
"Iya, Angga. Apa sudah ketemu siapa pemilik nomor itu?" mendengar penjelasan dari Angga, seketika Reka mengeraskan rahangnya. Kilat marah itu jelas terlihat dari sorot matanya. "Sial! Berani sekali dia!!"
Reka mengepalkan tangannya. Ternyata pelaku itu adalah buntut dari penangkapan Dekan di kampus. Tidak ada kapoknya mereka mencari masalah dengan Reka.
"Angga, kamu suruh semua anak buah kita menangkap mereka dan usut tuntas masalah ini sampai ke akarnya. Nanti aku akan hubungi Paman Rendra untuk membantu. Aku masih belun bisa menangani secara langsung karena masih harus terus fokus dengan keadaan Nayla. Kalau ada apa-apa kamu segera hubungi aku."
Setelah mematikan ponselnya, Reka menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Dia menghela napas panjang sambil menatap Nayla yang tertidur karena efek obat penenang di atas brangkar.
"Nayla, maafkan aku. Aku yang sudah membawa kamu dalam sebuah masalah." Reka mengusap wajahnya kesal. Selama ini dia berusaha menjadi orang yang baik. Menjadi seorang pimpinan perusahaan yang bersih tapi masih saja ada yang mencuranginya bahkan mengganggu orang yang dia sayangi.
Beberapa saat kemudian Ayah Niko datang dan masuk ke dalam ruang rawat Nayla.
"Ada apa?" tanya Niko sambil duduk di sebelah putranya. "Nayla sakit apa?" tanhanya lagi.
Reka sebenarnya bingung mau mulai ceritanya darimana. Selama ini memang Ayahnya lah tempat berbagi cerita saat dia mempunyai masalah. "Nayla kena syndrome baby blues, Yah."
"Apa? Bagaimana bisa? Kamu tidak mensuport istri kamu setelah melahirkan?"
Reka menghela napas panjang. Itulah yang sangat dia sesali, dia lebih mementingkan pekerjaannya. "Setelah tiga hari Nayla melahirkan, aku langsung kerja. Dan setelah itu, setiap hari aku sibuk di kantor sampai pulang malam. Karena kecapekan, aku juga jarang terbangun tengah malam saat Nayla bergadang. Padahal Nayla sudah mengeluh capek sama aku." Reka menghela napas panjang. "Dan, parahnya hari ini, ada yang meneror Nayla dengan mengiriminya foto editan aku dan wanita lain sedang bermesraan sangat intim. Nayla langsung histeris dan menuduh aku berselingkuh. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya."
Ayah Niko mengusap punggung putranya berusaha untuk menenangkannya. "Yang sabar ya. Memang terkadang kita harus lebih mementingkan istri dan anak kita di atas segalanya. Bukan hanya harta, tapi juga perhatian."
"Iya, aku salah mengartikan. Aku terlalu berambisi mendapatkan proyek-proyek itu."
"Semakin pohon itu tinggi maka semakin kencang angin menerpanya. Mungkin kamu sudah terbiasa menghadapi kelicikan musuh-musuh kamu. Tapi Nayla, dia tidak tahu apa-apa bagaimana kerasnya hidup seorang pebisnis." Ayah Niko merangkul pundak Reka. "Ayah tahu, ambisi kamu sangat besar, tapi sekarang sudah ada istri dan anak kamu. Mereka segalanya. Mereka adalah harta yang paling berharga."
"Iya Ayah, aku tahu. Aku kira semua juga akan baik-baik saja. Tapi ternyata semua jadi seperti ini." Reka kembali mengusap wajah lelahnya. "Aku juga gak tahu bagaimana menjelaskan pada Nayla tentang masalah ini."
"Ya, semoga emosi Nayla besok sudah mereda. Tapi memang siapa yang mengirim pesan itu?" tanya Niko.
__ADS_1
"Dekan kampus yang berhasil dibekuk karena kasus korupsi."
Ayah Niko kembali menghela napas panjang. "Sudah tahu salah tapi justru mencari masalah lagi. Para koruptor itu memang gak ada kapoknya. Naikin terus masalah ini biar lebih lama lagi mendekam di penjara."
Reka hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap jauh Nayla yang masih tertidur di atas brangkar.
"Semoga kondisi Nayla cepat membaik. Biar aku dan Rendra urus masalah kamu. Sepertinya mereka tidak tahu kalau sedang berurusan dengan cucu Permana."
Reka hanya mengangguk pelan lagi.
"Kamu fokus sama kesehatan istri kamu dulu. Jangan memikirkan pekerjaan dan yang lainnya. Ada keluarga kamu yang siap membantu."
"Iya, Ayah."
"Ayah pulang dulu ya, Bunda nanti nyariin gulingnya." Ayah Niko tertawa di ujung kalimatnya.
"Iya Yah. Makasih sudah mau dengar masalah aku."
"Iya, besok biar Bunda ke rumah kamu bantu jaga Dika." kemudian Ayah Niko berdiri dan keluar dari ruangan Nayla.
Reka kembali menyandarkan kepalanya di sofa. Dia tatap nyalang langit-langit yang putih bersih itu.
Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju kursi dekat brangkar Nayla. Dia duduk lalu menggenggam tangan Nayla. "Nay, aku sayang banget sama kamu." Dia usap rambut Nayla untuk memberinya kenyamanan.
"Semoga hari esok jauh lebih baik dari hari ini." Reka tak hentinya menatap Nayla. Hingga malam kian larut dia masih saja belum tertidur.
Lama kelamaan mata Reka kian meredup. Dia pun tertidur dengan berbantal tangan Nayla.
Hingga pagi telah datang, Reka masih tetap dalam posisi itu.
__ADS_1
Perlahan Nayla membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Dia pijat pelipisnya sesaat agar rasa pusing itu sedikit menghilang.
Tangan kanannya terasa berat karena ada kepala Reka yang masih tidur di atas tangannya. Serentetan kejadian yang dialaminya kemarin terputar kembali di otaknya.
"Kenapa aku kemarin sampai histeris kayak gitu." Nayla menghela napas panjang. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya. "Harusnya aku bisa bicara baik-baik sama Mas Reka."
Mentari yang baru muncul dan bersinar terang itu, membuat hati Nayla sedikit menghangat. Dia tatap sinar orange yang menembus tirai putih rumah sakit itu.
"Dika sedang apa ya sekarang? Maafkan Mama ya sayang, Mama gak bisa mengontrol emosi Mama." gumam Nayla sambil menghela napas panjang.
Kini tangan yang ditindih kepala Reka itu terasa semakin berat dan kesemutan. Ingin dia menahannya tapi dia tidak sanggup.
"Aduh, Mas. Mas Reka." tangan kiri Nayla mengusap rambut Reka agar Reka terbangum dari tidurnya.
Merasa ada pergerakan dari Nayla, seketika Reka membuka matanya dan menegakkan kepalanya.
"Nayla, kamu udah bangun?"
"Tangan aku kesemutan Mas."
Reka justru menyentuh tangan Nayla yang membuat Nayla seketika berteriak. "Jangan disentuh, Mas."
"Iya, maaf."
Nayla berusaha menggerakkan tangannya secara perlahan agar rasa kesemutan itu kian memudar.
Sedangkan Reka terus menatap Nayla. Sepertinya mood Nayla sudah kembali membaik. Semoga memang seperti itu karena dia ingin segera membawa Nayla pulang.
"Mas Reka kenapa gak tidur di sofa, malah tidur di sini?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu seketika mata Reka berkaca-kaca. Berulang kali dia mengucap syukur karena Nayla sudah tidak histeris seperti semalam. Bukannya menjawab, Reka justru memeluk Nayla. Menangis sesenggukan karena semua beban menakutkan telah luruh. Hati yang telah hancur berkeping semalam kini kembali utuh.
"Mas..."