
Reka terus memandangi wajah pulas Nayla yang tidur di sofa sambil berselimut jasnya itu. Dia tersenyum kecil mengingat kejadian menyenangkan barusan. Rasanya begitu indah dan tentu saja begitu nikmat tak terhingga.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Reka. Dia segera mengancing kemejanya lalu berdiri dan membuka pintu itu.
Baru saja pintu dibuka, Angga sudah bicara dengan nada kesal. "Tumben kamu kunci pintunya?"
"Ssttt, ada Nayla sedang tidur." kata Reka sambil menempelkan telunjuknya di depan bibirnya agar Angga memelankan suaranya.
Seketika Angga melihat penampilan Reka yang tidak serapi biasanya itu. Kemeja tidak dimasukkan ke celana dengan benar dan rambut yang acak-acakan. Membuat otaknya travelling kemana-mana.
"Jangan bilang kamu habis..."
Reka memotong pembicaraan Angga lalu mengajaknya masuk ke dalam ruangannya dengan langkah yang sangat pelan.
Sepertinya benar dugaan Angga. Dia hanya bisa menahan tawanya. Ternyata bosnya itu punya sisi liar juga, bisa terpikir melakukannya di kantor.
"Jangan ketawa aja. Aku barusan belum selesai kirim e-mail. Sebentar lagi kamu lanjutkan di ruangan kamu." suruh Reka.
"Kepotong main dulu sih di kantor jadi belum selesai." Angga justru menggoda bosnya itu dan sudah tidak bisa menahan tawanya meski dia tutup dengan tangan agar tidak terdengar keras.
Reka hanya tersenyum sambil menyandarkan dirinya.
"Yang di dalam ruangan ternyata sedang memadu cinta. Gak tahu kalau Bu Arin ngamuk-ngamuk di depan."
"Aku gak mau bekerja sama dengan orang yang gak bisa profesional gitu. Dipikir aku pria gampangan digoda kayak gitu." Reka kembali melihat berkas-berkasnya yang masih menumpuk di atas meja.
"Iya aku tahu, aku juga risih dekat-dekat Bu Arin. Calon penerus perusahaan tapi kayak gitu, bisa hancur perusahaannya."
Reka menganggukkan kepalanya. "Dia menawarkan diri karena dia pikir semua akan mudah dia dapatkan dengan tubuhnya. Tapi gak semua pria mau dengan wanita murahan seperti itu."
"Berarti kontrak Bu Arin batal. Terus kontrak dengan Nova?" tanya Angga.
Reka menghela napas panjang. "Ini kalau bukan karena Bapaknya yang baik, sudah aku lempar masalah kontrak itu. Kamu aja yang urusi soal ini. Aku gak mau lagi buat masalah." Kemudian Reka menandatangani beberapa dokumen itu. "Kamu keluar dulu, pintunya mau aku kunci lagi, nanti kalau ada yang cari aku, bilang aku lagi keluar."
Angga berdiri sambil tersenyum kecil. Ya, mungkin saja bosnya itu ingin melanjutkan ke ronde kedua.
Setelah Angga keluar dari ruangannya, Reka menutup pintu itu dan menguncinya. Dia kembali menghampiri Nayla. Melihat Nayla tidur nyenyak seperti itu, rasanya dia juga ingin tidur bersamanya. Dia naik ke atas sofa dan memeluk Nayla.
Seketika Nayla membuka matanya karena tempatnya terasa sempit. "Mas sempit."
__ADS_1
"Aku juga ngantuk mau tidur sama kamu."
"Ih, sempit nih." Akhirnya Nayla memiringkan tubuhnya dan membelakangi Reka.
Satu tangan Reka kini melingkar di perutnya, dan mengusap lembut perut Nayla.
Nayla merasakan kenyamanan itu sesaat, tapi rasa lapar itu justru semakin terasa.
"Mas, ini jam berapa? Aku lapar."
"Lapar? Kamu mau makan apa? Aku pesankan."
"Hmm," Nayla nampak berpikir karena menentukan makanan yang akan dia makan itu cukup sulit. "Mas Reka mau apa? Aku mau makanan yang Mas Reka mau."
"Kita makan di restoran depan kantor yuk? Terus pulang dan istirahat di rumah." Reka duduk dan membantu Nayla untuk bangun.
Nayla menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia masih malas untuk beranjak dari tidurnya karena tidurnya barusan terganggu oleh Reka.
Reka mengambil sisir yang ada di tas Nayla, lalu membantu menyisir rambut panjang Nayla. "Kusut sekali rambutnya." Reka terkekeh karena beberapa kali sisir itu tersangkut di rambut Nayla.
"Ini ulah Mas Reka, acak-acak rambut aku tadi."
"Sama. Lihat nih rambut aku juga berantakan." Reka beralih menyisir rambutnya. "Mana pernah rambut aku berantakan di kantor. Baru kali ini saja." setelah rambutnya rapi, Reka mengembalikan sisirnya ke tas Nayla. "Sering-sering ke sini ya." kata Reka sambil memakai jasnya.
"Iya," Reka merapikan bajunya dahulu lalu menggandengnya keluar dari ruangan.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua menatap kagum pada Nayla yang sekarang terlihat lebih cantik dan sangat serasi dengan Reka.
Mereka berdua kini sampai di lantai dasar tapi langkah mereka terhenti saat mendengar panggilan dari Echa.
"Nayla!" panggil Echa. "Eh, maaf Bu Nayla maksud saya."
"Bentar ya Mas, aku mau bicara sama Echa." Nayla melepas pegangan tangannya dari Reka dan menghampiri Echa. "Echa, ngapain panggil bu, aku kan tetap teman kamu." Nayla memeluk Echa sesaat. "Makasih ya, semua ini berkat kamu. Karena kamu yang nawari aku kerja di sini jadinya aku kenal sama Mas Reka."
Reka hanya tersenyum sambil menunggu mereka temu kangen.
"Iya sama-sama Nay. Aku juga udah diangkat jadi kepala cleaning service setelah Mbak Vita dipecat."
"Wah, enak dong. Siapa tahu nanti bisa naik jabatan lagi." canda Nayla.
"Ih, aku lulusan SMA dengan nilai acakadul mau ditaruh dimana. Dengar-dengar kamu hamil ya? Udah berapa bulan?" tanya Echa sambil mengusap perut Nayla sesaat.
__ADS_1
"Udah jalan tiga bulan."
"Kebetulan banget, aku tadi sama teman-teman buat rujak buah."
Seketika Nayla begitu antusias dengan mata berbinarnya. "Rujak buah? Mau."
"Ayo. Biasanya bumil suka yang asam-asam."
Tapi Nayla justru menarik suaminya untuk mengikutinya. "Ayo, Mas."
Reka akhirnya menuruti kemauan istrinya. Mereka berdua masuk ke dalam pantry yang membuat beberapa cleaning service berdiri.
"Gak papa lanjutkan saja." kata Reka.
"Silakan duduk Pak, kita mau kembali bekerja dulu."
Echa jadi merasa tidak enak. Karena sebenarnya dia hanya mengajak Nayla saja tapi sekarang justru atasannya juga ikut duduk di tempat itu.
Nayla mulai menyantap rujak buah itu. Terasa segar di mulutnya. "Mas mau gak?"
Merasa semakin sungkan, Echa memutuskan untuk keluar dari pantry dan membiarkan sepasang suami istri itu.
"Kamu aja yang makan, aku gak suka asam." melihat Nayla makan mangga muda saja sudah membuat air liurnya terbendung dan hampir menetes.
"Ya udah kalau gitu suapin." Nayla memberikan garpu pada Reka agar dia suapi.
Tentu, dengan senang hati Reka menyuapi istrinya yang semakin manja saat hamil. "Jangan banyak-banyak ya, katanya mau ke restoran."
"Ih, ini buah Mas hanya cemilan saja."
"Tapi asam, gak baik buat perut kamu."
"Protektif banget sih. Kata Dokter gak papa asal masih satu suku dengan buah."
Reka tersenyum mendengar jawaban Nayla yang memang terkadang suka ngeyel itu.
"Mas, udah yuk."
Begitulah bumil, makan suka-suka dia. Sedang lahap-lahapnya tiba-tiba sudah tidak mau makan lagi.
"Mas, kita makan di rumah aja ya. Aku lagi pengen makan masakannya ibu."
__ADS_1
"Oke. Apa kata bumil kalau soal makan, yang penting makannya lahap." Reka kembali menggandeng tangan Nayla dan berjalan keluar dari pantry.
.