
"Mas Reka, agak sana deh. Panas." Bukannya bisa tidur dengan nyaman tapi pelukan Reka di siang hari itu membuat Nayla kepanasan karena memang cuaca hari itu lumayan panas.
"Iya, panas. Aku dinginin ya AC nya." Reka melepas pelukannya tapi saat akan mengambil remote AC justru dicegah oleh Nayla.
"Jangan Mas. Kasian Dika nanti kedinginan."
Reka mengurungkan niatnya membuat ruangan itu menjadi dingin lewat AC. Dia akhirnya membuka kaosnya dan bertelanjang dada.
"Mas tidur di kamar sebelah saja." suruh Nayla karena dia tahu suaminya tidak bisa tidur jika kepanasan.
"Tidur tanpa kamu?" Reka mengerucutkan bibirnya pertanda jika dia tidak mau tidur tanpa Nayla.
"Ih, cuma tidur siang aja, ribet sih Mas." Nayla menggeser dirinya agar menyisakan ruang di antara mereka. Lalu memunggungi Reka karena dia mulai mengantuk dan lagi jika dia terus menghadap Reka, yakinlah rasa kantuknya akan hilang melihat otot-otot Reka yang terpampang jelas.
"Sayang, kok hadap sana?"
"Lihat Mas Reka makin panas."
Reka tertawa kecil. Dia justru semakin mendekatkan dirinya hingga seluruh dadanya menempel di punggung Nayla.
"Mas, geser dong." Nayla menggerakkan bahunya agar Reka sedikit memundurkan dirinya.
"Gak mau. Aku kangen sama kamu. Udah lama gak peluk gini." Bukannya bergeser tapi Reka semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya, kan gak boleh dekat-dekat dulu. Tuh, yang bawah udah nyenggol-nyenggol."
"Iya, udah kesetrum." jawab Reka dengan tawanya. Dia justru menempelkan miliknya yang telah menegang di dekat pan tat Nayla. Sudah dua minggu, dia tak pernah mengurusnya untuk kepuasannya sendiri.
"Sayang..."
"Hem? Masih gak boleh Mas." jawab Nayla meski hanya mendengar panggilan sayang saja.
"Iya, tahu. Bukan itu."
"Terus?"
"Sini, balik badan dulu." Reka menarik lengan Nayla agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Baru juga Nayla membalikan badannya, Reka sudah menyambar bibir manis itu. Kini lebih dalam dan sangat aktif. Bahkan suara decapan itu telah memenuhi kamar yang luas.
Napas Reka semakin berat. Dia menuntun tangan Nayla untuk masuk ke dalam celananya.
"Sayang, hand job." pinta Reka.
"Ih, gak bisa." Nayla akan menarik tangannya tapi ditahan oleh Reka.
"Kayak dulu itu sayang. Kan kamu jago."
Akhirnya Nayla menuruti keinginan Reka. Dia usap otot yang panjang dan keras itu. "Pake tangan sendiri Mas. Kayak dulu waktu sebelum nikah." Nayla tertawa kecil.
"Beda rasanya. Lagian sekarang kan udah nikah." Reka kembali mencium bibir nayla karena hanya bibir itu yang saat ini bisa dia sentuh. Satu tangan Reka semakin menekan dan menggerakkan tangan Nayla agar lebih cepat.
Reka melepas pagutannya, dia justru men de sah pelan di dekat telinga Nayla yang membuat bulu kuduk Nayla merinding.
Saat pelepasan itu sudah terasa di ujung, cepat-cepat Reka mengambil tisu.
Selalu, suara erangan Reka terdengar sangat erotis di telinga Nayla.
"Terpaksa lewat jalur tangan, nanti kalau Dika udah siap punya adik, baru aku lepaskan lagi agar bebas berenang di dalam perut Mama." Reka membersihkan cairan yang tumpah hingga mengenai tangan Nayla.
Reka membuang tisu-tisu itu di tempat sampah lalu kembali merebahkan dirinya. "Bukan gitu maksudnya. Sebulan lagi kita konsultasi ke Dokter dong."
"Ih, kirain."
"Emang kamu gak pengan? Gak ketagihan?" Reka kembali memeluk Nayla tapi tidak terlalu erat.
Nayla hanya tersenyum kecil karena sejujurnya di juga ketagihan dengan Reka.
"Tapi kalau kamu mau punya anak satu aja gak papa. Aku sudah bahagia memiliki Dika. Aku tahu, selama proses mengandung sampai melahirkan itu tidak mudah. Apalagi pasca melahirkan." Reka mencium dalam puncak kepala Nayla.
"Punya adik lagi dong Mas. Biar Dika ada temannya." kata Nayla dengan yakin.
"Syukurlah, jadi semangat buatnya." Reka tersenyum kecil di ujung kalimatnya. Tentulah, dia pasti akan berjuang lagi dan dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. "Nanti aku akan perbaiki semuanya. Cukup yang kali ini buat pengalaman hidup."
Nayla mengangguk sambil menguap panjang. Beberapa saat kemudian, Nayla mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Reka pandangi wajah yang sudah kembali segar itu. Meski ketakutannya semalam masih membekas, tapi kini dia bisa mulai tenang. Perlahan dia mulai memejamkan matanya tapi terbangun karena ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Dia melepas pelukannya dengan sangag pelan agar Nayla tidak ikut terbangun lalu dia duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya. Ada sebuah panggilan masuk dari Angga.
Reka memakai kaosnya lalu berjalan keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan itu.
"Iya, ada apa Ngga?" tanya Reka sambil duduk di sofa ruang tengah.
"Ada satu orang dari komplotan mereka yang tidak diketahui identitas aslinya."
Reka menghela napas panjang. Ternyata komplotan kasus korupsi itu bukan orang sembarangan. Dari satu masalah justru merembet kemana-mana karena ternyata Dekan yang bernama Dirga itu juga memiliki bisnis gelap di bawah naungan seorang mafia terdahulu yang merupakan musuh dari Paman Rendra.
"Apa dia salah satu Dosen di kampus juga?" tanya Reka.
"Sepertinya, iya."
Reka menghela napas dalam. "Ya sudah. Kamu terus pantau masalah ini. Urusan kantor aku serahkan pada Yuda dan Zahra. Aku masih harus menjaga Nayla. Aku juga butuh beberapa penjaga di rumah, kamu hubungi mereka suruh ke rumah."
"Iya. Nanti kalau ada info penting aku hubungi lagi."
Reka mematikan panggilannya. Dia kini menyandarkan dirinya di sandaran sofa.
"Salah satu Dosen di kampus? Dua minggu lagi Nayla sudah mulai ke kampus. Jangan sampai dia membahayakan Nayla. Aku harus suruh bodyguard juga untuk jaga Nayla."
Reka memijat sesaat pelipisnya yang terasa pusing. Entah itu efek memikirkan masalahnya atau karena kurang tidur. Ingin dia beristirahat sejenak tapi beberapa pekerjaan harus dia bahas dengan anak buahnya.
"Mumpung Nayla dan Dika sedang tidur, aku selesaikan saja pekerjaanku."
Reka kembali menatap ponselnya dan membuka e-mailnya. Ada beberapa e-mail penting yang masuk. Dia segera menghubungi Yuda dan mengarahkan pekerjaannya.
Tak terasa satu jam Reka habiskan di tempat itu. Dia semakin bersandar di sofa dan menguap beberapa kali bahkan dia sempat terkejut karena ponsel yang tiba-tiba terlepas dari tangannya dan menimpa dadanya.
"Mas, kok malah tidur di sini sambil duduk?"
Mendengar suara Nayla seketika Reka membuka mata merahnya. "Sayang, kok udah bangun?"
"Aku mau makan, lapar. Mas Reka, istirahat dulu kalau capek."
__ADS_1
Reka hanya mengangguk dan justru merebahkan dirinya di atas sofa, dia kembali melanjutkan tidurnya karena rasa kantuk yang sudah tak tertahankan.
Nayla hanya mengecup singkat kening Reka dan membiarkannya tertidur di sofa.