(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Teror Pesan


__ADS_3

Akhir-akhir itu pekerjaan Reka semakin menumpuk. Dia sering pulang malam. Seperti hari itu, sebenarnya dia begitu ingin bermain-main dengan putra pertamanya yang sudah berusia dua minggu itu tapi jam 8 dia justru baru tiba di rumah.


"Hai," Reka meraih tubuh Andika yang masih belum tertidur itu. "Papa kangen, akhir-akhir ini Papa pulang malam terus." Pipi yang chubby itu kini dia ciumi sebagai pelepas rasa rindu karena seharian disibukkan dengan pekerjaan.


Nayla yang akhir-akhir ini merasa lelah karena setiap malam masih sering bergadang, kini dia merebahkan dirinya sambil menatap Reka yang masih menggendong Andika. "Mas Reka kalau capek istirahat saja."


"Iya, sebentar lagi biar Dika tidur dulu. Kamu tidur aja." Reka menimang pelan putranya agar cepat tertidur karena sepertinya Dika sudah kenyang tapi belum juga mau tidur.


"Mas, rasanya aku capek sekali." keluh Nayla.


Iya, Reka bisa menyadari jika Nayla merasa capek. Akhir-akhir ini juga Nayla jarang membangunkannya. Dia bergadang sendiri untuk mengasihi putranya. Banyaknya pekerjaan di kantor membuatnya tertidur lelap dan tidak mendengar tangisan Andika.


"Kamu sudah mulai pompa ASI kamu belum? Biar nanti malam aku yang jagain Dika. Kamu istirahat aja. Mata kamu udah ada lingkar hitamnya tuh."


Nayla menggelengkan kepalanya. "Belum, aku masih gak bisa bagi waktu. Udah gitu Dika kalau siang dikit-dikit minta."


"Tapi siang Mbak Rini bantuin kamu kan? Aku sudah suruh untuk bantu kamu." kata Reka lagi. Kini putranya sudah terlelap dalam gendongannya.


"Udah, dibantuin sama ibu juga."


Reka tahu, menjadi ibu baru memang tidak mudah. Dia kini menurunkan putranya di box lalu dia berjalan dan naik ke atas ranjang. Dia peluk istrinya yang sedang membutuhkan dukungan darinya.


"Sekarang kamu tidur ya." Reka mendekapnya dan mengusap rambut Nayla agar dia cepat tertidur.


"Seperti ini ya rasanya jadi ibu baru." Nayla semakin menenggelamkan dirinya di dada Reka.


"Iya, kamu keluarkan saja keluh kesah kamu sama aku. Maaf ya, aku pulangnya malam terus. Seminggu lagi pekerjaanku mulai longgar, sebisa mungkin aku akan pulang cepat. Kalau malam bangunin aku aja gak papa biar aku bisa menemani kamu."


Nayla hanya mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian dia sudah terbang ke alam mimpi.


Reka mencium dalam puncak kepala Nayla. Di umur Nayla yang memang masih 21 tahun, Reka memakluminya jika Nayla masih belum terbiasa dengan kondisi ini. Dia hanya bisa memberinya dukungan agar tidak terlalu stress.


"Aku sayang kamu."


Beberapa saat kemudian Reka juga mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


...***...


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." pagi itu, Reka terburu-buru untuk ke kantor. Sebelum berangkat dia mencium kedua pipi Nayla, kening, dan tak lupa bibirnya.


"Papa udah berangkat kerja, Mama masih belum mandi." kata Nayla yang memang masih mengurus Andika terlebih dahulu.


Reka hanya tersenyum sambil menciumi pipi Andika yang sudah wangi. "Gak papa. Si kecil udah cakep, udah wangi."


"Mas hati-hati ya. Kalau bisa nanti pulang cepat."


"Iya, nanti aku usahakan. Jangan lupa istirahat juga. Aku panggil Mbak Rini ya biar jagain Dika, kamu mandi dulu."


"Iya Mas."


Tidak seperti dulu, Nayla sekarang jarang mengantar Reka sampai depan pintu dan sudah jarang juga menyiapkan keperluan Reka. "Baru punya anak satu kenapa udah seribet ini ya. Padahal juga sering dibantu sama Ibu dan pembantu juga. Apa aku yang gak becus jadi ibu." gumam Nayla sendiri karena dia merasa tidak bisa menbagi waktunya.


Beberapa saat kemudian Bu Lela masuk ke dalam kamar Nayla. "Sini, biar Dika sama Ibu. Kamu mandi dulu terus sarapan. Dika biar Ibu ajak berjemur dulu."


"Iya Bu. Mas Reka tadi udah sarapan kan?"


Hati Nayla seketika berkabut. Andai saja dia membantu Reka dan menyiapkan kebutuhanya di pagi hari, suaminya pasti akan sarapan dengan benar dan tidak terburu-buru.


Nayla berjalan ke kamar mandi dan membasuh dirinya. Tiba-tiba saja dia ingin menangis. Entah apa yang membuat hatinya sesensitif itu.


Cukup lama dia di kamar mandi. Dia keluar, lalu berpakaian. Setelah menyisir rambutnya asal, dia mengambil ponselnya.


Nayla mengernyitkan dahinya saat ada satu chat dari nomor yang tidak dikenal.


Kamu ingin tahu, apa yang dilakukan suami kamu setiap pulang malam?


Awalnya Nayla tak peduli. Mungkin saja nomor itu hanya orang iseng yang sengaja mengganggunya. Dia memutuskan untuk keluar dari kamar lalu sarapan.


Nayla berusaha menepis pikiran buruknya tapi tetap tidak bisa.


Sebenarnya apa yang dilakukan Mas Reka?

__ADS_1


Ingin sekali dia berperasangka baik tapi nomor itu kembali mengirim pesan. Setelah menidurkan Andika, Nayla kembali menatap ponselnya.


Suami kamu tidak mungkin betah di rumah, saat kamu sudah mempunyai seorang anak, suami kamu pasti mencari wanita lain yang bisa melayaninya.


Tangan Nayla sampai gemetar membaca pesan itu. Apa ini hanya orang iseng saja?


^^^Aku gak percaya! Kamu siapa?^^^


Nanti aku akan kirim buktinya. Baru kamu akan percaya.


Sejak membaca pesan itu, hati Nayla menjadi tidak tenang. Benarkah Reka seperti itu?


Nayla berkaca untuk melihat pantulan dirinya dicermin. Badannya memang terlihat lebih gemuk setelah melahirkan. Wajahnya kusam dengan lingkar hitam di sekitar matanya. Mengapa dia tidak secantik aktris setelah melahirkan yang langsung bisa buat konten dengan hebohnya. Padahal pembantu ada dan Ibu juga ikut membantunya merawat buah hatinya tapi masih saja seolah tenaganya banyak terkuras karena setiap malam bergadang.


Nayla menghela napas panjang. Perasaannya benar-benar campur aduk tak karuan.


Hingga sore hari, Nayla masih saja badmood. Ditambah lagi suaminya juga belum pulang.


Sayang, aku hari ini pulang malam lagi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Love you.


Meski Reka selalu mengirim pesan ketika dia pulang terlambat tapi kali ini rasanya beda.


"Dika sayang." Nayla meraih Andika dan menggendongnya. "Saatnya minum ASI. Pasti bentar lagi tidur, nanti bangun lagi pas Papa mau pulang ya." Nayla menciumi pipi chubby yang lembut itu. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan menggoda Andika.


Melihat wajah gemas Andika saat me nyu su, hati Nayla menjadi tenang. Dia usap rambut hitam yang lumayan tebal itu hingga membuat putranya tertidur dalam buaiannya.


Setelah benar-benar nyenyak, Nayla menidurkan putranya di dalam box. Dia kembali mengambil ponselnya karena berbunyi beberapa kali.


Mata Nayla membulat saat mendapat pesan itu lagi. Hatinya terasa sangat sakit hingga membuat air matanya tidak bisa terbendung lagi.


"Mas Reka." Nayla melempar ponselnya ke atas ranjang.


💞💞💞


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2