(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Penyamaran


__ADS_3

"Hati-hati ya sayang." Reka mencium pipi kanan dan kiri Nayla sebelum Nayla turun dari mobilnya.


"Iya Mas." Kemudian Nayla mencium punggung tangan Reka. "Mas Reka juga hati-hati ya." Nayla akan membuka pintu mobil tapi ditahan oleh Reka.


"Ada yang lupa. Bibirnya belum." Reka memajukan dirinya dan mencium singkat tapi sangat dalam yang mampu membuat bibir Nayla basah.


Nayla meraba bibirnya sesaat. "Mas, lipbalm nya jadi ilang nih."


"Pantes rasa strawberry." kekeh Reka sambil mengusap bibirnya.


Kemudian Nayla membuka pintu mobil itu.


"Nanti pulangnya aku jemput."


"Iya," jawab Nayla sambil menutup pintu mobil.


Reka belum juga menjalankan mobilnya meninggalkan tempat parkir. Dia masih mengawasi Nayla sampai menghilang dari pandangannya.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya. "Kamu sudah ada di dalam kampus?... Awasi Nayla..."


Reka mematikan panggilannya lalu dia beralih menghubungi Angga.


"Angga, untuk hari ini kamu handle pekerjaan di kantor. Hari ini aku akan turun langsung ke kampus."


Setelah mendapat jawaban iya dari Angga, Reka mematikan panggilannya. Dia mengambil tas yang ada di kursi belakang.


"Aku yakin, salah satu ruang di kampus sebesar ini dijadikan markas mereka. Tidak perlu lagi menutupi dari media dan publik. Percuma jika citra kampus ini bagus tapi ternyata dalamnya penuh dengan masalah. Setelah semua bersih dari tindak kriminal, baru aku akan bantu bangun kampus ini agar berjaya lagi."


Reka melepas jas dan kemejanya. Dia pakai kemeja lengan pendek berwarna navy dan memakai jaket levisnya. Dia ganti juga celana kainnya dengan celana jeans. Tak lupa juga sepatu kantor, dia ganti dengan sepatu kets.


Untuk menyempurnakan penyamaran dia pakai topi dan tak lupa masker, karena beberapa mahasiswa memang masih memakai masker di ujung pandemi.


Dia melihat sekitar kampus itu. Saat dilihatnya tidak ada mahasiswa lain di tempat parkir dia keluar dan berjalan santai masuk ke dalam kampus. Dia sudah menyebar anak buahnya di beberapa titik. Tak lupa ponselnya yang terhubung dengan headset bluetooth.


Dia terus berjalan menyusuri lorong kampus. Sepertinya di deretan kelas analisis kimia ada beberapa ruangan yang dia tidak tahu apa kegunaannya.

__ADS_1


Dia hubungi anak buahnya. "Kamu ke sisi timur kampus sekarang!"


...***...


"Nayla! Mamud cantik ini udah masuk kuliah." Fara menyambut kedatangan Nayla dengam sangat gembira. "Adek Dika udah bisa ditinggal kah? Kenapa gak dibawa aja sih ke kampus kan nanti bisa dijaga sama Dito!"


Mendengar namanya disebut, Dito yang sedang duduk di tempatnya seketika menatap Fara. "Kok jadi aku yang jaga?"


"Kan Mamanya udah ada yang jaga, jadi kamu jagain anaknya aja."


Seketika Dito melempar Fara dengan bukunya. Memang rasanya sulit merelakan Nayla, tapi dia harus segera berlapang dada dan mengikhlaskannya.


"Fara, udah jangan bercanda. Aku mau segera fokus untuk persiapan skripsi." Nayla duduk di kursinya dan mengeluarkan bukunya.


"Iya tahu, biar cepat lulus biar bisa jadi ibu rumah tangga seutuhnya. Buat adik lagi deh." Fara tertawa yang langsung dijitak oleh Nayla.


"Ssstt, jangan ngomongin rumah tangga kalau di kampus. Nih, masih kelihatan single gini." Nayla tertawa kecil.


"Iya, iya percaya. Nay, kapan-kapan ikut kita ngajar di SLB nya suami kamu yuk?" ajak Fara.


"Udah, aku, Dito, dan anak-anak lain, Vera juga ikut."


"Oke, nanti aku atur waktu dulu ya."


"Berasa sibuk ya sekarang. Gak papa Dika di ajak aja. Sekolah punya sendiri aja gak usah bingung. Kalau perlu siapin kamar juga di sana."


Fara dan Nayla kembali tertawa. Mereka mengobrol banyak sebelum kelas dimulai.


Setelah Dosen masuk ke dalam kelas, baru mereka terdiam. Nayla mendengar dengan serius penjelasan dari Dosen mata kuliahnya. Sepertinya banyak materi yang telah tertinggal. Dia harus segera mengejarnya.


Hingga kelas pagi telah selesai, seperti biasa Nayla dan Fara pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.


"Masih ada kelas siang ya. Pengennya ke perpustakaan tapi perut lapar banget. Isi perut dulu lah terus ke perpus."


"Nay, Nay, Pak Reka kan pintar. Ngapain susah-susah cari materi. Jadiin Pak Reka ghost writer kan beres."

__ADS_1


Nayla memang sudah memikirkan hal itu. "Gak gitu juga sih. Sebagai seorang Mama harus kasih contoh yang baik untuk anaknya."


Mereka berdua kembali tertawa. Setelah sampai di kantin, mereka memesan mie ayam seperti biasanya lalu duduk di kursi sambil menunggu pesanannya.


Nayla mengambil ponselnya. Dia tersenyum saat mendapat kiriman foto Andika dari Ibunya. "Ih, ngangenin banget sih anak Mama."


"Wah, Bapaknya udah tersisih sekarang. Gak kangen sama bapaknya juga?"


"Papanya tetap dong." Nayla tersenyum lalu mengirim pesan pada Reka. Dia menunggu sampai beberapa menit tak juga terbaca. Sampai mie ayamnya datang dan dia mulai menyantapnya belum juga terbalas.


"Nay, kamu lihat cowok yang berdiri di dekat tembok itu gak? Kayaknya dia liatin kamu terus?" Fara menunjuk seseorang yang sedang bersandar di tembok. Meski jauh beberapa meter dari mereka tapi sorot matanya sangat terlihat jika sedang menatap Nayla.


Nayla melihat arah telunjuk Fara. Dia menyipitkan matanya. Sepertinya dia kenal dengan perawakan itu. Sorot mata itu juga terasa tidak asing.


Masak itu Mas Reka, tapi kan Mas Reka tadi pakai jas ke kantor. Apa jangan-jangan anak buahnya Mas Reka ya?


"Udahlah biarin aja." Nayla mulai melahap mie ayamnya. "Enaknya. Udah dua bulan aku gak makan mie ayam ini."


"Emang kamu boleh lagi me nyu sui makan kayak gini?"


"Aku sih gak ada pantangan kecuali pada makanan yang buat alergi. Selama asupan vitamin dan protein masih seimbang ya gak papa." Nayla cepat-cepat menghabiskan mie ayamnya. Ngomong-ngomong soal ASI sepertinya wadah ASInya sudah penuh.


"Bentar ya aku mau ke toilet." Nayla meminum air mineralnya sebelum berdiri.


"Buru-buru amat sih. Bentar aku ikut."


"Ih, aku mau mompa dulu." kata Nayla sambil berdiri.


"Kenapa di toilet, ke klinik ajalah."


"Jauh, malas jalan. Ke toilet yang ada di dekat lapangan kan ada ruang gantinya, bersih juga di sana."


"Ya udah yuk, aku antar."


Mereka berdua berjalan keluar dari kantin. Nayla kini menatap pria yang sedari tadi bersandar di tembok. Pria yang memakai masker dan bertopi itu menatapnya dengan serius. Tiba-tiba dia berlari dan memeluk Nayla lalu memutar tubuh Nayla.

__ADS_1


"Mas Reka!" teriakan panik Nayla menarik perhatian para mahasiswa lain.


__ADS_2