(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Wellcome Andika


__ADS_3

Nayla tersenyum sambil melihat bayi yang diangkat oleh suster, tapi pandangannya semakin kabur dan menggelap. Badannya sudah terasa sangat lemah.


"Nay, Nayla!" Reka menepuk pipi Nayla agar dia tetap tersadar. "Sayang, kamu lihat, bayi kita tampan sekali. Ada lesung pipinya seperti yang kamu ingin. Ayo, buka mata kamu sayang." Reka terus berusaha membuat kesadaran Nayla kembali sepenuhnya.


Perlahan Nayla kembali membuka matanya saat merasakan kulit halus itu menyentuh dadanya. Bayi mungil itu kini bergeliat lucu di atas dadanya yang sedikit terbuka itu.


Perlahan tangan Nayla terangkat dan mengusap punggung bayi mungil itu dengan lembut.


Beban di dada Reka seketika luruh melihat dua orang kesayangannya sudah berhasil melewati masa sulitnya. Dia kini tersenyum meski dalam tangisnya.


"Sayang, kamu hebat." Reka membungkukkan badannya dan mencium dalam kening Nayla. "Terima kasih sudah berjuang sampai seberat ini."


Nayla hanya tersenyum dengan mata nanarnya. Dia tidak sanggup berkata-kata karena tenggorokannya kini terasa sangat kering.


"Terima kasih," ucap Reka lagi. Dia kini juga ikut mengusap lembut pipi yang ikut bergerak karena bibir mungil itu sedang mencari sumber kehidupannya. "Lucu sekali."


...***...


Setelah momen mencekam itu berhasil dilalui mereka, malam itu Reka terus memandangi wajah lelah Nayla yang tertidur dengan pulas. Dia juga sudah menyuruh para orang tua untuk pulang dan beristirahat di rumah. Sekarang dia harus berperan sebagai suami siaga dan seorang Ayah baru yang terus menemani Nayla merawat dan menjaga buah hatinya.


Dia sisihkan dulu rasa lelah dan kantuk yang hinggap. Pandangannya kini beralih pada putra kecilnya yang sebentar lagi saatnya minum ASI.


"Andika Putra Sanjaya. Kelak kamu pasti akan jadi lelaki yang hebat. Harus lebih hebat daripada Papa dan satu lagi, kamu harus selalu menyayangi Mama kamu. Karena perjuangan Mama kamu begitu besar untuk melahirkan kamu ke dunia ini." Reka berkata pelan sambil mengusap kain bedong yang menghangatkan tubuh mungil itu.


Jelas saja, beberapa saat kemudian bayi mungil itu bergeliat dan menangis. Bibirnya mulai mencari keberdaan sumber vitaminnya.


"Sudah haus lagi ya sayang?" Reka meraih putranya lalu menimangnya sesaat. Rasanya tidak tega ketika harus membangunkan Nayla yang sedang tidur pulas itu, tapi putranya membutuhkannya.


"Sayang." Reka mengusap pelan pipi Nayla agar Nayla terbagun. "Sayang." panggilnya lagi.

__ADS_1


"Hmm." Nayla menguap panjang sambil meregangkan otot-ototnya.


"Sudah waktunya kasih ASI." Reka duduk di tepi brangkar dan satu tangannya membantu Nayla duduk. Setelah Nayla duduk dengan nyaman, Reka meletakkan putranya di pangkuan Nayla dan masih tetap dia bantu memegang karena Nayla masih kaku dan belum terbiasa.


"Mas, kayaknya ASI aku gak deras gini." kata Nayla yang merasakan jika kedua dadanya tidak berisi seperti ibu-ibu yang sedang me nyu sui.


"Baru dua kali ini kamu me nyu sui Dika. Kat Dokter tadi kan asal terus dihisap maka volume nya akan terus bertambah. Gak papa sayang. Yakin kalau kamu bisa."


"Iya, tapi aku khawatir, Mas. Aku gak bisa mencukupi kebutuhan Dika." Nayla menatap putranya yang sudah mulai menghisap pu ting nya.


"Sssttt, hilangkan pikiran kayak gitu. Kamu gak boleh stress. Ada aku yang akan selalu bantu kamu."


Nayla akhirnya tersenyum sambil melihat Andika yang kembali terlelap lagi.


"Tuh, udah tidur lagi itu tandanya sudah kenyang." Reka mencium pipi Nayla. Dia tahu, di masa beradaptasi menjadi ibu baru bisa membuat Nayla mudah stress dan mengalami baby blues. Sebagai suami dia memiliki peran penting untuk membantu Nayla dan memberinya kenyamanan.


Nayla masih saja memandangi wajah yang sudah telihat tampan sejak lahir itu. Bibir tipis yang seperti dirinya. Hidung mancung dan lesung pipi itu mirip Reka.


"Mas Reka sedari tadi belum tidur? Ini sudah tengah malam loh."


"Iya sayang, sebentar lagi aku tidur." Reka menurunkan putranya di box kemudian dia kembali duduk di sebelah brangkar Nayla, dia usap lembut rambut Nayla agar cepat tertidur. "Sayang, cepat tidur. Kamu harus banyak istirahat biar kondisi kamu cepat pulih."


Nayla menganggukkan kepalanya. Seharian itu memang terasa sangat melelahkan tapi terbayar ketika melihat putra kecilnya yang lahir dengan sehat.


"Mas, aku mau peluk. Tidur di sebelah aku, gak boleh ya sama Dokter?"


Reka justru tertawa mendengar permintaan Nayla. "Boleh, siapa yang melarang. Tapi nanti tempat kamu jadi sempit."


"Gak papa. Seharian ini aku mau peluk Mas Reka tapi gak bisa."

__ADS_1


"Oke, kalau itu mau kamu." Reka naik ke atas brangkar lalu memeluk tubuh Nayla.


Nayla semakin menempelkan wajahnya di dada Reka. "Nyaman sekali Mas."


"Maaf ya, aku gak ada di samping kamu saat kamu membutuhkanku."


Nayla menggelengkan kepalanya. "Aku tahu ini bukan mau Mas Reka. Tapi aku gak nyangka aja ternyata dedek mau lahir nungguin Papanya. Aku tadi hampir nyerah Mas. Udah gak sanggup lagi."


Reka mencium dalam puncak kepala Nayla. "Makasih kamu sudah berjuang untuk anak kita."


"Berapa kali lagi sih Mas Reka mau bilang makasih."


"Sejuta kalipun gak akan sanggup mengganti semua pengorbanan kamu."


"Gombal banget sih Papanya Dika ini."


Reka tersenyum kecil mendengar sebutan itu yang terdengar sangat menggemaskan. "Karena aku sayang banget sama Mamanya Dika."


Nayla juga ikut tertawa kecil. Sepertinya banyak cerita yang ingin dibicarakan malam itu. "Mas, katanya hpnya hilang, tapi tadi aku lihat Mas Reka pegang hp."


Seketika Reka menghela napas panjang. Dia harus memberi pelajaran pada Nova terkait masalah hilangnya ponsel itu yang sengaja dia ambil. "Udah ketemu. Aku juga menyesal udah teledor kayak tadi. Andai aja aku tahu pesan dari kamu, aku pasti akan langsung ke rumah sakit menemani kamu." Hanya itu yang Reka ceritakan. Selebihnya dia akan mengurus Nova sendiri agar dia menyesal.


"Ya sudah Mas, semua sudah terjadi. Yang terpenting bayi kita lahir dengan selamat."


Reka mengangguk pelan. Ya, itulah yang paling terpenting, Nayla dan bayinya berhasil dengan selamat melalui ini semua. "Sayang, kamu tidur. Ini sudah malam. Sebentar lagi waktu kasih ASI lagi."


Nayla menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya.


Reka terus mengusap lembut rambut Nayla agar segera tertidur dalam buaiannya. Badannya memang terasa sangat lelah tapi matanya seolah enggan terpejam. Reka justru memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Nova.

__ADS_1


Dia melihat Nayla yang sudah terlelap dalam dekapannya. Dia sedikit meregangkan pelukannya untuk mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Dia mengirim pesan pada Yuda untuk mengerjakan sesuatu.


__ADS_2