(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Hamil?


__ADS_3

Satu tahun pun berlalu. Andika semakin aktif, dia senang sekali berlarian kesana kemari, bahkan dia sudah bisa berbicara meski belum begitu jelas.


"Dika, sini makan dulu sayang. Jangan lari-larian terus."


"Iya, Ma." Andika akhirnya duduk, baru juga makan beberapa suap, dia sudah tidak bisa duduk dengan anteng. "Mbak Rini, tolong suapi Dika ya. Tiba-tiba kepala aku pusing."


"Iya nyonya." Rini mengambil alih piring Dika dan mulai menyuapinya.


Nayla memijat pelipisnya sesaat untuk menghilangkan rasa pusingnya.


"Nay, kamu kenapa?" tanya Bu Lela.


"Gak tahu Bu, tiba-tiba pusing."


"Mungkin kamu kecapekan tiap hari ke sekolah. Istirahat dulu mumpung hari ini gak ada jadwal kamu ke sekolah."


Nayla menganggukkan kepalanya lalu dia berjalan menuju kamarnya.


Setelah lulus kuliah Nayla memang memutuskan untuk membantu mengajar di SLB milik suaminya. Beberapa temannya juga ikut membantu mengajar di sana secara sukarela. Dalam satu tahun saja sekolah itu sudah berkembang pesat. Sudah banyak murid disabilitas yang menjadi anak didiknya. Donatur pun berdatangan silih berganti tanpa dicari, karena yayasan dalam naungan perusahaan Reka jelas bersih tanpa adanya korupsi sedikitpun.


Nayla kini merebahkan dirinya di atas ranjang. "Mas Reka pulang jam berapa ya? Kok aku tiba-tiba kangen gini. Bucin aku tambah parah gini sih."


Nayla mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya. Baru beberapa kali nada sambung Reka sudah mengangkat panggilannya.


"Mas, pulang jam berapa?" tanya Nayla.


"Sebentar lagi sayang. Kenapa? Mau titip sesuatu."


"Nggak, kangen aja."


Terdengar suara tawa Reka di ujung sana. "Oke, siap meluncur pulang my queen."


Nayla hanya tersenyum, suaminya memang semakin hari semakin romantis, mungkin itu yang membuat Nayla ingin terus menempel dengan Reka.


"I love you..."


"I love you too.."

__ADS_1


Nayla mematikan panggilannya lalu dia mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk tiba-tiba datang.


...***...


Saat tiba di rumah, Reka langsung disambut oleh teriakan Andika.


"Papa!" bocah dua tahun itu langsung berlari dan naik ke gendongan Reka.


"Dika, gak tidur?" tanya Reka.


Andika menggelenglan kepalanya. "Gak mau."


"Tidur sama Papa yuk."


Andika mengangguk kecil lalu Reka membawanya masuk ke dalam kamar. "Mama udah tidur tuh. Dika jangan berisik ya."


Andika menganggukkan kepalanya lalu turun dan naik ke atas ranjang.


Reka melepas jas dan kemejanya. Dia berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek saja.


"Dika mau susu?"


Andika menganggukkan kepalanya.


"Sebentar Papa ambilkan. Yang anteng ya, jangan ganggu Mama." pesan Reka, lalu dia segera keluar dari kamar. Beberapa saat kemudian dia kembali dan sudah membawa susu dalam botol dot.


Terlihat Andika sudah menguap berulang. Matanya juga sudah terlihat sayu. Dia segera mengambil botol dari tangan Papanya dan meminumnya sendiri. Beberapa saat kemudian sudah tertidur.


Reka tersenyum sambil mengusap rambut putranya. "Sekarang udah pintar. Udah gak posesif sama Mama. Sepertinya udah siap punya adik." gumam Reka pelan. Kemudian pupil matanya beralih menatap Nayla yang masih tertidur dengan nyenyak.


"Kok pucat?" tangannya beralih menyentuh kening Nayla. "Badannya hangat." Dia turun dari ranjang dan beralih ke sisi Nayla. "Sayang kamu sakit?" tanya Reka yang membuat Nayla terbangun.


Nayla membuka matanya, kepalanya memang terasa sangat sakit.


"Periksa dulu kalau gak enak badan."


Kemudian Nayla melihat Andika yang sudah tertidur dengan nyenyak lalu perlahan dia duduk. "Kepala aku pusing sedari tadi, dan..." Belum selesau kalimatnya perutnya tiba-tiba terasa mual. Dia segera turun dari ranjang dan berjalan cepat ke kamar mandi.

__ADS_1


"Astaga, sayang.." Reka berjalan cepat mengikuti Nayla saat mendengar suara muntahan Nayla. Dia tahan rambut Nayla sambil mengusap punggungnya.


Setelah selesai, Reka menekan tombol flush lalu merengkuh tubuh Nayla.


Lalu Nayla berkumur membersihkan bibirnya.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Reka.


Nayla menggelengkan kepalanya. "Maunya disuapi sama Mas Reka."


"Oke, kalau gitu habis makan kita langsung periksa ke Dokter kandungan ya." Reka berlutut kemudian mencium perut Nayla. "Aku yakin, ada adiknya Dika di sini."


Nayla mengernyitkan dahinya. "Hamil? Darimana Mas Reka yakin?"


"Yakin banget." Reka menyingkap kaos Nayla lalu menciumi perut datar Nayla. "Selamat datang sayang di perut Mama."


"Kan belum test Mas."


"Iya, nanti langsung ke Dokter kandungan saja." Reka berdiri lalu memeluk Nayla. "Sayangku sampai pucat gini. Tadi bilang aja ditelepon kalau mau aku suapi makannya, biar aku cepat-cepat pulang."


"Iya Mas. Gak terlalu darurat juga."


Reka mencium dalam puncak kepala Nayla lalu turun ke kening kemudian ke bibir Nayla. Memagutnya dengan lembut dan penuh cinta. Hanya sesaat tapi sangat bergelora.


"Udah, yuk kita makan dulu." dengan merengkuh pinggangnya Reka mengajak Nayla keluar dari kamar. "Mulai sekarang sebisa mungkin, aku akan selalu jagain kamu. Kalau perlu work at home aja."


"Ih, belum tahu hasilnya Mas. Kita cek dulu baru berencana."


"Oke, ya udah kamu makan dulu yang banyak."


Nayla duduk di kursi makan, sedangkan Reka mengambilkan nasi dan lauk untuk Nayla di atas piring. Seperti yang Reka lakukan saat dia hamil Andika dulu.


"Mas Reka sudah makan?" tanya Nayla.


"Sudah, tadi selesai meeting langsung makan." Reka mulai menyuapi Nayla. "Makan yang banyak ya sayang."


Nayla hanya menganggukkan kepalanya sambil menerima suapan demi suapan dari Reka.

__ADS_1


__ADS_2