
Nayla membantu Reka memakai kemejanya setelah anak buahnya mengantar baju gantinya ke klinik. "Mas sih tangannya banyak gerak, sakit kan jadinya."
"Gak papa. Walau singkat yang penting kamu enak."
Nayla justru mencubit pinggang Reka. "Mesum terus sih. Keadaan lagi gawat nih." setelah merapikan kemeja Reka, Nayla memakai jas Reka yang kebesaran di tubuhnya.
"Masalah udah selesai. Tinggal konferensi pers saja." Reka menarik jasnya yang dipakai Nayla hingga menutupi bagian depannya.
"Semoga gak ada masalah lagi ya Mas."
"Iya, setelah ini pasti gak akan ada yang berani berurusan dengan cucunya Permana."
"Keluarga Permana itu darimana sih Mas?" tanya Nayla yang cukup bingung dengan silsilah keluarga Reka.
Reka berdiri dan meraih tas Nayla yang lumayan berat itu. "Ceritanya panjang. Kalau ada waktu luang nanti aku ceritakan."
"Sini Mas, tasnya biar aku bawa."
Reka menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Kamu lingkarkan tangan kamu di pinggang aku saja. Sepertinya diluar banyak wartawan."
Nayla hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua keluar dari klinik dan langsung disambut oleh serbuan wartawan.
"Pak, bagaimana luka Bapak? Benar Bapak kena tusuk di punggung?"
"Bagaimana kelanjutan kasus korupsi ini? Apa mereka juga mempunyai kasus besar lain?"
Banyak pertanyaan yang diajukan oleh wartawan yang tak satupun Reka jawab.
"Besok saya akan mengadakan konferensi pers yang akan dihadiri langsung oleh pemilik dan beberapa orang yang berperan penting dalam kampus ini."
Anak buah Reka memberi jalan pada mereka berdua menuju tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Salah satu anak buah Reka sudah berada di kursi pengemudi dan beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju.
Reka menyandarkan kepalanya di bahu Nayla. "Aku sandaran kamu ya. Ternyata lumayan sakit juga lukanya kalau dibuat bersandar."
"Iya Mas. Gak papa."
__ADS_1
Reka meraih tangan Nayla dan menggenggamnya. Tidak ada obrolan selama perjalanan. Hanya usapan dari jemari Reka yang ada di tangan Nayla yang menghangatkan suasana sepanjang perjalanan pulang.
Setelah sampai di rumah, kedatangan mereka berdua langsung disambut oleh kepanikan Bu Lela, dan orang tua Reka.
"Reka, di berita katanya kamu kena tusuk?"
"Iya Ma, ini kena di punggung. Gak parah kok. Udah diobati."
"Mama khawatir banget. Kamu itu kayak Papa Kevin sih suka banget menerjang musuh."
Reka tersenyum lalu mencium Andika yang berada di gendongan Mama Alea. "Aku gak papa Ma. Gak usah terlalu khawatir ya."
"Dika sayang. Ih, Mama kangen." Nayla meraih tubuh Andika dan menggendongnya.
"Jadi yang diincar tadi sebenarnya Nayla?"
"Iya, untung aku tepat waktu." Reka mencium puncak kepala Nayla. Berulang kali dia bersyukur telah berhasil melindungi Nayla.
"Astaga, gak kebayang kalau sampai Nayla yang kena." kata Bunda Luna yang memang juga berada di rumah Reka.
"Iya, sejak awal kena masalah, Nayla yang menjadi sasarannya." Reka merengakuh bahu Nayla. "Sayang, kamu kamu kasih ASI dulu Dika sambil istirahat."
"Iya, Bunda." kemudian Reka dan Nayla berjalan masuk ke dalam kamar.
"Bentar ya sayang, Mama mau mandi dulu. Kilat khusus soalnya kotor. Bekas Papa juga." Nayla tertawa kecil karena sepertinya Andika memang masih kenyang. Dia tidurkan putranya di tengah ranjang.
"Iya, sayang. Kamu mandi saja biar Dika aku jaga." Reka duduk di dekat Andika yang sedang menggerakkan kakinya bebas menendang angin. "Dika, ASI Mama enak ya. Pantas Dika mau terus." Reka justru menggoda putranya itu.
Nayla hanya memutar bola matanya mendengar percakapan unfaedah itu.
"Nanti Papa minta lagi ya. Oke."
"Ih, Mas Reka nih." kata Nayla sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Reka hanya tertawa sambil menggoda Andika lagi.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya, untuk sementara kampus diliburkan total selama satu hari. Setelah masalah itu clear baru kegiatan kampus dilanjutkan kembali.
"Mas, hati-hati ya." entah sudah ke berapa kalinya Nayla mengatakan itu pada Reka.
"Iya sayang. Ini mau menghadiri konferensi pers bukan mau berangkat perang."
Nayla tertawa kecil karena setelah rentetan semua kejadian itu Nayla menjadi mudah parno. Takut jika terjadi sesuatu yang tak terduga lagi.
"Aku berangkat dulu ya." Reka mencium kening Nayla lalu beralih mencium pipi Andika. "Sayang, lihat Papa di tv ya."
Nayla yang masih menggendong Andika itu mengantar Reka sampai depan pintu.
Mobil itu mulai berjalan seiring lambaian tangan Nayla. Setelah itu Nayla masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah.
Dia mulai menyalakan televisi di chanel yang menayangkan konferensi pers itu secara langsung. Tentu saja sambil menunggu, Nayla ditemani dengan setoples cemilan.
Bu Lela yang penasaran dengan berita itu ikut duduk di dekat Nayla.
Setelah 30 menit menunggu, akhirnya acara itu dimulai. Sambil memangku Andika, Nayla melihat tayangan life itu.
Dada Nayla ikut berdebar saat melihat suaminya duduk di deretan orang-orang berjas itu. Terkadang, dia masih tidak menyangka memiliki suami dari kalangan atas yang baik dan sangat pengertian.
Mendengar Reka menjelaskan semua masalah dengan tegas, membuat Nayla semakin kagum dengan suaminya. Bahkan sedari tadi matanya sudah berkaca-kaca.
"Selamat kepada Pak Reka yang telah resmi menjadi pemilik kampus ini."
Nayla tersenyum dalam tangisnya. Jadi Reka serius dengan perkataannya kemarin.
Seketika Nayla menciumi putranya yang sangat anteng di pangkuannya.
"Sayang, nanti kalau Dika sudah besar pasti hebat seperti Papa."
💞💞💞
__ADS_1
.
Tinggal beberapa bab lagi akan tamat. Cepat ya... 😁