
"Pak Reka, besok kita harus keluar kota. Ada meeting penting. Seluruh peusahaan yang bekerja sama dengan Yoyok Group harus menghadirinya karena pembahasan nilai jual untuk akhir tahun." kata Angga sambil membereskan setumpuk berkas-berkas yang ada di meja Reka.
Seperti biasa akhir tahun pekerjaan Reka semakin padat. Mulai dari membahas laporan keuangan dan hasil kerja perusahaannya sendiri serta perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengannya.
"Gak bisa kamu saja yang datang? Nayla sedang hamil tua. Dua minggu lagi sudah hpl nya." Reka menghela napas panjangnya. Bahkan akhir-akhir ini saja dia sering pulang terlambat ke rumah. Dia hanya bisa menemani Nayla saat Nayla tidak bisa tertidur di tengah malam.
"Tidak bisa Pak. Bapak tahu sendiri kan peraturan di perusahaan itu. Dan hpl istri Pak Reka kan masih dua minggu lagi jadi masih aman kalau ditinggal sehari."
"Perjalanannya saja 3-4 jam kalau ditempuh mobil lewat tol. Mau naik pesawat juga nanggung dan gak sesuai jadwal. Bisa-bisa kalau meeting selesai malam kita menginap semalam di sana." Reka memprediksi seberaa lama dia diluar kota. Karena sebelumnya dia memang selalu bermalam di hotel setelah meeting. Tapi kali ini lain, dia tidak mau meninggalkan Nayla terlalu lama.
"Ya sudah, nanti aku izin dulu sama Nayla. Kamu bereskan ini semua aku mau pulang dulu." Reka memakai jas nya dan mengambil ponselnya. "Nanti aku kabari perihal besok. Entah jadi sama kamu atau Yuda."
"Iya, Pak."
Reka berjalan jenjang menuju lift. Dia turun ke lantai dasar dan segera menuju tempat parkir.
Hari sudah mulai sore, dia harus segera pulang dan menemani Nayla. Setelah Reka masuk ke dalam mobil, Reka segera melajukan mobilnya. Untunglah, dia pulang sebelum jam kantor pulang hingga jalanan yang dia lalui tidak terlalu macet.
Beberapa saat kemudian, Reka telah menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
Bibirnya tersenyum melihat Nayla sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan beberapa cemilan di depannya. Rasa capek dan rasa pusing memikirkan pekerjaan seketika menguar.
"Sayang." Reka duduk di sebelah Nayla dan mengambil toples yang berisi keripik singkong yang dipegang Nayla.
"Kirain pulang malam lagi kayak kemarin-kemarin, Mas."
Reka menggelengkan kepalanya sambil memakan cemilan ringan itu. Setiap kali melihat perut Nayla yang tiba-tiba bergerak, Reka selalu gemas dan mengusapkan tangannya. "Dedek ngapain di dalam? Sibuk makan ya?"
Mendengar hal itu Nayla tertawa, karena memang sejak memasuki trimester tiga, nafsu makannya bertambah pesat.
"Iya nih, rasanya perut aku lapar terus."
__ADS_1
"Gak papa, bagus dong." Reka meletakkan toples itu kembali di meja. "Sebentar ya, aku mau mandi dulu."
Reka berdiri tapi Nayla menahan tangan Reka karena dia juga ingin berdiri dan ke kamarnya.
"Mau ke kamar juga? Ayo." Reka membantu Nayla berdiri lalu merengkuh pinggangnya dan berjalan menuju kamar.
"Semakin gak nyaman kalau buat jalan."
"Iya, kan kemarin pas periksa posisi bayi sudah bagus dan sudah masuk ke panggul." Setelah sampai di kamar, Reka membantu Nayla duduk di tepi ranjang.
"Gak sabar banget nunggu launching tapi rasanya aku juga deg-deg an banget. Gimana ya rasanya melahirkan nanti. Bahagia tapi takut." Pikiran Nayla menerawang jauh memikirkan proses persalinan itu. Ini yang pertama baginya tentu saja ada rasa takut yang tersemat.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Nanti aku temani kamu berjuang." Reka melepas jasnya lalu kancing kemejanya. Dia masih memikirkan jadwal meetingnya besok, rasanya tidak tega jika harus meninggalkan Nayla selama 24 jam.
Kemudian Reka mendekat dan duduk di samping Nayla. "Sayang, aku besok ada meeting diluar kota. Gak papa ya aku tinggal sehari."
Ekspresi Nayla berubah menjadi sendu. "Penting ya Mas?" tanya Nayla meski tanpa adanya kata melarang.
"Ya udah Mas, gak papa. Hpl nya kan masih dua minggu lagi." Nayla menarik lengan Reka dan bersandar di bahunya. "Tapi aku maunya nanti waktu melahirkan ada Mas Reka yang menemani."
"Iya, pasti aku temani." Reka semakin merengkuh Nayla. "Perlengkapan dedek sudah semua kan?"
Nayla menganggukkan kepalanya.
Satu tangan Reka kini mengusap perut besar Nayla. "Semoga lancar sampai hari persalinan nanti." Dia bungkukkan dirinya dan mencium perut Nayla. Sejak dalam kandungan saja sangat terlihat jika Reka sudah sangat menyayangi buah hatinya.
"Mas Reka katanya mau mandi? Mandi dulu saja. Setelah itu temani aku makan ya."
"Oke sayang. Tapi aku mau makan ini dulu." Reka mendekatkan dirinya dan mencium lembut bibir Nayla. Bibir yang tidak pernah bosan dia rasakan di setiap harinya dan selalu bisa membuat mereka terbuai.
Reka melepas pagutannya dan mengusap bibir Nayla yang basah dan memerah karena hisapannya barusan.
__ADS_1
"Mas Reka besok sampai bermalam diluar kota?" tanya Nayla yang membuat Reka urung beranjak.
"Sepertinya. Tapi aku usahain gak."
"Kalau kemalaman gak papa Mas. Mas Reka menginap saja di hotel daripada kemalaman di jalan, nanti aku malah khawatir."
Reka mengusap pipi Nayla. Untunglah mood Nayla setelah morning sickness itu hilang kian membaik.
"Tapi nanti malam kita nengok dedek dulu ya." pinta Nayla.
"Kamu gak capek?" karena sejak Nayla hamil Reka memang sudah sangat mengurangi intensitas ber cinta nya.
Nayla menggelengkan kepalanya. "Mas Reka udah dua minggu gak ritual malam. Bentar lagi Mas Reka juga puasa sampai berbulan-bulan."
Reka tertawa sambil mengusap puncak kepala Nayla. "Kamu yang menawarkan sudah pasti aku ambil." Reka kembali mendekatkan dirinya. Dia cium lagi bibir manis itu. Kali ini lebih bergelora dari sebelumnya.
"Mas," Nayla sedikit mendorong dada Reka hingga membuat Reka menjauh dari wajahnya. "Mas Reka mandi dulu."
Reka menghela napas panjang. "Baru diajakin aja sekarang aku udah kepancing kayak gini." Reka menertawakan dirinya sendiri lalu berdiri sambil melepas kemejanya. "Aku mandi dulu, setelah itu kita makan dan let's go nengokin dedek biar gak terlalu malam."
Nayla hanya tersenyum melihat suaminya yang masuk ke dalam toilet.
Kemudiam Nayla turun dari ranjang secara perlahan. Dia mengecek kembali tas yang berisi beberapa persiapan untuk persalinan termasuk surat-surat pemting. Ya, meskipun hpl nya masih dua minggu lagi tapi Nayla sudah prepare semua barangnya. Prediksi Dokter bisa salah, bukan?
💞💞💞
.
Jangan lupa like dan komen ya..
.
__ADS_1
Yang belum masuk grup chat aku, masuk gih kadang ada bagi koin biar grup chatnya gak sepi. Insya Allah bulan depan aku adakan give away untuk novel baru aku.. 🤗🤗