(Bukan) Perjaka Tua

(Bukan) Perjaka Tua
Kejutan Apa?


__ADS_3

"Kok ada polisi Nay?" tanya Fara saat keluar dari kelas setelah kelas telah usai.


Nayla hanya mengangkat bahunya. Dia juga melihat ada empat orang polisi yang berjalan menuju ruang dekan. Sepertinya ada masalah yang serius.


"Ada kasus apa ya Nay? Suami kamu gak bilang?" tanya Fara lagi sambil berjalan pelan di lorong kampus.


Lagi, Nayla hanya menggelengkan kepalanya. Beberapa detik kemudian mahasiswa lain ikut berbondong-bondong menyaksikan penangkapan itu. Mereka ingin tahu, masalah apa yang menjerat Dekannya itu hingga harus di jemput oleh polisi.


Banyaknya mahasiswa itu melewati Nayla hingga menyenggol dirinya. Perut yang sudah membuncit itu Nayla lindungi dengan tangannya dan keluar dari kerumunan. "Duh, orang kena masalah malah ditonton." Dia berjalan menuju tempat parkir.


"Biasa Nay, wartawan dadakan. Udah pada pegang hp tuh." Fara tertawa kecil. Apalagi jaman sekarang ada berita heboh sedikit langsung muncul video di tiktok atau reel di instagram.


Nayla tersenyum saat melihat suaminya sudah berdiri di tempat parkir dan sedang berbicara dengan seseorang.


"Fara aku udah dijemput. Aku duluan ya," ucapnya pada Fara. Dia berjalan mendekati suaminya itu. "Mas Reka."


"Nay," Reka meraih tangan Nayla dan menggenggamnya.


"Ada masalah apa sih Mas? Aku tadi hampir aja kejepit karena teman-teman pada lihat dan pengen tahu penangkapan itu." Nayla semakin bergelayut manja pada Reka.


"Kejepit?" Seketika Reka mengusap perut buncit Nayla. "Tahu gitu aku jemput tadi."


"Sayang banget sama istrinya."


"Iya Paman. Oiya, kenalkan ini Paman Rendra. Kemarin waktu kita nikah sebenarnya Paman datang sih tapi sepertinya kamu gak terlalu perhatikan." kata Reka memperkenalkan pamannya itu.


Nayla tersenyum menyapa Rendra. Wajah yang sudah terlihat sedikit tua itu masih terlihat tampan dengan kepala yang tertutup peci putih. Wajah tegasnya menandakan jika dia bukan orang sembarangan.


"Agak sulit ungkap kasus korupsi Pak Tio ini. Untung paman kasih strategi biar kasus ini terungkap dan tanpa menyeret nama aku sebagai pelapor." kata Reka yang masih melanjutkan obrolannya dengan Rendra.


Jadi ada kasus korupsi di kampus. Nayla hanya ber-oh sendiri. Dia juga tidak ingin mencampuri terlalu dalam masalah suaminya. Dia hanya memberi dukungan apa yang dilakukan suaminya.


"Iya, Paman salut sama kamu. Kamu paling peka mengendus sebuah masalah. Benar-benar keturunan Pramana, tapi untung kamu berada di jalan yang benar." Rendra tertawa kecil, mengingat jalan yang dilaluinya dulu memang salah, ketika dia bertahun-tahun hidup di dunia gelap. "Paman yakin kamu semakin sukses, gak akan ada yang berani mengusik hidup kamu."

__ADS_1


"Ini semua juga berkat didikan Ayah, Papa, dan juga Paman Rendra. Kita lanjut mengobrol di rumah saja Paman, kasian si bumil ini pasti capek." Reka membukakan pintu mobil untuk Nayla.


"Paman juga di mobil ini kan? Biar aku duduk di belakang saja." kata Nayla. Dia merasa tidak enak jika harus duduk di depan sedangkan pamannya di belakang.


"Jangan, tidak apa-apa paman duduk di belakang saja." kata Rendra sambil membuka pintu belakang lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Reka segera menjalankan mobil itu meninggalkan tempat parkir kampus.


"Dengar-dengar Paman buka pondok pesantren lagi?" tanya Reka. Kehidupan Pamannya itu semakin sukses. Tentu saja sekarang sukses dunia dan akhirat.


"Iya, minggu depan peresmiannya. Kata Mama kamu, kamu juga mau buka sekolah khusus untuk para disabilitas."


Mendengar hal itu, Nayla menatap Reka. Suaminya itu diam-diam memiliki berbagai yayasan yang bermanfaat untuk orang yang membutuhkan.


"Waduh, Paman bongkar rahasia di sini. Ini proyek rahasia aku dari istri." Reka tertawa kecil karena memang masalah kemanusiaan tidak suka dia umbar dan dia juga punya satu rencana kejutan untuk Nayla.


"Loh, jadi main rahasia-rahasiaan sama istri?"


"Kejutan apa Mas?" tanya Nayla. Dia begitu ingin tahu kejutan yang dimaksud. Jiwa keponya meronta.


"Namanya kejutan ya gak boleh bilang." kata Reka. Sepertinya dia salah bicara karena sudah dipastikan Nayla pasti akan terus menanyakan hal itu sampai Reka menceritakannya.


"Ih, Mas kan aku jadi penasaran."


"Iya, iya, nanti ya aku kasih tahu di rumah." satu tangan Reka terulur mengusap puncak kepala Nayla.


Di belakang mereka, Rendra hanya tersenyum melihat keharmonisan ponakannya itu.


Beberapa saat kemudian, mobil Reka sudah berhenti di depan rumahnya. Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Paman duduk dulu, atau kalau capek bisa istirahat di kamar." kata Reka karena tangannya terus ditarik oleh Nayla agar segera masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Nayla masih saja menanyakan hal yang sama. "Mas, sebenarnya ada kejutan apa? Aku penasaran banget."

__ADS_1


"Astaga, masih penasaran soal itu?" Reka mengajak Nayla duduk di tepi ranjang. Dia usap perut Nayla yang sudah lima bulan itu. Terkadang sudah terasa gerakan kecil ketika Reka mengusapnya dengan penuh kasih sayang.


"Apa Mas?" tanya Nayla lagi.


Reka menghela napas panjang. Jelaslah bumil ini akan terus bertanya jika dia belum menceritakannya. "Dua bulan lagi kan tujuh bulanan kandungan kamu, dan juga hari ulang tahun kamu."


"Mas Reka kok tahu hari ulang tahun aku?"


Reka meraih tubuh Nayla dan merengkuhnya. "Kamu istri aku. Jelas aku tahu hari ulang tahun kamu."


"Terus? Memang mau kasih kejutan apa?" tanya Nayla lagi.


"Kalau aku kasih tahu sekarang namanya bukan kejutan sayang." Semakin lama Reka semakin gemas saja dengan Nayla.


"Ih, apa?" Nayla begitu ingin tahu kejutan itu. Dia tidak akan berhenti bertanya sebelum Reka menjawabnya.


"Nanti kita rayakan tujuh bulanan kamu sekaligus ulang tahun kamu saat pembukaan yayasan aku." jawab Reka pada akhirnya.


Seketika Nayla menatap Reka dengan mata nanarnya. Sejak bersama Reka, dia memang selalu diperlakukan spesial.


"Makasih, Mas." Nayla mengeratkan pelukannya dan bersandar di dada bidang itu.


"Aku belum melakukan apa-apa kok udah bilang makasih." Reka mengusap lembut rambut Nayla yang sedikit lepek karena keringat itu.


"Gak papa, Mas Reka udah banyak ngelakuin sesuatu buat aku. Aku bersyukur bisa bersama Mas Reka."


"Aku juga sayang. Aku yang seharusnya makasih sama kamu karena kamu dengan senang hati mengandung anak aku."


Nayla meregangkan pelukannya. "Itu kan sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang istri."


"Tapi tetep aja kamu istimewa buat aku." Reka mencium kedua pipi Nayla. "Ya udah, kamu belum makan kan? Kita makan dulu yuk?"


Nayla menganggukkan kepalanya. "Aku mau ganti baju dulu Mas."

__ADS_1


__ADS_2