(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
100% Suami Idaman


__ADS_3

"Sayang, kamu jadi masuk kuliah mulai besok?" tanya Reka. Karena setelah 40 hari melahirkan Nayla memang ingin cepat-cepat untuk masuk kuliah.


"Iya Mas, aku mau cepat-cepat skripsi biar cepat lulus." jawab Nayla.


Bukannya senang tapi wajah Reka justru berubah menjadi sangat serius. Hal itu karena identitas Dosen yang bermasalah belum terungkap sampai sekarang karena dia salah satu orang yang mengabdikan ilmunya, dia bisa dengan rapi menyembunyikan identitas aslinya dan berkedok menjadi orang yang sangat baik.


"Mas, kok serius amat sih wajahnya?" Nayla yang sedari tadi menatap laptopnya kini sedikit memutar tubuhnya melihat suaminya yang sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu pakai bodyguard ya. Soalnya ada satu orang yang belum tertangkap. Aku takut, dia akan melukai kamu."


"Mas, gak mungkin dia melakukan tindak kriminal di kampus."


Reka merengkuh bahu Nayla. "Ya, bisa aja itu terjadi. Pokoknya aku akan tetap suruh orang buat jaga kamu."


"Ya udah, terserah Mas Reka. Mas Reka juga hati-hati ya."


Reka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti mereka, tapi karena mereka sudah mengganggu ketenangan hidupnya, mereka harus tertangkap semua sampai ke akarnya.


"Sayang, udah malam. Tidur dulu." suruh Reka.


Nayla menganggukkan kepalanya lalu mematikan laptopnya. Dia berdiri dan melihat Andika yang masih tertidur dengan nyenyak di dalam box nya. "Met malam ya sayang. Kalau haus bangunin Mama ya."


"Iya Mama, nanti Dika nangis kalau haus." yang menjawab justru Reka sambil tertawa kecil.


Nayla mencubit pipi Reka yang berdiri di sampingnya itu, kemudian dia menghempaskan dirinya di atas ranjang. Nayla kini sudah mulai terbiasa bergadang dan merawat Andika. Bahkan dia juga sudah mulai bisa membagi waktu dan menyetok ASI perah. Tentu saja dengan bantuan orang-orang di sekitarnya.


"Aku ini manja ya. Padahal diluar sana banyak ibu yang bisa merawat anaknya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sedangkan aku dikit-dikit ibu, soal masak, cuci baju, dan bersih-bersih rumah aja ada pembantu." kata Nayla tiba-tiba.


Reka tersenyum kecil sambil merebahkan dirinya di samping Nayla. "Itu mereka, ini kan Nayla. Setiap orang punya tingkat kemampuan sendiri-sendiri. Tidak usah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, yang terpenting kita sudah memberikan yang terbaik pada Dika."


Nayla menganggukkan kepalanya. Lalu dia memeluk Reka dan menghirup dalam aroma maskulin yang sangat dia sukai.


"Sayang, kapan ke Dokter?" tanya Reka.


Seketika Nayla mendongak. "Jadwal imunisasi Dika masih dua minggu lagi."

__ADS_1


"Bukan itu, kita konsul ke Dokter untuk program keluarga berencana." Reka tertawa kecil, karena sepertinya dia tidak sanggup menahannya terlalu lama.


Seketika pipi Nayla memerah. Dia malu-malu mau. "Gak tahu Mas."


"Kok gak tahu. Kamu sudah siap apa belum?"


Nayla justru memainkan telunjuknya di dada bidang Reka. "Sakit gak ya bekas jahitannya?"


Reka semakin tertawa kecil. "Ya sudah tunggu sebulan lagi saja." Dia tidak ingin memaksa Nayla karena dia tahu sendiri bagaimana proses persalinan Nayla yang sangat dramatis.


"Dua minggu lagi saja sekalian imunisasi Dika."


Reka semakin mengeratkan pelukannya. "Papanya Dika jadi gak sabar."


"Ih, udah berumur tambah mesum." mereka berdua tersenyum bersama. Lalu wajah itu kembali mendekat dan saling memagut cinta.


"I love you..."


"I love you too..."


...***...


Tak berlama-lama di kamar mandi Nayla keluar dengan memakai bathrobenya.


Dia melihat ke dalam box Andika. Ternyata putra kecilnya sudah bangun tanpa menangis.


"Sayangnya Mama udah bangun..." Nayla meraih tubuh Andika dan menggendongnya.


"Belum mau bangun Ma, masih ngantuk." si bayi besar justru menjawab kalimat Nayla.


"Memang Mas Reka ke kantor jam berapa? Tidur dulu aja gak papa." tanya Nayla. Dia duduk di atas ranjang dan mulai me nyu sui Andika.


"Bareng sama kamu." Reka meregangkan ototnya sesaat lalu duduk di sebelah Nayla. "Harum banget sih." Reka menyandarkan kepalanya di bahu Nayla dengan satu tangannya yang memainkan rambut halus putranya.


"Mas berat, jangan nyandar gini."

__ADS_1


"Ada magnetnya jadi nempel terus gini."


Akhirnya Nayla membiarkan suaminya bersandar. Dia kini menatap Andika yang sedang menghisap dengan rakus.


"Dika, enak banget sih. Pagi-pagi udah minum susu alami. Nempel-nempel di dada Mama. Papa nih cuma bisa lihat yang segar-segar, sambil menghirup aroma yang menggairahkan. Jadi pengen cepat-cepat buka." Bibir Reka mengendus dalam leher putih Nayla.


"Mas, geli." Nayla berusaha menghindar saat hisapan itu semakin terasa hingga ke sekujur tubuhnya.


Reka menghela napas panjang sambil menjauhkan dirinya. "Kamu lihat ya nanti, kalau sudah waktunya aku pastikan kamu gak akan tidur semalaman." Reka beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Ih, Papa nakal ya." Setelah kenyang, Andika melepas hisapannya. "Sebentar lagi mandi ya." Nayla menidurkan Andika di atas ranjang. Dia biarkan kaki dan tangannya aktif bergerak.


Kemudian Nayla membuka tirai jendela agar cahaya matahari yang baru bersinar itu masuk ke dalam kamarnya. Dia siapkan pakaiam suaminya, miliknya, dan juga milik Andika.


Beberapa saat kemudian Reka keluar dari kamar mandi. "Sini, biar Dika aku yang mandiin, kamu siap-siap aja." Reka menggendong Andika dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Nayla justru mengerutkan dahinya. Selama ini Reka belum pernah memandikan sendiri putranya. Dia ikuti Reka sampai dalam kamar mandi.


"Ya ampun Mas, ini ada bak mandi. Kenapa mandi di washtafel."


Reka hanya tertawa, sedangkan si bayi kecil juga ikut tertawa dan kakinya bermain air. "Dika senang kok. Tenang aja ini air hangat."


"Ya sudah. Jangan lama-lama mandiinnya."


"Yes, mom."


Nayla hanya tersenyum dan keluar dari kamar mandi, lalu dia segera berganti pakaian. Dia pandangi dirinya di cermin. Rasanya sudah lama dia tidak bersolek.


"Mama, Dika udah mandi." kata Reka setelah kekuar dari kamar mandi.


"Sini Mas, biar aku yang pakaikan baju."


"Biar aku saja. Kamu lanjut saja."


Nayla tersenyum melihat pantulan Reka di cermin yang dengan telaten merawat dan memakaikan baju putranya sambil berceloteh riang. Suami sebaik itu mengapa dulu dia sempat tidak percaya hanya karena ulah tangan jahil, dia jadi menuduh Reka yang bukan-bukan.

__ADS_1


Nayla menghela napas panjang saat mengingat hal itu.


Untunglah semua sudah berlalu, dan sekarang aku udah percaya 100 persen. 1000 persen lah kalau ada.


__ADS_2