. Dalam kegelapan yang dingin, wajah ini justru berubah panas. Yakin sekali bukan karena terantuk.
"Rae?" panggilku keheranan.
Perempuan itu tak menyahut. Dia lekas mendorongku dengan kasar. "Sialan kamu, Jonas!"
"Rae!"
Kudengar suara derit pintu. Kemudian disusul bantingan keras menggetarkan seisi gubuk.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Rae? Rae!"
Dia tak menjawab. Hening sampai pagi datang menjelang. Sosok Rae tak kunjung terlihat. Kucari kesana-kemari hingga jauh masuk ke dalam hutan, perempuan itu tak juga ditemukan. Lelah mencari, akhirnya memutuskan kembali.
Namun, di dalam gubuk kulihat gelimangan darah dari dua sosok yang bersimbah. Salah satunya Rae. Entah dengan yang disebelahnya.
"Rae? Apa yang terjadi?" Kudekati Rae yang masih bernapas terputus-putus. Perempuan itu menangis sambil mengangkat tangan dengan susah payah. "Jonas, maafkan aku."
Segera kuangkat tubuhnya. Mendekap sepenuh hati. "Apa yang terjadi, Rae?"
Suara Rae hampir tak jelas. Mirip sebuah bisikkan yang didorong oleh napas tersendat. "Jonas ... laki-laki itulah yang selama ini memburu kita. Dia Naldo Fausta. Bajingan yang dulu telah membunuh ibumu. Kini datang kembali untuk menghancurkan keluarga Tuan Artur. Mungkin iblis ini juga yang telah menghabisi pamanmu, Marco. Dia berhasil menemukan kita. Tapi aku .... "
"Hehehe ... tak sekalian kamu juga berterus terang, Rae? Katakanlah siapa dirimu pada anak muda itu. Hahaha .... " Tiba-tiba sosok yang kukira sudah mati itu turut berbicara.
"Naldo! Belum mampus juga rupanya kau, Jahanam!" bentak Rae berang dengan tubuh melemah. Aku mundur menjauhi sambil menyeret Rae.
"Tentang apalagi ini? Kau pasti tahu di mana ayahku berada, 'kan, Naldo?" tanyaku tetap mewaspadai pergerakkan Naldo. Mungkin saja laki-laki itu masih memegang senjata.
Naldo mengekeh lemah. "Tak usah kau cari kemana-mana, Anak Muda. Ayahmu ada di sini. Bersamamu. Hik hik hik!"
"Diam kau, Naldo! Bedebah!" rutuk Rae.
"Apa maksudmu, Naldo? Di mana ayahku?!"
Perlahan, tangan Naldo bergerak. Menunjuk ke arah kami. "Hik hik hik ... dia ayahmu ... dan aku ... suaminya. Hik hik hik!"
"Apa-apaan ini semua?! Kebohongan apa yang sedang kau lakukan itu, Naldo?" geramku disertai gemeretak gigi.
"Diam kau, Naldo!" Rae turut merutuk. "Jangan kau racuni anakku dengan muslihatmu itu, Jahanam!"
Aku tersentak. Menatap Rae penuh kebingungan. "Apa maksudmu, Rae?"
"Hik hik hik." Naldo tertawa-tawa.
"Aku .... " Rae meringis menahan rasa sakit akibat luka menganga di tubuhnya. "Maafkan aku, Jonas. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan."
Aku masih belum mengerti. Ada hubungan apa sebenarnya antara Rae dan Naldo? Rae berselingkuh dengan Naldo di belakang ayah, atau Naldo dan ayah sama-sama memperebutkan Rae?
Akhirnya, semua terkuak. Bukan hanya masalah persaingan bisnis yang melatarbelakangi Naldo berupaya menghancurkan Artur Del Palmas. Rupanya disamping jahat, Naldo Fausta juga menaruh hati terlarang. Makanya dia nekat mengenyahkan Ibu dari sisi Ayah, agar memuluskan langkah Naldo mendekatinya. Alih-alih ingin membalas dendam, niat Artur belum kunjung terpenuhi. Karena Naldo memiliki kekuasaan besar di daerahnya. Sampai kemudian, Artur berhasil membongkar sindikat perdadangan narkoba Naldo.
Sayang sekali, bermodalkan harta melimpah, Naldo berhasil menundukkan aparat penegak hukum setempat dalam kuasanya. Lalu kembali memburu Artur sekaligus menghancurkan semua. Dirasa keadaan semakin membahayakan, Artur menitipkan aku pada adiknya, Paman Marco yang tinggal di Amerika Serikat. Sementara Artur sendiri melarikan diri ke bagian negara Asia lain, yaitu Korea Selatan. Di sana dia sengaja mengubah penampilan fisik agar tak dikenali oleh Naldo. Sekaligus berganti profil menjadi Rae.
Naldo geram karena tak kunjung menemukan pujaan hatinya. Lalu menelusuri keluarga Artur yang lain, hingga mengetahui keberadaan Marco. Artur yang sudah menjadi Rae, langsung menghubungi Marco begitu mengendus niat jahat Naldo yang hendak menghabisi aku, Jonas. Sayang sekali, Marco keburu dibunuh oleh Naldo sebelum dia melarikan diri.
Menyadari masih ada pihak keluarga Artur yang masih hidup, Naldo pun langsung mengikutiku ke Thailand. Atas bantuan seorang anak buahnya yang menyamar sebagai sopir taksi, Naldo berhasil mengetahui keberadaan kami. Aku dan Ayah. Hingga kejadian berdarah pun kini terpampang di depan mata.
"Tapi Ayah cuma bedah operasi plastik wajah dan payudara saja, kok, Jonas. Yang lainnya masih utuh. Lengkap dan berfungsi sebagaimana mestinya. Makanya waktu semalam kamu meremas dada Ayah, kamu Ayah gampar. Soalnya Ayah merasa mual dan sebal. Tahukah kamu, semalaman sampai pagi Ayah muntah-muntah gara dinafsuin sama kamu, Jonas. Niat Ayah, kalau sudah berhasil membunuh si Naldo itu, Ayah akan buang lagi silikon sialan yang ditanam di dada Ayah ini. Ayah tidak pernah merasa cucok, kok. Ayah merasa zebel ... zebel ... zebeeeellll .... !!!" tutur Ayah dengan napas makin menyendat.
"Ya, ampun ... Ayah. Kalau hanya ingin mengelabui si Naldo, kenapa harus berubah jadi begini? Bukankah ada banyak pilihan lain. Bisa memilih mirip jadi Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Ji Chang Wook, Lee Ang Wa Duk, Can Ngi Xing, Ji Chank Go Yeng Cawu Apu, O Beh Yuk, atau juga Xia Ka Yak Ma Ling Ku Tang Jung Chang Cut," balasku panjang lebar.
"Ngeri, Nak. Ayah takut si Naldo makin edan! Dia, 'kan, peminat semur terong kuda!"
Naldo menggeram. "Woy! Bicara apa kalian? Apa tadi ... Chang Chut? Tak adakah dialog yang lebih dramatis selain itu?"
"Diam kau, Pagot Sialan! Dasar hemaprodit jahanam!" Rae berusaha mengacungkan magnum kesayangannya pada Naldo. Tapi tak kuasa karena tubuh sudah semakin melemah kehilangan banyak. Aku pun segera membantu. "Sini, biar Jonas saja yang tembak dia, Rae ... eh, Ayah!"
DOR!
Sebutir peluru menembus dahi lebar Naldo. Memuncratkan darah segar serta sebagian buntalan otaknya keluar putih. Laki-laki tidak berakhlak itu pun mati seketika.
"Ayah?" Aku memperhatikan wajah Ayah memucat.
"Ayah sudah tak kuat, Nak. Maafkan Ayah, ya."
"Tidak, Yah. Jangan mati sekarang!"
"Lalu kapan?"
Aku menjawab keras sambil menangis, "Nanti kalau buntalan silikon itu sudah dikeluarkan dari dada Ayah!"
"Tapi Ayah sudah tak kuat, Nak .... "
"Jonas beliin sekarang tisu basah Magic Power biar Ayah kuat. Pokoknya jangan pergi sekarang, Yah!"
"Eike ... eh, aku ... aaaahhh!"
__ADS_1
"Ayaaahhh!!!"