
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Nayla dan bayinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Di rumah Reka siang itu, begitu ramai dipenuhi oleh keluarga Reka dan teman-teman Nayla.
Reka dengan semangat menggendong dan memamerkan putra pertamanya di depan keluarganya.
"Widih, keren sekarang udah gendong bayi." siapa lagi kalau bukan si tengil Raffa yang sangat suka menggoda Reka.
"Emang kamu aja yang bisa buat bayi. Lihat nih hasil karya aku yang sempurna." Reka menciumi pipi putranya yang harum itu.
Mendengar Reka, mereka semua tertawa.
"Gini nih, kalau udah berumur baru punya anak. Cepat buat lagi, biar bisa rawat anaknya."
Nayla yang sedang duduk di kursi hanya tersenyum mendengar kegaduhan keluarga Reka.
"Nayla! Selamat atas kelahirannya." Fara datang dan langsung memeluk Nayla.
"Makasih ya, Far."
"Jangan lama-lama kalau cuti. Bentar lagi kita skripsi, biar bisa lulus sama-sama."
"Iya, aku cuti cuma sebulan ini. Nanti biar aku langsung kebut tugas semesternya."
"Wah, mama muda yang satu ini memang hebat."
"Kamu sama siapa Far?" tanya Nayla.
Fara menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang yang diajaknya tadi. "Loh, Dito kemana?"
"Kamu ke sini sama Dito?" tanya Nayla lagi.
Fara menganggukkan kepalanya. Akhirnya dia menemukan keberadaan Dito yang sedang berkumpul dengan bapak-bapak sambil menggendong bayi Nayla.
"Aduh Nay, Dito gendong anak kamu. Nanti diapa-apain lagi sama Dito karena dia masih gak rela."
"Ya gak mungkinlah." Nayla justru tertawa mendengar Fara yang terlalu berlebihan itu.
__ADS_1
Fara akhirnya berdiri dan menghampiri Dito karena dia sangat penasaran dengan motif Dito yang datang-datang langsung menggendong bayi Nayla.
"Dito, kalau masih belum rela sama Nayla jangan diculik anaknya."
Hal itu membuat Dito dan Reka tertawa. "Buruk sekali pikiran kamu. Aku dari dulu suka sama anak kecil. Lihat nih, ganteng sekali." Dito menunjukkan wajah Andika yang sedang membuka mata sipitnya itu dengan bibir yang bergerak-gerak.
"Ya ampun, ganteng sekali." Fara langsung meraih Andika dari gendongan Dito. "Gedenya pasti ganteng banget nih. Ih, ada lesung pipinya kayak Papanya. Sayang umur kita terpaut 20 tahun, kalau gak aku tungguin deh gedenya si ganteng ini."
"Ogah sama nenek-nenek."
Karena sudah waktunya minum ASI, Andika pun menangis.
"Anak ganteng kok nangis digendong aunty." Fara berusaha menimang Andika tapi tangisan itu justru semakin kencang.
"Sudah haus, pasti juga udah ngantuk. Sini, sini." Reka mengambil bayinya dari gendongan Fara, kemudian dia berjalan mendekati Nayla. "Sayang di kamar aja ya. Sekalian kamu istirahat."
Nayla menganggukkan kepalanya. Dia berpegangan tangan Reka dan berdiri. Lalu berjalan secara perlahan menuju kamarnya.
Setelah duduk dengan nyaman, Nayla mulai mengasihi putranya. "Aduh, perih banget." Nayla meringis kesakitan saat putranya mulai me nyu su.
Nayla menganggukkan kepalangan karena setelah dua hari rutin me nyu sui secara langsung, pu ting Nayla justru lecet.
"Nanti aku bantu oles minyak zaitun ya." kata Reka.
Nayla hanya mencibir. "Ih, maunya."
Reka tertawa sesaat lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. "Aku kan mau bantu. Sebagai suami yang baik tentunya."
Nayla hanya memutar bola matanya. Okelah, suaminya itu memang baik dalam segala hal. "Sayang, pipinya kelihatan chubby nih." Nayla tersenyum mengusap lembut pipi yang ikut bergerak seiring hisapannya itu.
"Mas Reka besok ke kantor gak?" tanya Nayla. Tapi Reka tak juga menjawabnya. "Mas?" Nayla menolehnya. "Ketiduran. Pasti capek jagain aku di rumah sakit." Dia tersenyum menatap wajah pulas Reka. Memang selama 3 hari di rumah sakit Reka hanya tidur beberapa jam saja, saking bahagianya dengan kelahiran putra pertamanya membuat Reka ingin terus menatap dan menimang putranya.
Setelah Andika tertidur, Nayla menurunkannya di sebelah Reka. Dia juga ikut merebahkan dirinya, tak peduli dengan tamu yang ada di rumahnya. Biarlah mereka menikmati sajian bersama para orang tua yang juga berkumpul.
"Akhirnya kita bisa tidur bertiga." gumam Nayla. Dia kini tersenyum menatap dua lelaki kesayangannya itu. "Udah kayak kembar beda umur." Nayla tertawa sendiri karena memang kedua wajah itu begitu mirip.
__ADS_1
...***...
Siang itu di kantornya, Reka dan Angga sedang melakukan pembicaraan penting dengan Pak Agus dan putrinya. Suasana begitu tegang karena sedari tadi Reka menatap mereka berdua dengan serius.
"Maaf Pak, saya memang masih mengahargai Pak Agus untuk meneruskan kerjasama kita, seperti sebelumnya saat Ayah saya masih memimpin perusahaan ini. Tapi saya sangat tidak suka jika ada yang mengusik hidup saya." Reka menatap tajam pada Nova yang terlihat ketakutan.
"Iya Pak Reka saya mengerti. Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik."
Tak perlu banyak bicara lagi, Reka menunjukkan layar laptopnya. Dia berhasil mendapatkan rekaman CCTV di restoran hotel itu dan kebetulan sekali saat Nova mengambil ponselnya sangat terlihat jelas.
"Nova, jelaskan sama Papa, apa yang kamu lakukan itu! Buat apa?" tanya Pak Agus. Sebagai seorang Papa, dia jelas sangat marah dengan perbuatan putrinya itu.
"Aku cuma iseng." jawab Nova. Padahal sebenarnya Nova sengaja mengambil ponsel Reka agar tidak berbalas pesan dengan Nayla.
Reka berdecak kesal. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nova hanya dengan alasan iseng. "Kamu tahu gak, saat itu istri aku akan melahirkan. Dia sudah chat aku dari siang, dan aku baru tahu malamnya. Dia sangat membutuhkan aku, sedangkan aku gak ada di sampingnya. Kamu mikir gak, gimana kalau terjadi apa-apa sama mereka."
"Iya, jujur saja aku iri karena Kak Reka begitu mencintai Nayla."
"Hanya karena iri hati kamu mengorbankan orang lain. Aku gak mau ambil pusing dengan masalah ini, aku akan laporkan kamu ke polisi." kata Reka mengakhiri masalah Nova.
Nova melebarkan matanya. "Kak Reka, jangan lakuin ini. Iya, aku janji gak akan ganggu hidup Kak Reka lagi. Papa..." Nova mencari perlindungan pada Papanya.
Pak Agus menghela napas panjang. "Saya mengerti, anak saya memang sudah keterlaluan. Saya sebagai orang tua juga merasa gagal mendidik Nova. Silakan kalau memang Pak Reka mau menuntut putri Saya."
"Papa..." Nova semakin menekuk wajahnya karena ternyata Papanya tidak membelanya.
"Kenapa? Kamu takut? Kamu ingat, aku gak main-main dengan ucapan aku." Reka membuka sebuah map yang berisi surat perjanjian. "Ini ada surat berjanjian. Kali ini aku melepaskan kamu tapi kalau kamu melakukannya sekali lagi, polisi akan langsung datang menjemput kamu. Silakan kamu tanda tangan di atas meterai."
Tidak ada pilihan lain. Nova akhirnya menandatangi surat perjanjian itu.
💞💞💞
.
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1