
"Nayla!"
Reka sangat terkejut saat tiba-tiba tubuh Nayla limbung dan terjatuh dilantai. Dia membuka pintunya dan meminta tolong pada Ibu dan juga pembantunya.
Kamar Reka memang ada peredam suaranya jadi orang di rumahnya tidak akan mendengar pertengkaran yang telah terjadi itu.
"Ada apa?" Bu Lela segera menggendong cucunya dan menimangnya. Akhirnya tangis Andika berangsur mereda. "Nayla kenapa?" Bu Lela sangat khawatir melihat Nayla yang tak sadarkan diri itu.
Reka segera meraih tubuh Nayla dan mengangkat tubuhnya lalu dia baringkan di atas ranjang.
"Nayla sakit Bu, sebentar lagi akan aku bawa ke rumah sakit." jawab Reka. Dia tidak menceritakan yang sebenarnya pada Bu Lela takut jika Bu Lela akan semakin khawatir. Dia mengambil ponsel Nayla dan miliknya. Lalu memasukkannya ke dalam tas yang telah berisi dompetnya.
"Rini, tolong kamu belikan susu formula dan juga botol dot nya. Aku kasih catatannya sebentar." Reka mencatat merk susu formula yang pernah direkomendasikan oleh Dokter. "Cepat ya." setelah memberikan kertas itu Rini segera berangkat untuk membelinya.
Reka kini mencium pipi Andika yang sudah berhenti menangis. "Sayang, maafin Papa ya, terpaksa harus kasih kamu susu formula. Papa akan jagain Mama. Dika yang pinter ya sama nenek. Papa janji akan cepat bawa Mama pulang." setelah mencium pipi putranya lagi, Reka kini beralih mengangkat tubuh Nayla.
"Semoga Nayla cepat sembuh."
Reka hanya menganggukkan kepalanya. Dia tahu, sebenarnya bukan fisik Nayla yang sakit tapi pikiran Nayla yang sengaja diracuni oleh seseorang.
Setelah masuk ke dalam mobil, mobil yang dikemudikan oleh sopir itu segera melaju menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Reka terus memeluk Nayla. Dia harus segera mencari pelaku yang dengan sengaja mengirim foto itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Nayla.
"Tekanan darahnya sangat rendah. Sepertinya terlalu istri Bapak terlalu lelah dan stress." jelas Dokter itu setelah selesai memeriksa Nayla.
"Dokter, istri saya sepertinya mengalami baby blues. Bagaimana cara menanganinya?" tanya Reka karena dia takut jika baby blues yang dialami Nayla akan semakin parah.
"Apa istri Bapak tidak bisa mengontrol emosinya dan sedih secara berlebihan?" tanya Dokter itu.
Reka menganggukkan kepalanya.
"Istri Bapak sangat butuh dukungan dari orang terdekatnya. Untuk mengurangi syndrome itu, saya akan rekomendasikan Dokter Psikolog. Semoga istri bapak segera membaik."
"Terima kasih, Dok."
__ADS_1
Kemudian Dokter itu keluar dari ruangan Nayla.
Reka kini duduk di dekat brangkar Nayla. Maafkan aku yang gak bisa jagain kamu, ini semua salah aku.
Beberapa saat kemudian Nayla membuka matanya. Dia nampak kebingungan melihat kamar rawatnya, "Kenapa aku ada di rumah sakit?"
"Sayang, kamu tadi pingsan. Kamu istirahat lagi ya." kata Reka.
"Dika, gimana? Aku mau pulang. Aku gak butuh ini semua." Nayla kembali histeris lagi. Dia bangun dan langsung mencabut paksa jarum infus yang menancap di tangannya hingga darahnya mengalir dari bekas jarum infus itu.
"Nayla, tenangin diri kamu." Reka menahan kedua lengan Nayla yang terus memberontak ingin turun dari brangkar.
"Lepasin!" Nayla justru menendang Reka. "Mas, gak usah peduliin aku lagi!" Dia turun dari ranjang, tapi badannya sangat lemas hingga dia kembali terjatuh di lantai.
"Nayla! Aku mohon tenangkan diri kamu." Reka berusaha meraih tubuh Nayla lagi, meski dia masih terus memberontak.
"Lepasin, Mas. Gak ada yang bisa dibicarakan lagi! Aku gak akan memaafkan perselingkuhan itu. Kalau Mas Reka gak mau lepaskan aku, biarkan aku mati saja!" tiba-tiba saja Nayla membenturkan dahinya dengan keras di besi brangkar berulang kali.
"Nayla, hentikan ini!" Reka berusaha mendekap kepala Nayla. "Dokter! Suster!" teriak Reka meminta pertolongan.
Dokter dan suster yang sedang berjaga di dekat ruang VIP segera masuk ke dalam ruangan Nayla.
Tubuh Nayla mulai melemas saat suntikan penenang itu mulai bereaksi ditubuhnya.
Reka segera mengangkat tubuh Nayla dan membaringkannya kembali di atas brangkar.
Dokter dan suster segera membersihkan darah yang mengalir di pergelangan tangan dan pelipis Nayla.
"Pak, sepertinya baby blues Bu Nayla sudah parah karena Bu Nayla ingin menyakiti dirinya sendiri. Tolong selalu dijaga ya, Pak. Dan masalah yang memicu harus dibicarakan dengan perlahan. Besok, Dokter Psikolog sudah saya jadwalkan untuk menemui Bu Nayla."
"Iya Dokter, terima kasih." hanya itu yang bisa dikatakan Reka. Saat ini hatinya benar-benar hancur melihat kondisi Nayla.
Dia duduk dengan lemas di dekat brangkar Nayla. "Siapa yang tega melakukan ini sama kamu."
Reka mengambil ponselnya dan mengirim salinan nomor yang meneror Nayla pada Angga. Kemudian dia menghubungi nomor Angga.
"Angga, kamu cepat cari pemilik dan lokasi nomor itu. Setelah berhasil, kamu segera hubungi aku!" Reka memutuskan panggilannya. Dia harus segera menemukan pelaku dibalik pesan itu. "Ini sudah keterlaluan!" Reka menghela napas panjang berulang kali.
__ADS_1
"Nay, maafkan aku. Harusnya aku selalu ada buat kamu. Aku bekerja untuk membahagiakan kamu tapi jika seperti ini jadinya, semuanya seperti sia-sia. Mungkin cara aku yang salah untuk membahagiakan kamu." Dia genggam tangan Nayla lalu menciuminya. "Harusnya bukan kamu yang menjadi korban seperti ini. Ini semua pasti ulah musuh di dalam selimut!"
Dia genggam erat telapak tangan itu dan dia tempelkan di bibirnya. "Aku sayang sama kamu. Cepat membaik ya. Dika menunggu kamu di rumah." Tanpa sadar air mata itu menetes di pipinya. Kebahagiaan memiliki anak pertama justru dihancurkan oleh seseorang. Satu hal yang tak pernah diduga oleh Reka, musuh itu justru mengincar Nayla.
Reka melepas tangan Nayla. Dia usap asal air matanya. Lalu dia kembali melihat ponselnya. Dia hubungi nomor Ayahnya. Dia sedang butuh teman bicara malam itu.
"Hallo, Ayah bisa ke rumah sakit sekarang. Aku ingin bicara sama Ayah."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" terdengar suara panik Ayah Niko di ujung sana.
"Nayla. Ayah saja yang ke sini, biar Bunda di rumah. Aku ingin cerita sama Ayah."
"Iya, aku akan segera ke sana."
Setelah panggilan itu terputus, beberapa saat kemudian dia mendapat panggilan masuk dari Angga. Reka berdiri dan kemudian duduk di sofa.
"Iya, Angga. Apa sudah ketemu siapa pemilik nomor itu?" mendengar penjelasan dari Angga, seketika Reka mengeraskan rahangnya. Kilat marah itu jelas terlihat dari sorot matanya. "Sial! Berani sekali dia!!"
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
Ada yang nungguin karya baru author gak nih?
Kalau ada jawab ya, pilih salah satu.
👉 Love You, Brother
Kisah cinta terlarang antara Raffa dan Nina nih. Adik-adiknya Reka. 😅 Genre Teen, masih kuliah.
Atau
👉 Rumus Cinta Pak Guru
Ini spin off nya keluarga Aditya, ada Arsyad dan Ayla sebagai figuran penting. Genre Teen, masih SMA.
__ADS_1
Komen di bawah ya.. Meski pembaca aku gak seramai pasar malam tapi aku tetap berkarya.. 😂