(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Wisuda


__ADS_3

Nayla tak pernah menyangka, hidupnya akan sesempurna ini. Akhirnya dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik, dan menghadiri wisuda bersama putranya yang sudah berumur satu tahun dan juga suaminya yang ikut memberi sambutan dalam acara wisudanya. Ada ibunya juga yang turut bahagia menyaksikan wisudanya.


Nayla sangat bersyukur, dia bisa membahagiakan masa tua ibunya. Mencukupi segala kebutuhan tanpa kekurangan apapun.


Dia juga tak pernah mengira hidupnya bagai cinderella yang bertemu dengan seorang pangeran dan hidupnya seketika berubah drastis. Kilas balik bayangan saat pertama bertemu dengan Reka silih berganti diingatannya.


"Sayang," Reka merengkuh pundak Nayla setelah acara wisuda itu selesai. "Dari tadi senyum terus, bayangin apa?"


Nayla justru memeluk Reka sesaat. "Ya bahagia Mas, akhirnya aku lulus."


"Mama." Andika yang sudah bisa memanggil Mama itu langsung merentangkan kedua tangannya pada Nayla agar dia gendong. Sedari tadi dia memang bersama Bu Lela.


"Dika sayang, mau gendong?" Nayla meraih Andika dan menggendongnya.


"Mama.. Mama..."


Reka justru mencubit pipi Andika. "Sini panggil Papa."


"Mama." sahut Andika.


"Papa." ulang Reka lagi.


"Mama."


Reka semakin gemas lalu meraih putranya dari gendongan Nayla.


"Mama... Mama..." Andika masih ingin digendong Nayla.


Nayla hanya tersenyum lalu berjalan bersama ibunya di belakang Reka yang masih saja ramai masalah panggilan dengan Andika. Mereka berdua memang lucu.


Setelah sampai di tempat parkir mereka semua masuk ke dalam mobil.


"Dika, di depan sama Papa ya?" memang saat itu ada sopir yang mengemudikan mobilnya.


"Mama." Andika merengek ingin ikut Nayla.


Reka menghela napas panjang. Putranya begitu posesif dengan Mamanya. Bahkan saat dirinya dekat dengan Nayla saja, Andika langsung menangis.


"Sini, Dika capek? Tidur ya sayang." Nayla mengambil ASIP yang ada di botol dan diberikan pada Andika.


Lama-kelamaan akhirnya Andika tertidur. Nayla usap rambut tebalnya. Semakin besar, wajahnya semakin terlihat tampan dan rasanya Nayla semakin menyayanginya.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka berhenti di depan rumah Reka.

__ADS_1


Reka segera turun dan membuka pintu untuk Nayla yang sedang menggendong Andika yang telah tertidur.


"Capek nih pasti. Tadi sempat aku lihat gak ada diamnya dijagain Ibu."


Mereka bertiga segera masuk ke dalam kamar. Nayla langsung menidurkan putranya di tengah ranjang.


Setelah itu, Nayla duduk di depan meja riasnya untuk melepas sanggul kecilnya. Sedangkan Reka melepas jasnya dan membuka tiga kancing atas kemejanya.


"Sayang, kamu cantik banget. Dari tadi aku mau bilang gak kesampaian." Reka membungkukkan badannya dan mengalungkan tangannya di leher Nayla.


Nayla hanya mencibir. "Iyalah, make up di salon mahal."


Selalu ada saja jawaban dari Mamanya Dika itu. "Next, kita liburan bareng yuk. Sambil honeymoon tipis-tipis." Reka menegakkan dirinya lalu beralih membantu Nayla merapikan rambutnya.


"Sama keluarga juga?"


"Iya, kalau mereka mau ikut. Yang jelas sama Ibu dan Mbak Rini."


Nayla menganggukkan kepalanya sambil mengambil kapas dan pembersih make up.


"Mau kemana? Singapura, Thailand, Belanda, Inggris, atau Korsel?" tanya Reka.


Nayla melebarkan matanya mendengar pilihan liburannya ke manca negara semua, memang selama hampir dua tahun menikah Nayla dan Reka belum pernah liburan bersama karena kesibukan mereka.


Reka tersenyum, lalu membantu menyisir rambut Nayla yang kusut.


"Oke, kalau mau kamu yang ada di dalam negri. Mau ke Bali atau Lombok?"


"Dua-duanya belum pernah sih Mas. Terserah Mas Reka aja."


"Oke, nanti aku cari tempat wisata yang friendly juga untuk anak balita."


Nayla hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Dia kembali membersihkan seluruh make up nya. Setelah selesai, dia tatap pantulan Reka di cermin yang masih saja dengan telaten membenarkan rambut kusutnya yang tersangkut di sisir.


"Hmm, Mas kita program anak kedua yuk?"


Mendengar hal itu seketika Reka menghentikan gerakan tangannya. "Kamu yakin? Dika masih satu tahun."


Nayla menganggukkan kepalanya sambil membuka kancing kebayanya dan melepasnya. "Biar sekalian Mas. Lagian juga proses kan, gak langsung jadi. Sambil nunggu sambil membesarkan Dika."


"Kamu tahu aja mau aku. Sebenarnya aku juga ingin Dika cepat punya adik karena umur aku aja sekarang udah 33 tahun. Biar aku gak terlalu tua membimbing mereka sampai dewasa."


Nayla menganggukkan kepalanya, ya tepat seperti yang ada difikirannya. Dia kini berdiri dan melepas rok setelan kebaya itu.

__ADS_1


Reka tak hentinya menatap Nayla. Mata jelinya terus melihat lekuk tubuh Nayla yang yang hanya memakai celana pendek dan kemban itu.


"Sayang, mandi bareng yuk?" Reka menggandeng tangan Nayla dan setengah menariknya menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban Nayla.


"Mas, ini belum aku lepas." Nayla mendorong dada Reka yang semakin mengintimidasinya di tembok kamar mandi.


"Biar aku lepaskan."


Nayla tersenyum menatap wajah yang sudah dipenuhi gairah itu.


Reka membuka sisa kain yang masih menempel di tubuh Nayla dengan sesekali mengusapnya lembut.


Usapan lembut itu kini berubah menjadi kecupan-kecupan dari Reka saat tubuhnya sudah polos.


Gelenyar nikmat itu semakin memenuhi tubuh Nayla. Dia tarik lengan Reka agar tubuh Reka tegak kemudian Nayla buka sisa kancing kemeja Reka dan melepasnya. Tangannya kini beralih pada sabuk Reka dan membukanya. Selalu saja Nayla kesulitan membuka kancing dan resleting celana Reka.


"Sayang, jangan buru-buru. Gini cara bukanya." Reka menuntun tangan Nayla untuk membuka celananya dengan benar. "Udah gak sabar merasakannya?" Reka menggoda Nayla sambil mengerlingkan matanya.


Nayla hanya tersenyum kecil.


"Aku akan membuat kamu men de sah gak karuan di sini." Reka menghidupkan shower hingga air hangat itu membasahi tubuh mereka berdua.


Reka kembali mencumbui Nayla, sentuhan-sentuhan Reka selalu membuatnya mabuk kepayang.


Kemudian Reka mematikan shower itu lalu mendorong tubuh Nayla hingga bersandar di tembok. Dia angkat kaki kiri Nayla, lalu dia posisikan dirinya di pintu kenikmatan.


Nayla men de sah sambil memejamkan matanya sesaat merasakan hentakan dari Reka. Otot yang sangat keras itu mulai bergerak dan menggesek inti kenikmatannya yang membuat bibirnya tak hentinya berdesis.


"Sayang, ini sangat nikmat." Reka semakin menghentakkan miliknya yang membuat Nayla berpegangan erat dipundaknya. Tubuh Nayla ikut bergetar seiring hujamannya.


"Mas, cepetin."


Tiba-tiba saja Reka melepas miliknya yang membuat Nayla cemberut. Begitulah dilepas pas lagi enak-enaknya. "Mass..."


Reka memutar tubuh Nayla. "Biar kamu gak lemas dulu." Reka sedikit membuka kaki Nayla. Dia kembali memasukinya dari belakang dengan kedua tangan yang menangkup benda sintal Nayla.


Kali ini de sa han Nayla lebih keras dari sebelumnya apalagi saat Reka semakin menambah tempo gerakannya.


"Mas, ini enak sekali. Aku udah gak tahan." Kemudian Nayla mencapai pelepasannya yang pertama.


Reka tidak akan berhenti sebelum membuat Nayla melemas beberapa kali.


"Mas, aku capek. Nanti Dika keburu bangun." kata Nayla setelah pelepasannya yang kedua.

__ADS_1


"Tadi siapa yang nantangin?" Reka kembali membalik tubuh Nayla hingga menghadapnya. "Bentar lagi sayang. Biasanya Dika kalau tidur siang paling sebentar satu jam. Kamu tenang saja." Dia memagut bibir Nayla begitu dalam dan kembali menghujamnya lagi.


__ADS_2