![ABANG PSIKOPAT [END]](https://asset.asean.biz.id/abang-psikopat--end-.webp)
"I miss you, but i hate you."
***
"I miss you, but i hate you." Ucap Zhi dengan mata yang sangat berkaca.
"Why?" Tanya Jhon dengan wajah yang serius.
"because you killed my mother!" Ucap Zhi dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi.
Zhi menangis, membuat Alan ikut berbicara.
"you don't know what really happened." Ucap Jhon.
"Apa yang kita gak tau hah?!!!" Ucap Alan yang nasih menggendong Genus.
"Kalian cuma tau apa yang kalian lihat! Aku sudah menyembunyikan ini dari kalian." Ucap Jhon.
"Apa?!" Tanya Alan.
"Kejadian yang sebenarnya adalah---"
Saat Jhon ingin mengatakan sesuatu, busa keluar dari mulut Genus semakin banyak.
"Kita bawa ke rumah sakit dulu aja!" Ucap Zhi dan keluar dari rumah itu setelah menghapus air mata nya.
Alan dan Zhi kini membawa Genus ke rumah sakit terlebih dahulu.
Dengan cepat Zhi membawa mobil nya ke rumah sakit.
Saat sampai di rumah sakit, para suster dan dokter pun langsung memeriksa keadaan Genus yang sudah berbusa begitu banyak.
Zhi dan Alan menunggu nya di luar ruangan, dengan tangan terkepal memohon harapan.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dengan raut wajah yang lesu.
"Gimana keadaan nya dok?" Tanya Alan yang langsung menghampiri dokter.
"Kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, saudari Genus tidak dapat tertolong dikarenakan racun yang menyebar pada tubuhnya sudah tidak dapat di hentikan." Jelas dokter.
"Apa?!" Hentak Zhi kaget.
"Gak mungkin dok, dokter jangan bercanda!" Bentak Alan sambil memegang kedua bahu dokter itu.
"Abang! Lepas dokter nya!" Ucap Zhi yang melepaskan tangan abangnya dari bahu dokter itu.
"Ayo periksa ke dalem." Ucap Zhi mengajak Alan masuk.
"Terimakasih dok." Ucap Zhi lalu menarik Alan dan meninggalkan dokter serta para suster di luar.
Alan dan Zhi kini sedang berhadapan dengan Genus yang sudah tidak bernyawa.
Tanpa sadar Alan mengeluarkan air mata nya, Zhi yang melihat iti langsung mengeluskan punggung abang nya untuk memberikan semangat.
Cinta sejati yang sehati harus mati tanpa hati.
"Cewek gila bangun! Lo haris bangun! Gue janji kalo lo bangun gue langsung nikahin lo!" Ucap Alan sambil memegang tangan kanan Genus.
"Sayang nya sudah terlambat." Batin Zhi saat menyaksikan drama dihadapannya.
"Woiii!!! GENUS BANGUN! JANGAN PURA PURA BUDEK LO!" Teriak Alan.
"Ssttt udah, kak Genus udah gak ada bang. Ikhlasin kepergian nya." Ucap Zhi.
"Kamu masih kecil dek, kamu belum ngerasain."
__ADS_1
"Tapi apa dengan air mata abang itu kak Genus akan bangkit lagi? Enggak! Yang seharusnya kita pikirkan sekarang itu soal bajingan itu!" Ucap Zhi.
"Kita harus memberitahu kak Galang supaya kak Genus bisa di kubur dengan layak." Ucap Zhi.
Alan terlihat diam berpikir sejenak dengan sisa sisa air matanya.
"Oke."
Zhi lalu menghubungi Galang dan keluarga nya.
Saat Galang mendapatkan informasi bahwa Genus telah meninggal, Galang dan kedua orang tuanya langsung menyusul mereka ke rumah sakit.
"Gue bantuin lo buat ngurusin keperluan nya." Ucap Alan saat Galang ada di samping nya.
"Gak, yang harus lo lakuin sekarang itu bales dendam buat Genus." Ucap Galang.
Saat Galang sampai Zhi sudah menceritakan kronologi nya dengan jelas dan detail tanpa terlewat satu kejadian pun.
***
"JHON WINATA! KELUAR DASAR KEPARAT!" Teriak Alan saat berada di rumah ayahnya.
Zhi mengikuti abangnya disamping nya, para penjaga rumah Jhon semua nya hilang. Tidak ada yang jaga.
Muncul lah Jhon dari bilik kamar di ruang tamu, dengan mimik wajah datar.
"BAJJ--"
"STOP!"
Kata kata Alan terhenti saat Jhon menunjukan foto dimana foto itu berisi ibu nya yang sedang berpelukan dengan laki laki lain selain ayahnya.
Alan dan Zhi terhentak kaget dengan apa yang dilihat, dengan segala macam pertanyaan berkecamuk dikepala mereka.
"Apa maksud nya?" Tanya Alan.
Flashback on
"Mas aku mohon jangan sampai anak anak membenci aku!" Pinta Seorang wanita yang tak lain adalah ibunya alan, Maria.
"Saya sudah terlalu sabar dengan kamu!" Ucap Jhon sambil menendang istrinya itu.
"Aku mohon mas, kamu boleh bunuh aku. Silahkan kamu siksa aku sesuka kamu asal kamu jangan kasih tau ini ke anak anak, aku sayang banget sama mereka. Aku gak mau sampai mereka benci sama aku mas." Ucap Maria sambil mengemis di kaki Jhon.
Jhon tau bahwa jam segini anaknya akan pulang dari sekolah nya, menunggu waktu yang tepat Jhon akan membunuhnya didepan anak anaknya.
"Baik, saya turuti apa kemauan kamu." Batin Jhon dan menunggu anak anak nya pulang.
Saat terdengar suara mobil dari depan rumahnya, Jhon langsung mempesiapkan alatnya untuk pertunjukan nya.
Saat Alan dan Zhi masuk maka pertunjukan sudah dimulai.
Dengan berat hati Jhon melakukanya, karena itu permintaan istrinya.
Jujur saja Jhon masih sangat mencintai istrinya, namun rasa sakit hati setelah dikhianati itu sangat menyakitkan bagi Jhon.
Jhon hanya akan memainkan peranya saja, dibenci anak anak nya agar mereka tidak membenci Maria.
Lalu Jhon meninggalkan mereka dengan air mata yang bergelinang saat keluar dari rumah.
Flashback off
"Jadi?" Tanya Zhi.
"Ini semua cuma salah paham? Kenapa gak kalian kasih tau kita yang sebenarnya aja?! Kenapa kalian harus memainkan drama murahan ini?!" Tanya Zhi lagi.
__ADS_1
"Itu permintaan ibu kamu Zhi, jujur ayah sangat sayang pada kalian." Ucap Jhon dengan mata yang tulus.
"PERMINTAAN ITU TIDAK BISA DIJADIKAN SEBAGAI ALASAN, KENAPA KALIAN GAK BILANG AJA? SEANDAINYA KALIAN BILANG, SEANDAINYA KITA BICARAKAN BAIK BAIK GAK AKAN ADA KORBAN!" Ucap Alan.
"Gak akan ada seseorang yang mati, gak akan ada yang kehilangan salah satu orang yang disayang." Ucap Alan.
"Maaf, maafin ayah kalian yang bodoh ini... Ayah benar benar minta maaf sama kalian." Ucap Jhon dan bersujud di kaki kedua anaknya.
"Maaf ayah akan menebus semua kesalahan ayah." Lanjut Jhon dan masih bersujud.
Zhi yang sangat rindu pada ayah nya berniat untuk membangunkan Jhon yang sedang bersujud. Namun, Alan menahannya.
"Kamu menebus nya dengan apa? Apa semua mayat itu bisa bangkit lagi?" Tanya Alan.
"Ayah akan melakukan apapun demi kalian, apapun." Ucap nya.
"Baik, aku hanya minta dua hal." Ucap Alan.
"Apa itu?" Tanya Jhon sambil mengangkat kepalanya.
"Pertama, yang menggali kuburan untuk Genus adalah kamu sendiri. Dan yang kedua kamu harus menyerahkan diri mu ke polisi." Jawab Alan.
"Baik, ayah akan melakukan nya."
"Sekarang ikut kami dan minta maaf pada keluarga Galang." Ucap Alan.
Jhon, Alan dan Zhi kini bergegas menuju rumah Galang.
Setelah sampai, Jhon langsung meminta maaf kepada mereka.
Dengan bersujud dihadapan mereka semua.
***
Hari pemakaman.
Hari ini dimana hari pemakaman Genus Aurora P.
Dimana semua teman, kerabat, serta Alan dan Zhi berada disini dengan wajah sendu.
Alan menatap peti mati yang telah dikubur itu, dengan air mata yang mengalir Alan menghapus nya.
Zhi yang merasa kehilangan sosok 'kakak' juga menangis.
Galian itu di gali oleh Jhon sendiri, setelah menggali Jhon langsung menyerahkan dirinya ke polisi. Dengan alasan bahwa dia lah yang membunuh Genus, Jhon di penjara seumur hidup nya.
Disaat semua orang telah pergi, Alan, Zhi, dan Galang masih berada didepan makam Genus.
Alan berjongkok dan memegang nisan Genus.
Zhi dan Galang yang melihat Alan sedang berbicara pun memutuskan untuk meninggalkan nya sendiri.
"Yang tenang ya disana, aku akan selalu mencintai mu." Ucap nya lalu mencium nisan Genus.
Alan tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan makan Genus.
"Terimakasih atas semua nya, terimakasih atas kebahagiaan, kenyamanan dan kasih sayang selama ini."
"Selamat jalan."
End
Note :
Terimakasih yang sudah membaca sampai ending, jangan lupa memberi saran, dan vote nya ya wkwk
__ADS_1
@njw_blqs
@mawp.qiss