
Hari-haripun berlalu begitu cepat. Tak terasa kehamilan Nayla sudah memasuki trimester tiga. Dia semakin cepat lelah. Padahal kegiatan sehariannya hanya kuliah saja. Nayla juga sudah mulai mengumpulkan bahan materi untuk skripsi karena setelah melahirkan dia berniat untuk segera mengajukan judul skripsi.
Malam itu, Nayla masih duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.
"Sayang kok belum tidur?" tanya Reka. Dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sebelah Nayla.
"Sebentar Mas, aku lagi bahas masalah skripsi sama Fara."
"Kamu tenang aja, masalah skripsi aku bisa bantu. Aku bisa jadi ghost writer kamu." Reka mengambil ponsel Nayla agar dia segera istirahat.
Nayla hanya mencibir, "Itu sih curang." Perlahan Nayla merebahkan dirinya. "Tapi gak papa biar cepat selesai." lanjutnya lagi sambil tertawa.
Reka tertawa kecil mendengar jawaban istrinya itu. Tangannya kini terulur mengusap perut yang semakin membuncit. Bahkan tendangannya sudah terasa semakin kencang saat Reka menyentuhnya. "Kurang dua bulan lagi. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu."
Perut yang bulat itu seketika berbentuk tak beraturan saat ada gerakan dari dalam. "Gemas banget. Aktif sekali."
Tangan Nayla mengikuti usapan Reka di atas perutnya. Memang terasa sangat menggemaskan ketika calon buah hatinya bergerak aktif di dalam perut.
Tak cukup hanya di luar daster, Reka menyingkap daster pendek itu lalu menciumi perut Nayla. "Sejak masih dalam perut, Papa sudah sangat sayang sama kamu. Nanti kalau sudah lahir, main sama Papa ya."
"Mas, geli ih. Kebiasaan deh."
"Habis gemas banget sayang. Tuh, ditendang lagi." Reka masih saja menciumi perut itu tapi beberapa detik kemudian bukan hanya perut yang dia ciumi. Bibir itu turun ke bawah dan menciumi pa ha mulus Nayla.
Nayla hanya memejamkan matanya merasakan sapuan lidah Reka. Bulu kuduknya seketika berdiri dan merinding di sekujur tubuhnya.
"Mas, geli ih. Kamuflase aja tadi godain dedeknya, ternyata bapaknya ada maunya."
Reka hanya bercengir kuda lalu mendongakkan kepalanya. "Seminggu sekali sayang. Ayo. Bentar aja."
"Bentar aja ya Mas. Soalnya tubuh aku sekarang gampang capek."
"Iya, nanti aku pijitin."
Nayla hanya pasrah dengan perlakuan suaminya. Sentuhan-sentuhan lembut itu akhirnya berhasil memancing gairah Nayla. Suara nikmat itu mulai terdengar.
Reka tersenyum licik. Dia pastikan Nayla tidak akan menolak keinginannya. Dia sedikit menggeser tubuh Nayla menepi di ranjang. Tubuh yang polos dengan perut yang membuncit itu begitu sangat menggoda. Apalagi kedua buah sintal itu semakin terlihat berisi.
"Sexy sekali." gumam Reka yang membuat Nayla tersipu malu.
__ADS_1
"Gendut gini, mana ada sexy nya."
Reka hanya tertawa renyah. Dia buka seluruh pakaiannya hingga terlihatlah otot-otot yang selalu berhasil membuat Nayla tergoda.
Dia berdiri di sisi ranjang lalu membuka kedua kaki Nayla.
"Mas, kayak mau lahiran aja posisinya."
Tawa itu kembali mengembang di bibir Reka. "Biar nanti lahirannya cepat." Reka mulai menghujam Nayla secara perlahan, lembut dan penuh perasaan. Sesekali di usap perut Nayla yang ikut bergetar seiring gerakannya.
Suara de sah mereka semakin keras dan saling bersahutan. Merasakan gelora yang kian membuncah.
Hawa panas itu semakin memenuhi kamar luasnya hingga keringat membasahi tubuh mereka. Beberapa saat kemudian tubuh Nayla bergetar beberapa kali saat dia sampai di puncaknya.
"Sebentar sayang." Reka mengusap perut Nayla yang terasa mengencang sambil mempercepat gerakannya.
"I love you, Nayla." Reka sampai diujung pelepasannya. Dia atur napasnya yang tersenggal meski hanya singkat, tapi sangat terasa.
"Mas, mau ke kamar mandi."
Reka melepaskan dirinya lalu meraih tubuh Nayla dan menggendongnya.
"Aku bisa jalan sendiri. Mas Reka masih ngos-ngosan takut jatuh." Nayla berpegangan pada bahu Reka.
"Pakai baju dulu." Reka mengambil baju daster Nayla dan membantunya berpakaian.
"Lelah banget rasanya." Nayla merebahkan dirinya di bantal khusus ibu hamil. Dia miringkan tubuhnya untuk merasakan pijitan lembut di pinggangnya.
Reka memijat punggung Nayla lalu turun ke pinggang secara perlahan. Karena hanya itu yang bisa Reka lakukan saat Nayla mengeluh capek. Andai saja dia bisa menggantikan rasa lelah Nayla, biar dia saja yang merasakan.
...***...
"Sayang, ayo. Udah siap belum?" tanya Reka pada Nayla yang sedari tadi sibuk dengan rias wajahnya.
"Sebentar Mas. Sejak hamil aku kok gak bisa dandan gini."
Reka berjalan mendekat dan memeluk Nayla dari belakang. "Udah, cantik gini. Kamu lebih cantik natural."
Nayla memutar dirinya pelan di depan cermin. Gaun floral panjang dengan lengan panjang itu terlihat sangat cantik di tubuh Nayla.
__ADS_1
"Perfect. Bumil yang sangat cantik." Reka mengusap lembut perut Nayla sambil mencium pipi Nayla. " Selamat ulang tahun sayang. Semoga semua lancar sampai saat lahiran nanti ya."
Nayla menganggukkan. "Iya Mas, amin. Perasaan dari semalam udah ucapin ulang tahun deh Mas."
"Gak papa, karena ini hari ulang tahun pertama kamu setelah kita menikah. Maaf ya, aku gak bisa beri kamu apa-apa."
Kedua mata Nayla seketika berkaca-kaca. Dia usap pipi Reka sambil menatap dalam kedua matanya. "Semua yang Mas Reka berikan ini lebih dari cukup. Semoga yayasan yang Mas Reka bentuk ini bermanfaat ya."
"Iya. Udah yuk. Jangan sampai keduluan sama Pak Walikota, Pak Camat, dan Pak Lurah." Reka tersenyum di ujung kalimatnya.
"Emang ada Bapak-bapak penting juga?"
"Bercanda sayang. Ibu juga udah berangkat sedari tadi sama Bunda."
Mereka berdua keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil itu melaju.
Sepanjang perjalanan dada Nayla tak hentinya berdebar. Seperti apa acara peresmian itu?
Beberapa saat kemudian mobil Reka berhenti di tempat parkir. Sudah ada beberapa mobil sedan yang berjajar di sana.
Mereka berdua turun dari mobil. Nayla mengedarkan pandangannya, sekolah luar biasa itu cukup luas dan terdiri setidaknya 10 kelas dengan lapangan yang luas yang sekarang beratapkan tenda dengan kursi-kursi yang tertata rapi menghadap sebuah panggung kecil. Di tepi tempat itu juga ada hidangan prasmanan.
"Sayang, kamu duduk dulu ya. Aku mau koordinasi sama pembawa acara dulu."
"Ibu dimana?" tanya Nayla.
"Iya, sekalian aku panggilkan ibu." Reka menuntun Nayla untuk duduk di kursi vip paling depan. "Tunggu di sini, sebentar saja."
Nayla menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Reka, ada beberapa ASN yang datang dan duduk di dekat Nayla.
Nayla hanya tersenyum tapi pandangannya berhenti pada salah satu ibu yang berpakaian coklat yang dia kenal. Seketika mood Nayla berubah drastis.
"Nayla kenapa bisa ada di acara ini? Kamu gak salah tempat duduk?"
.
💞💞💞
__ADS_1
.
Ibu mungkin yang salah acara... 😂