(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Sudah Saatnya


__ADS_3

Area basah ya.. Ada yang lagi buka.. 🙊


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Beberapa hari telah berlalu. Semua sudah kembali normal seperti biasanya. Nayla juga sudah kembali kuliah lagi, begitu juga dengan luka Reka yang sudah sembuh total.


"Syukurlah, setelah imunisasi hanya rewel kemarin aja. Hari ini udah kembali anteng lagi." Nayla masih saja memandangi putranya yang baru saja dia tidurkan di dalam box.


Reka yang sedari tadi menatap layar laptopnya, buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Dia matikan laptopnya dan menutupnya. Kemudian dia berjalan mendekati Nayla lalu memeluknya dari belakang. "Sekarang saatnya Mama dan Papa Dika melepas rindu."


Nayla hanya tersenyum kecil. Kemarin dia memang sudah melakukan program keluarga berencana yang tepat sesuai hasil konsultasinya dengan Dokter.


Reka mulai menciumi leher jenjang Nayla yang tak tertutup rambut itu. Sepertinya Reka tidak akan membiarkan Nayla tidur malam itu. Dia seperti singa yang sedang kelaparan.


Kecupan-kecupan itu berubah menjadi gigitan-gigitan kecil dengan sesekali hisapan yang membuat tubuh Nayla kian meremang.


Reka menarik tubuh Nayla ke atas ranjang. Daster pendek itu telah tersingkap dan lolos melewati kepala Nayla. Pemandangan yang sangat indah kini berada di depan matanya. Meski baru dua bulan melahirkan, tubuh Nayla sudah kembali seperti semula. Justru semakin sexy karena kedua wadah ASI Andika itu semakin terlihat berisi.


"Makin sexy, makin cantik Mamanya Dika." Reka melepas kaosnya lalu dia membungkukkan badannya dan menyambar bibir ranum Nayla. Memagutnya begitu dalam, saling menyesap hingga terdengar decapan memenuhi seluruh ruangan.


Tangan Reka mulai beraksi, dia buka pengait yang ada di punggung Nayla lalu melempar penutup itu ke sembarang tempat. Kemudian dia usap secara perlahan dua bulatan yang padat dan berisi itu.


Satu tangannya kini semakin turun ke bawah dan berhenti di atas kain segitiga itu. Dia usap dengan lembut untuk memberi stimulasi pada Nayla.


Napas Nayla semakin berat saat jemari itu bermain langsung di dalamnya. Bergerak memutar dan keluar masuk perlahan yang semakin lama semakin membuatnya basah.


"Mass.." Nayla sudah tidak sanggup menahan suara de sah nya. Bibir Reka kian turun ke leher. Dia menyapu dan menjejaki leher putih Nayla.


"Sayang, sekarang ya. Aku udah gak tahan." Reka menegakkan dirinya. Dengan tergesa dia lepas celananya hingga terpampanglah otot-otot keras Reka dengan sempurna.


Setelah melepas kain penutup Nayla yang terakhir. Dia segera memposisikan dirinya di antara kedua pa ha Nayla.


Nayla terlihat menegang. "Mas, gak sakit kan? Aku takut."


Reka hanya tersenyum. Besar miliknya jelas sangat jauh beda dengan besarnya bayi waktu lahir.

__ADS_1


"Nggak sayang. Jahitan kamu kan cuma dikit dan udah sembuh total. Tenang aja pasti enak." Reka menggesekkan sesaat untuk permulaan agar Nayla tidak terkejut. Semakin lama terasa semakin licin, sepertinya Nayla sudah siap menerima kehadirannya kembali.


Perlahan tapi pasti, Reka menghentakkan miliknya hingga terbenam seluruhnya. Terdengar suara Nayla yang memekik kecil.


Reka mendekatakan dirinya dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. "Sakit gak sayang?"


Nayla hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Akhirnya setelah dua bulan sayang." Reka merasakan kehangatan yang menjepit itu terasa semakin nikmat. Sepertinya dia tidak akan puas jika hanya melakukannya satu kali malam itu.


Suara de sah kian bersahutan. Tidak terlalu keras karena takut Andika terbangun.


Nayla semakin mendesah tak karuan. Baru lima menit tapi rasanya Nayla sudah ingin keluar.


"Sudah mau keluar sayang?"


Nayla hanya menganggukkan kepalanya. "Cepetin Mas." Nayla berpegangan erat pada pundak Reka saat Reka semakin memompanya dengan cepat.


"Yes baby. Feel it." Reka semakin menambah gerak pinggulnya hingga terdengar suara tepukan yang meriah saat kulit mereka saling bertabrakan.


Reka memberi Nayla waktu untuk memulihkan tenaganya. Dia hanya bergerak pelan. Setelah napas Nayla kembali normal, tiba-tiba Reka membalik tubuh Nayla hingga Nayla berada di atasnya.


"Eh, Mas..."


"Ganti posisi. Kamu yang di atas."


Awalnya Nayla malu-malu tapi lama kelamaan dia mulai menggerakkan pinggulnya berirama.


Reka kian men de sah. Dia usap kedua bulatan yang ikut bergerak seiring gerakan dari Nayla.


"Eh, sayang ASI nya keluar."


Nayla tak menyahutinya. Dia menggigit bibir bawahnya saat kenikmatan itu kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Apalagi saat Reka menambah gerakannya dari bawah.


Reka kini menegakkan dirinya, dia lingkarkan tangannya di pinggang Nayla hingga posisi Nayla kini berada di atas pangkuannya. Kemudian dia hisap kedua gundukan itu secara bergantian.

__ADS_1


"Mas, nanti kalau Dika bangun jadi kosong. Jangan dihisap terus." Nayla sedikit mendorong kepala Reka yang ada di dadanya.


"Dikit aja sayang. Biar gak keluar terus."


Nayla sudah tak menjawabnya lagi. Dia semakin membusungkan dadanya sambil terus men de sah. Sepertinya gelombang nikmat itu kembali muncul lagi.


Reka sudah paham dengan bahasa tubuh Nayla. Dia semakin menambah tempo gerakannya hingga gerakan itu beradu dengan Nayla.


Tangan Nayla menyangga ke belakang dengan pinggul yang bergerak tak beraturan.


Reka tersenyum kecil. "Udah dua kali. Yang ketiga barengan ya." Reka kembali membalik posisi Nayla hingga Nayla kembali dalam kendalinya.


Dia usap sesaat keringat yang membasahi pelipis Nayla. Lalu dia genggam kedua tangan Nayla dan menuntutnya ke atas kepala. Dia gabung kedua pergelangan tangan Nayla dengam satu tangannya yang berada di atas kepala Nayla.


Benar-benar pemandangan yang menggairahkan saat Reka menghujam Nayla dengan cepat kedua benda sintal itu ikut bergerak naik turun.


Wajah merah Nayla dan suara de sah yang kembali terdengar itu semakin membuat Reka semangat berpacu.


"Sayang, aku mau keluar." Reka semakin dalam menghentakkannya. Suara de sah Reka yang begitu erotis juga semakin membuat Nayla tidak bisa menahan pelepasannya yang ketiga.


"Aahh, sayang..." Reka menuntaskan semua hasratnya di titik terdalam Nayla.


Reka menarik napas dalam lalu melepas miliknya dan menghempaskan dirinya di sebelah Nayla.


Mereka sama-sama menatap langit-langit sambil mengatur napasnya.


"Makasih sayang. Enak banget." Reka meraih tubuh Nayla dan memeluknya. Tubuh yang sama-sama berkeringat itu kini saling menempel lagi.


Beberapa saat kemudian Andika menangis. Reka melepas pelukannya, sedangkan Nayla bangun dan bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membilas pu ting nya karena bekas hisapan dari Papanya Dika. Saat dia kembali, Reka sudah menggendong Andika.


Nayla duduk sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Kemudian dia mulai me nyu sui Andika.


Reka menyusul Nayla dan ikut menyusup ke dalam selimut. Tangannya sudah mulai nakal lagi memberi sentuhan-sentuhan pada Nayla.


"Setelah Dika tidur, nanti main lagi ya."

__ADS_1


Nayla hanya memutar bola matanya. Reka pasti tidak akan membiarkannya tidur malam itu.


__ADS_2