
"Apa istri Bapak lebih sexy daripada saya?!" Nayla menirukan gaya bicara wanita itu yang membuat Reka sangat terkejut.
Reka membungkukkan badannya karena suara Nayla jelas dari bawah mejanya. "Astaga, Nayla! Ngapain kamu ada di situ?" Reka berjongkok dan mengulurkan tangannya berniat membantu Nayla keluar dari kolong meja.
Nayla justru memukul tangan Reka dan keluar sendiri dari kolong meja. Dia usap perut yang sudah sedikit terlihat itu sambil berjalan lalu duduk di sofa.
Reka segera berdiri dan mengunci pintu agar tidak ada anak buahnya yang tiba-tiba masuk. Kemudian dia duduk di samping Nayla yang sedang menekuk wajahnya. "Sayang, kok gak bilang kalau mau ke sini? Ngapain sembunyi di bawah meja? Bikin kaget aja." Reka mengusap pipi Nayla yang menggembung karena marah itu.
"Mau jadi mata-mata." jawab Nayla sambil melebarkan matanya.
Reka tertawa dan menarik tubuh Nayla dalam pelukannya. "Terus, pelakunya sudah melakukan apa? Sudah tertangkap basah? Apa sudah terungkap kasusnya?"
"Iya, tertangkap basah digoda sama wanita lain." Nayla semakin menggembungkan pipinya. Meski demikian dia tidak menolak pelukan dari Reka.
"Sayangnya si pelaku gak tergoda, dia sudah punya istri yang cantik dan manja." Reka semakin menggoda Nayla. Rasanya semakin gemes dengan istri lucunya itu.
"Iya, kan ada aku. Coba di belakang aku? Masih mau menolak?"
Reka semakin tertawa, mana dia tahu kalau ada Nayla di dalam ruangannya. "Hih, aku kan gak tahu kalau ada kamu di sini." Reka mencubit gemas hidung mancung Nayla.
Tersadar Nayla tertawa malu. "O, iya. Lupa, kalau aku mau ngasih kejutan sama Mas Reka." Nayla memutar tubuhnya dan menatap Reka. "Berarti Mas Reka beneran cinta sama aku?"
"Ya iya sayang. Dulu aja sebelum nikah aku gak pernah tergoda wanita seperti itu, apalagi sekarang udah nikah. Jelas, aku hanya padamu." Reka mencium singkat bibir yang senyumnya telah mengembang itu.
Nayla semakin menyandarkan dirinya di dada Reka. "Mas sibuk gak?"
"Ya, di bilang sibuk ya sibuk, tapi kalau buat kamu ya gak sibuk. Kenapa? Mau aku antar pulang?"
Nayla menggelengkan kepalanya. "Aku mau di sini aja nemeni Mas Reka."
"Jadi sengaja ke sini mau nemeni aku?"
"Iya, gak tahu kenapa tiba-tiba pengen banget ketemu."
Reka meregangkan pelukannya lalu mengusap lembut perut Nayla. "Dedek mau ketemu Papa yah, udah kangen beberapa hari gak ditengokin."
Nayla mengernyitkan dahinya mendengar celoteh Reka itu.
"Udah kelihatan ya perutnya. Lucu." Reka mengukur perut yang sedikit buncit itu dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Iya, udah jalan tiga bulan Mas."
Reka membungkukkan dirinya dan menciumi perut Nayla. Tidak cukup jika hanya dari luar kemeja, dia singkap kemeja itu hingga terlihatlah perut putih yang sedikit membuncit itu.
"Mas, geli." Merasakan kecupan-kecupan Reka di perutnya membuat Nayla tertawa kegelian. "Udah." Dia sedikit mendorong kepala suaminya agar berhenti menempel di perutnya.
Akhirnya Reka mendongakkan kepalanya menatap Nayla. "Belum terasa gerakannya ya?"
Nayla menggelengkan kepalanya. "Kata Dokter kalau udah empat bulan baru terasa Mas."
"Kamu sudah makan? Aku pesanin makanan kalau belum makan."
Nayla menggelengkan kepalanya. "Aku baru aja makan mie ayam."
"Jangan sering-sering makan mie ayam kan lagi hamil."
"Cuma seminggu dua kali Mas. Lagian mie nya organik kok."
"Ya udah. Nanti kalau lapar bilang ya."
Nayla menganggukkan kepalanya.
Nayla menyandarkan punggungnya di sofa sambil melipat tangannya. Dia terus menatap suaminya yang sedang bekerja di depan layar laptop itu. Lama-kelamaan dia tidak tahan untuk tidak mendekatinya. Dia berdiri menghampiri Reka.
"Sayang, kalau ngantuk tidur aja di sofa."
Tiba-tiba saja Nayla duduk di pangkuan Reka yang membuat dada Reka seketika berdebar tak karuan.
Seketika Reka menghentikan gerak tangannya. Dia menatap Nayla dan melingkarkan tangannya di pinggang Nayla.
"Jadi beneran pengen dimanja nih?" tanya Reka lagi.
Nayla hanya tersenyum menggoda sambil mengangguk kecil.
"Mau coba di sini gak?" Reka mengedipkan matanya menggoda Nayla.
"Coba apa?"
Reka membisikkan sesuatu yang membuat pipi Nayla bersemu merah.
__ADS_1
"Ih, Mas Reka." Nayla mencubit kecil dada Reka.
Tapi sedetik kemudian wajah mereka saling mendekat. Mereka saling menikmati setiap pagutan dan hisapan yang saling berbalas itu. Semakin lama ciuman itu semakin memanas. Bahkan tangan Reka sudah membuka satu per satu kancing kemeja Nayla. Dia telusuri kulit mulus itu dengan jemarinya.
Nayla semakin melingkarkan tangannya di leher Reka. Dia sudah terbawa arus permainan jemari Reka. Tanpa sadar tubuh bagian atasnya telah terekspos.
Bibir Reka semakin turun dan menyusuri leheri seputih susu itu. Kemudian semakin ke bawah dan singgah di antara kedua benda sintal itu. Menghisapnya secara bergantian yang membuat Nayla semakin membusungkan dadanya dengan bibir yang kian meracau.
"Mas, nanti kalau ada karyawan yang dengar gimana?" tanya Nayla saat Reka melepas hisapannya.
"Gak akan ada yang dengar, ruangan ini ada peredam suaranya." tangan Reka sudah menyusup di balik celana Nayla.
"Hmm, Mas, jangan gini gak nyaman."
"Oke, mau buat kenangan di sofa saja. Biar saat kerja aku semakin terus terbayang-bayang sama kamu." Reka menggendong Nayla dan membawanya ke sofa. Dia rebahkan Nayla di atas sofa dan mengungkung tubuh Nayla.
"Cantik." Reka menatap wajah cantik Nayla yang bersemu merah itu. Lalu dia melepas jas dan kemejanya. Sebelumnya tak pernah terpikirkan dia akan melakukan hal menyenangkan dengan istrinya di kantor. Tapi tidak ada salahnya mencoba hal baru yang membuat hubungan mereka semakin harmonis.
Kedua tubuh itu kini sudah tanpa benang sedikit pun. Reka mulai memposisikan dirinya di antara kedua pa ha yang terbuka itu. Dia mulai menghujam Nayla dengan lembut dan penuh perasaan.
"Dedek sering-sering ya ajak Mama ke kantor. Nanti Papa ajak main kayak gini."
"Ih, itu sih maunya Mas Reka."
"Mencoba hal baru itu rasanya lebih nikmat."
Nayla hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia telah terbuai oleh sentuhan Reka.
Suara de sah itu saling bersahutan dengan jemari yang saling terpaut itu mereka sampai di puncak nirwana bersama.
"Aku cinta kamu." Satu kecupan hangat mengakhiri permainan Reka. Dia melepas miliknya lalu beranjak dan memunguti pakaiannya dan Nayla. "Pakai baju dulu ya. Kamu tidur sini gak papa kalau capek."
Nayla hanya menganggukkan kepalanya sambil memakai bajunya yang dibantu oleh Reka. Setelah itu dia kembali merebahkan dirinya di sofa dengan jas Reka yang dia gunakan sebagai selimut.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1