(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Baby Blues?


__ADS_3

Malam itu tepat jam 8, Reka sampai di rumahnya. Dia tersenyum saat masuk ke dalam kamarnya dan melihat Nayla yang sedang memangku putranya. Dia berjalan mendekat dan menyentuh pipi Andika.


"Dika belum tidur, nungguin Papa pulang ya."


Tapi tiba-tiba Nayla menepis tangan Reka. "Mandi dulu, Mas Reka kotor."


Reka hanya mengernyitkan dahinya. Biasanya dia juga seperti itu tapi Nayla membiarkannya. "Iya, aku mandi dulu. Sebentar lagi aku gendong ya." Reka melepas jasnya dan menggantungnya di dekat pintu.


Setelah Reka masuk ke dalam kamar mandi, Nayla berdiri dan berjalan untuk mengecek jas Reka. Dia dekatkan hidungnya ke jas itu. "Aroma parfum wanita. Jadi benar Mas Reka..."


Nayla menyusut ujung matanya yang kembali mengembun. Dia kini duduk di tepi ranjang. Sampai Reka keluar dari kamar mandi, Nayla hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya.


"Dika, nungguin Papa gendong dulu ya baru mau tidur." Reka meraih Andika dan menggendongnya, dia menimangnya pelan sambil melihat Nayla yang kini tidur sambil memiringkan dirinya memunggungi Reka.


"Sayang, kamu gak enak badan?" tanya Reka sambil menyentuh kening Nayla.


Tapi Nayla hanya menggelengkan kepalanya. Lalu dia memejamkan matanya tak peduli lagi dengan Reka.


Reka hanya menghela napas panjang. Mungkin saja Nayla lelah. Dia masih menimang Andika sampai terlelap. Beberapa kali dia melirik Nayla yang masih tidak ada pergerakan sama sekali.


Setelah memastikan tidur Andika nyenyak, Reka menidurkannya di dalam box nya. Kemudian dia duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut Nayla. Tapi matanya kini tertuju pada botol minuman yang telah kosong di atas nakas. Biasanya Nayla selalu ingat untuk mengisinya karena setiap malam Nayla pasti kehausan.


Reka berdiri dan mengambil botol itu. Membawanya keluar untuk dia isi di dapur.


"Loh, Nayla sudah tidur? Tadi dia belum makan malam katanya menunggu kamu." kata Bu Lela saat melihat Reka hanya sendiri keluar dari kamar.


"Belum makan? Tapi Nayla sudah tidur. Kalau begitu biar aku suruh makan dulu saja." Setelah mengisi botol minum itu, Reka kembali ke kamarnya. Dia letakkan kembali botol yang telah berisi itu di atas nakas. Kemudian dia goyang pelan bahu Nayla agar dia terbangun.


"Sayang kamu belum makan malam dulu. Kata Ibu kamu belum makan. Ayo aku temani."


Nayla hanya menggelengkan kepalanya bahkan dia masih menutup rapat kedua matanya.


"Kamu gak lapar? Aku bawakan ke sini ya."


"Gak usah, Mas Reka tidur saja. Pasti capek kan." kata Nayla tanpa melihat Reka sama sekali.

__ADS_1


Reka menghela napas panjang. Apa karena akhir-akhir ini dia sibuk hingga membuat Nayla marah padanya.


"Nay, kalau aku ada salah sama kamu, kamu bilang sama aku. Jangan marah seperti ini."


Nayla masih saja tak menjawabnya.


Reka kembali menghela napas panjang lalu dia naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. Dia tatap Nayla yang sedang memejamkan mata itu, meski dia tahu Nayla sedang tidak tidur.


Merasa diperhatikan oleh Reka, Nayla membalikkan badannya dan memunggungi Reka.


"Nay, kamu kenapa? Ayo, bilang sama aku, apa yang buat kamu kesal. Jangan terlalu stress, gak baik buat diri kamu dan Dika juga." Reka menyentuh punggung Nayla yang bergetar karena isak tangisnya. "Nay, kamu nangis?" Reka meraih tubuh Nayla dan akan memeluknya tapi Nayla menghindar.


"Jangan sentuh aku!" Nayla semakin menangis sesenggukan.


"Kenapa?" Reka masih berusaha meraih tubuh Nayla. "Kamu bilang sama aku, apa kesalahan aku agar aku bisa memperbaikinya."


Nayla tak menjawab, hanya isak tangis yang terdengar semakin keras.


"Kamu mau aku temani? Oke, aku besok gak akan ke kantor."


Tangis Nayla semakin menjadi.


Berulang kali Nayla berusaha melepas tangan Reka, dia terus memberontak seperti hilang kendali.


"Nayla, sayang, dengarkan aku. Kamu harus bisa kontrol emosi kamu." tangan Reka terus mendekap Nayla yang semakin berontak, walau dia harus mendapat cakaran dan cubitan berulang dari Nayla. Dia tidak tahu apa penyebab emosinya berantakan seperti ini, yang jelas dia takut Nayla terkena baby blues.


Tiba-tiba saja Andika menangis dengan kencang, seperti ikut merasakan yang orang tuanya rasakan.


Reka melepaskan tubuh Nayla, saat Nayla berdiri dan segera menggendong Andika.


Nayla kini duduk lalu mengasihi Andika. Mungkin saja dia menangis karena haus.


Bayi yang berumur dua minggu itu biasanya langsung mau menghisap tapi sekarang justru semakin menangis dengan kencang.


"Dika, mau apa?" Nayla bingung karena bayinya masih saja menangis dalam gendongannya dan tidak mau minum.

__ADS_1


"Sayang, sini biar aku gendong. Kamu makan dulu aja, biar ASI kamu penuh."


Nayla justru menatap tajam Reka. "Iya Mas, aku emang ibu gak becus. Baru punya anak satu aja, aku gak bisa urus. Bagaimana aku bisa mengurus diri sendiri dan suami." Dia kembali menangis sesenggukan. Hanya satu kalimat singkat dari Reka saja seolah begitu menyakiti Nayla.


"Nay, aku gak pernah punya pikiran kayak gitu. Ini anak kita, jadi kita yang rawat sama-sama." Reka harus bisa mengambil Andika dari gendongan Nayla, dia takut jika Nayla lepas kendali dan justru melukai bayinya. "Sayang, mana biar aku gendong." Dengan cepat Reka meraih Andika yang masih saja menangis itu.


"Aku emang gak bisa jadi Mama. Cari aja Mama yang baik untuk Dika dan yang bisa melayani Mas Reka."


Reka semakin bingung dengan keadaan ini. Andika yang masih terus menangis di gendongannya, sedangkan Nayla semakin histeris tanpa Reka tahu apa penyebabnya.


"Nay, kamu kenapa? Tenangkan diri kamu, kita bicara baik-baik."


Nayla akhirnya berdiri, dia menunjukkan ponselnya pada Reka.


"Ini apa Mas? Mas Reka bilang pulang malam karena sibuk di kantor, tapi nyatanya Mas Reka tega selingkuh dari aku."


Reka sangat terkejut melihat foto dan beberapa pesan dari nomor tidak dikenal.


"Nay, aku gak mungkin selingkuh dari kamu." Entah siapa yang ingin merusak rumah tangganya dengan Nayla, yang jelas semua foto dirinya dan seorang wanita yang sedang bermesraan sangat intim itu hanyalah sebuah editan. Editan dari tangan handal yang terlihat seperti nyata yang dibumbui dengan kalimat-kalimat untuk semakin memanaskan hati Nayla.


"Lalu ini apa Mas?"


"Itu foto editan."


"Apa aku harus percaya begitu saja dengan Mas Reka?"


Reka tak tahu harus bagaimana menenangkan Nayla yang masih terus menangis dan terus menuduhnya yang bukan-bukan. Sedangkan Andika juga belum terdiam dari tangisnya.


"Nay, tolong tenangkan diri kamu! Kita bicara baik-baik!" suara keras Reka seketika membuat Nayla terdiam. Bukan maksud Reka membentaknya. Tapi dia harus segera mengakhiri drama itu.


Nayla membalikkan badannya dan berdiam diri di dekat jendela.


Sedangkan Reka masih berusaha menenangkan Andika. "Sayang, sayang, sudah ya nangisnya."


Sebenarnya Reka takut dengan tanda-tanda yang ditunjukkan Nayla ini. Bisa saja teror pesan itu memacu baby blues Nayla.

__ADS_1


"Nayla!"


Reka sangat terkejut saat tiba-tiba tubuh Nayla limbung dan terjatuh dilantai.


__ADS_2