
"Sial! Satu orang lagi kabur!" Reka berbicara dengan anak buahnya lewat headset yang terhubung ke ponselnya.
Ternyata masih ada tiga orang yang terlibat kasus ini. Setelah mengetahui tempat persembunyiannya, Reka segera menyuruh anak buahnya untuk menangkap mereka.
"Aku sekarang sedang mengawasi Nayla... Iya, sekarang banyak mahasiswa yang sedang istirahat jadi sulit melacak."
Sejak Nayla keluar dari kelas, Reka terus mengintainya. Sampai Nayla makan di kantin Reka terus memperhatikannya.
Hingga saat Nayla beranjak dari kantin, tiba-tiba Reka melihat seseorang di belakang Nayla yang berjalan dengan mencurigakan.
"Kalian cepat ke depan kantin sekarang juga!." perintahnya pada anak buahnya lewat headset yang masih terhubung dengan panggilan.
Reka membulatkan matanya saat melihat sekilas orang itu mengeluarkan senjata tajam. Reka segera berlari ke arah Nayla. Dia memeluk Nayla dan memutar tubuh Nayla dengan cepat karena tidak ada waktu lagi untuk menghindar.
Nayla sangat terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.
"Arrrggghhh!" teriak Reka saat senjata tajam itu berhasil menusuk punggungnya.
Tersadar dengan suara itu, Nayla melebarkan matanya. "Mas Reka!"
"Hei, jangan lari!" anak buah Reka berhasil membekuk orang yang telah menusuk Reka.
"Mas Reka!" Tangan Nayla meraba punggung Reka yang sudah mengeluarkan darah. Seketika Nayla menjadi sangat panik.
Reka melepas maskernya. "Jangan khawatir, aku gak papa." kata Reka sambil meringis kesakitan.
"Tolong bantu!" Fara berteriak yang membuat beberapa temannya segera menbantu Reka dam membawanya ke klinik.
Untunglah klinik di kampus itu cukup besar dan selalu ada Dokter yang bertugas di sana. Luka Reka segera ditangani oleh Dokter itu.
Nayla menunggu dengan cemas di kursi tunggu. Air mata juga sudah mengalir di pipinya.
"Nay, kamu tenang ya. Jangan sedih gini. Suami kamu udah ngelakuin yang tepat buat kamu. Gak kebayang kalau kamu yang kena tusuk."
Nayla semakin menangis terisak. Secinta itu Reka padanya.
"Nay, kok semakin nangis." Fara melihat keluar klinik sesaat. "Kayaknya kampus kita ada kasus besar. Banyak media dan polisi yang datang. Aku kira kasus korupsi itu udah selesai tapi malah ada buntutnya lagi."
Nayla tak mendengar perkataan Fara. Dia benar-benar ingin cepat bertemu suaminya.
Beberapa saat kemudian, Dokter yang menangani sudah keluar. Nayla segera berdiri dan menghampirinya.
"Mbak Nayla, silakan masuk. Suaminya tidak apa-apa. Lukanya tidak terlalu dalam."
__ADS_1
"Iya Dok, makasih." Nayla segera masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Reka sedang duduk sambil bertelanjang dada.
"Mas Reka, bisa-bisanya menyamar jadi mahasiswa." Nayla duduk di sebelah Reka.
Reka tersenyum lalu menghapus air mata Nayla. "Jangan nangis. Lukanya gak terlalu dalam. Gak pas di tulang belakang juga jadi masih aman."
Nayla melihat punggung Reka yang diperban kotak. Memang dmsedikit ke pinggir di dekat tulang belikat sebelah kiri.
"Tapi tetap aja Mas, pasti sakit."
"Gak papa. Yang penting kamu gak papa. Aku malah bersyukur bisa melindungi kamu. Gak kebayang kalau kamu yang kena, entah kayak gimana jadinya. Aku aja yang udah pakai jaket levis tebal masih kena luka kayak gini, apalagi kamu yang cuma pakai kemeja aja."
Nayla semakin menangis lalu memeluk Reka. "Makasih ya, Mas."
"Udah jangan nangis gini sayang." Reka mengusap rambut Nayla dengan lembut. "Aku lega mereka semua sudah tertangkap. Biar sekalian kampus ini diliput media, biar jadi pembelajaran untuk kampus lainnya."
"Ntar kalau banyak yang pindah dari kampus ini gimana Mas? Terus kampusnya gak laku."
Reka tersenyum miring. "Di tangan Reka semua pasti baik-baik saja."
Mendengar kepercaya-dirian Reka membuat Nayla tertawa kecil. "Ih, terlalu PD."
"Iya, aku akan rubah semua struktur organisasi di sini."
"Segera jadi pemilik."
Nayla tak bisa berkata lagi. Suaminya memang selalu berambisi dalam segala hal. Bahkan dia pernah dengar cerita bahwa Sanjaya Group pernah dalam masa sulit. Sejak hadirnya Reka, perusahaan itu kembali berjaya dan mengalahkan perusahaan lainnya. Rupanya Reka tak juga cukup berkembang di sektor produksi. Dia sekarang juga memiliki beberapa yayasan pendidikan.
"Kok dada aku tiba-tiba basah ya?"
Nayla yang sedari tadi menempelkan dadanya baru tersadar jika ASI nya sudah merembes keluar.
"Yah, kemeja aku basah. Barusan kan aku niatnya memang mau pompa." Nayla mengusap dadanya dengan tangan tapi ASI itu masih saja mengalir.
"Kamu bawa jaket?"
"Aku lupa, Mas. Tadi udah aku siapkan, mau aku bawa tapi malah ketinggalan." Kemudian Nayla berdiri. "Aku tutup pintunya gak papa kan? Aku mau pompa ASI dulu."
"Iya gak papa." Reka justru tersenyum miring, otak nakalnya ketika berdua dengan istri bekerja dengan sempurna.
"Duduk sini." Reka menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Tanpa ada pikiran apa-apa, Nayla duduk di sebelah Reka. Dia mengambil pompa elektrik kecil yang berada di dalam tasnya. "Duh, gimana nih makin basah."
__ADS_1
"Barusan aku sudah suruh anak buah aku ambil baju ganti sama jas. Nanti kamu pakai saja jas aku."
Nayla mengangguk kecil lalu membuka kancing atas kemejanya dan mula memasang pompa ASI di sebelah kanan.
Sedari tadi kedua mata Reka terus mengintai pergerakan Nayla.
"Ribet banget ya." Nayla mencari sapu tangan yang ada dalam tasnya. "Aku kurang persiapan banget, harusnya pakai breast pad juga."
"Gini aja biar gak ribet." Reka semakin tersenyum lalu dia mendekatkan dirinya. Dengan cepat dia buka dada sebelah kiri Nayla dan langsung menghisapnya.
"Mas, jangan gini. Gak boleh, ih. Setetes air susu ibu itu sangat berharga, ini malah bapaknya yang hisap."
Reka tak menggubris cicitan Nayla. Bahkan dorongan kecil dari Nayla tak mampu melepas bibirnya. Sudah lama Reka ingin merasakan, dan sekarang disaat keadaan mendesak justru Reka memanfaatkannya.
Jelas, rasanya sangat beda ketika dihisap si bayi besar. Ada sesuatu yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Mas udah," Nayla menggigit bibir bawahnya. Pipinya terasa memanas dan merah. "Mas."
Reka semakin nakal saja, satu tangannya justru mengusap inti Nayla yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Mas tahu tempat. Jangan gini tangannya." Napas Nayla semakin berat. Rupanya dia juga merindukan sentuhan Reka hingga tubuhnya begitu cepat memberi respon.
Puas menghisap, Reka melepas bibirnya. Dia kini menatap wajah Nayla. "Udah basah kan, nanggung aku bantu tuntaskan aja sekalian."
Nayla semakin memejamkan matanya. Sentuhan Reka benar-benar selalu membuatnya tak kuasa menahan hasrat di dalam diri.
"Mas!"
Reka tersenyum licik saat berhasil memancing Nayla. Benar-benar hiburan tersendiri di saat banyak masalah yang melanda.
"Tuh kan, cuma dapat satu botol stoknya Dika." Nayla memasukkan botol ASI nya ke dalam cooler bag mini dan mengemasi peralatannya.
Reka hanya tertawa sambil membantu mengancing kemeja Nayla.
"Kenyang."
"Ih," Nayla masih saja mendumel. Bisa-bisanya habis kena tusuk punggungnya suaminya itu masih saja mesum.
.
💞💞💞
🙈🙈🙈
__ADS_1
.