(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Kilas Balik


__ADS_3

Pagi itu Nayla masih enggan membuka matanya. Dia masih saja bergelung dengan selimut. Setelah dihajar Reka habis-habisan semalam, rasanya badannya remuk redam.


Tapi aroma harum yang menguar dengan ocehan bayi membuat Nayla membuka matanya.


"Pagi Mama."


Nayla tersenyum menatap kedua lelakinya sedang sama-sama bertelanjang dada.


"Udah mandi semua?" Nayla menguap panjang sambil meregangkan otot-ototnya. Untunglah hari itu hari minggu jadi masih punya waktu lama untuk bermalas-malasan.


"Iya Mama. Dika senang ya mandi sama Papa." Bayi dua bulan itu sudah mulai pintar tersenyum sambil mengoceh kecil.


Perlahan Nayla bangun dan duduk di dekat putranya yang sedang dirawat oleh Papanya. "Udah minum susu belum?"


"Sudah juga, Ma."


"Ini ulah Papanya Dika nih makanya Mama jadi bangun kesiangan."


Reka tersenyum sambil memakaikan baju di tubuh Andika. "Mama semalam padahal juga bilang gini loh, yang cepat Mas, yang cepat."


Pipi Nayla kembali bersemu merah, dia cubit pinggang Reka yang tak tertutup apapun itu. "Ih, spontanitas."


"Gak papa. Nanti lagi."


Nayla kembali menghempaskan dirinya di tempat tidur. "Capek Mas. Semalam tiga kali loh Mas Reka. Paha aku sakit nih."


"Ya udah, nanti aku panggilkan tukang pijat. Massage di rumah ya." Reka menciumi pipi bulat Andika setelah selesai memakaikan baju. "Udah ganteng. Tambah pintar ya sayang. Udah jarang nangis, udah jarang ajak bergadang, tambah chubby juga. Gemesin." Reka mencubit pipi yang terlihat lesung pipinya itu saat tersenyum.


Pandangan Reka kini tertuju pada Nayla yang masih bermalasan. "Mamanya Dika mau dimandiin sama Papa juga?"


Nayla hanya memutar bola matanya. "Bentar Mas, mager banget. Pegal semua nih."


"Iya, iya," Reka beralih mencium kedua pipi Nayla. "Aku mau ajak Dika berjemur diluar. Kalau kamu mau lanjut tidur gak papa." Kemudian Reka mencium kening Nayla lalu dia memakai kaosnya. Setelah itu dia meraih Andika dan menggendongnya sambil berceloteh dan berjalan keluar dari kamar.


Nayla tersenyum melihat interaksi Reka dan putranya yang terasa sangat hangat.


Kemudian Nayla beranjak dari tidurnya lalu menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Setelah selesai, dia keringkan rambut basahnya dengan handuk sambil membuka tirai kamarnya. Benar-benar pemandangan yang indah di pagi hari itu. Jendelanya yang menghadap ke taman rumah, membuat Nayla bisa melihat dengan jelas dua pria kesayangannya yang sedang menikmati sinar mentari pagi.

__ADS_1


Kebahagiaan semakin hari semakin bertambah di keluarga kecil mereka. "Semoga, keluarga kecil kita selalu bahagia..."


...***...


Hari-hari pun berlalu begitu cepat, Nayla sedang disibukkan dengan skripsinya ditambah Andika sedang aktif-aktifnya merangkak dan semakin tidak mau ketinggalan Nayla.


Malam itu Nayla sudah menguap beberapa kali di depan layar laptopnya.


"Kamu sudah bab berapa?" tanya Reka sambil memijat bahu Nayla dan duduk di sampingnya.


"Baru bab tiga Mas."


"Sini aku bantu. Kamu tidur saja kalau capek. Aku tahu Dika sehari-hati nempel terus sama kamu."


"Iya Mas, bentar lagi."


"Sini, biar aku saja jadi ghost writer."


Nayla kembali menguap lagi. "Aku gak punya uang buat bayar ghost writer." canda Nayla berharap rasa kantuknya segera hilang.


"Tenang saja, bayarannya bukan uang tapi sesuatu yang menyenangkan."


"Terus, rencana mau ngapain? Mau ambil S2 langsung?" Reka menggeser laptop Nayla. Dia baca sampai mana ketikan Nayla lalu dia gantikan Nayla mengetik.


Menjawab pertanyaan Reka Nayla hanya menggelengkan kepalanya. "S1 aja Mas. Memang Mas Reka mau pendidikan aku tinggi?"


"Nggak. Aku terserah kamu sayang. Setelah lulus nanti kamu mau buka usaha, tinggal bilang saja sama aku. Atau mau jadi ibu rumah tangga ya tinggal buat aja adiknya Dika." Reka tertawa di ujung kalimatnya. Dia memang membebaskan Nayla mau apa saja.


"Iya, tapi nanti kalau Dika udah agak besar. Kalau adik sih pasti." Nayla tertawa kecil. Karena dia memang ingin punya anak lebih dari satu.


"Iya, pasti buatnya."


Nayla menatap jemari Reka yang dengan lincah menekan tombol keyboard. "Mas Reka hapal banget materi skripsi aku."


Reka hanya tersenyum kecil.


"Oiya, Mas Reka dulukan kuliah di Amerika, terus lanjut S2 nya di sini ya karena sambil megang perusahaan."


"Itu tahu." Bahkan sambil mengobrol pun Reka masih bisa fokus dengan ketikannya.

__ADS_1


Nayla semakin menyandarkan kepalanya di bahu Reka. "Semoga Dika nanti hebat kayak Papanya."


"Iya, pasti."


Mereka terdiam beberapa saat.


"Aku punya satu cerita yang belum pernah aku ceritakan sama kamu."


"Hmm, apa?"


"Tentang masa lalu aku." Reka menghentikan gerak tangannya sesaat. "Mungkin kamu mengira Mama dan Ayah bercerai setelah punya aku, tapi tidak. Aku ini anak diluar nikah."


Seketika Nayla menegakkan kepalanya dan menatap Reka.


"Mama dan Ayah waktu itu pacaran dan melakukan hubungan itu diluar batas saat baru lulus SMA, setelah itu Ayah pergi tanpa tahu ada aku. Bahkan aku tidak diharapkan ada oleh Mama waktu itu. Tapi waktu aku lahir, Mama sayang sama aku dan ada Papa Kevin juga yang selalu membantu Mama sebagai Ibu tunggal."


"Jadi Mama dan Papa Kevin juga belum menikah waktu itu?"


Reka menggelengkan kepalanya. "Aku bertemu Ayah saat aku masih TK. Sebenarnya aku ingin Mama dan Ayah bersatu, tapi Papa Kevin begitu mencintai Mama. Hubungan Mama dan Ayah juga tidak mungkin bisa kembali seperti dulu. Tapi waktu itu aku bahagia punya dua pasang orang tua. Hingga semakin bertambahnya umur, aku semakin mengerti ketika mereka diluar sana menghina aku ini anak diluar nikah tanpa adanya status yang jelas, punya dua Papa, punya dua Mama. Puncaknya saat aku sudah remaja aku sering dibully, tapi aku punya tekad bahwa aku harus bisa sukses biar mereka tidak merendahkanku lagi. Hingga jadilah Reka yang sekarang, yang punya ambisi besar dalam segala hal."


Tanpa sadar Nayla justru meneteskan air matanya. Dia kira hidup susah hanya dia saja yang mengalaminya, tapi sekelas Reka ternyata juga harus berjuang keras untuk sampai dititik ini.


"Sayang kok malah nangis." Reka mengusap air mata yang membasahi pipi Nayla.


"Terharu Mas."


"Hidup itu perjuangan sayang. Kita juga tidak tahu bagaimana Andika dewasa nanti. Ya, semoga saja kita bisa mendidiknya dengan benar."


Nayla menganggukkan kepalanya lalu memeluk Reka dengan erat. "Makasih sudah hadir dalam hidup aku."


"Sama-sama sayang. Kamu juga sudah merubah hidup aku lebih berwarna. Kamu sudah menghilangkan rasa trauma aku di masa lalu dan kamu sudah berhasil membuat aku merasakan cinta lagi." Reka mencium dalam puncak kepala Nayla. "Aku matikan ya laptopnya. Dilanjut besok saja."


Nayla menganggukkan kepalanya sambil meregangkan pelukannya.


"Sekarang kita lanjut adegan suami istri dulu." Reka tersenyum kecil sambil mematikan layar laptop Nayla.


"Ih, Mas Reka." pekik Nayla saat Reka mengangkat tubuhnya lalu menghempaskannya ke atas ranjang.


"I love you..."

__ADS_1


"I love you too..."


__ADS_2