
"Kayaknya Mas Reka sudah sampai sekarang." Nayla melihat sisi kanan dan kirinya mencari ponselnya. "Duh, hp aku ketinggalan di kamar lagi.?"
Nayla akan berdiri tapi urung karena perutnya terasa mengencang lagi. "Perut aku kenapa gak enak gini sedari tadi. Mulas gak mulas gak gini."
Nayla menghela napas panjang setelah mereda, dia berdiri dan berjalan secara perlahan.
"Aduh," Nayla memegangi perutnya yang terasa semakin mulas. Dia berusaha melangkahkan kakinya kembali tapi tanpa sengaja kakinya justru tersandung kaki meja dan membuatnya terjatuh.
"Aww," perutnya terasa semakin sakit. Dia ingin berdiri tapi sudah tidak sanggup.
"Ibu!" teriaknya memanggil ibunya yang sedang berada di dapur. "Ibu." Nayla masih meringis kesakitan sambil mengusap perutnya.
Mendengar teriakan Nayla, Ibunya yang sedang berada di dapur segera berlari menghampiri Nayla.
"Nayla!" pekik Bu Lela dan langsung berjongkok membantu Nayla berdiri lalu menuntunnya duduk di sofa. "Kamu kenapa, Nak?"
"Perut aku sakit, Bu." Nayla masih terus mengusap perutnya yang semakin terasa mengencang dan mulas sambil duduk perlahan di atas sofa.
"Sakitnya gimana?" tentu saja Bu Lela panik. Dia usap perut putrinya yang memang terasa sangat kencang. "Udah dari jam berapa rasa mulasnya?"
"Sebenarnya dari tadi pagi rasanya udah gak enak tapi barusan terasa semakin sakit."
Bu Lela mengusap pelipis Nayla yang sudah berkeringat. "Coba tarik napas dalam lalu keluarkan. Kamu coba tenang dulu. Biar rasa sakitnya berangsur hilang dulu."
Nayla mengikuti anjuran ibunya. Dia mencoba menarik napas dalam lalu dia hembuskan. Begitulah berulang sampai rasa sakit itu berangsur hilang.
"Hpl nya masih dua minggu kan nak?" tanya Bu Lela yang dibalas anggukan oleh Nayla. "Kita tunggu sampai terasa mulas lagi. Takutnya ini hanya kontraksi palsu."
"Bu, tolong ambilkan hp aku di kamar." pinta Nayla.
"Iya. Perlengkapan yang dibawa ke rumah sakit sudah siap semua kan?"
Nayla menganggukkan kepalanya.
"Buat jaga-jaga, biar ibu ambilkan sekalian." Bu Lela segera berdiri lalu berjalan menuju kamar Nayla.
"Sayang, udah gak sabar ketemu Mama ya? Gak mau nunggu Papa pulang dulu?" gumam Nayla sambil terus mengusap perutnya.
Beberapa saat kemudian Bu Lela kembali dengan membawa ponsel Nayla dan tas perlengkapan ke rumah sakit.
Nayla segera meraih ponsel itu. Dia melihat ada panggilan dari Reka beberapa kali dan ada pesan masuk. Dia segera menghubungi balik nomor Reka. Sampai beberapa kali nada sambung panggilannya tak juga diangkat Reka. Dia mengulanginya lagi sampai dua kali. Akhirnya dia mengirim pesan untuk Reka.
__ADS_1
Maaf Mas, tadi hpnya ada di kamar.
Mas jadi pulang besok? Perut aku barusan mulas Mas, kalau bisa pulang hari ini ya.
Nayla menunggu Reka membaca pesan itu tapi sampai hampir satu menit, pesan itu belum juga terbaca. Akhirnya Nayla mencoba menghubungi Reka lagi. Tapi kali ini justru tidak aktif.
"Kok WA Mas Reka gak aktif?" Nayla mengernyitkan dahinya. Dia mencoba berulang kali menghubungi Reka lagi.
"Ada apa, Nak?" tanya Bu Lela yang melihat wajah panik Nayla.
"WA Mas Reka gak aktif. Nomornya juga gak aktif." Nayla mencoba menghubungi nomor Reka lagi tapi masih tetap sama.
Rasa mulas itu kembali menderanya. Dia tarik napas dalam lalu menghembuskannya. Dia usap berulang perut yang terus mengencang itu.
"Nay, Ibu suruh sopir untuk siap-siap. Kita ke rumah sakit sekarang." Bu Lela segera memanggil sopir dan salah satu pembantunya untuk menemaninya ke rumah sakit.
Mas Reka, aku takut. Mas Reka cepat pulang.
Karena rasa mulas itu terus berulang, akhirnya Nayla ke rumah sakit bersama ibunya dengan diantar sopir. Tak lupa, dia juga memberi kabar pada Bunda Luna dan Mama Alea.
Sesampainya di rumah sakit, Nayla segera melakukan pemeriksaan. Ketika dicek pembukaan, masih pada pembukaan tiga.
"Sabar ya Bunda. Masih pembukaan tiga. Ibu bisa menunggu sambil berjalan-jalam kecil atau duduk di atas bola dengan pinggul digerakkan maju mundur secara perlahan, biar cepat bertambah pembukaannya."
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Reka datang.
"Kenapa Reka gak bisa dihubungi?" tanya Niko. Sedari tadi dia terus menghubungi nomor putranya itu.
Nayla menggelengkan kepalanya karena sampai sekarang saja ponsel Reka masih tidak aktif.
"Sabar ya sayang. Bunda, Mama, dan Ibu akan menemani kamu berjuang di sini."
Nayla menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya karena rasa mulas itu semakin terasa intens. Masih pembukaan tiga tapi rasanya sudah tidak karuan seperti ini dan harus berapa lama lagi.
Niko dan Kevin masih berusaha menghubungi Reka.
"Telepon Angga juga tidak diangkat." Niko duduk di depan ruangan. Bahkan saat hari sudah sore ponsel Reka dan Angga masih tidak bisa dihubungi.
"Kita coba telepon ke kantor saja." mengapa hal itu baru terpikirkan.
"Tapi Reka sedang meeting diluar kota."
__ADS_1
"Sama Angga?"
Niko menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tahu, coba aku hubungi nomor kantor Reka."
Sedangkan di dalam ruangan, wajah Nayla semakin memucat. Rasa mulas itu terus berulang. Dia sudah berjalan kecil di dalam ruangan dan juga duduk di atas bola tapi pembukaan masih tetap tiga hingga sore hari itu. Rasanya Nayla sudah tidak sanggup dengan rasa sakit itu.
"Pembukaannya masih tetap stuck. Kita akan lakukan induksi agar pembukaannya bisa bertambah."
"Induksi, Dok?" Bu Lela nampak khawatir karena induksi itu lebih terasa sakit daripada kontraksi secara alami.
"Iya, karena ketuban sudah terus rembes. Kita ambil opsi induksi. Kita tunggu sampai pembukaan bertambah."
Terlihat suster menyuntikkan sesuatu di cairan infus yang terpasang di pergelangan tangan Nayla.
Rasa sakit itu kembali mendera. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya. "Ibu, aku sudah gak kuat. Mas Reka kenapa belum bisa dihubungi." Nayla mencengkeram kuat lengan Ibunya. Peluh itu semakin membanjiri pelipis Nayla di wajah piasnya.
"Sabar ya Nay, Ayah sedang berusaha menghubungi Reka."
Nayla hanya memejamkan matanya sambil terus merintih. Rasa sakit itu semakin menjadi seiring bertambahnya jam.
Dokter mengecek kembali pembukaan jalan lahir. "Hanya bertambah satu. Masih pembukaan empat. Apa bunda masih kuat?"
Nayla menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. Tenaganya sudah terkuras habis merasakan mulas itu seharian, ditambah lagi dengan induksi yang semakin menyakitkan.
"Terpaksa kita harus segera melakukan operasi sesar karena ketuban juga sudah terus merembes."
Mendengar kata operasi, Nayla semakin merasak takut. Mas Reka cepat pulang.
Niko akhirnya berhasil menghubungi Angga.
"Jadi Niko sama Yuda. Kamu kirim nomornya sekarang juga."
Setelah nomor Yuda masuk ke ponsel Niko, dia segera menghubunginya.
"Hallo, Reka bersama kamu... Cepat, saya mau bicara." Niko menghela napas panjang sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. "Hallo, Reka, Nayla mau melahirkan..."
.
.
💞💞💞
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen...