
"Mas Reka kenapa gak tidur di sofa, malah tidur di sini?"
Mendengar pertanyaan itu seketika mata Reka berkaca-kaca. Berulang kali dia mengucap syukur karena Nayla sudah tidak histeris seperti semalam. Bukannya menjawab, Reka justru memeluk Nayla. Menangis sesenggukan karena semua beban menakutkan telah luruh. Hati yang telah hancur berkeping semalam kini kembali utuh.
"Mas, aku..." Nayla menghentikan kalimatnya karena dia lebih memilih untuk mengeratkan pelukannya.
Mereka nikmati momen haru itu sampai beberapa menit tanpa ada sepatah kata pun.
"Mas, aku gak tahu kenapa kemarin aku gak bisa kontrol emosi aku. Aku takut Mas."
Reka melonggarkan pelukannya. Dia tatap kedua mata sayu Nayla. "Aku jauh lebih takut daripada kamu. Aku sangat takut kehilangan kamu."
"Mas tapi soal itu..."
Reka menggelengkan kepalanya. "Itu ulah seseorang yang gak suka sama aku. Mereka sudah ditangkap." Reka menangkup kedua pipi Nayla. "Aku gak akan pernah sanggup nyakitin kamu, Nay. Aku sangat mencintai kamu."
Nayla hanya mengangguk kecil. Tangannya juga terulur mengusap air mata Reka yang masih berada di pipinya. "Maafin aku, Mas. Aku gak bisa kontrol diri aku. Aku takut kalau nanti aku kayak gitu lagi gimana?"
Reka menggelengkan kepalanya. "Mulai sekarang aku akan selalu jaga kamu. Maaf, hampir dua minggu ini aku hanya mementingkan pekerjaan. Padahal kamu dan Dika adalah segalanya bagi aku."
Nayla kembali menggelengkan kepalanya kecil. "Aku yang gak bisa ngertiin Mas Reka. Mas, ayo kita pulang. Dika di rumah minum apa?"
"Sufor, sesuai rekomendasi dari Dokter yang dulu pernah kita tanyakan. Nanti setelah di rumah kamu lanjut ASI lagi."
Nayla mengangguk pelan. Karena kedua wadah ASI itu saja sekarang sudah terasa sangat keras.
"Aku panggil Dokter dulu ya, biar kamu diperiksa dan langsung pulang."
"Antar aku ke kamar mandi dulu, Mas." pinta Nayla.
"Iya." Reka membantu Nayla turun dari brangkar dan memapahnya ke kamar mandi.
"Badan aku lemas banget, Mas." kata Nayla karena kakinya terasa tidak menginjak lantai.
"Dari semalam kamu belum makan. Bentar lagi kita sarapan dulu ya."
...***...
__ADS_1
Hari yang mencekam dan memilukan itu telah berlalu. Sebelum pulang dari rumah sakit, Nayla dan Reka menemui Dokter Psikolog terlebih dahulu. Mereka berdua seperti mendapat energi positif dan solusi yang tepat dalam menghadapi masalah seperti itu.
Nayla kini lebih tenang. Bahkan setelah sampai di rumah dia langsung menggendong Dika dan menggodanya sambil tersenyum. "Dika, semalam Mama tinggal. Mama kangen."
Bu Lela juga ikut lega melihat putrinya telah pulang. "Nayla, kamu sakit apa? Kecapekan?"
Nayla hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau capek kan ada Ibu ada Mbak Rini juga. Kamu bisa istirahat, biar Dika sama kita. Dika sekarang juga sudah mau susu formula. Gak papa, gak usah dipaksakan diri kamu. Waktu kamu masih bayi dulu justru kamu minum susu formula terus karena ibu harus segera bekerja."
Nayla hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu."
"Ya sudah, kamu istirahat ya sekarang."
Bu Lela keluar dari kamar Nayla.
"Dika, mau main dulu ya sana Mama." Nayla berulang kali menciumi pipi chubby Dika yang masih belum tertidur itu.
"Anak Papa pintar, katanya semalam gak rewel. Udah nurut sama kata Papa ya."
"Lucu ya Mas." Reka memandangi wajah Andika yang sudah bisa membuka mata lebar dengan bibir yang bergerak-gerak ingin menghisap sesuatu. "Semakin mirip Mas Reka sih." Nayla mencubit kecil pipi itu karena sangat gemas.
Nayla menggelengkan kepalanya. "Gak papa Mas, aku masih bisa jaga Dika." Nayla mulai me nyu sui Andika yang sudah terlihat haus. "***** yang banyak sayang, sampai keras punya Mama karena semalam gak dinenen."
"Tadi mau aku hisap gak boleh." goda Reka yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Nayla.
"Kan udah dibeliin Mas Reka pompa ASI."
Reka hanya tersenyum lalu menciumi pipi Nayla berulang kali. Kemudian singgah ke bibir itu. Sudah beberapa hari dia tidak merasakan manisnya bibir itu. Rasanya dia enggan untuk melepas pagutannya. Ingin menjelajahi rongga itu lebih lama lagi.
Nayla mendorong pelan dada Reka karena ada putranya yang masih dengan rakus menghisap.
"Mas, dilihat Dika." kata Nayla sambil malu-malu karena jujur saja dia juga ingin merasakannya lebih lama lagi.
"Dika masih belum ngerti." Reka meraih kepala Nayla agar bersandar di bahunya.
"Maaf ya Mas. Aku udah gak percaya sama Mas Reka."
__ADS_1
Reka menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, aku tahu kamu capek. Mulai sekarang, kamu jangan pernah percaya dengan siapapun yang tidak kamu kenal. Aku cinta sama kamu. Aku gak mungkin berpaling dari kamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidup aku bersama kamu."
Nayla justru tertawa kecil. "Udah kayak tukang gombal."
"Aku serius." Reka mencubit hidung mancung Nayla.
"Iya Mas. Kemarin aku kayak gak sadar ngelakuin itu semua. Sampai aku punya pikiran menyakiti diri sendiri. Dari penjelasan Dokter Psikolog tadi baru aku tahu kalau itu yang dinamakan baby blues syndrome. Jadi aku harus lebih bisa mengontrol emosi aku."
"Iya, aku juga akan selalu menemani kamu. Apa kamu mau aku temani selama 24 jam?"
"Idih, bosan. Aku gak bisa gerak bebas."
Reka melepaskan rengkuhannya dan sedikit mengacak rambutnya. Begitulah wanita, kalau si suami sangat sibuk katanya gak ada waktu tapi sebaliknya ketika bisa menemani selama 24 jam justru merasa bosan.
"Sayang, kelihatannya Dika sudah nyenyak. Kamu tidurkan di box saja. Terus kita istirahat."
Nayla mengangguk lalu turun dari ranjang dan menidurkannya di dalam box nya. Dia masih saja belum puas menatap wajah putranya. Baru semalam dia tidak bertemu tapi rasanya sudah sangat kangen.
"Sayang, udah istirahat dulu." Reka meraih tubuh Nayla dan memeluknya dari belakang.
"Iya, Mas. Nanti biar Dika tidur diranjang aja ya Mas."
"Iya, gak papa."
"Tapi aku takut nindihin, soalnya kalau tidur aku gak bisa diam."
"Yah, untunglah kalau sudah sadar."
"Mas Reka bilang apa?"
Reka tertawa dan melepaskan pelukannya. Dia segera menghempaskan dirinya di atas ranjangnya.
"Ih, kayak Mas Reka diam aja kalau tidur." Nayla menyusul Reka ke atas ranjang.
Reka meraih tubuh Nayla ke dalam pelukannya. "Diem kok selama dua minggu ini dan masih kurang tiga minggu atau mungkin sebulan atau dua bulan lagi."
"Ih, ngomongin apa sih Mas."
__ADS_1
"Hal yang menyenangkan saat kita di kamar."
Nayla hanya tersenyum kecil sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reka.