(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Aku Membutuhkanmu


__ADS_3

"Pak, ada telepon dari Pak Niko." Yuda menyerahkan ponselnya pada Reka setelah menerima panggilan dari Niko.


Reka baru saja menyelesaikan meetingnya di hari yang sudah gelap itu. Tiba-tiba ada panggilan dari Ayahnya yang membuat perasaan Reka seketika semakin tidak enak.


"Iya, ada apa Yah?" Jantung Reka seketika berdetak tak karuan saat mendengar Nayla akan melahirkan. "Sudah seharian? Astaga, iya hp aku hilang. Hubungkan ke video call aku mau melihat Nayla."


"Mas Reka." terdengar suara lemah Nayla di ujung sana.


Dada Reka terasa sakit bagai diremat sesuatu melihat Nayla yang meringis kesakitan. Saat ini dia tidak bisa memeluknya untuk memberinya kekuatan. Padahal dia sudah berjanji untuk menemaninya berjuang.


"Sayang, kamu harus kuat. Sebentar lagi aku datang."


"Aku udah gak kuat Mas. Aku butuh Mas Reka."


"Iya, sayang. Iya. Aku akan segera datang." Reka mengusap wajahnya dengan mata yang telah memerah itu. "Ayah, suruh paman jemput aku dengan helikopternya, sekarang! Aku akan tunggu di atap Hotel Swiss Belinn."


Setelah Ayahnya mengiyakan, Reka mematikan panggilan itu. Dia berjalan cepat menuju kamarnya. "Yuda, kamu bereskan semua berkas-berkas dan kamu bawa mobil aku besok. Aku harus kembali sekarang."


"Iya, Pak."


Reka melangkah jenjang menuju kamarnya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari ponselnya maupun makan malam.


Setelah masuk ke dalam kamar, Reka hanya mengambil tas selempangnya. Lalu menyerahkan kunci mobil dan berkas-berkas pentingnya pada Yuda. Setelah itu dia keluar dari kamar dan berjalan dengan setengah berlari menyusuri lorong hotel menuju lift.


Tapi tanpa sengaja dia menabrak seseorang dengan keras hingga membuat orang itu terjatuh.


"Maaf," tanpa melihat orang itu, Reka membantu memungut beberapa barang yang terjatuh dari dalam tas wanita itu.


Ini kan?

__ADS_1


Reka menautkan alisnya melihat ponselnya yang dia temukan jatuh dari tas wanita itu. Dia melihat Nova yang sekarang telah berdiri dan mengambil tasnya dengan cepat.


"Nova!" kemarahan Reka sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia cekal dengan kuat tangan Nova saat dia akan melarikan diri. "Kamu sengaja ambil hp aku!" bentak Reka di depan wajahnya.


Nova menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku tadi nemu hp Kak Reka tertinggal di restoran. Ini mau aku kembalikan." baru kali ini Nova melihat wajah marah Reka. Sangat menakutkan. Seperti seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawanya.


Reka mendorong tubuh Nova hingga terpental ke tembok. "Sekarang aku gak ada waktu buat urus kamu. Ingat, aku akan buat perhitungan sama kamu soal ini!" Reka mengepalkan tangannya dan memukul tembok dengan keras. Kemudian dia segera melangkah jenjang dan masuk ke dalam lift.


Dia tekan lantai teratas hotel itu. Lalu Reka menghidupkan ponselnya, beberapa saat kemudian banyak pesan masuk ke dalam nomor WA-nya. Dia langsung membuka pesan dari Nayla dan puluhan keterangan panggilan masuk tak terjawab.


"Mulai dari tadi siang Nayla udah..." Reka semakin merasa kesal. Dia pukul lagi dinding lift itu untuk meluapkan rasa kesalnya. "Harusnya aku sekarang udah menemani Nayla di rumah sakit. Shits! Aku bodoh sekali sampai kecolongan gini."


Pintu lift terbuka, dia segera berlari menaiki satu anak tangga lagi untuk menuju atap hotel.


Dia bernapas lega saat melihat helikopter itu kian mendekat. Reka mengusap air matanya yang tanpa sadar telah menetes.


"Paman Rendra terima kasih sudah mejemput aku tepat waktu." kata Reka yang kini duduk di sebelah pamannya. Di posisi pilot ada anak buah Rendra yang mengemudikan helikopter itu.


Helikopter itu kembali terbang dan segera menuju rumah sakit.


Reka menekan ujung matanya karena matanya terus dipenuhi oleh air mata.


"Kamu tenang dan terus berdo'a. Semua pasti baik-baik saja." Rendra berusaha menenangkan Reka sambil mengusap punggungnya.


...***...


Di rumah sakit, Nayla masih terus berjuang menahan rasa sakitnya.


"Bilang sama Dokter, aku mau menunggu Mas Reka dulu. Aku mau ditemani sama Mas Reka. Mas Reka sebentar lagi pasti datang."

__ADS_1


Bu Lela hanya mengusap rambut Nayla yang basah karena keringat. Beberapa kali air mata itu menetes di pipinya. Dia tidak tega melihat putrinya merasakan mulas sampai seharian ini. "Tapi kamu kuat kan? Gak papa, ada Ibu yang menemani."


Nayla masih saja menggelengkan kepalanya. "Aku mau menunggu Mas Reka. Sebentar lagi." Nayla yakin sebentar lagi Reka pasti datang. Seperti yang pernah dikatakannya, dia ingin melahirkan ditemani Reka, entah itu secara normal maupun operasi.


Nayla yang sedari tadi duduk sambil memegangi lengan Ibunya, kembali meringis kesakitan. Dia usap perutnya yang semakin terlihat turun ke bawah. "Sayang, sebentar lagi Papa datang."


"Nayla!" panggilan itu membuat beberapa pasang mata melihat ke arah pintu. Reka berlari dan langsung berlutut di depan perut Nayla. "Maafkan aku. Maafkan aku baru datang dan tidak menemani kamu berjuang seharian ini."


Wajah Reka menempel pada perut Nayla dengan air mata yang telah mengalir. Dia tidak sanggup melihat wajah pucat Nayla dengan napas beratnya yang sudah terpasang selang oksigen di hidungnya.


"Sayang, Papa sudah datang. Jangan buat Mama sakit terlalu lama ya. Ayo, kita berjuang sama-sama." Reka mencium dalam perut Nayla seolah menghantarkan kekuatan untuk Nayla.


Nayla semakin menjambak rambut Reka. Rasa mulas itu semakin menjadi, kini disertai dengan dorongan dari dalam dan rembesan cairan ketuban yang semakin deras.


Seketika Reka berdiri karena Dokter akan memeriksa Nayla.


Dokter itu kembali memeriksa pembukaan Nayla. "Syukurlah, pembukaannya sudah sempurna. Tidak perlu melakukan operasi, kita langsung pindah ke ruang persalinan saja."


Nayla sudah tidak tahan dengan dorongan dari dalam itu. Dia memegang tangan Reka dengan erat. Sampainya di ruang bersalin, baru saja Nayla membuka kakinya lebar, ubun-ubun bayinya sudah terlihat.


Nayla terus mengejan dan mengerahkan seluruh tenaganya.


Reka tak peduli dengan jambakan tangan Nayla di rambutnya dan cengkeraman kuat di lengannya. Dia bersyukur akhirnya bisa menemani Nayla berjuang di detik ini.


Nayla mengambil napas dalam lalu dia kembali mengejan dengan kuat. Akhirnya suara bayi itu memenuhi ruangan bersalin.


Nayla tersenyum sambil melihat bayi yang diangkat oleh suster, tapi pandangannya semakin kabur dan menggelap.


"Nay, Nayla!"

__ADS_1


__ADS_2