
Nayla membuka matanya di pagi hari itu saat tercium wangi sabun yang menguar di dekatnya.
"Mas, jam berapa ini?" tanya Nayla sambil melihat Reka yang sedang bertelanjang dada duduk di sebelahnya.
"Masih jam 6. Kamu tidur lagi aja." Reka justru mengusap rambut Nayla agar kembali tertidur.
"Ih, ibu hamil itu harus sering jalan pagi. Kok aku gak dibangunin sih?" Perlahan Nayla duduk yang dibantu oleh Reka.
"Kan semalam udah olahraga." kata Reka sambil tersenyum.
Nayla justru memutar bola matanya sambil mengerucutkan bibirnya. "Itu beda Mas."
"Sama-sama berkeringat. Makasih ya semalam." Reka mencium singkat pipi Nayla.
"Sama-sama. Mas Reka berangkat jam berapa?" tanya Nayla. Dia turun dari ranjang secara perlahan.
"Jam 7." Reka mengambil kemejanya dan memakainya.
Tangan Nayla terulur mengancingkan kemeja Reka. Hal kecil tapi membuat hubungan mereka terlihat semakin harmonis.
"Mas sarapan dulu ya."
"Iya." Reka mengusap puncak kepala Nayla. "Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya."
"Iya Mas." setelah selesai mengancing kemeja suaminya, Nayla berjalan ke kamar mandi karena rasa ingin buang air kecil itu sudah tidak bisa ditahannya lagi.
Sedangkan Reka menyiapkan segala keperluannya sendiri. Tak lupa juga berkas-berkas penting yang harus dibawanya.
"Sayang, ayo kita sarapan." Reka menunggu Nayla di depan pintu kamar mandi.
"Iya, sebentar Mas aku sekalian mandi. Mas duluan saja."
"Iya, aku tunggu di ruang makan. Jangan lama-lama kalau mandi."
Di dalam kamar mandi, Nayla yang sedang menyabun dirinya itu sudah hafal dengan kalimat Reka yang selalu melarangnya mandi terlalu lama.
Setelah membilas dirinya, tiba-tiba perut Nayla terasa mengencang. "Hai, sayang. Dingin ya." Nayla mengusap perutnya dan lama kelamaan perut itu mulai mengendur. Setelah itu dia segera keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.
Nayla tersenyum saat melihat bajunya sudah disiapkan di tepi ranjang oleh Reka, dia segera memakainya lalu menyisir rambutnya dan segera keluar menyusul Reka di meja makan.
Terlihat Reka sudah menghabiskan sepiring nasinya sambil berbalas pesan.
__ADS_1
"Sayang, kamu makan yang banyak ya. Aku harus berangkat sekarang." Reka bediri lalu mencium kedua pipi Nayla tak lupa juga perut besar Nayla. "Nanti kalau ada apa-apa langsung chat aku ya."
Nayla menganggukkan kepalanya. "Mas juga hati-hati. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai."
Reka mengambil barang-barangnya lalu berjalan keluar rumah yang diantar Nayla sampai depan pintu.
Lambaian tangan Nayla mengiringi kepergian Reka.
...***...
Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam, Reka tiba di hotel. Dia istirahat sejenak bersama Yuda, staff kepercayaan Reka. Karena Angga sedang menghandle pekerjaan di kantor yang ternyata tidak bisa ditinggal.
"Yuda, setelah ini kita makan siang dan langsung pergi ke tempat meeting." kata Reka setelah masuk ke dalam kamar hotel.
"Iya, Pak." jawab Yuda.
Reka duduk di sofa hotel sambil menunggu Yuda yang sedang di toilet. Dia menghubungi Nayla, tapi sampai beberapa kali nada sambung Nayla tak juga mengangkat panggilannya.
Akhirnya Reka memutuskan untuk mengirim pesan.
Sayang sedang apa? Aku sudah sampai.
Sampai beberapa detik Nayla tak juga membalasnya.
Akhirnya dia berdiri karena Yuda sudah keluar dari toilet. Dia benar-benar di kejar waktu hari itu.
Reka menuju restoran hotel, dimana banyak rekan bisnis yang juga ikut bergabung bersama mereka. Beberapa kali Reka bertegur sapa. Hingga akhirnya dia duduk dan makan bersama Yuda.
"Pak Reka..."
Sapaan itu membuat Reka menjadi kesal. Nova yang bersama assistant pribadinya itu kini ikut bergabung di meja Reka.
Berhubung restoran memang sedang ramai, terpaksa Reka membiarkan Nova duduk di dekat kursinya.
"Kebetulan sekali kita dalam satu proyek yang sama." kata Nova sambil tersenyum lebar.
Reka tak menanggapi pembicaraan Nova. Sedangkan Yuda justru asyik mengobrol dengan assistant pribadi Nova.
"Sudah lama kita gak bertemu. Dengar-dengar istri kamu hamil. Sudah berapa bulan?"
Reka akhirnya menjawab pertanyaam Nova dengan singkat dan jelas. "Sembilan bulan." Reka melanjutkan makan siangnya. Dia biarkan Nova bercerita hal-hal yang tidak penting itu sendiri tanpa ada lawan bicara yang menyahut.
__ADS_1
"Wah, sebentar lagi launching dedeknya..."
Setelah selesai makan, Reka kembali mencoba menghubungi Nayla. Tapi masih tetap sama, Nayla tak juga mengangkat panggilan suaranya. Bahkan pesan yang dia kirim saja masih centang dua abu.
Reka mulai gelisah, tidak biasanya Nayla seperti itu.
Di dekat Reka, Nova sangat ingin tahu apa yang membuat Reka sangat gelisah. Dia semakin mendekatkan dirinya dengan memegang segelas minuman. Tanpa sengaja air minuman itu tumpah dan mengenai lengan Reka.
"Nova!" seketika Reka terkejut dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Apa yang kamu lakuin!"
"Maaf, aku gak sengaja." Nova mengambil tisu dan mengelap lengan Reka yang basah itu dengan tisunya.
Reka menghempaskan tangan Nova lalu dia berdiri dan berjalan ke toilet sambil mendumel. "Untung jas aku hitam. Selalu saja Nova buat masalah."
Nova yang masih duduk di tempatnya terus melirik ke arah ponsel Reka. Ada panggilan masuk dari Nayla. Setelah panggilan itu berakhir ada sebuah pesan masuk. Nova melebarkan matanya melihat pesan masuk itu. Buru-buru Nova mematikan ponsel Reka dan dia ambil ponsel itu, seperti seorang pencuri.
Kemudian dia mengajak assistantnya pergi sebelum Reka kembali.
Beberapa saat kemudian Reka kembali ke tempat duduknya. Dia menghabiskan minumannya lalu mengajak Yuda untuk segera ke tempat meeting.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Reka menyadari jika ponselnya tidak ada di saku jasnya. Dia mencari di meja tapi juga tidak ada.
"Yuda, kamu tahu hp aku?" tanya Reka.
Yuda yang sedari tadi tidak terlalu memperhatikan bosnya hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu Pak. Apa tidak tertinggal di toilet?"
Reka menggaruk tengkuk lehernya karena sepertinya dia tidak membawanya ke toilet.
"Masak iya aku lupa naruh."
Dia melangkah cepat kembali ke toilet. Dia periksa washtafel yang berada di depan cermin itu.
"Gak ada. Udah gak ada waktu buat nyari lagi." Reka keluar dari toilet dan mengajak Yuda untuk segera menuju tempat meeting.
"Yuda, coba kamu hubungi nomor aku. Sudah aku cari tapi tidak ada." kata Reka sambil berjalan.
"Iya, Pak." Yuda mencoba menghubungi nomor Reka tapi ternyata nomornya tidak aktif. "Maaf Pak, WA Pak Reka tidak aktif, lewat panggilan selular juga tidak aktif."
Reka berdengus kesal. Kenapa tiba-tiba ponselnya bisa hilang? "Ya sudah kita urus nanti saja. Lima nenit lagi meetingnya sudah dimulai."
Selama meeting, perasaan Reka tidak tenang. Dia terus memikirkan Nayla.
__ADS_1
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Nayla...