![ABANG PSIKOPAT [END]](https://asset.asean.biz.id/abang-psikopat--end-.webp)
Dengan perlahan zhi mendekati seseorang yang memakai hoodie hitam dengan penutup kepala.
"Permisi kak." Ucap zhi.
Hening.
Tidak ada jawaban dari orang itu, dia hanya berhenti dan menoleh ke arah zhi. Muka tertutup.
"Kak?" Ucap zhi.
Tetap hening.
Orang itu tidak menjawab zhi sama sekali bahkan mengangkat kepalanya saja tidak.
Alan yang melihat ada kejanggalan pun berniat menghampiri zhi.
"Kak? Hello? Aku mau nanya alamat kak." Ucap zhi sambil melambaikan tangannya didepan muka orang itu.
Orang itu tetap saja diam.
Alan yang geram akhirnya menghampiri zhi dan orang tersebut.
"Dek, tanya orang lain aja yu." Ucap alan sambil menarik tangan zhi.
"Iya."
Alan dan zhi menjauh dari orang itu, belum ada lima langkah orang itu memanggil Alan.
"Alan." Ucap orang itu.
Alan yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.
"Ko tau nama saya?" Tanya Alan.
"Iyalah gue Leon." Jawab orang itu sambil membuka penutup kepalanya.
"Ya ampun Leon kirain gue siapa." Ucap Alan lalu merangkul Leon.
"Haha iya lah kan gue pura pura, lo pasti mau ngebunuh orang kan? Tapi salah sasaran malah kena prank hahaha." Ucap Leon.
"wahh sialan lu emang haha." Ucap Alan sambil tertawa.
"Zhi? Ko diem aja?" Tanya Leon yang melihat zhi hanya diam dan menunduk.
"Kak Leon!!!!!" Teriak zhi sambil menggigit lengan Leon pelan.
"Aduh sakitt." Rengek Leon.
"Lagian, siapa suru nge prank kayak gitu." Jawab zhi.
"Lah kamu ngapain malem malem malah bunuh orang." Cibir Leon.
"Ya kalo pagi ketauan lah." Ucap zhi emosi.
" Haha yaudah maaf." Ucap Leon.
"Mau kemana yon?" Tanya Alan.
"Mau pulang gue." Jawab Leon.
"Lah lo udah pindah ke Indonesia lagi?" Tanya Alan.
"Iya bosen gue di Amerika." Jawab Leon.
"Ohh bareng yo." Ajak Alan.
"Gak ah kan lo pada mau ngebunuh kan?" Tanya Leon.
"Ya lo ikut, dokumentasiin hahha." Ucap Alan.
__ADS_1
"buset, tapi ayok dah bosen juga gue." Jawab Leon setuju.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang Alan parkiran dipinggir taman, dan bergegas mencari mangsa.
Leon van ellon.
Teman baik Alan, Leon sudah dianggap sebagai saudara sendiri bagi Alan dan dianggap kakak bagi zhi sendiri.
Leon tahu semua tentang kehidupan Alan, mulai dari keluarga, sekolah, bahkan sampai alasan Alan menjadi seperti ini.
***
Alan memarkirkan mobilnya dipinggir jembatan layang, tempat para wanita ******.
"Yon, lo mau bantuin gue kan?" Ucap Alan.
"Enggak!" Jawab Leon tegas.
"Ya elah yon, ayolah satu aja." Ucap Alan.
"Gue tampol lu lan." Ancam Leon.
"Yaelahh ayolahhh." Rengek Alan dengan mata nya yang menggemaskan seperti ****.
"Huftt.. Oke." Jawab Leon setuju.
"Asikkk bawa yang banyak kalo bisa." Ucap zhi.
"Kakak pulang aja kalo gitu." Balas Leon.
"Eh iya iya jangan." Ucap zhi.
Leon meluncur ke TKP.
Leon yang tadinya menggunakan hoodie hitam, kini dibuka dan membiarkan tubuh nya diterpa angin malam. Hanya dengan kaos putih tipis yang membuat roti sobek milik Leon terlihat, Leon berjalan mencari mangsa yang cocok.
"Haii kakakk." Sapa tante tante yang memanggil Leon.
"Jangan panggil tante dong, panggil aja adik." Ucap tante itu sambil merangkul Leon.
"Dih najis amit amit dah lo ama gue aja tua an lo masa lo yang dipanggil adek, yaudahlah biarin bahagia sementara." Batin Leon jijik.
"Oh iya, em mau ikut dengan ku tidak?" Tanya Leon.
"Mau dong kemana?" Tanya tante itu.
"Sini." Ucap Leon sambil menarik tante itu jauh dari tempat tadi, arah mobil.
"Pake dulu." Kata Leon sambil memberikan penutup mata.
"Buat apa?" Tanya tante itu.
"Rahasiaa." Jawab Leon.
Tante itu pun menurut dan melangkah dengan tuntunan Leon kearah mobil.
Leon membuka mobil bagian belakang, ada zhi.
"Masuk." Ucap Leon, dan bergegas masuk ke dalam mobil setelah tante itu masuk.
Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membuat tante itu curiga.
"Kita mau kemana sih? " Tanya tante itu sambil membuka penutup matanya.
"Loh ko rame?" Tanya tante itu ketika melihat Leon, Alan dan zhi.
"Heii kalian mau bawa saya kemana? Jangan kurang ajar ya!" Teriak tante itu.
"Berisik!" Ucap zhi sambil menutup mulut tante itu dengan sapu tangan yang sudah di beri obat.
__ADS_1
15 menit kemudian Alan, Leon, dan zhi pun sampai di tempat yang mereka tuju. Gedung yang tidak terpakai.
Alan membantu Leon membawa tante itu dengan cara diseret, sedangkan zhi memasuki gedung itu terlebih dahulu untuk mempersiapkan alatnya.
Seperti biasa, alan mengikat mangsanya dikursi yang sudah reyot. Dengan penuh hati hati alan mulai menguliti kulit tante itu.
Dia sadar.
"Eh udah sadar?" Tanya alan.
"Aww." Gereng tante itu.
Darah segar mengalir bagaikan air terjun yang indah. Terdapat pancuran darah, dengan melodi nada yang sangat menyentuh hati.
Tangis, isak, perih semua terasa.
Tawa, bahagia, puas semua terasa.
"Mau yang lebih seru lagi?" Tanya alan.
"********, biadab!" -tante
"Berisik deh, tuhkan robek." Ucap alan sambil merobek mulut tante itu yang membuat nya tidak dapat bicara lagi.
"Gantian dong." Ucap zhi dari belakang.
"Iya." Akan memundurkan langkah nya dan membiarkan zhi mengurus semuanya.
"Hallooo tante." Sapa zhi.
"Ish ko diem aja sih? Gak sopan loh kalo orang nyapa terus gak dijawab." Ucap zhi.
"Hellooo, tante."
"Haii."
"Brengsek!" Teriak zhi dengan emosi dan mulai menusukkan pisau imutnya kedalam telinga tante itu.
"Lo budek hah?!" Tanya zhi yang terus menusukkan pisau nya lalu memotong salah satu telinga tersebut.
"Oh iya mulut lo kan udah robek ya, gak bisa ngomong lagi deh ucuk ucuk ucuk cep cep anak manis, sini cobain pisau baru aku ya, duduk diam diam oke." Ucap zhi.
Tidak ada teriakka yang terdengar hanya ada isak tangis yang menahan sakit.
Kejamnya kedua saudara ini dan temannya yang membantu mereka.
Leon, sebagai teman atau bahkan saudara alan merasa senang melihat alan bahagia, namun disisi lain hati kecilnya mulai meronta untuk membantu tante itu.
Psikopat tetap lah psikopat, tapi manusia tetap lah manusia, punya hati.
"Lan udah deh, gue ngantuk." Ucap Leon tidak tega.
"Lo mah kebiasaan, yaudah deh." Jawab alan.
"Yahhh, yaudah aku tebas aja kepalanya buat hiasa." Ucap zhi dan mengambil golok yang sudah ia asah, lalu..
"Scrtttttt"
Sebuah kepala gelinding ke bawah meninggalkan tubuhnya yang masih terikat oleh tali iblis jahanam itu.
"Udah nih ayo pulang." Ucap zhi.
"Ganti baju dulu sana, nanti kayak kemarin lagi." Ucap alan dan zhi melaksanakan nya.
Setelah selesai mereka pulang kerumah alan. Leon menginap disana, untuk temu kangen.
Sampai dirumah alan, zhi dan Leon langsung menyalakan TV serta menonton acara yang ada di TV tersebut.
Note :
__ADS_1
Tunggu selanjutnya ...