
Nayla hanya tersenyum tapi pandangannya berhenti pada salah satu ibu yang berpakaian coklat yang dia kenal. Seketika mood Nayla berubah drastis.
"Nayla kenapa bisa ada di acara ini? Kamu gak salah tempat duduk?" kata Ibu itu dengan sinis.
Nayla tak menanggapinya. Dia kembali meluruskan pandangannya. Suami dan Ibunya tak juga datang, sedangkan para undangan sudah hampir memenuhi semua kursi.
Samar-samar Nayla mendengar bisik-bisik ibunya Dito itu. Masih saja dia menghina Nayla. Belum tahu saja jika Nayla adalah istri dari pemilik yayasan itu.
"Kok saya gak tahu kalau kamu udah nikah. Untungnya sih, anak saya gak jadi sama kamu."
"Mama!" Dito yang terlihat rapi dengan kemeja batiknya itu duduk di sebelah Mamanya. Beberapa teman Nayla memang diundang ke acara itu tapi berada di sisi lain. Dito sengaja duduk di tempat itu karena dia tidak mau Mamanya berbuat ulah lagi dengan Nayla. "Mama jangan bicara macam-macam sama Nayla."
"Kenapa? Kamu masih mengharapkan Nayla? Kamu gak lihat dia sedang hamil besar. Jangan-jangan anak..."
"Sssttt, Mama!" Dito memotong perkataan Mamanya. "Mama jangan bicara yang tidak-tidak."
Nayla tak menggubris obrolan mereka berdua. Dia menatap panggung yang sudah dibuka oleh seorang pembawa acara. Dia mulai merasa bosan karena suaminya tak kunjung datang. Hingga pada inti acara, saat Reka naik ke atas panggung. Dadanya berdebar hebat saat Reka tersenyum dan menatap ke arahnya. Rasanya seperti baru kasmaran saja.
Nayla terus menatap Reka yang memberi sambutan untuk peresmian yayasan itu. Dia sangat kagum dengan sosok yang sangat sempurna itu.
Tapi dada Nayla semakin berdebar tidak karuan saat Reka turun dan menghampirinya. Dia raih tangan Nayla dan menuntunnya berjalan menuju sebuah pita yang siap dipotong.
Beberapa pasang mata kini tertuju pada Nayla dan Reka. Tak terkecuali orang tua Dito.
"Yayasan ini adalah hadiah untuk istri dan calon anak saya." satu tangan Reka mengusap perut Nayla, dia berdoa dalam hatinya untuk kelancaran persalinan buah hatinya nanti.
"Kita potong pita ini sama-sama." kedua tangan mereka bersama-sama memegang satu gunting kemudian mereka potong pita itu.
Iringan tepuk tangan begitu meriah. Ucapan selamat juga silih berganti mereka dapat.
"Nayla istrinya Pak Reka?" Mamanya Dito masih tak percaya akan hal itu.
"Iya, Nayla sangat beruntung dan syukurlah dia tidak bersama aku karena pasti dia akan tersiksa karena perbuatan Mama." kata Dito. Lalu dia berlalu dan bergabung dengan teman yang lainnya.
Hari itu, Nayla benar-benar merasa istimewa. Reka selalu bisa membuatnya spesial. Menaikkan derajatnya tanpa harus menyombongkan diri.
__ADS_1
Mulai saat itu, Nayla pasti akan lebih dihormati, karena semua orang kini sudah tahu, siapa Nayla sebenarnya. Ya, tentu saja istri dari Reka Sanjaya.
"Nayla, selamat ulang tahun ya." kata Fara sambil mencium kedua pipi Nayla.
"Kirain kamu gak ingat ulang tahun aku."
"Sini ikut aku." Fara sedikit menarik Nayla. Di sana sudah ada dua kue tart. Satu tart ulang tahun dan satu lagi tart baby shower.
Mata Nayla kembali berkaca-kaca lagi. Kebahagiaan itu silih berganti datang dalam hidupnya. Dengan ditemani Reka, Nayla menangkupkan kedua tangannya dan make a wish sebelum meniup lilin yang bertuliskan 21 tahun itu.
Tepuk tangan meriah mengiringi padamnya lilin itu. Kemudian dia potong kue dan memberikan suapan pertamanya pada Reka yang dibalas dengan kecupan di pipi kanan dan kiri Nayla, setelah itu Nayla memotong kue lagi dan memberikannya pada ibunya.
"Selamat ulang tahun ya sayang. Ibu bahagia sekali melihat kebahagiaan kamu sekarang." Bu Lela memeluk Nayla sambil meneteskan air matanya. Berulang kali dia bersyukur atas nikmat yang diberikan pada Nayla.
"Ini semua berkat doa-doa Ibu."
Kemudian Bu Lela meregangkan pelukannya. Dia usap perut Nayla yang sedang mengandung calon cucunya itu. "Semoga lancar sampai lahiran ya."
"Amin."
Nayla sudah tidak peduli lagi dengan pandangan keluarga Dito. Dulu mereka menghinanya bahkan sampai tadi sebelum mereka tahu siapa Nayla. Sekarang, ketika mereka tahu siapa Nayla sebenarnya barulah mereka diam. Entah mereka merasa malu atau justru semakin berpikir buruk.
"Kamu makan sama Ibu dan Mama dulu ya. Aku mau mengobrol sama aparatur sipil itu." setelah mengambilkan Nayla makanan dan mencari tempat duduk yang nyaman, Reka menghampiri orang-orang penting itu.
Bukannya cepat-cepat makan tapi Nayla justru terus melihat gerak-gerik suaminya itu yang semakin terlihat tampan dan berkarismatik. Dia tidak pernah menyangka, status sosial itu berubah total dan hidupnya sekarang benar-benar sempurna.
...***...
Setelah seharian beraktifitas, kaki Nayla terasa sangat pegal. Awalnya dia memang menurut untuk duduk diam saja di tempatnya. Tapi lama-kelamaan dia kesana kemari mengikuti teman-temannya.
"Aduh Mas, kaki aku pegal." keluh Nayla sambil meluruskan kakinya.
Reka yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Nayla. Dia duduk di tepi ranjang sambil meraih kaki Nayla dan memijatnya.
"Kamu sih, dibilangin duduk diam aja tapi malah pecicilan."
__ADS_1
"Bosan Mas duduk aja. Memang Mas Reka gak capek? Perasaan aku gak pernah dengar Mas Reka ngeluh capek selama hampir setahun menikah ini."
Reka hanya tersenyum kecil. Sebagai manusia biasa jelaslah dia juga merasa capek. "Ya, capek sayang. Tapi kalau aku lebih capek pikiran daripada tenaga. Jadi kalau udah sama kamu gitu hilang rasa capeknya."
Nayla hanya mencibir.
"Itu beneran. Kok bibirnya gini." Reka menjepit bibir Nayla yang manyun itu.
"Ih, Mas Reka." Nayla menepis tangan Reka.
"Besok kita mulai cicil keperluan dedek ya. Kamu mau pilih sendiri atau beli online?" tanya Reka sambil melanjutkan pijitannya di kaki Nayla.
"Pengennya sih pilih sendiri Mas tapi kayaknya capek ya." Membayangkan berputar-putar di dalam mall saja sudah capek.
"Ya udah pilih aja di online shop."
"Tapi takut gak sesuai gambar Mas."
"Pilih toko officialnya langsung, dijamin bagus. Kan ada banyak merk ternama perlengkapan bayi."
"Mahal-mahal dong, Mas." Dulu saja Nayla setiap mau beli online pasti menunggu tanggal cantik dulu, kalau bisa dapat flash sale.
Reka menghela napas panjang. "Lupa ya kalau istrinya sultan."
Seketika Nayla tertawa. "Iya, lupa Mas. Jiwa misqueen aku kenapa gak pudar-pudar ya. Kalau begitu besok langsung checkout banyak-banyak."
"Iya, urusan belanja itu gampang. Ada satu yang jauh lebih penting."
"Apa Mas?" tanya Nayla tak mengerti.
"Udah pikirin namanya?"
"Mas aja yang pilihkan nama."
"Oke, nanti aku akan cari nama yang bagus dan memiliki arti yang baik." Ya, seperti harapan dan doa-doanya pada calon buah hatinya kelak.
__ADS_1
.